Resensi Buku

Before 30, Bukan Novel Amore Biasa

Posted on in Resensi Buku

Menikah dapat dikatakan salah satu perkara yang cukup sensitif untuk ditanyakan dan boleh jadi membuat sebagian perempuan yang sudah berusia menjelang akhir 20-an gerah.

Bagaimana tidak? Setiap bertemu keluarga besar, rekan kerja, atau teman lama yang tidak akrab-akrab amat—entah saat arisan, reuni, hari raya, atau pada kesempatan apa pun—pasti ada saja yang bertanya kapan menikah, pacarnya mana, kapan menyusul, kok sendirian saja?

Seolah-olah hidup dinilai tidak sempurna apabila belum menikah atau belum memiliki pasangan.

Hal serupa juga dialami Sondra Smith, Arsitek Senior dan Desainer Interior Home & Garden Solutions, yang berusia 29 tahun dalam novel amore Before 30 karya Nina Ruriya.

Sondra bukanlah perempuan yang memusingkan usia ideal untuk menikah. Sondra sama seperti perempuan lain yang ingin menikah setelah sungguh-sungguh menemukan orang yang tepat. Namun, orang-orang terdekatnya tak ada yang mengerti termasuk mendiang Granny, nenek Sondra, yang meninggalkan sebuah wasiat untuknya.

Alih-alih warisan, dalam wasiat itu nenek Sondra justru memintanya mencari dan menemukan cinta sejati, lantas menikah sebelum usia tiga puluh tahun. Tugas yang berat bagi Sondra.

Seperti yang kita tahu, mencari dan menemukan cinta sejati nyaris sama khayalinya dengan mencari ramuan awet muda. Tidak semudah mencari buku incaran di bazar-bazar atau memburu pakaian-pakaian diskonan saat midnight sale yang semuanya bisa dilakukan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Kondisi ini semakin dipersulit oleh kenyataan bahwa empat tahun sebelumnya, hubungan Sondra dengan laki-laki bernama Jonas Breen berakhir tidak menyenangkan. Kisah percintaan yang kandas itu tampak masih membekas dan membuatnya sukar membuka hati dan menjalin hubungan baru.

Dari novel Before 30, kita bisa mengaminkan anggapan cinta bisa datang dari mana saja dan kapan saja yang benar adanya. Pada suatu malam, Michelle Tripp, sahabat dan rekan Sondra, mengajak ke Gordon & Theo.

Di sanalah Sondra bertemu dan melihat seorang lelaki tampan misterius yang berhasil mencuri perhatiannya, bahkan langsung membuatnya jatuh hati. Sondra seakan-akan mendapat bantuan dari Tuhan.

Baca Juga:  Yang Tersembunyi di Balik Aroma Makanan

Lantaran sebuah peristiwa yang terjadi di parkiran Gordon & Theo, Sondra akhirnya dapat berbincang sekaligus berkenalan dengan lelaki misterius itu.

Sayangnya, keberanian Sondra dan peristiwa tersebut menariknya ke dalam kejadian-kejadian buruk yang membahayakan nyawa dan mengganggu ketenangan hidupnya. Pun, membawanya pada beberapa perkara lain yang sungguh rumit.

Namun, sepertinya Tuhan masih membantu Sondra menemukan sang cinta sejati. Lewat atasannya, Kevin Herrall, Sondra diberikan proyek redekorasi rumah di Royal Street milik Raymond Leighton.

Klien barunya itu ternyata adalah laki-laki misterius yang dikenalnya di Gordon & Theo. Memang, ya, kalau kita sudah ditakdirkan untuk bertemu dengan seseorang pasti akan bertemu entah bagaimanapun caranya, bahkan dalam keadaan-keadaan serbakebetulan yang seringnya tidak bisa dilogikakan.

Selanjutnya, sudah bisa ditebak bahwa di antara keduanya timbul benih-benih cinta bersamaan dengan jalannya proyek redekorasi tersebut. Meskipun begitu, hubungan Sondra dan Raymond tidak selalu berjalan mulus.

Jamaknya sebuah hubungan, banyak masalah menimpa mereka. Belum lagi pernyataan cinta dan keterbukaan Kevin akan masa lalunya yang buruk dan sisi gelap yang selalu disembunyikannya memunculkan keraguan dalam hati Sondra atas perasaannya sendiri. Sebab,Raymond dan Kevin memiliki tempat yang spesial di hati Sondra.

Sondra akhirnya sampai pada masa di mana ia diharuskan memilih dan tidak bisa menghindar. Berhasilkah Sondra mengatasi kebingungan, menemukan cinta sejati, dan memenuhi wasiat mendiang Granny?

Apa penyebab terjadinya peristiwa di parkiran Gordon & Theo dan siapakah dalang di balik kejadian itu?

Dua pertanyaan besar inilah yang merangkum keseluruhan cerita dan yang akan mengungkap kebenaran, pun penyelesaian dari seluruh masalah dan kejadian dalam novel ini.

