Ulasan Film

Menjadikan (Rasisme) Amerika Hebat Lagi

Posted on in Ulasan Film

Seorang pria bersenjata melepaskan tembakan brutal di sinagog ‘The Tree of Life’ Pittsburgh pada 27 Oktober lalu. Sebelas orang tewas. Sebelum beraksi, si tersangka anti-semit itu, Robert Bowers, sempat mengunggah koleksi senjatanya (Glock) di media sosial.

Mundur ke belakang, ada peristiwa Charlottesville di tahun 2017. Seorang pemuda pendukung neo-Nazi menabrakkan mobilnya ke arah para demonstran penentang kelompok supremasi kulit putih yang tengah menggelar aksi ‘Unite the Right’, memprotes kebijakan penurunan patung Robert E. Lee, yang merupakan komandan tentara konfederasi di masa Perang Sipil AS (1861-1865)—bendera konfederasi dikibarkan, salut ala Nazi, dan simbol Ku Klux Klan (KKK) dipertontonkan.

Dua tahun sebelumnya, tiga orang muslim ditembak mati di North Carolina oleh tetangganya sendiri atas indikasi kebencian.

Tiga insiden di atas adalah kejadian nyata. Bukan adegan horor di sebuah film. Ada apa dengan Amerika hari ini?

Bahwa realitas lainnya yang serupa di AS telah menguatkan lagi sebuah bom waktu yang pelik—sentimen sosio-rasial akut sejak era Perang Sipil, Perang Dingin, membesar di periode Perang Vietnam, dan menghebat lagi di era Trump saat ini—cukup tergambarkan lewat karya terbaru Spike Lee secara tipikal, Blackkklansman (2018).

Sebuah adaptasi satire dari kisah nyata yang ditulis Ron Stallworth, si tokoh utama polisi berdarah Afro-Amerika yang menyusup ke dalam organisasi KKK pada akhir 1970-an. Menguak fragmen lampau hingga rezim AS sekarang sebagai suatu kontinum, katakanlah, scene jukstaposisi-biner dalam kesejarahan politik AS; selain mayoritas konstituen yang bersepadan, nyatanya penilaian rasial punya preferensi khusus ke salah satu pegiat dari dua saja partai politik yang ada, berbalik penentangnya di kubu yang berbeda.

Garis besar virus ketakutan diwanti-wanti secara paranoid lewat orasi konyol tokoh (cameo) pembuka film, Dr. Kennebrew Beauregard, berdasarkan klaim penafsiran agama yang sempit: menolak integrasi dan perkawinan campur antar ras hasil otak-atik gathuk konspirasi Yahudi internasional, Martin Luther King, dan para aktivis penuntut hak-hak sipil yang disebutnya kaum komunis.

Baca Juga:  In Bruges: Tragedi Tanpa Jeda di Kota Brussel

Cukup meyakinkan di awal, menarik di pertengahan, lantas ambigu pada ending-nya.

Diceritakanlah pria Afro-Amerika cerdas, Ron Stallworth, yang baru diterima sebagai petugas kepolisian Colorado Springs setelah membaca spanduk yang mempersilakan minoritas untuk melamar (mungkin saat itu SDM terbatas setelah kontribusi untuk Perang Vietnam atau semacam upaya akomodasi isu rasial setelah ‘insiden Mississippi’), merasa jenuh dengan posisinya sebagai petugas di bagian pemberkasan arsip karena sering menerima perlakuan rasis dari sebagian kecil rekan sesama polisi.

Merasa memiliki kemampuan lebih, Ron mengajukan diri untuk dimutasi ke bagian penyamaran sebagai detektif pada atasannya, Chief Bridges.

Meski awalnya menolak, Bridges berubah pikiran dan menugaskan Ron bersama rekannya, Flip Zimmerman dan Jimmy, menyamar ke sebuah acara yang akan dihadiri oleh tokoh Afro-Amerika yang disebutnya radikalis, Stokely Carmichael alias Kwame Ture, sebagai pembicara. Tidak hanya masuk dan memantau jalannya acara, Ron kemudian berhasil mendekati seorang aktivis cantik bernama Patrice Dumas.

Untuk penilaian, Bridges lalu menempatkan Ron di divisi intelijen. Bagai tancap gas, entah embusan angin dari mana, tiba-tiba Ron menghubungi kontak KKK yang beriklan di sebuah koran. Ia berbicara dengan seseorang bernama Walter, lalu berucap perihal yang membuat ternganga seisi ruangan:

“Aku benci negro. Aku benci Yahudi. Juga orang latin dan Irlandia. Italia dan Cina!”

Payahnya—karena masih amatiran, Ron memberitahu nama sebenarnya. Beruntung ia tidak hidup di zaman milenial sekarang yang serba cepat, di mana profil seseorang bisa langsung diketahui lewat media sosial. Solusinya, Flip dijadikan ‘Ron putih’ dan penyelidikan mengenai KKK tetap berjalan. Dari sini, rasa penasaran di fase yang cukup meyakinkan sebagai awal kisah undercover dimulai.

