Resensi Buku

Panduan Mengejek Kehidupan Serius

Posted on in Resensi Buku

Saya tidak tahu harus menyebut jenis apa untuk buku ini. Ia lebih mirip catatan harian yang ditulis dengan panjang dengan titik-koma yang teratur, apalagi jika mengacu pada subjudul yang ditulis di atas sampul dan agaknya diproyeksikan menjadi buku serial: “Hari-hariku bersama Alqur’an”. Kata ganti milik “ku” di situlah yang mengesankannya begitu.

Sisa-sisa ke-diari-annya pun masih kelihatan, seperti masih adanya istilah “btw” (by the way), kosakata tidak resmi dan/atau aneh seperti “iyig”, “jeniyes”, “tamvan”, dll, yang masih dapat ditemukan di antara himpitan kata yang lain yang dicetak dengan jenis huruf yang sangat resmi, mungkin dari keluarga “arial narrow”.

Buku terbitan Diva Press (Oktober, 2018) dengan ketebalan 231 halaman ini memang tidak untuk dibaca dalam sekali duduk. Ia bahkan mengangkat tema secara acak, meskipun pada dasarnya tetap berpulang pada tema utama: Alquran.

Sederhananya, apa-apa yang dicurhatkan oleh si penulis selalu ada rujukan Alquran-nya meskipun tidak setiap esai—secara tersurat—disisipi kutipan ayat.

Kalau disebut buku motivasi, ia lebih dekat dengan buku tasawuf. Tapi kalau disebut buku tasawuf, kok berasa janggal karena ada “he he he”-nya segala. Tema tasawuf itu kan mengesankan serius, dalam, hening, dan tanpa “he he he”.

Yang ini malah ada iyig-iyig-nya juga. Untung, penyuntingan dari editor, terutama tata bahasanya, rapi sekali meskipun satu dua masih ada kesalahan remeh, seperti kesalahan tik (di kemanakan) serta penulisan partikel “Nya” yang agaknya memang disengaja melanggar aturan dengan ditulis serangkai dengan kata di depannya tanpa tanda penghubung, dll. Baiklah, lupakan, itu urusan editor.

Mengingat judul, buku sepintas mirip kumpulan cerpen Gunawan Tri Atmodjo, untuk nama penulis diterakan dengan sangat jelas di depan: Edi AH Iyubenu. Dan sama sekali tidak ada pembahasan tentang bagaimana ikan-ikan di laut, apalagi cara membuat ikan asin atau asin-asinan.

Baca Juga:  Keluarlah dari Zona Nyaman, Bung!

Judul bersifat simbolis yang maknanya—kira-kira—bahwa ikan yang ada di laut tidak ada yang asin. Ikan asin itu justru hasil rekayasa dan usaha  manusia, malah harus diberi garam setelah ia tiba di daratan. Sepertinya, demikian itulah filosofinya.

Esai pertama dibuka dengan kutipan Imam Junaid al Baghdadi, tokoh sufi masyhur yang banyak tarekat selalu menyebut namanya dalam setiap tawassulnya, meskipun di bagian lain, pada esai-esainya, penulis lebih banyak mengutip Maulana Rumi, sufi penyair pendiri tarekat Maulawiyah dari Persia.

Esai pembuka membahas tauhid yang menurutnya lebih dari sekadar peng-esa-an, melainkan (secara ironis) didefinisikan sebagai sikap terlalu percaya pada kamampuan awam terhadap diri sendiri.

Ia merujuk pada ayat 11 surah Ar-Ra’d tanpa meneruskan pada kelanjutan ayat (“Meskipun Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum tanpa ada upaya dari si kaum itu”), tetapi manusia kerap melupakan bahwa: (“dan apabila Allah menghendaki keburukan pada suatu kaum, maka tak ada yang mampu menampiknya dan tiada pelindung bagi mereka kecuali Allah”).

Poin ini sangat prinsip, tapi sering terpenggal begitu saja.

Jika mau dikelompokkan secara tema khusus, buku ini, meskipun dalam bentuk bunga rampai esai yang kebanyakan terbit lebih dulu di Facebook, dapat dibagi pada beberapa tema. Yang pertama adalah pengalaman reflektif.

Yang pertama dibuka dengan refleksi pertanggungjawaban sebagaimana tergambar pada ketokohan khalifah Umar bin Abdul Aziz yang terkenal. Si penulis mengisahkan percikan-percikan pengalaman yang biasanya disampaikan dari mulut ke mulut di sela obrolan, seperti soal pengemis, misalnya, ke dalam suatu tataran refleksi yang mendalam dan ‘eksistensial’.

Ia, misalnya, mengajukan pertanyaan “Siapakah yang mendatangkan dan mendorong ‘pengemis’ proposal ini datang ke rumahku?” ketika dia menerima tamu seorang petugas pembawa proposal pembangunan sarana ibadah yang menunjukkan tanda-tanda ketulusan, anggaplah mau tipu-tipu.

