Ulasan Film

Wadjda: Wajah Perempuan Saudi di Persimpangan Budaya Patriarki

Posted on in Ulasan Film

Jika kamu membayangkan Arab Saudi tak mungkin memproduksi film, apalagi film bagus, maka tontonlah Wadjda, dan bayanganmu akan gugur. Meski tak berhasil masuk nominasi penghargaan Oscar, film yang dirilis pada 2012 itu sempat mengejutkan dunia.

Keterkejutan itu wajar mengingat di negara kaya minyak itu, bioskop bahkan masih diharamkan (baru dihalalkan kembali pada 2017). Selain itu, Arab Saudi terkenal kental dengan budaya patriarki, sementara Wadjda yang disutradarai oleh perempuan bernama Haifaa Al-Mansour, membidik budaya patriarki itu tepat pada jantungnya.

Film Wadjda berhasil menyabet penghargaan tertinggi dalam Festival Film Internasional Dubai (2012).

Sebenarnya, dasar cerita dari film yang berdurasi 97 menit itu sederhana. Gadis cilik bernama Wadjda bercita-cita memiliki sepeda karena iri dengan teman sebayanya, bocah lelaki bernama Abdullah, yang suka usil mengerjainya ketika hendak berangkat sekolah (atau mengaji).

Ada satu adegan di mana Abdullah mengambil jilbab Wadjda dan membawa lari dengan sepeda, yang membuat Wadjda kepontal-pontal mengejarnya hingga kesal.

Wadjda ingin bisa naik sepeda. Abdullah bilang tak mungkin, sebab ia perempuan. Wadjda tak peduli. Ia malah menantang balapan nanti kalau sudah punya sepeda.

Keinginan Wadjda memiliki sepeda membentur kenyataan bahwa masyarakat Arab Saudi menganggap tabu (atau haram) perempuan berkendara, termasuk bahkan hanya sekadar mengendarai sepeda.

Ketika ia utarakan keinginan itu pada ibunya, tentu ditolak. Karena itulah, Wadjda mencari cara sendiri untuk mendapatkan sepeda dengan mengumpulkan uang sendiri.

Angin segar datang ketika di sekolahnya ada lomba menghafal Alquran yang hadiahnya cukup untuk membeli sepeda. Wadjda membongkar tabungan yang semula disiapkan untuk membeli sepeda itu, lalu digunakan membeli aplikasi yang bisa membantunya mempelajari Alquran. Dan hasilnya, Wadjda menang.

Ketika tiba waktu penyerahan hadiah, sang guru bertanya untuk apa hadiah itu? Jawaban Wadjda yang polos yaitu untuk membeli sepeda dianggap memalukan. Gurunya tidak memberikan hadiah itu, dan menyatakan akan disumbangkan ke Palestina. Wadjda pulang dengan kecewa.

Baca Juga:  Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta: Berawal dari Kecemasan, Berakhir Menjadi Warisan

Persimpangan Budaya

Arab Saudi adalah kerajaan yang berdiri atas persekutuan penguasa politik (Muhammad bin Saud) dan mubalig yang menyerukan pemurnian ajaran Islam (Muhammad bin Abdul Wahhab). Arab Saudi sekarang adalah kerajaan yang berdiri kali ketiga, setelah dua kali mengalami keruntuhan.

Industri minyak mengubah wajah Arab Saudi dari negara gurun pasir nan miskin menjadi negeri petrodolar yang kaya raya. Bahkan, sampai saat ini, minyak masih menjadi penopang utama perekonomian, pemasok pendapatan negara hingga 70% (Forbes: 2017).

Besarnya pendapatan dari minyak membuat kerajaan leluasa membangun negaranya, seperti memodernisasi infrastruktur transportasi, pendidikan atau kesehatan. Pendeknya, minyak membawa kemakmuran.

Lihat saja besarnya pendapatan per kapita negara itu, yang pada 2017, berkisar 20,796.32 (USD) per tahun, hampir lima kali lipat pendapatan per kapita Indonesia yang cuma 4,130.66 (USD) per tahun. Wajar jika warga dari negara berkembang berbondong-bondong mengadu nasib di sana, termasuk dari Indonesia.

Namun, agenda modernisasi yang berlangsung itu rupanya belum mampu menjebol konservatisme budaya negara itu. Apalagi budayanya berlandaskan pada pemahaman Islam Sunni Salafi yang cenderung ortodoks.

Salafi/Wahabi adalah salah satu penopang dinasti Ibn Saud sejak kelahiran negara itu pertama kali pada tahun 1744 Masehi. Konservatisme itu bahkan sempat mengeras pada 1979 di mana terjadi peristiwa berdarah pembajakan Masjidil Haram oleh Juhayman Al-Otaibi yang menewaskan banyak korban.

Gerakan itu muncul sebagai penolakan atas modernisasi karena dianggap kebarat-baratan. Memang gerakan itu dengan mudah berhasil ditumpas, tapi efeknya, sejak saat itu, Arab Saudi juga jadi semakin konservatif dalam penerapan Syariat Islam, ditandai dengan munculnya berbagai fatwa yang ganjil, salah satunya pelarangan tempat-tempat hiburan seperti bioskop dan sejenisnya.

Memasuki Abad XXI, Arab Saudi tak bisa terus-menerus menahan diri dari gempuran budaya luar. Pelan tapi pasti, berbagai budaya asing memasukinya.

