Ulasan Film

Dağ II: Pilihan Patuh pada Misi atau Kemanusiaan

Posted on in Ulasan Film

Sebagian dari kita mungkin sangat mengidolakan tentara, bahkan ada yang sudah ancang-ancang jadi prajurit sejak Sekolah Dasar. Mungkin karena bayangan tentara di benaknya adalah figur gagah perkasa pelindung rakyat, pahlawan bangsa, bahkan aset negara yang tidak boleh hilang.

Antusias kepada tentara ini terlihat di beberapa teman saya sendiri, foto mereka yang memakai seragam tentara memancarkan kebahagiaan. Sementara dari matanya seakan tersirat kalimat: “Inilah kami pahlawan yang rela mati untuk kehidupan kalian.”

Namun, tak semua orang menganggap tentara sebagai pahlawan. Sebagian orang menyebut mereka sebagai pembuat perang dan kegaduhan. Bahkan ada pemahaman bahwa fungsi tentara hanya untuk menjaga aset para hartawan, bukan membela kemanusiaan.

Sejak sistem kenegaraan menjadi populer bagi umat manusia, fungsi tentara bergeser menjadi penjaga keamanan negara, sehingga tidak begitu kelihatan lagi pekerjaannya sebagai penjaga harta orang kaya.

Sadar atau tidak, kalangan yang pro tentara tidak pernah satu suara. Orang Indonesia hanya menyanjung tentara Indonesia. Tentara KNIL dan Nippon kita anggap sebagai penjajah, meski statusnya sama-sama tentara.

Tetapi, KNIL didapuk sebagai pahlawan bagi rakyatnya, begitu pun dengan tentara Jepang. Sehingga kecintaan pada tentara ini sangat berkubu, sepertinya tak ada satu suara yang menyatakan bahwa tentara adalah pahlawan bagi seluruh umat manusia.

Inilah yang digugat oleh Ceyda Balaban (diperankan Ahu Türkpençe) dalam film Dağ II ini. Ia mengeluh kenapa hanya dirinya yang diselamatkan, padahal masih banyak yang butuh pertolongan.

Jurnalis perempuan itu menilai penyelamatan dirinya dilakukan berdasarkan kehendak kesamaan ras. Itulah alasan kenapa rekan kerjanya yang bukan orang Turki itu tidak ikut diselamatkan juga. Ungkapan tersebut ia utarakan setelah lehernya berhasil diselamatkan dari pisau prajurit ISIS. Penyelamatnya adalah pasukan khusus Turki yang sedang melaksanakan Operasi Dağ II.

Baca Juga:  My Mister; Kehidupan Kelam Sugar Daddy yang Baik Hati

Balaban terlihat sekali antimiliter, yang ada di pikirannya sebagai jurnalis adalah prinsip kemanusiaan. Menurut benaknya, semua orang layak diselamatkan, tanpa pandang latar belakang ras dan lainnya.

Di sisi lain, komandan pasukan khusus itu pun mengakui kenyataan, bahwa dirinya tidak bisa membiarkan pasukannya terluka hanya karena membela orang yang bukan warga negaranya. Dari sini, Balaban semakin punya alasan untuk membenci tentara walau sudah menyelamatkan nyawanya.

Percekcokan jurnalis ini berlangsung di tengah misi bertahan dari serangan ISIS yang akan menyerang. Pasukan khusus Turki tersebut benar-benar berada di situasi yang sulit. Selain menghadapi ratusan tentara ISIS, ia juga dihadang oleh kritikan di tengah perjalanan misinya.

Hal yang dikritik adalah sisi kemanusiaan pada pekerjaan militer. Menariknya, pasukan khusus ini tidak menutup telinga, mereka mampu berdialog, hingga mengakui bahwa kemanusiaan adalah idealisme yang agung, sementara militer menganggap ‘misi’-lah yang harus diutamakan dari segalanya.

Dari sini kita bisa melihat bagaimana militer dihadapkan pada situasi yang serba salah: melanjutkan misi atau menyelamatkan sebanyak-banyaknya orang? Mereka bertanya-tanya, apa itu kebenaran, misi atau kemanusiaan?

Kalau memilih untuk mengutamakan misi, militer Israel contohnya, ketika mereka membunuh para demonstran yang menolak pemindahan kedubes AS. Mereka patuh pada misi negaranya, tapi tidak pada kemanusiaan. Sepertinya begini: apabila misi didahulukan, tidak ada kompromi untuk kemanusiaan. Misi adalah segalanya, manusia bukan apa-apa dan halal dibunuh.

Film ini diracik dengan alur maju-mundur, cuplikan perang diselingi masa lalu dua orang yang bersahabat Oguz Caglar (diperankan Caglar Ertugrul) dan Bekir Özbey (diperankan Ufuk Bayraktar).

