Resensi Buku

Media Itu Bernama Rusdimathari.com

Posted on in Resensi Buku
0 Shares

Kala perusahaan media digital melulu menyuguhkan berita-berita pendek yang tidak detail dan minim narasumber, wartawan kerap menjadi pihak yang tertuduh bersalah karena tidak bisa menyajikan berita yang mendalam.

Rusdi Mathari melalui laman Facebook dan situs pribadinya adalah satu di antara banyak orang yang menyuarakan keprihatinan itu; ia sering mengunggah esai jurnalisitik yang menyinggung etos kerja jurnalisme ini.

Perusahaan media dan wartawan menjadi sasaran kritik ketika kualitas jurnalistik yang dihasilkan buruk. Apa yang dikhawatirkan orang-orang bahwa berkembangnya kecanggihan gawai akan memengaruhui kinerja wartawan lantas menjadi benar.

Sayangnya, itu menjadi pengaruh buruk disebabkan daya pikat mendapat dan mendistribusikan informasi secara cepat mengorbankan nilai luhur jurnalisme. Salah satunya prinsip verifikasi.

Berita-berita pendek yang menjadi jualan perusahaan-perusahaan media besar meninggalkan banyak sekali tanda tanya dalam kepala kita. Apakah wartawan tidak bisa lagi menghasilkan karya jurnalistik yang komprehensif berdasarkan hasil liputan yang kuat dengan bentuk laporan yang investigatif, durasi liputan yang panjang, dan tertib verifikasi? Sehingga, isu-isu krusial nasional yang seharusnya bisa menjadi laporan mendalam tidak berhenti menjadi berita pendek yang melulu berpatokan pada standar 5 W 1 H?

Dunia jurnalistik Indonesia tidak diisi oleh wartawan-wartawan bodoh dan malas. Ketiadaan laporan panjang tentang suatu isu tidak bisa kita simpulkan sebagai kesalahan wartawan semata. Pasalnya, ketiadaan laporan panjang bukan disebabkan oleh ketiadaan wartawan andal, tetapi juga dari kehendak media yang bersedia menampung laporan-laporan seperti itu.

Wartawan-wartawan di Indonesia sering terjebak dalam sistem bekerja yang mengharuskan setor lima berita dalam sehari. Bahkan ada yang lebih banyak dari itu. Dengan beban kerja tersebut, wartawan hanya berpatokan pada kecepatan dan mengorbankan perincian dan kedalaman.

Baca Juga:  Am.pe.nan : Tiga Suku Kata yang Menggelisahkan

Maka, ketika pertanyaan mengapa wartawan kita sangat sedikit yang tampil dengan karya laporan jurnalisitik yang panjang itu terajukan, jawabannya karena tidak ada media yang mau menampung.

Namun, persoalan kembali muncul ketika ketiadaan media yang mau menampung laporan panjang menjadi alasan pembenaran wartawan sulit menghasilkan laporan yang panjang. Rusdi Mathari barangkali bersikap persetan dengan itu semua.

Ketika tidak ada media yang mau menampung laporan jurnalistik panjang, ia menciptakan sendiri media itu untuk menampung karya-karya jurnalisitiknya di blog pribadinya: rusdimathari.com. Ketika kebanyakan wartawan melakukan liputan atas dasar tuntutan kerja perusahaan, ia melakukannya dengan status wartawan lepas.

Rusdimathari.com adalah antitesis dari situs-situs berita daring yang kerap menghasilkan berita-berita pendek dan dangkal yang bahkan disusun hanya dengan mencatut status media sosial seseorang, atau memanfaatkan narasumber random dari komentar-komentar warganet.

Karya jurnalistik di laman rusdimatahari.com berdasarkan pada narasumber-narasumber yang terkait langsung dengan isu yang mencuat. Tidak percaya? Mari kita tengok buku terbaru Rusdi Mathari Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam (2018).

Ini buku yang menyelamatkan sembilan belas karya jurnalisitk Rusdi Mathari setelah blog pribadinya rusdimathari.com koit. Di buku ini, reportase yang ditulis dari periode 2007-2014 bertemu, bertegur sapa, berangkulan untuk meneguhkan keampuhan Rusdi.

Ada banyak tema yang ditulis Rusdi. Sebagian besar tema-tema yang panas di tingkat nasional, sebagian kecil bercerita rumah tangganya,  juga tentang masa tua orang-orang di kota, dan ulang tahun grup band legendaris Indonesia: God Bles.

