Ulasan Film

A Star Is Born: Rendisi Duet Klasik yang Kembali Relevan

Posted on in Ulasan Film

Kalau ingin membicarakan properti yang menjadi langganan remake di Hollywood, kita cenderung mudah untuk mengingat karya literatur klasik, film monster, atau superhero. Lalu, ada pula A Star Is Born.

Tentunya ada sesuatu yang istimewa dari drama romantis klasik satu ini. Meski telah digarap empat kali tanpa inovasi signifikan sejak tahun 1937, film ini tidak pernah kehilangan pesonanya.

Di tahun 1954, Judy Garland dan James Mason tampil dalam adaptasi musikalnya. Latar Hollywood kemudian ditukar dengan industri musik untuk mengakomodasi popularitas Kris Kristofferson sebagai seorang musisi saat membintangi versi ketiganya di tahun 1976.

Mengesampingkan perubahan-perubahan minor tersebut, formula naratif yang sama masih setia dipertahankan hingga iterasi keempatnya di tahun ini.

Kini, Bradley Cooper memerankan Jackson Maine, seorang musisi country rock terkenal yang kesehatan fisik dan mentalnya mulai digerogoti alkohol, obat-obatan, dan masalah pendengaran.

Suatu malam, ia kehabisan minuman dan terdampar di sebuah bar dimana Ally (Lady Gaga) membawakan rendisi “La Vie en rose” dengan sepenuh hati. Perasaan cinta antara keduanya langsung terjalin saat pandangan mereka bertemu di tengah penampilan menakjubkan tersebut.

Sepanjang film kita menyaksikan karir Ally yang meroket tinggi sementara Jackson semakin hilang dari peredaran, tersungkur ke dalam siksaan batin yang dibuatnya sendiri.

Selain menawarkan kisah romantis yang serba manis dan gemerlap, A Star Is Born juga ingin mengajukan sudut pandang getir mengenai konsekuensi dari popularitas.

Argumen dibawakan secara lantang sejak kita menyaksikan potongan penampilan Jackson Maine di permulaan film. Tajamnya petikan gitar dan riuh gempita penonton langsung padam saat ia duduk menyendiri di mobil pasca konser.

Baca Juga:  Pacific Rim: Uprising—Pemberontakan Setengah-Setengah

Kesan ironi berkali-kali ditekankan dengan menunjukkan jukstaposisi antara ingar-bingar industri musik dan kesunyian yang menyusulnya.

Meski begitu, fokus atas tema ini mulai buyar saat A Star Is Born terjebak bermacam klise tentang dunia hiburan. Sebagai contoh, penampilan Ally di Saturday Night Live rasanya terlalu gampang  menilai musik pop sebagai hal yang superfisial.

Sementara itu, karakter manager keji yang ingin mengeksploitasi talenta Ally bisa dibilang menjadi cacat kecil yang menodai kecemerlangan film ini.

Sejalan dengan ketiga pendahulunya, A Star Is Born sejatinya merupakan “star vehicle” yang dirancang untuk memamerkan kemampuan bintang utamanya. Maka dari itu, tidak salah untuk beranggapan jika hidup dan matinya film ini bergantung banyak pada Bradley Cooper dan Lady Gaga.

Jika Anda sempat membaca ulasan lain mengenai A Star Is Born, banyak kritikus yang seakan terkejut dan berlomba-lomba memberikan legitimasi atas kemampuan akting Lady Gaga. Hal ini sebenarnya sedikit konyol jika kita mengingat piala Golden Globe yang ia raih dua tahun lalu.

Lagi pula, bagaimana bisa masih ada orang yang meragukan kemampuan akting Lady Gaga? Bukankah citra publik yang selama ini ia kembangkan bisa dianggap sebagai penampilan teatrikal?

Justru, yang paling menarik dari karakter Ally adalah keberhasilannya untuk memperkenalkan penonton pada Stefani Germanotta, pribadi yang selama ini memerankan makhluk asing nan menawan bernama Lady Gaga.

Jauh sebelum “Just Dance” menjadi lagu wajib putar radio di akhir dekade 2000-an, ia masih berkeliling New York mencari bar yang rela memberinya waktu tampil.

A Star Is Born tidak setengah hati untuk mengimitasi perjuangan karier Lady Gaga dan menjadikannya bagian dari narasi. Bahkan, sebuah dialog ringan tentang besarnya hidung Ally kabarnya terinspirasi dari pengalaman sang aktris saat mendapat tekanan untuk menjalani operasi plastik jika ingin diterima sebagai bintang pop “cantik.”

Baca Juga:  Sudahkah Kita Berdamai dengan Masa Lalu?

Buramnya batas antara kisah asli dan rekaan mempermudah Lady Gaga untuk menghidupkan tokoh Ally secara penuh. Sejak awal ia sudah menemukan titik tengah antara kepercayaan diri dan ketakutan seorang musisi berbakat dengan cita-cita besar.

Sebagaimana karier Ally yang tidak akan berkembang tanpa Jackson Maine, kecakapan Lady Gaga akan terbuang sia-sia jika tidak diimbangi oleh Bradley Cooper sebagai protagonis pria.

Perpaduan antara ketenangan koboi dan bravado aktor klasik menjadi bahan bakar utama aktingnya yang begitu karismatik. Kendati demikian, kita masih bisa melihat jelas segala konflik internal dan keresahan yang ia sembunyikan di balik kegagahan tersebut.

Seperti performanya di Silver Linings Playbook atau American Hustle, Bradley Cooper terlihat paling menarik saat ia memainkan karakter yang selalu gelisah akibat beban maskulinitas yang dipikul.

Inspirasi jelas datang dari John Howard yang diperankan Kris Kristofferson di adaptasi film tahun 1976. Tapi, mengingat latar belakang yang semakin mengekspos kerapuhan jiwa Jackson Maine, ia lebih bisa disandingkan dengan Otis Blake dari film Crazy Heart.

Selain Bradley Cooper dan Lady Gaga yang jelas merupakan jangkar emosional film ini, aktor pendukung lain seperti Sam Elliott dan Dave Chappelle juga tidak sembarang tampil.

Bahkan, Andrew Dice Clay yang mendapatkan peran kecil sebagai ayah Ally juga terlihat begitu menggemaskan setiap kali merumpi dengan bapak-bapak lainnya.

Pemahaman Bradley Cooper terhadap sesama aktor rupanya ia manfaatkan dengan baik saat sedang duduk di kursi sutradara ataupun menulis naskah bersama Eric Roth dan Will Fetters.

Kedalaman emosi antara Bradley Cooper dan Lady Gaga sukses membawa kita berpetualang mengarungi ekstase melodrama dosis tinggi.

Mulai dari sensasi cinta yang bersemi hingga renyuhnya perasaan saat semuanya harus pudar sebagai konsekuensi ketenaran, setiap titik ekstrem di film ini semakin mengutuhkan pengalaman menontonnya.

Baca Juga:  Mission: Impossible - Fallout: Jalan Memutar Menuju Titik Awal

Layaknya Romeo and Juliet dalam konteks kesusastraan barat, A Star Is Born telah menjadi paron bagi film-film tentang romantisme dan dinamika dunia hiburan.[]

DATA FILM:

Sutradara: Bradley Cooper

Skenario: Bradley Cooper, Eric Roth, Will Fetters

Aktor: Bradley Cooper, Lady Gaga, Sam Elliott, Andrew Dice Clay, Dave Chappelle

Genre: Drama romantis

Durasi: 135 menit

Studio: Warner Bros. Pictures

Poster: IMDb

Facebook Comments

Filmmaker kacangan, wartawan serampangan.