Ulasan Film

Oleh-Oleh Crazy Rich Asians

Posted on in Ulasan Film

“Biarkan Cina tidur,” kata Napoleon. “Karena kalau dia bangun, dia akan membangunkan dunia.”

Saya menyimpan kata-kata Napoleon yang nongol di pembukaan film itu. Menebak-nebak apa maksudnya. Sedikit nakal, saya menggumam dengan o panjang; o… dunia sedang tidur sekarang.

Sebelum menonton film ini, saya sempat melirik novelnya. Tebal. Dan, tidak selesai baca. Film-film yang diangkat dari sebuah novel cenderung dikhawatirkan tidak memuaskan. Sudah sering terjadi peperangan pendapat antara pecinta buku dengan pecinta film.

Pun, tentu, mereka membela media kecintaan. Saya cenderung lebih senang membaca versi bukunya. Tapi, tidak menutup kemungkinan untuk sangat puas hanya dengan menonton filmnya saja.

Di bioskop itu, saya menduga, Crazy Rich Asians akan menambah daftar kesegaran komedi-romantis di jagat film setelah tahun 1989 ada When Harry Met Sally. Atau jauh sebelum FTV Indonesia menjamur dengan pola benci jadi cinta, di tahun 1999 ada 10 Things I Hate About You. Dan, masih banyak lagi.

Penilaian saya di tengah pemutaran filmnya, Jon M. Chu—sutradara asal Amerika Serikat yang dikenal lewat film Step Up 2: The Streets dan Step Up 3D—ini sudah sukses menghadirkan kesegaran film komedi romantis yang diangkat dari novel Kevin Kwan itu.

***

Crazy Rich Asians saya kira punya banyak kemiripan dengan film-film komedi romantis lainnya. Namun, upaya melupakan dan sekadar menikmati film itu sebagai cerita selalu gagal saya lakukan. Saya rasa, film ini menjadi spesial bukan sebab genrenya.

Tapi, cocok dengan judulnya, mayoritas penggarap film ini, mulai dari kru hingga pemainnya merupakan keturunan Asia. Bagi Hollywood, Crazy Rich Asian juga menjadi penyegar setelah hampir 25 tahun paceklik pemain berdarah Asia setelah The Joy Luck Club (1993).

Jon M. Chu tentu sedang tersenyum bangga. Selain sebab laman agregator Rotten Tomatoes memberi nilai 93 persen, selama tiga pekan penayangan, Crazy Rich Asians nangkring di puncak box office Amerika Utara.

Baca Juga:  Hakikat Merdeka: Menjadi Muda dan Otentik

Ceritanya barangkali sesederhana ini: seorang cewek, diajak pulang menemui keluarga si cowok dan terkejut begitu tahu bahwa keluarga cowoknya ternyata kaya raya. Paling kaya di negaranya. Bahkan, ternyata si cowok adalah idola mayoritas perempuan lajang kelas atas. Itu saja.

Tapi, baik Kevin Kwan di dalam bukunya, maupun Jon Chu dalam film, sama-sama pintar meracik dan mengemas cerita sederhana itu menjadi sangat emosional.

Tidak hanya cecintaan yang diangkat, tapi juga budaya di Asia yang sebagian besarnya masih menganut bahwa restu orang tua adalah segalanya. Dari sanalah konflik itu diobrak abrik.

Ngomongin soal kaya raya dan glamor, saya rasa, film ini memang dibungkus sedemikian rupa. Meski begitu, persoalan mendalam adalah tentang identitas etnik, tarik-menarik kelas dan budaya. Di mana orang kaya lama berhadapan dengan orang kaya baru dan pertemuan antara kepentingan pribadi dan pengabdian pada keluarga.

Nick Young (Henry Golding) dan Rachel Chu (Constance Wu) adalah sepasang kekasih yang serba saling. Sama-sama rupawan dan saling mencintai. Sejak film ini dimulai, mereka sudah klik gitu aja. So sweet. Sebab film ini berdurasi dua jam, tentu mesti ada halangan bagi sepasang kekasih ini.

Nick, seorang Cina-Singapura, adalah pewaris utama keluarga paling tajir di Singapura. Sedangkan Rachel—meskipun seorang Cina-Amerika yang bergelar Profesor Ekonomi di Amerika—dikisahkan datang dari kalangan keluarga biasa-biasa saja.

Suatu hari, datanglah undangan untuk menghadiri pesta perkawinan seorang sahabat baik Nick di Singapura. Nick mengajak Rachel untuk diperkenalkan pada keluarganya. Anehnya, si Profesor Ekonomi yang cantik itu sama sekali tidak tahu kalau pacarnya adalah seorang “sultan”! Nah, di sanalah konflik ini dimulai.

Saya merasa aneh, karena di saat hampir seluruh perempuan di Singapura menginginkan Nick yang super tajir itu, Rachel justru tidak tahu apa-apa tentang latar belakang Nick.

