Resensi Buku

Cerita Laki-Laki Tercengkeram Patriarki

Posted on in Resensi Buku

Novel membelai pembaca lewat narasi menarik dan menggoda. Novel muncul melalui pusparagam tema tak melulu bikin senang.

Tema cinta atau romantis atau politik kadang tersaji tak inovatif, hingga terasa klise dan picisan. Pembaca jadi tak semangat membenamkan diri hingga titik terakhir buku. Tapi gairah membaca jadi ‘on’ lagi tatkala disuguhkan cerita perkara kelamin.

Ihwal kelamin tak pernah surut dari perbincangan. Novel mengisahkan kelamin menarik pembaca lewat imaji bikin dada berdebar. Novel teranyar anggitan Faisal Oddang bertitel Tiba Sebelum Berangkat (2018), masuk dalam 10 nominasi prosa terbaik versi Kusala Sastra Khatulistiwa 2018. Novel ini menambah daftar karya Faisal “menyentuh” urusan kelamin setelah buku puisi Manurung (2017).

Di Tiba Sebelum Berangkat, Faisal meracik rentetan peristiwa politik, lokalitas, trauma, dan kelamin. Semua bahan baku itu diaduk sedemikian rupa sampai mewujud jalinan cerita apik, mencekam, tapi tetap menghibur.

Tiba Sebelum Berangkat mengisahkan Mapata, awalnya bergender laki-laki dan memutuskan menjadi toboto,lalu menjadi bissu. Dalam tradisi masyarakat Bugis, gender tak hanya ada dua jenis, tapi lima; laki-laki, perempuan, calalai, calabai, dan bissu.

Keputusan Mapata menjadi Bissu bermula efek traumatis. Saat ia masih kecil, bapaknya dibunuh karena terlibat konflik politik. Lalu ibunya memutuskan menikah dengan pria selingkuhan bernama Sukeri. Dari sini trauma itu menyembul.

Korban Patriarki

Suatu hari, di rumah hanya ada Sukeri. Lalu tiba-tiba, Mapata datang dengan terburu-buru karena ingin berak. Melihat anak tirinya itu, pikiran aneh Sukeri semakin tak bisa dibendung. Dengan memanfaatkan keluguan si bocah, bapak tiri itu memasukan kelaminnya ke pantat Mapata berdalih ceboknya tak bersih dan harus mendapatkan pertolongan agar bersihnya lebih afdal.

Mapata pun mengangguk tapi penuh heran. “Jangan bilang ke siapa-siapa, ya, Nak. Ini yang namanya rahasia, dan kalau membocorkan rahasia kamu bisa masuk neraka. Ada setan perempuan di tubuhmu yang harus diusir,” ujar Sukeri setelah melakukan penetrasi (hlm. 30).

Ucapan Sukeri bergema panjang dalam hidup Mapata. Kata-kata menjelma doa. Mapata merasa betul belaka, bahwa dalam dirinya terjebak seorang perempuan. Sugesti itu mengalir hingga kelak ia dewasa. Dan tatkala secara tak sengaja melihat ibunya disetubuhi Sukeri, ia gemas dan cemburu.

Baca Juga:  Osamu oleh Dazai

Waktu berlalu, Mapata ditinggalkan ibunya setelah Sukeri tewas. Sesekali ia mengenang, “Saya merindukan pengusiran setan yang suka dilakukan Sukeri. Dan saya tidak pernah merindukan ibu sama sekali,” (hlm. 89).

Tindakan Sukeri ialah gambaran represivitas. Fragmen itu hadir sebagai penanda kuat dan mengakarnya budaya patriarki. Faisal seolah ingin mengatakan betapa pencabulan bukan semata perkara seks, tapi penjajahan dan penaklukan lewat kelamin.

Efek penindasan itu berbuah trauma, didera Mapata hingga umurnya menua. Sukeri tak hanya menjajah secara fisik (tubuh), tapi juga mental (pikiran) Mapata lewat pendesakkan wacana “setan perempuan yang harus diusir”.