Bumbu Misteri dan Thriller Disertai Pesan yang Kuat

Latar belakang dan rahasia yang disimpan Raymond, masa lalu yang menghubungkan hampir semua tokoh (Sondra, Raymond, Michelle, Jonas, Mary, Giselle, dll), dan masalah lain yang dihadirkan Nina membuat novel ini tidak hanya memuat kisah roman biasa, tetapi juga menyelipkan aksi-aksi kriminal dan dilengkapi bumbu-bumbu misteri pun thriller dengan porsi yang cukup.

Melalui kerumitan berbagai masalah yang ditampilkan, kita diajak untuk turut menebak-nebak, berpikir keras, sekaligus merasakan ketakutan dan kecemasan Sondra ketika diserang orang tak dikenal.

Baca Juga:  Arab Pegon: Warisan Nusantara untuk Dunia Islam

Adegan penyerangan dan aksi kriminal digambarkan tidak berlebihan tapi cukup menggentarkan seperti ketika kita menonton film drama misteri-thriller. Sensasi yang sama akan kita dapatkan ketika membaca kisah Sondra.

Nina berhasil menggambarkan setiap elemen cerita lewat narasi yang detail sehingga terasa nyata. Karena itu, selama membaca, saya kerap secara sadar memvisualkan adegan-adegan dalam buku.

Misalnya saja adegan ketika dua orang tak misterius menyelinap ke rumah Sondra dan menyerangnya yang saat itu tengah sendirian saja. Saya seperti berada di sana selaku orang bodoh yang ketakutan sehingga tidak mampu berbuat apa-apa selain bersembunyi dengan napas tersengal-sengal dan keringat dingin membanjir.

Sebagai novel debut, Before 30 terbilang berhasil menarik perhatian saya. Selain karena penuturan Nina yang—sama seperti penulis lain yang karyanya pernah saya baca—mengalir dan tidak membosankan, novel ini juga menyuguhkan kisah yang cukup rumit dan banyak memuat misteri dengan latar belakang profesi tokoh di luar bidang pekerjaan saya.

Benar-benar satu hal menarik karena saya dapat mengetahui sedikit-banyak bagaimana seorang arsitek dan desainer interior menjalankan tugas profesionalnya.

Ada bagian yang menurut saya amat menarik dan memantik rasa ingin tahu, yaitu ketika Nina mencantumkan beberapa kejadian sejarah yang mungkin menjadi pengetahuan dan informasi baru bagi sebagian pembaca, seperti sejarah rumah LaLaurie (kekejaman Delphine LaLaurie), Washington Artillery Park, perang Saudara Amerika 1861-1865, badai Katrina, dan lain-lain.

Semua peristiwa sejarah tersebut dipaparkan dengan rapi sehingga tidak terkesan seperti tempelan atau sekadar keterangan belaka demi memenuhi tuntutan jumlah halaman, melainkan betul-betul melengkapi jalinan cerita dengan padu dan utuh.

Before 30 bukanlah novel amore biasa yang bisa dijadikan pembenaran maupun pencerahan untuk pembaca perempuan seusia Sondra yang belum menikah—atau setidaknya, punya pacar.

Baca Juga:  Pinurbo dan Keberhasilan Puisi Jenaka

Jadi, tak perlu berekspektasi apa pun saat hendak membaca novel ini. Karena kisah Sondra tidak terlalu terfokus pada wasiat Granny dan penyebab Sondra masih memilih hidup melajang.

Tetapi, kita masih dapat menangkap penggambaran hal itu dan pesan yang kuat secara tersirat dari adegan di mana Sondra kembali berjumpa dengan mantannya, Jonas.

Tampaknya, Nina memfokuskan ceritanya pada bagaimana Sondra menghadapi momen-momen berbahaya dan apa saja yang dialaminya dalam perjalanan mencari dan menjalin hubungan dengan calon teman hidup yang dirasanya tepat.

Banyak pesan kuat disampaikan Nina, di antaranya pencarian cinta sejati yang tidak mudah, percekcokan dan kesalahpahaman dalam persahabatan, pengkhianatan dan kesalahpahaman dalam hubungan percintaan, pertimbangan ketika memilih pasangan, cinta pada pertemuan pertama, orang terdekat yang menusuk dari belakang, persaingan dalam dunia kerja, dan lain-lain.

Salah satu pesan kuat yang paling mengena adalah sekalipun memiliki sahabat atau seseorang yang begitu dekat, tetap akan ada hal-hal pribadi yang tidak mesti dibagikan dan cukup disimpan seorang sendiri.

Di samping itu, permasalahan yang diberikan pun kompleks karena bukan cuma perkara percintaan, tetapi juga hubungan keluarga dan persahabatan.

Kalau dipetakan, dapat disimpulkan bahwa banyak faktor yang sekali tempo akan memengaruhi dan menyebabkan timbulnya masalah, baik saat ini maupun di masa depan. Masalah-masalah itu bisa saja muncul dari kepedulian, kebodohan, kepercayaan, kepedihan, kedekatan, kegagalan, dan sebagainya dalam hubungan antarmanusia.[]

Data buku:

Judul: Before 30

Penulis: Nina Ruriya

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan pertama: 23 April 2018

ISBN: 978-602-03-8396-5

Tebal: 304 halaman

Foto Cover: Dokumentasi pribadi

Facebook Comments

Bloger buku yang bisa disapa di Instagram dan Twitter @LaunaRissadia