Ulasan Film

Sajian Tiga Lapis Rasa dari Edwin

Posted on in Ulasan Film

Bersyukurlah para manusia berlidah peka. Mereka mampu mencerap dan mengkhidmati cita rasa tiap sajian kuliner yang mereka santap. Lidah yang tak peka adalah pertanda manusia sudah terlalu terjebak rutinitas monoton sehari-hari. Adalah Bono lelaki yang mengingatkan hal itu kepada Aruna.

Profesi juru masak membuat Bono tahu betul kualitas masakan yang ia racik. Ketika Aruna menganggap masakannya berasa biasa-biasa saja, Bono hakulyakin lidah rekannya itu bermasalah. Sudah waktunya mengambil cuti kerja untuk mengembalikan kepekaan lidah—pelesiran kuliner.

Dan bersepakatlah mereka berdua menyusun agenda liburan, setelah Aruna beroleh tugas dari tempat ia bekerja untuk suatu investigasi merespons siaran pemerintah terkait kasus flu burung. Sebagai pakar epidemiologi, Aruna dipercaya perusahaan mengecek secara langsung pasien yang diduga terjangkit flu burung, di beberapa kota.

Sembari menunaikan pekerjaannya inilah Aruna dan Bono merencanakan pelesiran kuliner. Bersama kedua rekannya, Faris yang juga seorang ahli epidemiologi dan Nadezhda, rekan Bono penulis buku kuliner, mereka melintasi kota demi kota bermisi investigasi sekaligus memanjakan lidah.

Film berjudul Aruna dan Lidahnya arahan sutradara Edwin memang sejak jauh hari sebelum rilis sudah berhasil menebar daya pikatnya. Selain tema kuliner yang gampang menggoda publik, judul film ini tak terlalu asing. Edwin mengadaptasi novel karya Laksmi Pamuntjak berjudul serupa yang terbit pada 2014.

Predikat sutradara terbaik atas film Posesif pada Festival Film Indonesia 2017 seolah kian memberi jaminan pada pemirsa atas kualitas film-film garapan Edwin. Berkat film terbaik ini pula mencuat artis pendatang baru, Putri Marino, yang langsung beroleh Piala Citra di kategori pemeran perempuan terbaik.

Yang tak kalah menarik perhatian kita ialah kembalinya duet peran antara Nicholas Saputra (Bono) dan Dian Sastrowardoyo (Aruna), didampimgi aktor kalem Oka Antara (Farish) dan Hannah Al Rasyid (Nadezhda). Komposisi empat pemeran ini tentu menawarkan tontonan sarat wajah-wajah rupawan.

Namun, sebelum bercerita lebih jauh, harus kita sepakati bersama bahwa film dan buku adalah dua produk seni yang berbeda. Biar pun sebuah film dibuat berdasarkan buku, penilaian saya tetaplah mengacu isi film. Tak harus mengait-pautkannya dengan teks cerita di dalam novel.

Edwin membagi cerita ini dalam dua lajur pengisahan: pelesiran kuliner dan investigasi flu burung. Sejak adegan pembuka, bersiaplah membayangkan kenikmatan aneka tayangan kuliner yang sanggup menggairahkan nafsu makan. Begitu layar terkembang, pemirsa langsung disuguhi adegan Aruna tengah memasak sajian sop buntut lantas mencicipi.

Baca Juga:  Wadjda: Wajah Perempuan Saudi di Persimpangan Budaya Patriarki

Uap panas tampak menguar dari kuah sop yang dipungkasi adegan Aruna melolos daging sapi dari tulang disertai sesapan kuahnya yang mengesankan aroma dan cita rasa yang adiluhung. Begitulah seterusnya, hidangan demi hidangan menjerat tatapan lapar mata penonton.

Tiap singgah di satu daerah, mestilah didahului ritual bersantap menu khas setempat. Di Jawa Timur, kita dipaksa mengelus kerongkongan melihat empat sekawan itu menyantap soto lamongan, rawon, rujak soto, juga campur lorjuk yang legendaris.

Kuliner itu tak hadir sebagai oranamen cerita belaka. Edwin turut mengajak pemirsa memahami kuliner khas daerah lewat kisahan Bono, Aruna, dan Nad—hanya Farish yang paling dangkal pemahamnnya terkait kuliner.