Gairah penguasaan atas tubuh tak berhenti di situ. Tiba Sebelum Berangkat juga menerang-jelaskan Puang Matua Rusmi, pimpinan komunitas bissu, menampol Mapata lewat penafsiran atas mimpi membingungkan.

Mapata kerap mimpi didatangi sesosok berlumur cahaya memanggil-manggil, menurut Puang Matua Rusmi, mimpi itu merupakan perintah langit agar Mapata dilantik menjadi seorang toboto, pendamping bissu dalam berbagai hal.

Karena merasa sudah takdirnya, Mapata pun didapuk menjadi toboto oleh Puang Matua Rusmi lewat serangkaian ritual. Mapata dianjurkan melakukan penyerahan dan penyucian diri kepada dewata. Ritual bikin Mapata pangling saat disuruh menanggalkan sehelai apa pun di tubuhnya, tapi ia tetap menurut.

Seperti saat digumuli Sukeri, Mapata pun hening menikmati tahap demi tahap rangkaian prosesi. “Lagi-lagi, saya hanya diam dan Puang mulai menggerayangi tubuh saya. Dari ubun-ubun, ke bibir, ke leher, ke dada, ke perut, lalu keselangkangan. Saya tidak merasakan ketika Puang menggenggam penis saya. Dada saya bertambah dingin dan tubuh saya semakin terasa ringan. Saya merasakan selangkangan saya hangat dan ketika membuka mata, penis saya telah sempurna berada di mulut Puang,” (hlm. 92).

Tafsir mimpi Puang Matua Rusmi seakan tak ada bedanya dengan ‘kutukan’ Sukeri. Kali ini narasi pemaksaan dihadirkan Faisal lewat cara-cara halus dan terselubung. Dengan dalih “itu sudah kehendak dewata”, Puang Matua Rusmi menguasai eksistensi Mapata.

Baca Juga:  Tokoh-Tokoh yang Tak Berusaha Tampil Baik

Puang Matua Rusmi melakukannya dengan dialog lembut, tak sekasar tindakan Sukeri. Ia betul-betul bekerja lewat hegemoni pikiran. Mapata pun tertunduk, ia bagai tersihir. “Saya seperti bukan diri saya”, tutur Mapata.

Setelah Sukeri, terbitlah Puang Matua Rusmi menjejalkan konstruksi bertubi-tubi atas fisik dan mental Mapata. Di titik ini, Mapata dilihat sebagai sekadar objek, suatu bentuk lain dari model penjajahan. Ketika dalam satu potongan percakapan Mapata berkata “Saya tidak menyukai perempuan”, ia sebenarnya telah kalah oleh represivitas budaya patriarki melalui ejawantah Sukeri dan Puang Matua Rusmi. Ia tak lagi berdaulat atas tubuhnya, kelaminya, atau atas pikiranya sendiri.

Tapi, pelan-pelan, perempuan bernama Batari muncul menawarkan perlawanan. Batari merupakan keponakan Puang Matua Rusmi sekaligus teman kecil Mapata. Batari datang untuk mengatakan bahwa Mapata harusnya tak jadi seorang toboto atau bahkan bissu.

Namun, Batari telat, Mapata telah jadi Bissu ketika Puang Matua Rusmi menyadari bahwa tafsir mimpinya salah. Ia ternyata harus jadi bissu bukan toboto.

Pemberontakan dipantik oleh Batari. Ia sebenarnya kecewa dengan pamannya. Menurut Batari, sudah banyak penyelewengan dilakukan Puang Matua Rusmi. Ia kemudian merasa bertanggung jawab mengembalikan Mapata sebagai laki-laki tulen, bukan sebagai pasangan hidup seorang bissu.

