Resensi Buku

I Am Sarahza: Latihan Panjang Mensyukuri Kehidupan

Posted on in Resensi Buku

Perempuan mana pun rasanya pasti terharu mendengar kisah perjuangan pasangan ini demi menanti buah hati, yang akhirnya mereka dapatkan setelah sebelas tahun pernikahan. Ya, sebelas tahun. Bukan dua-tiga tahun. Bukan pula tujuh-delapan tahun.

Kita diajak mengikuti prosesnya yang menyita waktu, energi, emosi, hingga menggerus pundi-pundi rupiah. Yang membuat lebih terharu lagi adalah, bagaimana pasangan ini bisa tetap mengetengahkan iman dan akal sehat demi mempunyai keturunan.

Nggak ada tuh yang namanya ikutan nginjek kaki orang hamil biar ketularan, atau adopsi anak dulu buat ‘pancingan’ atau mitos-mitos sejenis. Juga nggak ada cerita soal makan kurma muda atau sejenisnya. Mereka melakukan pendekatan ilmu pengetahuan.

Pergi ke dokter, klinik, mulai dari dalam negeri, sampai yang di luar negeri. Percaya bahwa rekayasa genetika melalui perantara dokter itu bukan suatu hal yang haram untuk dicoba.

Melalui buku ini juga saya jadi tahu soal proses inseminasi, apa itu program bayi tabung, bagaimana tata laksananya. (Ya Tuhan, saya jadi ingat pas mau masuk ruang operasi, waktu mau dioperasi caesar saja sudah pasrah rasanya jikalau memang saya harus mati saat melahirkan).

Sama seperti mbak Hanum, saya juga termasuk yang takut sama jarum suntik. Well, rasanya bukan hal yang mudah ya, untuk membagi cerita soal sperma dan sel telur kita kepada orang lain.

Mereka berdua menceritakannya di buku ini. Bahwa kehamilan itu (ternyata) bukan sesimpel pertemuan antara sperma dan ovum seperti pelajaran biologi zaman sekolah dulu. Ada faktor X, ada tangan Tuhan yang bekerja.

Buku ini juga mengingatkan betapa pentingnya dukungan orang tua (terlepas dari siapa bapaknya, yess) dan orang-orang terdekat kita, support system kita. Dan tentunya, didorong oleh prasangka baik yang terus-menerus, serta doa dan rayuan yang tidak putus-putus kepada Tuhan.

Baca Juga:  Dari Obituari Satu Toko Buku

Marah boleh, sebal boleh, tapi jangan lama-lama. Bagaimana kedewasaan mental seperti itu bisa dibangun di benak mereka berdua? Salut juga sama suaminya yang terus berupaya menghibur sang istri.

Apalagi saat sang istri sudah tidak bekerja, suaminya ikut memikirkan “kerjaan” buat sang istri, yang penting nggak bengong seharian, bisa tetap produktif berkarya, dan biar nggak sedih memikirkan soal anak terus.

Terutama pas mereka benar-benar hidup berdua saja di luar negeri. Terasa bahwa sebetulnya mbak Hanum itu adalah tipikal perempuan yang sangat ambisius, nggak sabaran, dan baperan. Tapi, menjadi bagus karena pelampiasannya positif, yaitu dengan menulis buku. Lalu lanjut dibuatkan film. Begitu berulang-ulang.

Terasa di buku ini bahwa mas Rangga-nya begitu sabar, bahwa dia yang sebetulnya punya ide-ide cerdas dan bisa “menggerakkan” orang lain, dalam hal ini adalah istrinya sendiri. Khas seorang dosen yang terbiasa mengeluarkan potensi orang lain melebihi yang disadari orang itu sendiri, bahwa ternyata dia bisa melakukannya.

Pada tahun-tahun awal pernikahan, kita diajak menyelami dilema Hanum dan Rangga sebagai pasangan suami istri baru, dilema klasik yang “orang Indonesia” banget. Ya, apalagi kalau bukan dilema antara keluarga, karier, sekolah.