Baca Juga:  Along with The Gods: The Last 49 Days: Sebuah “Drama Keluarga” di Akhirat

Di film ini, alasan Rachel hanya karena tidak mau tahu. Baiklah, barangkali ini sisi banding antara Rachel dan perempuan lain bahwa ia bukan cewek matre. Konflik film ini memang telah dimulai sejak Rachel harus menghadapi ibu Nick Young, pacarnya, yang tidak setuju dengan hubungan mereka. Ibu Nick berupaya menjauhkan Rachel dengan harapan Nick mengurus bisnis keluarga Young.

Ucapan-ucapan Eleanor (Michelle Yeoh) sangat satir sejak bertemu dengan Rachel. Seperti, “Ketika anak jauh dari rumah terlalu lama, mereka lupa mereka siapa”. Rachel langsung tahu bahwa ibu Nick tidak menerimanya.

Eleanor memang menentang hubungan Nick-Rachel. Sejak diberi kabar bahwa Nick akan mengajak Rachel, Eleanor diam-diam menyewa seorang detektif untuk meneliti keluarga Rachel. Dan, benar! Eleanor menemukan fakta bahwa masa lalu keluarga Rachel kelam.

Adegan-adegan pendek dalam film ini disuguhkan dengan lebih baik dan emosional. Sekali lagi, emosional. Bagusnya, selalu ada komedi di dalamnya. Yaiyalah, genre komedi-romantis!

Sebenarnya, premis cerita dalam tubuh film ini begitu purba. Gitu-gitu aja. Kisah ini wajarnya punya potensi jadi cerita yang mudah ditebak.

Lihat saja, cinta terhalang kasta, calon mertua julid, dan gadis miskin tapi cantik sekaligus cerdas yang tertindas adalah elemen receh yang sering muncul di sinetron atau FTV.

Sineas Jon yang kita kenal lewat G.I. Joe: Retaliation dan Now You See Me 2 menyelamatkan film ini dari kerecehan sinetron. Saya suka dengan dialog-dialog dan pembawaan setiap pemeran. Ini menjadikan Crazy Rich Asians bukan sebagai roman picisan belaka.

Fakta lain yang membuat saya suka, bahwa ini adalah film komedi-romantis pertama yang diproduseri studio film besar di Hollywood dengan dipenuhi aktor-aktris dari Asia Tenggara.

Sebab, memang tidak setiap tahun muncul studio Hollywood memerankan orang Asia sebagai pemeran utama. Meskipun dalam genre lain, thriller-misteri-drama, ada film berjudul Searching memerankan John Cho—aktor Korea-Amerika—sebagai tokoh utama.

Baca Juga:  Red Sparrow, Burung Gereja yang Sok Tegar namun Rapuh

***

Ajaibnya, tidak ada pemain yang sia-sia muncul di film ini. Atau hanya tempelan belaka. Goh Peik Lin  (Awkwafina) beserta keluarganya yang aneh tidak hanya hadir sebagai pelawak atas nama koomedi-romantis.

Peik, sebagai teman kuliah Rachel, berperan besar ketika Rachel berada di titik terendah sebab keputusan bulat Eleanor untuk tidak sudi menerimanya sebagai menantu. Sekali lagi, tidak ada karakter yang mubazir. Porsinya jelas dan pas.

Saya yang sedang butuh sentuhan romantis lengkap dengan kegilaannya, merasa tidak sia-sia datang ke bioskop malam itu. Andai Jon datang juga waktu itu, saya akan berterima kasih telah menggarap film ini dengan baik.

Juga kepada para penikmat Crazy Rich Asians sebagai penonton, pembaca, bahkan peresensi; terima kasih!

Kalau mau mengambil nilai selepas menonton film ini, saya jadi ingat ada beberapa hal sederhana yang coba ditampilkan—baik tersirat maupun tersurat—dalam Crazy Rich Asians.

Pertama, keluarga. Bagaimanapun, keluarga adalah rumah terbaik bagi pengelana seorang anak atau orang tua. Kedua, cinta. Kamu tahu, hal kedua ini selalu menyenangkan bahkan saat diterpa kesedihan. Bangsat, kan?

Dan, yang ketiga: persahabatan. Tiga elemen yang—sampai kapanpun—terus melekat dalam pola kehidupan kita yang pelan-pelan menjadi mesin. Cukuplah itu jadi oleh-oleh buatku—atau penonton lainnya. Sekian. [AR]

Identitas Film

Judul : Crazy Rich Asians

Genre : Komedi-romantis

Pemain : Constance Wu, Henry Golding, Michelle Yeoh, Gemma Chan, Tan Kheng Hua

Sutradara : Jon M. Chu

Penulis : Peter Chiarelli, Adele Lim

Produksi : Warner Bros, SK Global, Color Force

Durasi : 2 jam

Poster  : IMDb

Facebook Comments

Penulis sekaligus desainer lepas. Mahasiswa S-1 Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. Aktif bergiat di Komunitas Kutub. Sedang menyiapkan buku kelimanya: mengunjungi hujan yang berteduh di matamu. Surel: alfinrizalrizal@gmail.com.