Resensi Buku

Out of the Lunch Box; Warna-Warni Olah Pikir ala Iqbal

Posted on in Resensi Buku

Buku bersampul putih ini terlihat berwarna-warni dengan hiasan gambar-gambar kartun lucu. Menyuguhkan kesan ringan dan energik untuk dibaca. Judulnya Out of the Lunch Box, buku kedua Iqbal Aji Daryono yang terbit setelah Out of the Truck Box.

Buku pertama berisi kenangan Iqbal saat menelusuri jalanan Australia yang diulas menarik seperti rupa ayu anaknya, si Hayyun. Sementara, buku kedua ini lebih mengajak pembaca berpikir lumayan keras.

Secara lucu Iqbal membagi esai-esainya ke dalam tiga “menu” unik yang dinamainya Tahu Gimbal, Capcay Kuah, dan Lontong Balap. Mungkin daftar isi bukunya lebih mirip daftar menu makanan di depot bu Beti (hehehe). Ketiganya merupakan trilogi yang saling berkaitan antara isu Politik, Agama, dan Sosial.

Siapa pun yang jadi followernya pasti tahu, bahasa khas Iqbal menye-menye tapi lugas. Atau sebaliknya, kadang terkesan tegas tapi isinya ringan dan mudah banget dipahami.

Esai-esai Iqbal kerap nangkring di laman portal online seperti mojok.co, detik.com,  kumparan.com , tirto.id, dan seabrek lainnya. Ada yang bahasannya serius bianget, ada juga yang ringan tapi tepat sasaran.

Yah, Iqbal memang cerdik dalam urusan mengolah dan menyampaikan gagasan lewat medium tulisan.

Jika pembaca yang budiman adalah pemuja esai-esai Iqbal, tentu tidak asing lagi saat membaca isi buku ini. Esai-esai dalam buku ini memang merupakan kumpulan tulisannya yang pernah dimuat di portal online. Kalaupun ada yang diubah, mungkin hanya letak titik atau komanya saja.

Sebagai esais, Iqbal lumayan aktif di dunia maya. Esainya banyak yang disebarluaskan lewat akun pribadinya. Bahasanya yang provokatif membuat esai ini benar-benar debatable. Siapa pun yang membaca akan gatal untuk ikutan nyinyir dan adu keras kepala, eh, ide.

Membaca esai Iqbal di dunia maya dengan di buku tentu memiliki perbedaan yang besar. Katakanlah kalau di dunia maya, akan banyak akun saling samber-menyamber adu argumen. Sebaliknya, dalam bentuk buku, kiranya pembaca akan manyun gagal debat. Misal kita bacanya di kamar, memangnya mau debat sama tembok?

Baca Juga:  Menghayati Hujan Duri, Memuasai Indonesia

Keberhasilan Iqbal adalah menyuguhkan esai yang menarik. Bahasa yang khas dan pikiran alternatif yang lain daripada lainnya membuat pembacanya gandrung. Iqbal berani mengambil topik-topik rentan dan sensitif.

Seperti topik agama dan politik yang kadang menimbulkan debat tanpa henti, salah ketik saja bisa geger tak karuan. Begitulah Iqbal, berdiri dan menghidupkan esai-esainya dengan berani.

Dalam Tahu Gimbal ada banyak ulasan menarik yang juga mengandung topik sensitif, misalnya menyoal argumen Buya Syafi’i soal Ahok, HTI, PKI, dan lain-lain.

Salah satu esai berjudul Buya Syafii dalam Kepungan Masyarakat Hitam Putih, Iqbal menuliskan secara jelas dan gamblang, di mana letak kekhilafan para pembaca berita seputar dugaan dukungan Buya terhadap Ahok.

Dijelaskan bahwa Buya bukan membela Ahok, tapi mengungkapkan pendapatnya tentang tidak adanya indikasi penistaan agama.

Membaca tulisan beginian biasanya rerata masyarakat akan cepat tanggap. Kadang melihat judulnya saja sudah mau mabuk laut, apalagi baca isinya.

Kaum pembaca judul biasanya akan langsung mendamprat si penulis tanpa merasa perlu repot-repot membaca keseluruhan isi, apalagi memahami dan merenungkan dengan hati. Namun, di situlah Iqbal malah seperti oase menyejukkan pikiran kalut dengan kemenarikan esainya.

Masih dalam Tahu Gimbal, Iqbal dengan ceriwis menyajikan ulasan tentang Anies Baswedan dengan judul Membaca Langkah Marketing Anies Baswedan. Pembaca yang budiman, Iqbal begitu blak-blakan menuliskan dengan jelas langkah-langkah yang memang diambil oleh Anies Baswedan ketika hendak merebut kursi Gubernur DKI Jakarta.

Esai itu seolah mengajak pembaca untuk kuliah babakan perpolitikan. Praktisnya, kalau mau maju jadi calon pejabat, rasanya perlu sekali sinau politik dengan tulisan ini. Begitu mudah, jelas dan berasa ingin segera menuju KPU—nyalonin diri.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, setelah sekte Tahu Gimbal, seri menu kedua dari buku ini ada Capcay Kuah. Capcay Kuah adalah sebuah menu yang isinya seputar isu agama. Namanya juga Capcay Kuah, tentu isinya banyak dan ada kuahnya, dijamin ngiler!!!