Salut sama pasangan ini yang begitu fokus dan sibuk sama dirinya sendiri, nggak mengurusi urusan orang. Tampaknya memang Harum dan Rangga ini udah sepaket banget ya, ke mana-mana berdua, yang satu menguatkan yang lain.

Kita juga diajak mengikuti episode-episode jatuh bangunnya Hanum dalam membangun harapan menjadi seorang ibu. Saat-saat dia depresi dan ‘hitung-hitungan’ sama Tuhan.

Merasa bahwa selama ini dia orang yang ‘lurus’, menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Tapi, kenapa Tuhan seolah tidak adil padanya. Dan bagaimana (lagi-lagi) orang tua mengintervensi secara positif, meneguhkan kembali imannya kepada sang khalik.

Baca Juga:  Keroncong (Selalu) Merajalela!

Bagaimana saat pasangan ini berjuang di tengah kesedihannya, namun harus berupaya ikut berbahagia saat ada anggota keluarga dan kerabat yang sudah lebih dulu diberi rezeki hamil dan melahirkan. Duh, nggak terbayang rasanya.

Melalui buku ini, saya juga jadi tahu soal klinik infertilitas di Jogja dan Surabaya. Tapi tentu saja, buku ini bukan soal rekomendasi “kalau mau hamil, pergi aja ke klinik abc dengan dokter xyz”. Bukan, bukan seperti itu.

Ini seperti jurnal kehidupan yang dijadikan novel perjalanan rumah tangga dari tahun ke tahun. Plus, ada sudut pandang “sang calon anak”. Pasangan ini seperti sudah menyimpan dokumen-dokumen beserta tanggal-tanggal penting, seperti memang sudah berniat mau bikin buku seandainya mereka benar-benar diberi anak.

Kronologisnya begitu detail dan mengalir dari tahun ke tahun. Sejujurnya, ini adalah buku pertama Hanum dan Rangga yang saya baca. Seperti yang diketahui, sebelum buku ini, mereka sudah bersinergi bersama menulis buku-buku fiksi seputar peradaban Islam.

Saya nggak tahu apakah buku ini nantinya akan dijadikan film juga. Tapi, rasanya mereka menulis buku ini bukan semata mengejar profit. Terlihat bahwa semua yang dilakukan pasangan ini dijadikan media dakwah, termasuk melalui menulis buku.

Dari cara pemilihan penerbit saja udah keliatan (Republika). Sebelum membaca buku ini, saya mencoba tidak mencari tahu “siapa” penulisnya melalui media sosial atau buku-bukunya yang terdahulu.

Karena, saat membaca buku ini, saya ingin mencoba objektif pada diri sendiri sebagai sesama orang tua, menempatkan Hanum dan Rangga sebagai pasangan suami-istri biasa, sebagai calon orang tua yang sedang berjuang mendapatkan keturunan, terlepas dari apa pun latar belakang keluarga, profesi, dan atribut-atribut mereka yang lain.

Baca Juga:  Menjadi Muslim, Menjadi Orang Indonesia yang Baik

Oh iya, yang bikin menyenangkan membacanya adalah, buku ini minim sekali typo. Terima kasih sudah menulis, terima kasih sudah berbagi. Dan, tentu saja, setelah selesai membaca buku ini, saya menjadi semakin bersyukur karena dipermudah mendapatkan Gwen, anak saya.

Setiap rumah tangga tentu saja cobaannya berbeda-beda ya. Rasanya, memang kita perlu terus-menerus berlatih untuk bersyukur. Ya, betul. Bersyukur itu butuh latihan panjang seumur hidup.

 Identitas buku:

Judul: I Am Sarahza

Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra

Penerbit: Republika

Halaman: 317 Halaman

Terbit: 30 April 2018

Cover Buku: Dokumen Pribadi

Facebook Comments

Ibu rumah tangga anak satu merangkap jurnalis ekonomi yang hobinya baca buku sepanjang perjalanan kereta Cilebut-Gondangdia, dari rumah menuju kantor dan sebaliknya.