Ulasan Film

Dogman: Anjing, Manusia, Kokain, Keluarga

Posted on in Ulasan Film

Anjing adalah sahabat terbaik manusia. Sejak dahulu kala anjing telah turut berperan membantu pekerjaan manusia. Banyak kisah-kisah kesetiaan anjing pada tuannya menjadi teladan.

Hachiko, anjing jantan dari Odate, Akita, menjadi legendaris, bahkan dibuat patungnya dan dipajang di Stasiun Shibuya setelah selama sepuluh tahun setia menunggu majikannya, Hidesaburo Ueno, yang sudah meninggal dunia. Kesetiaan Hachiko sampai akhir hayatnya itu menggetarkan sifat-sifat kemanusiaan kita.

Tapi dalam film Dogman arahan sutradara Matteo Garrone ini, kita tidak akan melihat kisah kesetiaan seekor anjing secara terang dan verbal. Anjing lebih ditempatkan sebagai subjek yang sifat-sifatnya termanifestasikan dalam moral manusia.

Anjing yang terbiasa dalam keadaan lapar, anjing yang meskipun digebuk berkali-kali tetap akan kembali pada tuannya, anjing yang kesetiaannya kadang susah diterima nalar sekaligus bisa menggeram dan menyerang tiba-tiba.

Marcello (dimainkan Marcello Fonti) adalah seorang perawat anjing yang membuka jasanya di sebuah toko kecil di suatu daerah kumuh di selatan Italia. Sinematografer Nicolaj Bruel menghadirkan lanskap kawasan kecil itu dengan sorot-jauh yang menangkap kesan udik, kumuh, dan rongsok.

Warga yang tinggal di kawasan itu rata-rata memiliki toko-toko kecil dan hidup seperti sebuah keluarga besar. Mereka makan siang bersama di meja panjang yang cukup menampung hampir semua warga.

Bagi Marcello, anjing adalah cinta sejatinya. Dia kerap memanggil anjing-anjing yang dirawatnya dengan mi amore, sayangku. Kamera beberapa kali mengkurasi adegan-adegan kecil tapi penting untuk memberi gambaran hubungan emosi antara Marcello dan anjing-anjing yang dirawatnya.

Marcello dengan sabar ‘menaklukkan’ anjing-anjing galak dan menjadikannya jinak dengan sentuhan kasih-sayang. Marcello juga rela melakukan sesuatu yang berbahaya bagi dirinya untuk menyelamatkan seekor Chihuahua yang nyaris mati. Dia juga tidak pernah marah meskipun anjing yang sudah diberinya makan justru menginginkan pasta yang hendak dilahapnya, ketimbang memarahi anjing tersebut dia lebih rela untuk berbagi.

Baca Juga:  Dağ II: Pilihan Patuh pada Misi atau Kemanusiaan

Marcello juga punya seorang putri kecil yang menjadi sandaran cintanya. Di hadapan putrinya itu ia berusaha tampil sebagai ayah yang baik dan bersih dari perbuatan melanggar hukum. Dia sering mengajak putri-cantiknya itu pergi menyelam di laut.

Adegan ketika Marcello menyelam bersama putrinya seakan gambaran impian akan kehidupan yang lebih baik. Setiap kali selesai menyelam kita dapat melihat bagaimana Marcello, sembari memeluk putrinya, termenung dan memandang kosong pada keluasan laut seakan menyadari betapa jauh dan mustahilnya impian itu.

Gambaran-gambaran itu penting untuk membaca tulang punggung cerita film ini ketika kita kemudian diperkenalkan pada Simone (Edoardo Pesce), seorang mantan petinju, residivis tukang onar yang dengan mudah menghancurkan barang-barang dan menggebuki siapa saja. Marcello sendiri bukan sepenuhnya orang yang berbudi pekerti luhur. Untuk menambah penghasilannya dia juga menjual kokain dalam skala kecil.

Simone adalah salah satu pelanggannya (mereka lebih digambarkan sebagai sahabat) yang kemudian tak pernah mau membayar. Bukan itu saja, Simone juga memaksa Marcello untuk terlibat dalam pelbagai tindak kriminal.

Marcello sebenarnya tidak sungguh-sungguh terpaksa menerima paksaan itu, dia juga memperhitungkan jatah dari hasil tindak kriminal Simone meski berkali-kali dikecewakan karena jatah yang tak sesuai harapan. Pendek kata, Simone memperlakukan Marcello seperti seorang tuan memperlakukan anjingnya.

Sebagai ‘seekor anjing’, Marcello telah memperlihatkan kesetiaannya. Dikecewakan berkali-kali, bukan jerih, bahkan Marcello rela melakukan pengorbanan yang begitu besar untuk Simone yang membuat posisinya di antara para warga kawasan kumuh itu terjungkir. Marcello yang semula dicintai semua warga, berubah jadi sosok yang paling dibenci karena dianggap berkhianat dengan membela Simone, si musuh masyarakat.

