Resensi Buku

Pinurbo dan Keberhasilan Puisi Jenaka

Posted on in Resensi Buku

Puisi yang cerdik adalah puisi yang mampu membuat orang tidak berhenti tertawa. Setiap penyair mati-matian menapis kata, agar kata yang ditemuinya menjadi murni dan segar.

Lebih jauh, puisi adalah penemuan. Bukan suatu usaha remeh, sehimpun puisi Celana (1999), terbit pertama kali di usia 30. Sangat berbeda dengan tipikal penyair milenial, yang selalu tampak terburu-buru menerbitkan buku.

Saya hampir putus asa manapaki suluk pada jalan puisi—sekali waktu Pinurbo menegaskan keluh yang penuh peluh. Selain jalan Tuhan, jalan puisi adalah jalan asu.

Jalan yang tidak biasa, jalan yang sukar diminati orang-orang normal, hidup mati hanya demi kata. Siapa yang hendak hidup miskin, menulislah puisi.

Pinurbo pernah berkata: Saya belajar pada penyair-penyair hebat, macam Chairil dan Sapardi. Saya berusaha untuk jeli, tekun meneliti kata per kata. Saya mencari celah pada karya-karya mereka yang luar biasa.

Dengan kalimat itu kita bisa menerka, bahwa menulis tidak instan. Menulis sama dengan melakoni ritual suatu agama—kita adalah hamba bagi kata-kata. Kita dituntut selalu mengingat dan mengingat, dalam bahasa teologi disebut Istiqomah.

Setelah menelurkan Celana—Pinurbo menjelma pendekar mabuk, ia sukar dikalahkan. Pada tahun 2001, lahir juga sehimpun puisi Di Bawah Kibaran Sarung, menyusul Pacar kecilku (2002).

Dan terus beranak-pinak, Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2005), Kepada Cium (2007), Tahilalat (2012), Baju Bulan (2013), Bulu Matamu: Padang Ilalang (2014), Surat Kopi (2014), Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016), dan Malam Ini Aku Ingin Tidur di Matamu (2016)—kita hanya bisa berdecak kagum, ilmu kanuragannya dalam bersilat bahasa sukar dilampaui.

Pinurbo adalah penyair genius, mampu membuat banyak orang cekikikan. Ia adalah Wiro Sableng dalam bahasa. Ledakan-ledakan logika bahasanya selalu membuat kita geleng-geleng kepala. Selalu ada yang tak terduga, dan mengejutkan dari baris puisi-puisinya yang jenaka.

Baca Juga:  Panti Jompo, Lansia, dan Cinta yang Tak Selesai

Pinurbo dan puisi tidak bisa dipisahkan. Pinurbo tidak bisa hidup tanpa puisi, dan puisi juga tidak bisa hidup (mungkin) tanpa Pinurbo. Ia adalah dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. Ia adalah sederet kisah yang penuh kasih.

Setelah ia sukses menemukan celana Yesus, ia dengan sahaja membaptis diri sebagai penyair celana. Memang tidak bisa dipungkiri, banyak orang mangatakan ‘asu’ terhadap pencapaian Pinurbo itu.

Nama Piburbo begitu lekat di bibir anak-anak muda milenial. Puisi cerdas, kata mereka. Puisi-puisinya selalu tampak lebih muda dari penyairnya.

Tema-tema yang dibangun tidak berhenti pada satu lokus—ia adalah penyair yang rancak dalam menghimpun karya. Ada beragam topik pada Buku Latihan Tidur (2018).

Kita bisa menikmati dengan santai, tidak tegang, karena tabiat puisinya selalu bersifat cekikikan. Antologi ini menampung 45 puisi baru Pinurbo dari tahun 2014-2016.

Berbeda dengan dua antologi sebelumnya, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016) dan Malam Ini Aku Ingin Tidur di Matamu (2016), yang diselingi puisi lama beliau. Dalam buku ini, saya pastikan pembaca tidak akan jenuh.

Pada baris-baris puisi itu, kita akan menemukan wajah humoris Gus Dus—misal, Sebuah Cerita untuk Gus Dur.

Suatu sore ia mengajak saya ngopi di rumahnya. Ia menghidangkan kopi tokcer dan kue enak. Kami berhagia bersama, berbincang tentang hubungan antara kopi, rindu, dan insomnia.//Saat saya bersiap pulang, tiba-tiba ia bertanya, “Eh, agamamu apa?” Kepala saya tuing-tuing. Saya berpikir apakah kopi tokcer dan kue enak yang membahagiakan itu mengandung agama. Sambil buru-buru undur diri, saya menimpal, “Tuhan saja tidak pernah bertanya apa agamaku.” (hlm. 44).

Pinurbo selalu tampak lihai menulis puisi satir macam begitu—banyak kritik sosial yang dibubuhkan pada puisi-puisi jenakanya. ‘Penyair sialan!’ kata seorang yang rajin mengoleksi buku-buku Pinurbo.

Baca Juga:  Negeri (Tanpa) Dokumen: dari Aidit, Orde Baru, hingga Muhidin M. Dahlan

Dengan tidak sadar kita dibius kenakalan berbahasa Pinurbo. Mestinya kita tidak membaca puisi Pinurbo, biar kita tetap jadi masyarakat yang kaku, tidak lucu, menjengkelkan, dan tidak henti mengutuk TOA.

Dan kemungkinan besar, kita tidak akan bisa mengubah pantun lebih santun, atau mengubah peribahasa lebih sahaja, macam puisi Pinurbo ini. Gantungkan cita-citamu setinggi gunung.

Gantungkan terbangmu pada sayap-sayap burung-burung. Rajin pangkal pandai. Jatuh pangkal bangun. Anak kucing lari-lari. Anak hujan mencari kopi. Hujan menghasilkan banjir. Hujan melahirkan pelukan-pelukan yang berbahaya.

Mataharimu terbit dari timur. Matahariku terbit dari matamu. Mandilah sebelum dingin tiba. Cantiklah sebelum lipstik tiba. Buanglah sampah pada tempatnya. Buanglah benci ke tempat sampah. Surga ada di telapak kaki ibu. Kaki ibu mengandung pegal-pegal kakiku.

Agamamu apa? Agamaku air yang membersihkan pertanyaanmu. Tuhan, aku sayang kamu. Sayangku terbuat dari hati yang kurang hati-hati. Tuhan tidak tidur. Tuhan meciptakan tidur—Buku Latihan Tidur (hlm. 6). Begitu.

 Identitas Buku:

Judul: Buku Latihan Tidur

Penulis: Joko Pinurbo

Cetakan: Juli, 2018

Penerbit: Gramedia Pustaka

Tebal: 68 halaman

ISBN: 978-602-03-8533-4

Foto: Dokumentasi pribadi

 

Facebook Comments

Peresensi. Tinggal di Yogyakarta.