Ulasan Film

Tengkorak: Film Nekat Nihil Substansi

Posted on in Ulasan Film

Bukan rahasia lagi kalau genre sci-fi memang tidak tumbuh subur di dunia perfilman lokal. Banyak argumen yang dapat diajukan sebagai penjelasan. Perkembangan cabang keilmuan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) yang relatif lambat mungkin bisa menjadi salah satu pemicu.

Kurangnya perhatian terhadap genre ini mungkin juga bermula dari tradisi kesusastraan yang jarang berekspansi dari roman picisan, mitologi klasik, atau realisme sosial.

Kalau ingin mengambil contoh film sci-fi Indonesia belakangan seperti 3: Alif Lam Mim atau bahkan Rafathar, jelas ada kesalahpahaman yang mendasar. Masih banyak yang menganggap film sci-fi cuma sebatas ajang pamer keterampilan manipulasi gambar melalui Adobe After Effects atau program sejenis.

Sementara, kepadatan narasi tidak dipertimbangkan dengan matang. Hasilnya, berlapis-lapis efek visual mentereng tidak mampu menutupi kecacatan fatal film-film tersebut.

Padahal, film sci-fi yang tidak lekang oleh zaman sudah sepantasnya mengakar pada bermacam pertanyaan yang mampu menggetarkan keyakinan. Pertanyaan itu kemudian disampaikan melalui medium audiovisual kongruen yang akan terpatri di benak penonton.

Kendati demikian, luasnya cakupan genre sci-fi tidak menutup kemungkinan bagi sebuah film untuk mengubur ide-ide mewah tersebut dan membiarkan penonton tenggelam dalam kekaguman di permukaan.

Sejak kabar mengenai proses produksinya mulai tersebar sekitar tahun 2014, Tengkorak seakan ingin menjadi mata air di tengah tandusnya lanskap genre sci-fi nasional. Sayang beribu sayang, film panjang perdana Yusron Fuadi ini hanya memperpanjang kemarau yang tak kunjung usai.

Tengkorak mengisahkan penemuan fosil humanoid sepanjang 1.800 meter pasca gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta di tahun 2006. Respons berbagai lapisan masyarakat dirangkum secara kurang efektif melalui cuplikan newsreel yang terlampau panjang di permulaan film.

Baca Juga:  Sudahkah Kita Berdamai dengan Masa Lalu?

Ketimbang menelusuri segala implikasi logis dari kejadian menggegerkan ini—sebagaimana yang tersirat dalam slogan “rediscovering humanity”—film ini justru menjerumuskan Ani, sang protagonis, ke dalam pusaran konspirasi yang tidak terlalu penting untuk dibahas.

Mungkin kita harus mengesampingkan segala prasangka buruk dan berasumsi kalau Yusron Fuadi memang tidak mau membebani penontonnya dengan berbagai pertanyaan eksistensial.

Mungkin, dia meniatkan Tengkorak sebagai film yang mengutamakan petualangan seru dan penuh intrik. Asumsi barusan langsung terbantahkan oleh sederet kejadian insignifikan yang berusaha terlalu keras untuk menjaga momentum yang sejatinya telah hilang selepas lima menit film dimulai.

Rasanya, banyak bagian cerita sengaja dipertahankan hanya untuk menggenapkan durasi agar bisa diklasifikasikan sebagai film panjang.

Alur cerita semakin terasa menyiksa berkat penggarapan visual yang sangat jauh dari kata sempurna. Kalau biasanya teknik long take digunakan untuk menyajikan serangkaian adegan mencengangkan, Tengkorak justru banyak menerapkannya dalam dialog membosankan.

Apakah sebegitu malasnya untuk menyiapkan set-up kamera alternatif saat pengambilan gambar? Karena selain alasan tersebut, pikiran saya yang terlanjur kebas saat menonton tidak mampu mencari rasionalisasi lain di balik keputusan estetik tersebut.

Sang makhluk tituler yang tidak sering muncul di layar mungkin memang sengaja dihemat untuk memupuk antisipasi penonton. Sayangnya, antisipasi tersebut kembali harus dibayar dengan kekecewaan saat si fosil tengkorak menunjukkan wujud aslinya di penghujung film. Kepala ini hanya bisa tertunduk frustrasi saat melihat efek visual yang sama sekali tidak meyakinkan.