Baca Juga:  Andy Warhol, Sang Raja Sablon

Dengan seperti itu, maka semula ia menahan diri untuk memberi karena khawatir itu hanya akal-akalan belaka. Akan tetapi, akhirnya dia memberi setelah meyakini adanyan Kekuatan Besar yang mendorong si pengemis tadi datang ke hadapannya sebagaimana tergambar di situ (hlm. 48).

Hal yang sama terjadi ketika dia—berdasaran tuturan pengalamannya di buku ini—melatih kepasrahan dalam hal bersedekah dengan cara “narik uang dari dompet dengan mata terpejam”. Cara seperti ini tidaklah asing.

Beberapa sumber cerita masih dapat ditelusuri dari lelaku para ulama yang cara memberikan santunan atau hadiahnya adalah seperti itu: dengan cara mengambil langsung dari saku bajunya, berapa pun jumlahnya. Meskipun cara seperti ini mudah, tetapi berat untuk dilakukan, terutama buat ‘pemula’, yaitu orang yang baru terima gaji pertama dari kepegawaiannya atau mereka yang baru merintis usaha.

Ada juga pengalaman bermalam di kuburan. Bukan soal berani atau tidak, ia lebih tampak sebagai latihan hidup dalam kesunyian di dalam kubur. Cara-cara yang tergolong ekstrem ini dilakukan oleh si penulis.

Ekstrem dalam arti bukan berarti orang lain tidak akan berani melakukannya, melainkan tidak banyak orang yang melakukannya dengan kesadaran seperti itu. Contohnya adalah seperti manakala dia memaksa dan melatih mengucapkan syukur saat gagal dan tertipu.

Ini tugas yang berat, sama beratnya dengan ketika seseorang mengucapkan “insyaallah” namun dengan kesadaran penuh atas kudrat dan iradat Allah, bukan dengan kesadaran “boleh jadi, boleh tidak”.

Semisal kita rajin salat Duha lalu digerojok rezeki luar biasa, kerap kali kita merasa pede bahwa itu adalah balasan dari doa-doa kita yang terkabulkan, padahal nyatanya kita melakukan ibadah sunnah itu hanya sebatas “main-main saja”, artinya tidak setimpal dengan rezeki yang telah dilimpahkan-Nya.

Itulah pentingnya refleksi untuk selalu cemas pada istidraj, yaitu persemon Tuhan bagi mereka yang diberi rezeki harta dan kesehatan namun justru untuk membangkang-Nya. Refleksi seperti inilah yang banyak dikemas dalam buku ini, peringatan keseharian yang kerap dilupakan.

Baca Juga:  Cinta Tak Ada Mati: Remah-Remah yang Disatukan Kembali

Refleksi lainnya adalah pengalaman-pengalaman sedih, pengalaman ironis tepatnya. Sebut saja misal pengalaman penulis saat masuk ke musala tapi tidak menemukan tanda-tanda kehidupan di dalamnya, atau pengalaman lain yang membuatnya sampai pada kesimpulan bahwa subuh itu adalah awal untuk memulai kerja dan maghrib sebagai ambang batasnya.

Sementara yang kita lihat, manusia kesetanan memburu kerja sampai-sampai kerjalah yang balik memburu dan manusia berlarian karenanya, diburu waktu.

Secara umum, buku ini merupakan kumpulan ejekan terhadap kekayaan yang ditulis oleh orang yang sudah kaya tapi dulunya pernah miskin. Ia artinya produk tulisan berdasarkan paduan teori dan pengalaman.

Ibarat buku tasawuf, ini adalah semacam—semacam dan semisal, lho, ya, saya tidak bermaksud menyejajarkan, apalagi menyamakan—perpaduan Risalatul Muawanah yang berbasis teoretis dan kitab Hikam Ibnu Athoillah yang merupakan buahnya.

Beberapa esai tanpa kutipan ayat, seperti esai larangan mengolok-olok yang tanpa kutipan ayat dari Surah Al-Hujurat. Barangkali, ini merupakan cara penulis agar bukunya tetaplah sebagai buku bacaan ringan, tidak menyaru buku kumpulan khutbah Jumat.

Intinya, melalui buku ini, penulis ingin mengajak pembaca tetap santai dalam menghadapi hidup meskipun sudah sangat sepanneng saat bekerja di setiap harinya. Okelah, kita bekerja untuk membuat roda hidup tetap berputar seperti layaknya para tetangga, tetapi jika sampai hal itu membuat kita terlalu serius dalam menghadapi kesementaraan, nah, buat apa?[]

Data Buku:

Judul: Tak Ada Ikan Asin di Lautan

Penulis: Edi AH Iyubenu

Penerbit: DIVA Press

Tahun Terbit: 2018

Jumlah Halaman: 232

ISBN: 978-602-391-631-3

Foto: Dokumentasi Pribadi

Facebook Comments

Aktivis literasi pesantren, tinggal di PP Annuqayah, Guluk-Guluk.