Baca Juga:  Only Lovers Left Alive: Dapur Kultural dari Sepasang Vampir

Flip/Ron palsu dengan ketenangan alamiahnya berhasil meleburkan diri ke dalam kelompok Walter. Tantangan terbesarnya datang dari anggota bernama Felix, yang sejak awal telah bersikap penuh curiga. Beberapa kali Felix iseng menguji Flip; sampai hendak memeriksa alat vitalnya apakah ia disunat seperti kebanyakan orang Yahudi atau tidak.

Di waktu yang lain, Ron ‘asli’ berhasil melakukan kontak dengan David Duke, Pemimpin dan Direktur Nasional KKK sekaligus politisi yang akan berkunjung ke Colorado Springs.

Maka di hajatan besar para rasis itu bertemulah Flip, Ron ‘asli’, David Duke, dan semua anggota KKK, termasuk Walker—pemasok C-4 untuk rencana pembunuhan terhadap Dumas oleh istri Felix yang sama rasisnya—yang ternyata mengenal status Flip sebagai polisi yang pernah menangkapnya di masa lalu! Lantas bagaimana akhir dari misi penyamaran ini?

Sampai pada epilog di mana montase peristiwa-peristiwa faktual terpapar, Blackkklansman berujung pada akhir yang ganjil, sarkastik, seterbuka Lee memberi ruang dialektika untuk sebuah isu yang sensitif. Lee memang terbiasa dengan tema sosial-politik, kekerasan, diskriminasi ras berbalut blaxploitation yang kerap memicu kontroversi di setiap filmnya.

Sebagai sebuah sub-genre, Blaxploitation memang rawan disalahartikan. Alih-alih mengangkat isu perjuangan melawan diskriminasi ras dan persamaan hak, eksekusinya kerap kali malah terjerumus pada adegan-penokohan yang justru memperkuat stereotip. Melemahkan misi progresif film itu sendiri.

Sebagai penonton, saya membaca sebuah sajian yang cukup hati-hati. Dari sisi sinematik, nuansa kekelaman isu rasial yang serius coba dikemas dalam bentuk drama komedi gelap yang klasik lengkap dengan alunan Prince dan The Temptations. Tetapi bukan sejenis komedi yang membuat kita geli terbahak, bukan pula drama yang menguras emosi berlarut-larut.

Entah artinya bagus atau jelek, keunikan nama John David Washington sebagai pemeran utama setelah sang ayah (Denzel Washington pernah bekerja sama dengan Lee di Malcolm X), tak lantas memonopoli sorotan performa para pemeran lainnya. Justru Adam Driver berperan besar menghidupkan karakter si ‘Ron putih’ dengan aktingnya yang natural. Permainan watak Jasper Paakkonen, karakter Ivanhoe dan Connie pun terasa unik dan komikal. Tidak ada peran kecil dalam pertunjukan.

Baca Juga:  Paprika: Kengerian Teknologi dalam Parade Pesta Pora

Apa yang ingin disampaikan Lee mungkin bersebangun dengan jawabannya atas beberapa kritik. Institusi kepolisian digambarkan secara fair dalam cerita. Ada polisi brengsek, tapi tidak semuanya bersikap rasis. Ada KKK, ada juga kelompok Kwame Ture yang provokatif.

Idenya berupaya menuju titik seimbang. Menghindari dua ekstrem sentimen asal-usul, melepaskan sekat-sekat primordial. Bukan lagi tentang ‘hitam’ atau ‘putih’, melainkan teropong ide tentang kebenaran. Bukan sudut pandang monolitik, praktis, apalagi deduktif.

Perasaan dilematis itu yang dihadapi Ron dan Flip saat harus menyusup ke dalam kelompok yang berseberangan dengan nurani. Itu pula sebabnya Heather Heyer, demonstran kulit putih, korban penabrakan Charlottesville ditampilkan sebagai wujud penghormatan.

Maka ujung dari pangkal pertanyaan ‘ada apa dengan Amerika hari ini?’ di atas sedikit banyak bisa diterka lewat Blackkklansman, ketika gagasan norak ‘alt-right’ dengan prototipe KW-nya Trump diberi kekuasaan—yang sudah diekspor ke negeri Brazil oleh Bolsonaro: adalah setiap pemikiran paling picik dari amygdala mahluk primitif, yang terus disemai dari sejarah masa lalu.[]

Data Film

Judul: Blackkklansman

Sutradara: Spike Lee

Genre: Biografi | Drama | Comedy | Crime

Cast: John David Washington (Ron), Adam Driver (Flip), Ryan Eggold (Walter), Jasper Paakkonen (Felix), Topher Grace (David Duke), Laura Harrier (Patrice Dumas), etc.

Durasi: 135 Menit

Rating: 7.7/10 (IMDb), 83 (Metacritic), 8.3/10 (Rotten Tomatoes)

Facebook Comments

Menulis puisi, prosa, dan esai, menetap di Bandung.