Resensi Buku

Panti Jompo, Lansia, dan Cinta yang Tak Selesai

Posted on in Resensi Buku

Pernah mendengar istilah tua-tua keladi? Tentu, karena istilah itu jamak dan tak perlu lagi dijelaskan maksudnya. Anggun C. Sasmi, pada tahun 1990, bahkan menggunakan frasa ini untuk lagunya, Tua-Tua Keladi.

Untuk kasus buku The Japanese Lover, frasa itu bermaksud ganda. Pertama, novel memang berkisah tentang orang tua yang tak kuasa dibakar gelora asmara masa muda yang tak selesai. Dan kedua karena Isabel Allende, penulis novel ini, tak habis tenaganya menulis bahkan tatkala usianya sudah senja.

Semangat mereka tidak lekang oleh usia dan fisik yang semakin sepuh. Isabel Allende tahun ini 75 tahun, usia yang sudah cukup dijadikan alasan untuknya mengucap perpisahan dari dunia literasi, menyusul Alice Munro yang telah pensiun di 2012, pada usia 81 tahun dengan kumpulan cerpen terakhirnya Dear Life.

Namun, novel baru Isabel Allende ini justru menegaskan bahwa daya tahan sebagai penulis tak habis.

Di dalam negeri, kita memiliki Budi Darma (81 tahun), Sapardi Djoko Damono (78 tahun), atau Putu Wijaya (74 tahun). Tiga sastrawan besar yang sudah memasuki masa sepuh itu tak kunjung kehabisan tenaga, terus berkarya dan enggan menggantungkan pena.

Gairah Allende dan tiga sastrawan besar itu seolah adalah versi live-action dari tokoh dalam novel The Japanese Lover. Alma dalam novel ini juga dikisahkan sebagai seorang penghuni panti jompo, tapi semangat dan gelora akan pencarian cinta pertamanya tak lekang oleh waktu.

Novel ini telah terjual lebih dari 65 juta kopi di seluruh dunia dan kembali menegaskan kedudukan Isabel Allende sebagai penulis Chile-Amerika yang berpengaruh.

Poros cerita terjadi di panti jompo bernama Lark House, yang digambarkan sebagai tempat penuh kerusuhan dibandingkan sebagai tempat menghabiskan masa tua. Ini lantaran para penghuninya yang super ajaib.

Baca Juga:  Media Itu Bernama Rusdimathari.com

Total 250 penghuni Lark house adalah mereka yang mengakui diri sebagai pemikir bebas, pencari spiritual, aktivis sosial dan ekologi, nihilis, dan beberapa dari sedikit hippie yang masih hidup di San Francisco Bay Area.

Semuanya dibagi dalam beberapa tingkatan kelas, yang secara leterlek juga digambarkan sebagai tingkatan lantai di mana mereka tinggal. Dan yang teratas adalah surga, yang sudah siap dilepas oleh para penghuni lainnya.

Usia, terlepas dari segala keterbatasannya, tidak menghentikan seseorang untuk bersenang-senang dan mengambil bagian dalam keriuhan hidup,” ujar Isabel Allende dalam salah satu wawancara.

Seorang Imigran berusia 23 tahun dari Eropa Timur, Irina Bazili menjadi pekerja di Lark House. Irina tidak berpengalaman namun senang memiliki pekerjaan itu. Irina yang memang sedang melakukan riset untuk bukunya, justru tertarik dengan beberapa penghuni dan kebiasan-kebiasaan unik mereka.

Penghuni favorit Irina adalah wanita anggun dan elegan bernama Alma Belasco, yang baru-baru ini datang ke Lark House dalam keadaan begitu misterius.

Meskipun ada sesuatu mengerikan yang menghantuinya yaitu konflik ras di Eropa dan labelisasi wanita lacur atas dirinya, Irina nyatanya tertulari oleh kebahagiaan subtil nan ganjil, hingga meleburkan sekat antara dua generasi ini.