Batari menganggap Mapata laki-laki sakit karena mau mengikuti Puang Matua Rusmi. Ia pun mengajak Mapata bersenggama sebagai usaha penyembuhan. Batari “mulai mengangkang sambil berusaha membenamkan penis saya yang tidak berubah sejak awal. Seperti es lilin lembek,” tutur Mapata (hlm. 105). Penis Mapata tak mau ‘on’. Mapata tak bernafsu dengan perempuan mana pun.

Demi meyakinkan Mapata, Batari pun membongkar rahasia keganjilan sikap Puang Matua Rusmi. “Dia mengangkatmu menjadi toboto agar dia bebas bersetubuh denganmu, hal yang sangat dipantangkan dalam kebissuan, sebenarnya. Menodai kesucian bissu,” (hlm. 165). Setelah percakapan itu, mereka berdua melarikan diri meninggalkan kampung dan Puang Matua Rusmi.

Kehadiran Batari tampak seperti oase bagi Mapata. Namun, tanpa disadari, usaha Batari mengobati Mapata juga merupakan bentuk lain dominasi. Batari memaksa Mapata menyetubuhi dirinya, sedangkan Mapata tak mau karena tak bernafsu. Batari tak putus asa. Ia selalu mencoba membangunkan penis Mapata sesering mungkin. Dan pada posisi ini, sesungguhnya Mapata telah dieksploitasi.

Baca Juga:  Panti Jompo, Lansia, dan Cinta yang Tak Selesai

Sukeri, Puang Matua Rusmi, maupun Batari, sungguh tak berbeda. Mereka sama-sama melakoni peran sebagai penanda digdayanya budaya patriarki, walaupun dengan pola dan metode berlainan. Mereka bertiga memiliki kesamaan hasrat dalam meletakan Mapata di posisi tersubordinat.

Mapata mendapat represi dari Batari dengan dalih mengobati, tapi konstruksi akibat tekanan sebelumnya susah hilang. Ia mendarah daging dalam diri Mapata. Bahkan, setelah Mapata tinggal dengan Batari, penisnya tak kunjung bisa berdiri meski dibelai berkali-kali.

Kisah ini mengigatkan saya pada Ajo Kawir, lelaki dengan penis juga tak bisa berdiri akibat trauma kekerasan seksual di novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, gubahan Eka Kurniawan. Hanya saja, Mapata bisa ‘on’ kalau berhadapan dengan laki-laki, sedang Ajo Kawir, mau perempuan atau laki-laki, penisnya tak berdaya sama sekali.

Mapata hanya sedikit potret, bagaimana orang-orang berebut, berdesakan, untuk mengkonstruksi atau menguasai atau menaklukan tubuh orang lain. Hal itu pada akhirnya membuat Mapata jadi tak merdeka atas eksistensi dirinya sendiri. Ia tahu dan mengerti dirinya lewat pendefinisian orang lain: Sukeri, Puang Matua Rusmi, dan Batari. Ia tak lagi punya otoritas pribadi.

Membaca potret kekerasan seksual dalam novel garapan Faisal Oddang, bikin pembaca sadar bahwa di negeri ini, budaya patriarki masih tumbuh subur, meski kadang tak terlalu tampak. Saya pun ingat petuah Sylvia Walby, bahwa wajah patriarki itu, katanya, acap kali nongol dengan berbagai bentuk. Tapi, watak penindasnya tetap sama.

Siapa pun bisa jadi pelaku dan korban. Dan hadirnya buku Tiba Sebelum Berangkat mengajak kita menghayati bahwa tak hanya perempuan, laki-laki pun bisa tercengkeram patriarki. Nah.

Identitas Buku:

Judul : Tiba Sebelum Berangkat

Penulis : Faisal Oddang

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Cetak : Pertama, 2018

Tebal : vi + 216 hlm

ISBN : 978 602 424 351 7

Foto : Dokumentasi pribadi

Facebook Comments

Berliterasi di Dialektika Coffee and Bookshop. Instagram: @mariohikmat. Facebook: Muhammad Mario Hikmat Anshari.