Dogman secara implisit mengingatkan saya—dalam perspektif lain—pada novella Jack London Call of the Wild. Kisah seekor anjing husky bernama Buck yang oleh karena suatu tragedi justru kembali ke naluri purbanya. Suatu kisah yang menarasikan bagaimana atavisme bekerja disebabkan oleh situasi lingkungan.

Baca Juga:  Hakikat Merdeka: Menjadi Muda dan Otentik

Tetapi, Dogman jelas lebih rumit karena subjek utamanya adalah manusia. Mateo Garrone, sebagaimana banyak sutradara Eropa lainnya,  menghindar dari template pengisahan ala Hollywood. Hal yang pernah, antara lain, dilakukan dengan sangat “menyebalkan” oleh Michael Haneke dalam Cache (2005).

Beberapa babak dalam Dogman bisa saja terjebak dalam template itu, setidaknya dalam dua kemungkinan besar. Pertama, dalam narasi Hollywood, tokoh yang berusaha ditonjolkan budi-pekertinya meskipun hidup dalam dunia kriminal biasanya mendapat masalah lantaran budi-pekertinya itu. Lalu masalah yang timbul itu akan menghabiskan tiga-perempat durasi film sebelum diakhiri dengan satu ending yang tegas.

Kedua, jika tokoh utama digambarkan lemah dan tak sanggup menuntut balas atas penindasan yang dialaminya, maka akan ada dukungan dramatis dari sub-karakter, dalam hal ini misalnya anjing-anjing, dalam rangka menyemprotkan pesan moral yang jelas. Tetapi, Dogman tidak memakai template itu. Dogman mengabaikan dua strategi tersebut dan menyodorkan suatu kemungkinan moral tanpa standar.

Kawasan kumuh; residu dari arus industrialisasi, membentuk cara hidup yang centang-perenang di kedalaman dan menggoda kita untuk mempertanyakan ikatan-ikatan yang tampak di permukaan. Orang-orang yang tersingkir dari arus besar kemajuan, hidup bagaikan koloni anjing, yang dalam satu kesempatan akan saling gigit di bawah kuasa Sang Tuan Kapital.

Kokain dalam film ini bukan cuma berfungsi sebagai salah satu penyebab masalah, kokain juga adalah bentuk perlawanan (sekaligus pelarian) dari nasib buruk. Tidak ada adegan kejar-kejaran atau baku-tembak yang biasa mengiringi kehadiran kokain dalam film.

Sepanjang film, kehadiran kokain seperti laku subversif terhadap dunia di luar kawasan kumuh itu yang cuma dimunculkan sekali melalui penggambaran ingar-bingar diskotik.

Marcello Fonti meraih award sebagai aktor terbaik untuk film ini dalam ajang Cannes Film Festival 2018. Memerankan karakter yang ringkih, depresif, dan tak berdaya, Fonti berhasil membangun lapisan-lapisan psikologi yang tipis sehingga ketiga hal itu terbungkus oleh laku ceria yang cenderung optimistis.

Baca Juga:  Sudahkah Kita Berdamai dengan Masa Lalu?

Hanya dalam detail-detail kecil—misalnya cara ia tersenyum dan mengangguk—serta keragu-raguannya dalam memutuskan hal kecil, kita dapat melihat lapisan jiwanya yang kelam. Adegan penghabisan film ini adalah puncaknya, Fonti dengan genial memancarkan ketiadaan harapan Marcello sembari menyisipkan kesan rahasia perihal apa yang akan dilakukannya, sesuatu yang mesti berkembang di benak penonton, lantaran film ini selesai sampai di sana.

Lapisan jiwa yang kelam itu juga terintegrasi dengan dominasi warna kelabu-muram sepanjang film. Meskipun sesungguhnya lanskap yang tertangkap memiliki kesan indah apabila dipoles untuk kepentingan indrawi semata.

Keindahan dalam Dogman adalah keindahan yang muram. Keindahan yang dihasilkan dari skema ulang-alik antara sorot-jauh dan sorot-dekat, yang membangun sirkulasi bagi alur-kisahan yang semakin jauh cerita berjalan semakin dalam kita menyelam.[]

Data Film

Judul: Dogman

Sutradara: Matteo Garone

Skenario: Ugo Chiti, Matteo Garrone, Massimo Gaudioso

Sinematografi : Nocolaj Bruel

Genre: Crime/Drama

Durasi: 102 Menit

Pemain: Marcello Fonte, Edoardo Pesce, Alida Baldari Calabria

Tahun Rilis: 2018

Rating: 76% (Rotten Tomatoes), 74% (Metacritic), 7,5/10 (IMDb)

Sumber Poster:  IMDb

Facebook Comments

Penyair, cerpenis dan penggemar film. Telah menerbitkan sejumlah buku, yang mutakhir adalah kumpulan cerpen Belfegor dan Para Penambang (basabasi, 2018).