Cuplikan masa lalu itu memberi penjelasan bagaimana kedua tokoh ini menjadi tentara yang begitu tangguh saat menjalankan tugas. Alper Caglar sebagai sutradara film mencoba menggambarkan detail pendidikan Pasukan Khusus.

Baca Juga:  Pemaafan: Menakar Batas Kebencian

Misalnya, dengan menampilkan ucapan petinggi lembaga kepada para calon anggotanya, bahwa menjadi bagian dari Pasukan Khusus bukan untuk menjadi pahlawan yang dikenang, tetapi justru akan menjadi yang dilupakan.

Hasilnya memang gemilang. Oguz menjadi tentara yang tidak antikritik. Ia bahkan ingin mengkritik tubuh tentara itu sendiri. Ia bisa membantah alasan jurnalis antimiliter itu, yang kecewa pada catatan sejarah tentara yang selalu tampil sebagai penghancur peradaban.

Oguz menolak sebutan tentara sebagai penyebab utama perang, seolah tak ada yang bisa disalahkan lagi selain serdadu. Ia juga mementahkan anggapan Balaban yang menyebutnya terlalu memuliakan seluruh prajurit.

Ia bilang, hanya prajurit yang melayani rakyatlah yang mulia. Hingga akhirnya ia membuat Balaban terperangah saat menganggap ‘membunuh’ sebagai noda bagi dirinya, ketika ia ditanya bagaimana rasanya membunuh orang.

Sosok Oguz yang pandai pelajaran sejarah, tidak gila jabatan dan tidak haus darah ini menjadi sosok tentara yang profesional. Hal ini bisa menjadi pelajaran bagi TNI. Karena institusi pertahanan kita belum menunjukkan perubahan yang signifikan, terhitung sejak reformasi didengungkan.

Jangankan untuk memejahijaukan masa lalunya yang telah menumpahkan darah banyak orang, seperti kasus Tanjung Priok (1984), Semanggi I (1998), Semanggi I (1999), dan daftar kasus lainnya, untuk kembali ke barak pun masih ogah-ogahan. Keterlibatan TNI dalam pengawalan setiap demonstrasi adalah salah satu buktinya.

“Bersama Rakyat TNI Kuat” adalah jargon yang lekat sekali dengan gaya militer Jepang pada masa Nippon berkuasa. Gerakan militer mereka di masa Hindia-Belanda melibatkan masyarakat. Khawatirnya, gaya fasis Jepang yang kejam itu ditiru juga oleh TNI, sebagaimana meniru gaya ‘merakyatnya’ mereka.

Sebagaimana kata Petrik Matanasi dalam Sejarah Tentara (2011), tentara Indonesia warisan Jepang PETA dididik untuk menjadi negara fasis, yang mengemis pemujaan berlebihan dari sipil yang berada di bawah kekuasaanya. Di situasi ini, rakyat tidak bisa berkomentar apa-apa pada tentara. Pokoknya, yang keluar dari mulut tentara selalu benar.

Baca Juga:  The Bucket List: Lunturnya Stereotip Kulit Hitam dalam Premis yang Layak Dicintai

Jargon “Bersama Rakyat TNI Kuat” terdengar merakyat, tetapi memungkinkan juga penyalahgunaan kekuasaan. Katanya “Bersama Rakyat”, alih-alih menjadi pelindung investor serakah, “Bersama Rakyat”, alih-alih melanggengkan kerajaan bisnis pribadinya di tanah rakyat. Apabila “Bersama Rakyat TNI Kuat”, lantas “Bersama TNI yang bagaimana rakyat akan kuat?”. Itulah pertanyaan yang mesti tentara kita jawab.

Kembali ke film, Dağ II tidak menampilkan militer yang super canggih alat perangnya, tetapi lebih menonjolkan betapa peliknya pilihan mengutamakan misi dan kemanusiaan dalam situasi perang.

Dua pilihan itulah yang menagih profesionalitas militer. Selebihnya, kamu bisa menontonnya dan menyimpulkan sendiri. Sambil berdoa agar TNI semakin profesional di usia ke-73-nya ini.

Identitas Film

Judul: Dağ II (The Mountain II)

Sutradara: Alper Caglar

Genre: Drama, War

Cast: Ozan Agaç, Bedii Akin, Murat Arkin, Ufuk Bayraktar

Durasi: 135 menit

Studio: 3leven, CaglarArts Entertainment, Insignia Productions

Rating: 9.4/10 (IMDb)

Rilis: 2016

Poster: IMDb

Facebook Comments

Mahasiwa Jurnalistik UIN Bandung.