Makanan itu pengikat identitas kota dan daerahnya masing-masing. Seperti campur lorjuk yang hanya bisa dibikin di Madura karena salah satu bahan bakunya ialah kerang lorjuk yang tak tersedia di daerah lain.

Sama halnya ketika adegan beralih pelesiran kuliner di Kalimantan. Mereka tak melewatkan mampir ke kedai-kedai penyedia choi pan, cha kue, pengkang, dan bakmi kepiting yang begitu khas di Pontianak. Persinggahan itu membabarkan kepada kita perihal  kekayaan kultur dan kuliner Nusantara. Di sini banyak terdapat masyarakat Cina peranakan yang kemudian berpengaruh pada jenis kuliner setempat.

Sajian bakmi kepiting boleh dibilang puncak petualangan kuliner di film ini. Sungguh terpaksa kita menelan ludah menyaksikan Aruna dengan khidmat melahap daging putih capit kepiting yang disajikan bersama mi bertekstur kenyal. Fragmen ini saya kira sangat berhasil menjebol pertahanan pemirsa, benar-benar bikin lidah kian membasah dan perut pun berirama tak merdu.

Beruntung parade menu kuliner khas itu tak mengesampingkan sisi lain film ini. Dalam tiap peristiwa bersantap itulah Edwin menyurungkan dialog-dialognya yang bernas dan berbobot.

Empat sekawan itu tentu kaum menengah dengan tingkat pendidikan yang tinggi. Wajar bila obrolan mereka mengarah pada persoalan-persoalan substansial meski disampaikan dengan cara yang ringan.

Di kala lidah menyesap sajian nikmat duniawi, perbincangan mengarah ke persoalan sulitnya mencapai titik temu antara sains dan agama, teori Big Bang, hakikat kebertuhanan, serta pembahasan filosofis kuliner yang sangat dikuasai Bono.

Sampai lima belas menit pertama, belum ada tanda-tanda film ini akan mengarah pada tegangan konflik antar masing-masing tokoh. Sepanjang adegan ritual kuliner itu, dialog dan alur cerita berlangsung stabil. Konflik mulai mengemuka justru saat proses investigasi Aruna dan Farish seperti bergerak menuju ke kejanggalan.

Baca Juga:  Yang Istimewa Karena Biasa

Klaim pemerintah tentang mewabahnya flu burung kian tak terbukti. Aruna curiga ada kongkalikong. Bahwa isu wabah itu hanya alasan pemerintah saja agar anggaran kesehatan bisa segera cair, tanda-tandanya mulai terbukti.

Tetapi Farish tak sependapat. Pada tahap inilah gesekan argumen terjadi, baik terkait investigasi maupun perasaan aruna yang mulai tak terbendung. Aruna dan Farish merasa terjebak dalam campur aduk urusan pribadi dan pekerjaan. Sebagai epidemiologi yang juga pemburu kuliner, Aruna menjalani keduanya dengan tingkat keseriusan yang sama.

Di sinilah Edwin menyuguhkan tiga lapis cerita yang terjalin secara padu: kuliner, asmara, dan isu korupsi. Pemirsa akan mengira film ini semata mengumbar kuliner khas Nusantara sebagai sajian utama. Edwin mafhum betul betapa kisah percintaan adalah salah satu bumbu penyedap paling jitu dalam resep film populer.

Di antara rentetan adegan bersantap kuliner, ada tarik ulur persoalan relasi personal di sini, baik antara Bono dan Nad maupun Aruna dan Farish. Dan berbarengan dengan keduanya, Edwin menyajikan lapis akhir dari film ini ke arah isu korupsi.

Investigasi flu burung yang tengah dilakukan Farish dan Aruna rupanya berujung pada temuan indikasi korupsi yang melibatkan perusahaan swasta, rumah sakit, dan pemerintah. Edwin dengan sebegitu halus dan pelan mengajak pemirsa untuk menyadari film ini sebenarnya tengah mengkritik keras praktik korupsi terselubung berdalih penanganan wabah.

