Resensi Buku

Mengintip Instalasi Astrajingga

Posted on in Resensi Buku

INSTALASI. Sebagai mahasiswa seni rupa, instalasi tidak bisa saya lepaskan dari asumsi visual yang kadung melekat di kepala. Saya kenal istilah “instalasi” sebagai salah satu teknik, metode, juga kemasan sebuah karya seni visual. Heri Dono, Entang Wiharso, hingga Made Wiyanta adalah beberapa seniman yang setia menekuni karya seni instalasi.

Baru-baru ini, empat seniman dari Indonesia—Abshar Platisza, Bagus A. Pandega, Etza Meisyara, Digital Nativ oleh Miebi Sikoki dan Rudy Nurhadi—membuat karya seni instalasi Aurora di Liverpool. Tapi, bukan instalasi itu yang ingin saya nikmati.

Bukan. Melainkan, instalasi yang melekat atau dilekatkan Astrajingga Asmasubrata pada judul buku puisi terbarunya. Penyair Cirebon ini memunculkan wajahnya lagi—setelah Miryam—di tahun bershio anjing ini.

Membaca—buku kumpulan—puisi, bagi saya, selalu menghadirkan nuansa misterius. Tak terduga. Gerakan anggota tubuh, terutama mata dan jari-jari, tak pernah benar-benar mematuhi perurutan—dan peraturan tertulis, jika ada—pada setiap bab dan tubuh-tubuh puisi.

Segalanya bergantung bagaimana saya tertipu, tergoda, atau terganggu oleh elemen-elemen detail di dalamnya. Misalkan, pada tata letak puisi, pemenggalan kata, penggunaan bahasa asing, cetak miring atau tebal, nama-nama asing, bahkan sampai pada bunyi dan irama yang terekam tanpa sadar menjilat telinga.

Jika buku puisi adalah sebuah rumah, bisa saya pastikan, tidak semua rumah menyediakan atau memiliki pintu—yang terbuka lebar—bagi tamunya. Ada banyak pintu yang terkunci dari dalam ruang puisi dan makna, sehingga untuk memasukinya tidak semudah meniup lilin ulang tahun.

Sama halnya, tidak semua puisi bisa saya masuki. Kadang bahkan, saya kehilangan jendela atau pintu untuk menelisik, membongkar, bahkan sekadar mengintip.

Dalam keadaan seperti itu, saya hanya akan berdiri di halaman rumah (puisi) itu dan menikmati dinding bahasa, warna kata, hingga bisik musik yang mengusik dengan caranya sendiri.

Baca Juga:  Keroncong (Selalu) Merajalela!

Atau, misalkan, berupaya memahami “peringatan”, pada bagian satu:Jangan duga aku dari lidah/ Sebab diam adalah juga suara/ Yang tentu pernah menggugatmu.

Tanpa banyak dugaan, puisi Astrajingga di atas terang sebagai pembuka, wajah, sekaligus menjadi semacam pengakuan. Bahwa, ia memang akan lebih banyak membicarakan kutuk-keterkaitan antara dirinya dengan pembaca.

Sebuah peringatan untuk tidak mudah tersihir oleh bunyi—sebab diam adalah juga suara// yang tentu pernah menggugatmu.

Mitos kepenyairan sering datang sebagai sihir sakti dan menyelinap ke pintu indrawi melalui kata. Dan, Astrajingga berupaya lagi—setelah kebanyakan penyair—menceritakan kaitan antara penyair dan puisi lewat kata.

Tengok puisi “Jenderal Lu Shun” milik Subagio Sastrowardoyo, yang bercerita tentang upaya seorang jenderal yang gagal membuat puisi lalu membantai penduduknya. Ia butuh aroma kebengisan itu, atau barangkali gejolak yang berbeda dari dalam jiwanya, meski cuma berhasil menuliskan empat baris puisi tentang langit, telaga, dan bangau.

Selain Subagiyo, ada Ikra Anggara dalam “Beternak Penyair” dan “Sajak untuk Sajak”-nya Tia Setiadi, sebagai bahan perbandingan bagaimana puisi sangat potensial menjadi dunia sendiri.

Ia dipenuhi drama penyairnya. Tia Setiadi yang menggunakan pola bercerita secara terang bahkan meminta kita untuk menangkap basah penyair dalam guyon mengeja puisi.

Saya tidak tahu, apakah Astrajingga membutuhkan sesuatu yang bersifat khusus dalam penciptaan puisi-puisinya itu. Cukup runutkan saja utas renungmu, lalu menjadi jalan pintas yang pantas saya timang untuk menelusuri bingkai instalasinya.

Sebab, di buku ini, Astrajingga membicarakan banyak hal; dirinya, ruangnya, minatnya, dan sebagainya, dan sebagainya.