Baca Juga:  Panti Jompo, Lansia, dan Cinta yang Tak Selesai

Eits, ada beberapa isian yang menarik dari menu ini. Esai berjudul Kristenisasi Itu Ada, Islamisasi Juga sangat renyah dibaca. Iqbal dengan segala kekuatan penanya membentangkan peta bahwa agama-agama pada akhirnya saling beradu dalam dakwahnya.

Lincah, membungkam tudingan-tudingan Kristenisasi melalui bantuan kemanusiaan. Iqbal membedah fakta bahwa tidak hanya Kristen yang mengajarkan dakwah, Islam juga demikian. Agama Kristen mengenalnya dengan jalan misionaris sementara dalam Islam dikenal dengan nama dakwah. Jelas?

Capcay Kuah, merekah lezat memupuk perkara agama yang selama ini malang melintang menjadi debat serius di media-media. Cukup dengan menghabiskan menu ini, orang akan memahami bahwa isu agama memang masih hangat dan ke depannya, akan kian memanas menuju tahun politik.

Secara kemripik, Iqbal menggoreng isu-isu itu dalam esai yang mudah dibaca dan dimengerti, bahkan oleh awam sekalipun.

Beranjak dari Capcay Kuah, ada menu Lontong Balap yang lumayan pedas dan sengak untuk dimakan. Lagi-lagi Iqbal membius pikiran pembaca untuk menghabiskan satu menu terakhir ini.

Masalah-masalah sosial yang silih berganti menjadi topik masyarakat dia rangkum di sana. Beberapa yang menarik perhatian adalah menyoal isu petani, rokok, dan pisuhan.

Pemuja Iqbal pasti pernah baca dong ulasan petani yang dianggap melanggar HAM itu. Beberapa media membikin framing seolah petani telah melangkahi HAM seorang anak kecil karena mempekerjakan mereka.

Ndilalah, media itu ditapuk sama esainya Iqbal yang membuka tabir-tabir kekurangpiknikan para pembaca. Iqbal mengajak pembaca piknik menuju lahan petani tembakau dan bertanya langsung kepada mereka.

Tidak ada istilah child labour dalam kegiatan saling membantu itu. Fix, itu murni kegiatan seorang anak yang membantu orang tuanya.

Selain esai-esai nyentilnya, Iqbal membikin sebuah solusi bagi para aktivis anti-rokok dan pro-rokok. Dengan gaya nyentriknya, sebuah solusi realistis muncul. Semua pertengkaran itu mesti segera berakhir ketika dua kubu berbagi ruang. Lho, Iqbal memang jenius, selain penulis dia juga penemu resolusi perdamaian, eh.

Baca Juga:  Sekapur Sirih

Yang paling menyadarkan pola pikir dengan tensi tingkat tinggi adalah esai menyoal pisuhan. Asli, esai ini menampar pipi para pembaca yang kurang piknik. Bagaimana tidak? Iqbal menjelaskan secara datar dan enteng bahwa pisuhan itu tidak ada bahasa aslinya.

Apa pun bisa jadi sumber kata pisuhan jika diucapkan dengan penekanan dan intonasi mengumpat. Iqbal menyadarkan, bahwa setiap kosa kata bisa menjadi apa pun tergantung si pengucap.

Semacam ada stilistika yang dibawa setiap pengucap kata. Pun harus disadari bahwa pisuhan, ya, pisuhan, tidak diperlukan pemurnian atas pisuhan. Heheheu.

Membaca Out of the Lunch Box seperti membaca kita. Pembaca diajak berdiskusi dengan pola pikiran yang bermacam-macam. Kadang menggebu-gebu kadang selow bahkan datar.

Ada alur cerita bagus yang diselipkan Iqbal. Pembaca secara alamiah digiring menuju pemahaman yang mudah dan tidak njlimet. Realitas yang dituliskan Iqbal sangat merakyat, layak dibaca siapa pun.

Dia esais penuh misi yang dengan olah pikirnya menyuguhkan sisi kemenarikan sebuah kasus atau peristiwa. Esai ini dengan apik mendokumentasikan kekisruhan di zamannya. Tentu esai ini laik pula dibaca kapan pun, tidak terkungkung batas-batas waktu.

Nah sebagai penutup kicauan seputar buku ini, harap pembaca yang budiman merelakan waktu untuk membacanya. Selamat bersenang-senang![]

Data Buku:

Judul: Out of the Lunch Box

Pengarang: Iqbal Aji Daryono

Penerbit : Shira Media

Tahun: 2018

Cetakan: Pertama, Juni 2018

ISBN: 978-602-5868-16-0

Jumlah halaman : xvi + 244 halaman

Foto Buku: Koleksi pribadi

Facebook Comments

Pejalan Partikelir yang nangkring di fb. N Naharin, Twitter N Naharin, IG. N Naharin.