Ulasan Film

Dunkirk dan Beragam Upaya Kembali Pulang

Posted on in Ulasan Film

Melihat sejarah sebagai potret rangkaian peristiwa yang akan selalu membekas di dinding-dinding bangunan, buku-buku tebal, dan kepala para pendongeng, sudah seperti halnya takdir yang tak dapat dimungkiri.

Kisah-kisah heroik tentang memoar peperangan acap kali menjadi alternatif bagi seorang sutradara untuk menuangkan buah visualnya. Terlebih lagi hingar-bingar peluru dan riuh dentuman bom seakan telah mendominasi bagian dari sebuah persepsi film.

Vonis yang selama ini menjadi pakem dan point of selling dari film perang tersebut telah sukses dipatahkan oleh Christopher Nolan.

Melalui Dunkirk, Nolan seolah tak mau dianggap simplistis dengan cara pendekatannya yang menyimpang dari film perang yang terlebih dulu–dan sudah-sudah–mengguncang segmen baku tembak yang telah ada.

Mengambil latar cerita di sebuah pesisir pantai utara Prancis pada tahun 1940, kurang lebih terdapat empat ratus ribu pasukan Inggris yang dikirim untuk mempertahankan wilayah Prancis dari serangan pasukan Jerman (Nazi) terjebak dan terkepung di pantai Dunkirk.

Sementara, pasukan sekutu sedang berada di fase terdesak dan perang dunia kedua bisa berakhir lima tahun sejak peristiwa itu dimulai.

Sudah tentu menjadi tontonan yang bisa dengan mudah untuk ditaksir, ketika Dunkirk berusaha mengadopsi secara utuh seluruh peristiwa mencekam tersebut.

Namun, alih-alih memberikan ruang yang cukup untuk mendramatisir sebuah film menjadi panggung kolosal yang kaya akan materi visual dan cerita yang terkesan adaptif, Dunkirk menawarkan fokus sempit yang mengeksplorasi batin dan kegelisahan karakter-karakternya.

Dikemas dengan berbagai intrik tekanan yang hadir dalam tiga belahan plot, memaksa Dunkirk lebih kentara disebut sebagai film war-disaster. Bukan lagi menghadirkan pasukan tentara yang sepanjang berputarnya film hanya gandrung menekan pelatuk senjata dan doyan mengumpat, Nolan lebih merdeka dengan proses evakuasi empat ratus ribu pasukan tentara Inggrisnya.

Baca Juga:  Kafir (2018): Kutukan Film Horor Pasca-Hereditary

Menuhankan Perspektif

Tak seperti kebanyakan film lain yang jemawa akan teknik pengambilan satu sudut pandang yang linier, di mana lazimnya film seperti itulah yang sering kali mendikte penonton ke arah interpretasi yang cenderung repetitif, Dunkirk di sini tampil dengan eksposisi alur dan sudut pandang yang memang polisemis.

Dipaparkan rapi dalam bentuk tiga babak eksplanasi: darat, laut, dan udara. Jika diamati, masing-masing babak sendiri mempunyai bingkai waktu yang berbeda, langkah yang memang diterapkan Nolan agar kekuatan timeline nantinya tetap bersinergi atau malah mungkin menjadi bumerang bagi dirinya.

Mulai dari ‘The Mole’ (darat, satu minggu), seorang tentara muda bernama Tommy (Fionn Whitehead)–walaupun namanya tak pernah disebut sepanjang film–harus bertahan hidup dengan sisa-sisa tenaga dan upaya untuk memperoleh tumpangan kapal yang akan membawanya kembali ke kampung halaman.

Seiring perjuangannya, ia bertemu dengan Gibson (Aneurin Barnard) dan Alex (Harry Styles) yang juga sedang mencari jalan keluar agar dapat terevakuasi sesegera mungkin. Babak ini juga menyoroti Bolton (Kenneth Branagh) seorang komandan, dan subordinatnya, Kolonel Winnant (James D’Arcy) dalam mengoordinasikan proses evakuasi kepada para tentara.

Berpindah ke babak ‘The Sea’ (laut, satu hari), seorang pria paruh baya bernama Dawson (Mark Rylance) bersama putranya, Peter (Tom Glynn-Carney), dan rekannya George (Barry Keoghan) secara sukarela menjawab permintaan tolong dari angkatan laut kepada kapal-kapal warga sipil untuk membantu proses penyelamatan tentara yang terjebak di Dunkirk.

Di tengah perjalanannya, mereka dipertemukan dengan pilot pesawat tempur yang telah kandas dan terombang-ambing di lautan (Cillian Murphy) yang kemudian diselamatkan dan panik ketika tahu akan kembali ke Dunkirk.