Semua reportase yang ditulis selalu berisi keterangan ”pertama kali dipublikasikan di rusdimathari.com.” Artinya, sebagai wartawan yang pernah bekerja di beberapa perusahaan media, karya jurnalistik yang terhimpun di buku ini belum atau tidak dimuat di media tempatnya bekerja.

Baca Juga:  Out of the Lunch Box; Warna-Warni Olah Pikir ala Iqbal

Mungkin pula reportase ini diterbitkan atas kesadaran Rusdi sebagai wartawan yang mesti melakukan liputan panjang agar bisa menghadirkan berita yang detail, meskipun cara itu berisiko pada diri Rusdi sendiri karena isu yang ditelusuri berkaitan dengan masalah-masalah tidak sepele. Seandainya terjadi hal-hal di luar dugaan, ia sendiri yang akan menanggung imbasnya.

Hasil reportasenya tidak ecek-ecek. Ia bisa menyajikan narasi lain dari tokoh politik yang dipuja-puja publik. Sebagaimana kalau kita membaca reportase berjudul ”Ahok, Monyet, dan Reklamasi di Teluk Jakarta”, kita bisa tahu bahwa Ahoklah tokoh utama penerbitan izin reklamasi teluk Jakarta.

Di balik ketegasan memarahi pegawai kelas staf-staf biasa, ia adalah sosok yang tidak bisa dilepaskan dari megaproyek bernilai 500 triliun itu. Tentu reportase ini ditulis Rusdi dengan rujukan-rujukan yang jelas. Tidak ada dugaan-dugaan yang kabur.

Dalam reportase ini pula kita bisa melihat sosok Ahok yang lain, yang sangat berbeda dari berita-berita di televisi. Ia tegas memarahi staf pegawai dan menggusur pemukiman kumuh tapi sangat toleran terhadap proyek besar yang sangat membayakan lingkungan dan kehidupan masyarakat pesisir di sepanjang teluk Jakarta.

Rusdi menghadirkan apa yang luput disajikan media-media ternama. Model reportase seperti ini juga kita dapati dalam tiga jilid liputannya berjudul ”Antasari: Catatan Seorang Wartawan.” Rusdi, lewat reportase panjangnya, bisa menghadirkan sosok Antasari yang tidak tunggal. Ia juga menyinggung bagaimana sosok Antasari yang tidak dikenal banyak orang bisa secara tiba-tiba terpilih menjadi ketua KPK.

Ini bisa terjadi, menurut penuluruan Rusdi, karena terdapat persengkokolan antara Antasari dan anggota DPR yang menyeleksi calon pimpinan KPK. Hal ini sangat mengejutkan mengingat sosok Antasari telanjur ditampilkan di televisi sebagai pemimpin yang tegas, tidak pandang bulu, jujur, dan tidak doyan suap.

Baca Juga:  Cinta Tak Ada Mati: Remah-Remah yang Disatukan Kembali

Liputan-liputan yang dikerjakan Rusdi berkualitas tinggi dan kerap memanen ribuan pembaca. Tragisnya, reportase-reportase bagus ini justru memancing media ternama untuk diam-diam mengutipnya. Ini terjadi saat Rusdi meliput kasus pengusiran orang-orang Syiah di Sampang.

Hasil liputan ditawarkan ke media yang terbit di Jakarta. Semunya menolak. Tetapi, keadaan berbalik ketika kasus tersebut menjadi isu nasional. Media yang tadinya menolak hasil liputan Rusdi malah mengutip blognya.

Begitulah kerja perusahaan media. Pemuatan liputan bergantung panasnya isu yang berembus dan dampaknya pada oplah dan pasar pembaca. Di rusdimathari.com, dua hal itu sama sekali tidak menjadi pertimbangan.

Barangkali niat Rusdi merumahkan reportase-reportasenya di rusdimathari.com cuma satu: menjadi sumber informasi berita yang detail dan valid. Itu dibuktikan kala beberapa media yang dulu menolaknya, malah diam-diam merujuk liputannya sebagai bahan berita[].

Identitas buku:

Judul: Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam

Penulis: Rusdi Mathari

Penerbit: Mojok
Halaman: 215 Halaman

Cetak: Juli, 2018
ISBN: 978-602-1318-63-8

Foto: Dokumentasi pribadi

Facebook Comments

Bergiat di Rumah Kegiatan Singosari Sembilan (RKSS) Semarang.