Tokoh lain film ini juga tidak lebih hidup dibanding si fosil tengkorak dan justru berhasil memberikan definisi baru terhadap kata “dangkal”. Pengembangan karakter banyak bergantung pada dialog eksposisi yang sejatinya tidak begitu mengesankan.

Baca Juga:  Hichki: Sulitnya Menjadi Guru

Alhasil, tindakan mereka lebih banyak dimotivasi kepentingan plot daripada kerangka psikologis yang dapat dinalar. Eka Nusa Pertiwi kurang mampu meyakinkan penonton untuk bersimpati pada karakter Ani yang inkonsisten.

Sementara itu, Yusron Fuadi kembali menjadi duri dalam daging lewat perannya sebagai Yos, seorang paramiliter sadis yang pertumbuhan mentalnya mungkin terhambat.

Mulai dari bermacam memorabilia yang berceceran sampai tokoh protagonis jelata yang di satu titik merenungi kejelataannya sambil meratapi matahari terbenam, banyak referensi Star Wars yang terselip sepanjang film.

Setidaknya, ini bisa menjadi indikasi bahwa ada keinginan dari Yusron Fuadi untuk menyalurkan semangat George Lucas melalui Tengkorak. Tapi sekali lagi, eksekusi sembrono membuat hal sentimentil itu terdegradasi menjadi pelampiasan fetish seorang fanboy.

Sampai di sini, saya merasa semakin kesulitan untuk mencari nilai positif dari Tengkorak. Namun, saya masih bisa menahan diri untuk tidak menuduh Yusron Fuadi sebagai sutradara yang tidak punya pemahaman atas film yang dibuatnya sendiri.

Setidaknya, saya percaya kalau dia masih lebih paham tentang genre sci-fi ketimbang Wikan Sakarinto selaku produser eksekutif. Dalam sebuah artikel, dia seenak hati melabeli Tengkorak sebagai film hard sci-fi, sebuah subgenre yang menaungi mahakarya seperti 2001: A Space Odyssey dan Solaris.

Apa-apaan itu maksudnya? Hanya karena film Anda “hard to watch” tidak semata-mata membuatnya menjadi film hard sci-fi.

Sebagai film yang (tidak disangka) memasukkan sedikit tema keislaman, Tengkorak justru tidak istiqomah terhadap premis yang sejatinya cukup menarik. Film ini nyatanya terlalu pandir untuk menawarkan semesta imersif yang kaya akan pertanyaan filosofis seperti Blade Runner 2049.

Di saat bersamaan, Tengkorak juga gagal memberi hiburan meriah ala Death Race 2050 yang secara terbuka meresapi elemen nyentrik ke dalam identitasnya.

Baca Juga:  Wiro Sableng: Sang Pewaris yang Membanggakan

Fakta bahwa Tengkorak banyak melibatkan mahasiswa Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada sebenarnya bisa menjadi trivia kecil yang patut diberi acungan jempol. Namun, promosi gencar-gencaran yang tidak sebanding dengan kualitas asli produknya membuat hal ini terasa seperti akal bulus publikasi untuk menuai apresiasi semu.

Sejujurnya, sejak awal saya menaruh ekspektasi tinggi pada film ini. Tapi saya tidak pernah menyangka kalau pengalaman menonton Tengkorak rupanya hanya memberi pelajaran untuk bersimpati kepada para korban investasi bodong.

Sejak pertama kali muncul di lingkup perfilman Yogyakarta lewat film pendek Pendekar Kesepian dan dokumenter Young Man and the Sea, Yusron Fuadi memang sudah membangun citra sebagai sineas nekat.

Tapi perlu diingat, mengendarai sepeda motor sambil mengenakan sarung tinju juga bisa dibilang sebagai tindakan nekat. Apa hal konyol seperti itu juga perlu kita apresiasi?[]

DATA FILM:

Sutradara: Yusron Fuadi

Skenario: Yusron Fuadi

Aktor: Eka Nusa Pertiwi, Yusron Fuadi, Guh S. Mana

Genre: Sci-fi/Adventure

Durasi: 130 menit

Rilis: 2018

Studio: Akasacara Film/Vokasi Studios

Poster: IMDb

Facebook Comments

Mahasiswa yang sedang berusaha menulis novel pertamanya sembari mengerjakan skripsi dan menonton film.