Yang pungkas dan paling intens, berayun ke babak ‘The Air’ (udara, satu jam), berfokus kepada dua pilot pesawat tempur, Farrier (Tom Hardy)–sayangnya harus rela wajahnya tertutupi masker oksigen selama babak ini–dan Collins (Jack Lowden) yang bertugas menahan gempuran bombardir pesawat musuh dalam upayanya menjatuhkan kapal-kapal penyelamat yang akan menuju Dunkirk.

Baca Juga:  Only Lovers Left Alive: Dapur Kultural dari Sepasang Vampir

Usaha yang baik dari Nolan kala bermain dengan skema perspektif yang bercabang. Memadu-padankan berbagai sisi karakter pada bingkai berbeda serta menggarisbawahi konsistensi alur dan ikatan antarkarakter yang masih sejajar selama film berlangsung.

Dengan imbas pada penghujung klimaks, mulai dari skema perspektif, emosi karakter, dan alur, mulai berkelindan dan bermuara pada satu garis cerita yang koheren.

Namun, bagaimanapun lihainya Nolan dalam merombak sudut pandang dan pendekatan yang ada pada Dunkirk ini, ia tetap saja menjadi sebuah genre yang sangat tersegmentasi bagi mereka yang benar-benar mengerti dan berharap pada keniscayaan sejarah secara visual.

Nolan yang Kembali Pulang

Porsi yang sama untuk sebuah roleplay seorang karakter tentu sudah menjadi identitas yang melekat pada beberapa film besutan Nolan. Pengejawantahan karakter pada setiap babak terasa klop mengisi andil peran tanpa harus saling menonjol antara satu sama lain atau tampil berlebihan.

Minimnya format konstruksi cerita lewat dialog juga mempertegas bahwa Dunkirk memang masih dalam pengaruh silent-movie dan impresionisme.

Di sini, Nolan juga terlihat banyak melakukan penekanan pada estetika visual, terbukti dengan fakta bahwa Nolan lebih memilih menggunakan set piranti yang autentik dari masanya ketimbang harus bermain dengan efek rekaan untuk memberikan kedalaman dimensi.

Teka-teki yang rumit seakan selalu menguntit di balik tirai-tirai jejak karya Nolan. Persoalan kambuhan yang selalu ingin sembuh namun menolak untuk dilupakan.

Karya-karya Nolan selalu identik dengan balutan insting, intuisi, sensasi, atau bahkan naluri untuk pulang ke tempat di mana semua ciptaan merasa paling aman, rumah, atau bentuk apa pun yang sanggup menggambarkan betapa surganya tempat untuk pulang.

Film-filmnya selalu mendefinisikan proses yang dramatik dan penuh makna untuk sampai ke intensi tertentu. Sama halnya dengan Dunkirk yang kental akan nuansa ‘back to home’-nya, Interstellar juga saat itu kambuh dengan satu visi yang sama—harapan-harapan tentang blackhole dan planet baru.

Baca Juga:  Hichki: Sulitnya Menjadi Guru

Namun begitu, dengan berbekal karakterisasi yang sederhana, plot yang terpecah menjadi tiga bagian, dan pendekatan yang menyimpang, persoalan kambuhan Nolan terasa abai jika melihat suksesnya Dunkirk melumat sejarah dalam kemasan yang atraktif dan kasual.

Mendarat pada paragraf terakhir, Dunkirk, menjadi buah konsekuensi akan gairah estetik dan pendekatan visual yang matang dengan bobot sejarah, pernak-pernik perang, tudung ketegangan, dan secara implisit beberapa sorotan tentang beragam upaya untuk kembali pulang ke kampung halaman.

Secara sederhana, di balik tendensi sang sutradara mengangkat peristiwa historis, Dunkirk mampu menjadi representasi yang nyata tentang beragam proses dan jalan keluar dari masalah yang sedang terjadi dan akan terjadi. Seperti tabiat sejarah yang akan terus ditulis dan tertulis.[k.a.]

Data Film

Judul: Dunkirk

Sutradara: Christoper Nolan

Skenario: Christoper Nolan

Genre: Action, Drama, History, Thriller, War

Durasi: 106 Menit

Pemain: Fionn Whitehead, Barry Keoghan, Mark Rylance, Tom Hardy

Tahun Rilis: 2017

Rating: 81% (Rotten Tomatoes), 94 (Metacritic), 7,9/10 (IMDb)

Sumber Poster: IMDb

Facebook Comments

Redaktur grafis di  Jurnal Lakuna (ALAS) dan sedang menempuh studi sarjana sastra di Universitas Negeri Semarang. Memiliki antusiasme tentang sinema, sastra, dan ekosistem digital. Mengelola gambar dan sinema di akun instagram @kresnadetea.