Film Wadjda juga secara gamblang menampakkan hal itu. Seperti adegan ketika Wadjda pulang dari sekolah dan memutar music rock, lalu dandanan ibunya dan juga guru mengajinya yang khas perempuan Barat ketika berada di ruangan tertutup.

Baca Juga:  Along with The Gods: The Last 49 Days: Sebuah “Drama Keluarga” di Akhirat

Selain itu, demokrasi juga merambat menyusup ke Arab Saudi. Kerajaan mulai memberlakukan pemilihan umum untuk jabatan kepala daerah seperti wali kota, dan hal itu disambut dengan antusias oleh masyarakatnya. Seperti tampak dalam adegan Abdullah yang sibuk memasang lampu untuk acara pamannya yang sedang nyalon dalam pilkada.

Proses merasuknya budaya luar itu kian kencang seiring pesatnya perkembangan teknologi komunikasi, khususnya informasi, yang membuat masyarakat terkoneksi dengan dunia luar secara lebih intens, yang disambut positif oleh generasi mudanya.

Hal itulah yang membuat kerajaan Arab Saudi akhir-akhir ini lebih akomodatif terhadap budaya baru yang tak terbendung, seperti membolehkan lagi bioskop, menghalalkan perayaan Valentine, perluasan hak-hak perempuan di ranah publik, dan menggalakkan industri hiburan dan pariwisata.

Membidik Kultur Patriarki

Kabar menggembirakan Arab Saudi dalam kemakmuran ekonomi itu rupanya masih menyisakan kenyataan pedih bagi nasib perempuannya karena kultur patriarki yang masih kental.

Bahkan, laporan WEF dalam Global Gender Gap Report (2016) menyatakan bahwa Arab Saudi berada di peringkat 141 dari 144 negara yang menunjukkan sangat tingginya kesenjangan gender.

Dalam film Wadjda, kultur patriarki dimunculkan secara telanjang. Berbagai aturan pergaulan sosial ditunjukkan benar-benar membatasi ruang gerak perempuan. Perempuan harus menutup sekujur tubuh ketika keluar rumah.

Perempuan dilarang mengendarai kendaraan sendiri sehingga pergerakannya benar-benar terbatasi. Perempuan harus siap-siap dipoligami jika tidak melahirkan anak lelaki karena perempuan tidak masuk pohon silsilah keturunan.

Seperti ibu Wadjda yang harus berusaha keras untuk tetap tampil menarik di mata suaminya agar sang suami tidak menikah lagi, tapi akhirnya toh tetap menikah lagi. Dan masih banyak lagi, yang jika ingin tahu, Anda harus menonton sendiri.

Kenyataan itulah yang membuat para aktivis perempuan melangsungkan kritik sosial dalam berbagai cara demi memperjuangkan persamaan hak pria dan wanita. Salah satunya tentu saja seperti yang dilakukan oleh Haifaa Al-Mansour lewat film Wadjda ini.

Baca Juga:  Oh, Snap! - Ulasan Film Avengers: Infinity War

Menurut banyak kabar, pembuatan film ini tidak mudah. Itu wajar mengingat banyaknya faktor penghambat dalam pengerjaannya, mulai dari kesulitan pendanaan sehingga harus mencari investor dari Jerman, sampai pada soal teknis lapangan karena kegiatan syuting itu sendiri masih asing bagi masyarakat kota Riyadh yang cenderung konservatif.

Sebagai film “berat” yang mengusung pesan kritik sosial, Wadjda tidaklah menjemukan. Anda akan mudah terhibur dengan berbagai adegan lucu, meskipun dengan kegetiran yang muncul di sana-sini.

Seperti perpaduan antara tragedi dan komedi yang diramu dengan apik. Bahwa kenyataan yang mencekik itu tak perlu diratapi, tapi hanya harus dihadapi, dengan perjuangan tentunya.

Dalam realita keseharian, perlawanan atas kultur patriarki yang berlangsung di Arab Saudi saat ini sepertinya menuai keberhasilan, seiring munculnya berbagai kebijakan pemerintah yang mulai melonggarkan aturan buat perempuan.

Saat ulasan ini ditulis, perempuan sudah diperbolehkan mengendarai mobil sendiri, sudah boleh berbisnis atau bekerja tanpa harus ada izin resmi dari lelaki, bahkan ikut berpartisipasi aktif dalam pemilu (pilkada) dan boleh menduduki jabatan politik. Perjuangan itu tidak sia-sia.

Ketidaksiasiaan perjuangan itulah yang juga dimunculkan dalam adegan pamungkas Wadjda. Yaitu ketika usaha sang ibu agar ayah Wadjda tidak menikah lagi menemui kegagalan, usai menangis memeluk Wadjda, ia memberi kejutan pada sang anak.

Uang yang rencananya dipergunakan untuk membeli gaun merah agar tampil menarik di hadapan sang suami, rupanya diam-diam ia belikan sepeda untuk putrinya. Ia ingin melihat putrinya bahagia, tidak seperti dirinya.

Esoknya, Wadjda langsung mengajak Abdullah balapan sepeda. Film ini ditutup dengan ekspresi kemerdekaan di wajah Wadjda.

Identitas Film:

Sutradara: Haifaa al-Mansour

Skenario: Haifaa al-Mansour

Bahasa: Arab

Rilis: 29 November 2012

Penghargaan: TIFF Awards: The Audience Award

Pemain: Waad Mohammed, Reem Abdullah, Abdullrahman Al Gohani

Poster: IMDb

Facebook Comments

Alumnus Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga, bergiat di Radiobuku dan Syarikat Peresensi Jogja.