Sajak, ibu, tuhan yang sedih, sunyi, dan kesepian tiba-tiba menjadi hal yang lebih mudah membekas dalam renung saya. Meski sering saya menyayangkan, mengapa ibu—pemilik daster kembang-kembang—selalu hanya dikaitkan dengan doa sebagai bumbu keterenyuhan.

Baca Juga:  Bukan Perawan Maria: Narasi Alternatif yang Usil dan Santai

Atau momen di mana kamu-lirik dipaksa mengenang orang paling berjasa atas kehadirannya di muka bumi—yang kini tinggal di atas makam ibumu.

Lantas, puisi di dalam puisi, penyair di dalam puisi, atau puisi yang mengisi maknanya sendiri sebagai rangkaian peristiwa imajinasi sosial—yang terekam dalam kepala pembaca—selalu mengambil posisi menjadi pengait antara aku-di dalam puisi dan aku-di luar puisi.

Lalu muncullah larik sajak itu:/ “Sunyi menemukan tempat istirahatnya;/ di dada”/ Begitulah para penyair menyajakkan/ Nasibnya yang hitam, menarik diri/ Dari pedih monokromatik:

Pada bagian ini, sajak dan penyair ditempatkan dalam kamar yang sama. Ketika penyair menyebutkan penyair dalam sajaknya, ia membelah diri sebagai dalang dalam cerita.

Sementara pada Lirisme Parangtritis, bagian keduanya, penyair ini pamer ruang. Mulai dari pantai hingga puncak gunung. Ia selalu mengaitkan ruang sebagai tubuh penyair.

Astrajingga seperti ingin menulis terang, bahwa ruang-ruang itu ialah diam yang tahu segalanya. Menyimpan sejarah.

Tengok sepotong judul Keraton Kanoman halaman 45; Di bawah redup syamsu, sederet/ Mitos dan pamali kuhimpun dalam baris wangsalan/ Suasana tempo dulu menjadi semerbak seperti hujan.

Berbeda lagi di akhir-akhir puisinya. Ia tanggap dengan fenomena milenial, cenderung mengintip dan kepo lewat daring. Intiplah puisi berjudul The Power of Stalking.

Di sana, ia tulis: Setengah kantuk aku mengikutimu/ Hingga samar mana ingin mana angan/ Setengah mabuk aku mencemaskan sepimu/ Diam-diam menyelinap ke dalam Instagram.

Mengikuti, ingin, dan instagram, adalah bahasa yang akrab dengan pengguna media sosial. Akhir-akhir ini beberapa penyair memang sering menukil bahasa kedekatan itu untuk puisinya.

Misal juga, tiga fragmen puisi Malka Malna yang didedikasikan pada sebuah alamat url; http://www.instagram.com/p/BIaDobEgBBt/.

Saya jadi teringat puisi “sudah malam, kau tidak lelah?” milik Afrizal Malna untuk Kedung Darma yang ditaruh pula url YouTube pada tubuh puisinya. Ketika diklik, muncullah ruang maya video berdurasi pendek.

Baca Juga:  The Castle in the Pyrenees: Sebuah Sajian Dialektika Filosofis

Dialog antara penyair, pembaca, dan puisi masih kental hingga akhir puisi dalam buku ini. Astrajingga memberi judul Catatan Sehabis Menulis Puisi untuk menutupnya.

Tidak bercerita hal besar. Ini puisi kamar. Semacam pemberitahuan sederhana tentang bagaimana dan mengapa penyair menulis puisi. Ia menyeru ayo mandi kepadaku, tetapi/ Aku tetap anteng di ranjang menghirup pagi/ Beraroma anyir sisa pertemuan semalam// Aku berpikir bisa satu pertempuran lagi/ lalu mandi, meski ia sudah bersimbah kopi/ Maka kuhentikan jari ambil perhatiannya.

Puisi. Mengapa ia harus dan tidak harus ditulis? Satu pertanyaan “mengapa” selalu punya ribuan “karena”. Tapi, saya rasa tak perlu dijawab sekarang.

Nanti saja. Butuh alasan konkret selain sebagai kepuasan batin. Memahami? Sia-sia saja memahamiku, tulis Sapardi dalam “Sajak-Sajak Empat Seuntai”.[AR]

Identitas Buku

Judul: INSTALASI: Pandangan yang Miring

Penulis: Astrajingga Asmasubrata

Penerbit: Basabasi

Cetakan: Pertama, September 2018

Tebal: 116 hlmn; 14 x 20 cm

ISBN: 978-602-5783-35-7

Foto: Dokumentasi pribadi

Facebook Comments

Penulis sekaligus desainer lepas. Mahasiswa S-1 Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. Aktif bergiat di Komunitas Kutub. Sedang menyiapkan buku kelimanya: mengunjungi hujan yang berteduh di matamu. Surel: alfinrizalrizal@gmail.com.