Pujian pantas kita sematkan kepada duet Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo. Imajinasi atas watak Rangga dan Cinta dalam film Ada Apa Dengan Cinta? yang telanjur begitu melekat kepada keduanya nyaris tak muncul di film ini. Tak ada Cinta di dalam Aruna, tak ada jejak Rangga di Bono.

Nicholas secara apik menghadirkan sosok Bono yang riang, humoris, santai, namun cerdas. Sedangkan Dian berhasil menjelma Aruna yang pekerja keras, tak emosional seperti Cinta, lebih tenang dalam bersikap, feminim, dan agak malu-malu.

Terlepas dari tiga menu utama film ini, akting Dian dan Nicholas pantas beroleh apresiasi lebih. Keduanya sanggup menghadirkan interaksi dan dialog yang terasa begitu natural, rileks dan akrab. Lewat ekspresi tatapan mata saja, Dian sanggup menguarkan kemarahan yang diam tapi mencekam.

Sosok Nad yang kosmopolit dan terbuka memang begitu cocok diperankan oleh Hannah Al Rasyid. Tatapan matanya begitu kuat menyiratkan karakter perempuan berwawasan dan beralam pikiran Barat. Gaya bicara cengkok keminggris terdengar tanpa dilebih-lebihkan.

Baca Juga:  Oleh-Oleh Crazy Rich Asians

Hanya kemampuan Oka Antara saja yang bisa dibilang tak semaksimal tiga tokoh lainnya. Penguasaan ekspresi dan caranya berdialog serta tatapan matanya masih belum memunculkan karakter Farish yang kuat.

Ketika berhadapan dengan Dian, akting Oka agak tenggelam—ada semacam chemistry yang tak terbangun.

Sebagai film berdurasi 1 jam 46 menit, film ini akan terasa begitu pelan dan stabil alih-alih menyebutnya dingin khas karya Edwin lainnya. Lima belas menit pertama jamak menjadi pertaruhan untuk pemanasan sebelum memasuki konflik, tetapi Edwin tak mau terpancang pada pakem ini. Film terus saja bergerak dalam adegan-adegan tak mengejutkan namun memberi satu pengalaman visual yang juga wajar.

Bahkan sampai film menjelang usai, kita tak disuguhi satu momentum puncak yang mengetengahkan adegan emosional tokohnya. Emosi dan kemarahan di film ini tampaknya hendak ditampilkan dengan mengedepankan kesan dingin yang mendalam.

Edwin sangat menjaga agar filmnya tak terkesan melebih-lebihkan pengalaman berkuliner para tokohnya. Ini bisa kita buktikan dengan absennya ritual memfoto sajian kuliner lantas mengunggahnya ke media sosial. Peristiwa kuliner itu urusan lidah dan rasa, tak ada kaitannya dengan foto.

Menjadi wajar kemudian bila di sepanjang film tak ada tensi yang meningkat atau irama musik pengiring yang menghentak sewajarnya kemeriahan sebuah pelesiran, kecuali saat Bono dan Nad minum (mungkin ciu?) di diskotik murahan di pelabuhan. Rasa bosan sangat mungkin mendera pemirsa yang tak paham karakter film Edwin.

Yang saya kira agak menjengkelkan ialah, film ini seperti hendak melegitimasi watak kaum menengah perkotaan yang menjadikan pelesiran kuliner sebagai pelampiasan atas kepenatan rutinitas kerja. Mereka datang sebagai “turis lokal” yang mencari energi dan penghiburan untuk kembali menghadapi kota (Jakarta) yang kaku dan keras.

Tak mengherankan jika selepas pelesiran yang panjang itu, Bono justru beroleh gagasan untuk menyajikan menu kuliner yang pernah ia santap di daerah-daerah yang ia kunjungi ke restoran tempat ia bekerja. Satu contoh kecil betapa “Jakarta” memang tak pernah kenyang.[]

Data Film:

Judul: Aruna dan Lidahnya

Sutradara: Edwin

Pemeran: Nicholas Saputra, Dian Sastrowardoyo, Hannah Al Rasyid, Oka Antara

Genre: Drama

Durasi: 1 jam 46 menit

Poster: IMDb

Facebook Comments

Penggiat Kelab Buku Semarang.