Setelah Alma meninggalkan rumah dan pensiun mengendalikan organisasi filantropi keluarganya, yang membangun kebun di lingkungan miskin, dia mengambil sebuah kamar sederhana di Lark House.

Dia tidak peduli dengan berbagai hal yang terjadi dalam kelompok tersebut. Dia lebih memilih berkeliling kota dengan “sebuah mobil mungil, sama sekali mengabaikan semua peraturan lalu lintas, yang dia anggap sebagai pilihannya.” Belum lagi kiriman bunga yang selalu hadir untuk Alma.

Baca Juga:  Am.pe.nan : Tiga Suku Kata yang Menggelisahkan

Ke mana dia pergi? Siapa pengirim buket bunga itu?

Porsi besar cerita dalam novel ini dikhususkan untuk merekonstruksi rincian masa lalu Alma Belasco yang penting. Usaha pencarian Allende menyapu sepanjang paruh kedua abad ke-20, mengumpulkan kekejaman NAZI di Polandia, Perlawanan Prancis, pengasingan Orang Amerika-Jepang dan krisis AIDS, semuanya diungkap dalam adegan mencekam.

Kisah masa muda Alma, seperti judul The Japanese Lover, berkelindan antara orang Amerika dengan Jepang pada saat romansa seperti itu tidak dapat diterima oleh keluarga dan teman sebayanya.

Akan tetapi, setelah hidup lebih lama dari dekade rasis itu, Alma mungkin memiliki kesempatan untuk kebahagiaan yang telah ditolaknya sejak lama.

Ketegangan romantisme itu mengembuskan cerita yang jauh lebih gelap dari masa lalu Irina, yang ternoda oleh kejahatan sangat mengerikan sehingga dia bertekad untuk tidak membiarkan orang lain mendekat lagi.

Di masa lalu, Alma berkenalan dengan keluarga pekebun asli Jepang, bernama Ichimei Fukuda. Alma muda jatuh cinta kepadanya. Namun, ketika gejolak sentimen warga negara Jepang menyeruak di Amerika, keluarga dan bisnis Ichimei Fukuda menghilang. Cinta itu pupus, dan Alma menikah dengan Nathaniel, kawan Alma dan Ichimei di masa muda.

Ketika Nathaniel meninggal, Alma kembali bertemu dengan Ichimei. Gairah di antara keduanya yang sudah manula kembali memanas. Inilah yang kemudian perlahan ditemukan oleh Irina dan cucu lelaki Alma.

Dalam beberapa ulasan, novel ini dinilai keluar dari jalur narasi Allende yang biasa. Sejarah dan isu sensitif golongan, bahkan perang NAZI disinggung dengan halus. Namun, di beberapa bagian lain, tampak Allende terlalu terburu-buru.

Pembaca tidak disuguhi narasi yang kuat, terutama pada bagian awal. Tak aneh bila ada yang menyebut, “Isabel Allende adalah bintang, namun The Japanese Lover tidak bersinar.”

Baik Gairah Alma dalam bercinta maupun gairah Allende dalam menulis sama kuatnya. Usia tak menyumbat keran-keran keduanya. Terlepas dari keterlibatan beberapa tokoh dengan kengerian baik skala nasional maupun pribadi, The Japanese Lover tetap merupakan kisah tentang kemurahan hati yang tulus dan menyegarkan.

Baca Juga:  Fiksi dan Jakarta

Allende berhasil memadukan komedi lokal, fiksi sejarah, misteri, roman dan bahkan catatan fantasi untuk menciptakan sebuah novel yang menyenangkan untuk dibaca seorang diri dan direkomendasikan untuk orang-orang sekitar.[]

Informasi Buku:

Judul : The Japanese Lover

Penulis : Isabel Allende

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Edisi : Pertama, Oktober 2017

Tebal : 408 hal

ISBN : 9786020375854

Foto : Dokumentasi pribadi

Facebook Comments

Pegiat Klub Baca.