Ulasan Film

ALPHA: Bukan Sekadar Film Anjing

Posted on in Ulasan Film

Tidak banyak film yang menceritakan tentang kehidupan manusia prasejarah. Memang jika dipikir-pikir, tidak ada yang benar-benar kita ketahui tentang apa yang terjadi dalam masa di mana manusia belum mengenal tulisan, kecuali sebatas yang pernah kita baca di buku-buku sejarah di bangku sekolah tentang kehidupan manusia purba.

Film semacam itu akan lebih cocok menjadi sebuah film dokumenter arkeologi alih-alih film fiksi. Meskipun demikian, film berjudul Alpha ini berhasil menyajikan sebuah kisah fiksi yang begitu informatif mengenai kehidupan manusia di masa silam.

Seperti telah terwakili lewat tagline official-nya, Experience the Incredible Story of How Mankind Discovered Man’s Best Friend, film ini menyajikan cerita yang memukau tentang bagaimana manusia menemukan binatang sebagai sahabat sejati.

Cerita dibuka dengan kehidupan manusia prasejarah di akhir zaman es, sekitar 20.000 tahun yang lalu. Seorang pemuda bernama Keda (diperankan oleh Kodi Smit McPhee) yang beranjak dewasa mendapatkan kesempatan mengikuti perburuan musiman pertamanya bersama beberapa orang lainnya di bawah kepemimpinan ayahnya, Tau (diperankan oleh Johannes Haukur Johanesson).

Tau adalah sosok pemimpin dan kepala suku yang bijaksana. Dia ingin Keda memiliki keberanian, kebijaksanaan, dan kewibawaan seperti dirinya sebelum menggantikannya sebagai kepala suku generasi berikutnya.

Cerita kemudian berlanjut dengan keberangkatan rombongan menuju medan perburuan. Mereka berjalan mengikuti rute yang sudah ditandai oleh para nenek moyang terdahulu.

Tanda-tanda itu hanyalah tumpukan batu yang disusun menjulang sehingga terlihat jelas dari kejauhan. Mereka juga berjalan mengikuti arah bintang-bintang. Kompas mereka sederhana, gugusan bintang yang diukir di punggung tangan.

Sebagaimana pemuda yang baru beranjak dewasa, Keda masih sangat lugu dan tidak berpengalaman. Dia bahkan tidak bisa membunuh hewan buruan, atau menyalakan api dengan memutar-mutar batang kayu di atas batang kayu lainnya.

Meskipun Keda sendiri tidak yakin dirinya bisa menjadi setangguh ayahnya, Tau yang bijaksana selalu meyakinkannya bahwa Keda lebih kuat daripada yang diketahui oleh dirinya sendiri.

Baca Juga:  Oh, Snap! - Ulasan Film Avengers: Infinity War

Konfilk kemudian muncul ketika rombongan sampai di hadapan sekawanan bison yang sedang merumput (scene ini sebenarnya muncul di awal film). Keda yang sama sekali tidak berpengalaman gagal menghindari serangan seekor bison yang tengah mendengus marah.

Alhasil, tandukan bison itu pun melontarkan tubuhnya jatuh ke jurang. Semua orang menganggap Keda sudah mati. Sang ayah dan kelompoknya yang tidak mampu berbuat apa-apa kemudian pasrah dan meninggalkan Keda yang sebenarnya masih hidup.

Tersadar dari pingsannya, Keda terjatuh ke sungai dan mendapati kakinya patah di beberapa bagian. Dengan langkah terseret kesakitan, dia berusaha mencari tempat berlindung.

Namun sial baginya, dalam perjalanannya mencari jalan pulang, sekawanan serigala membuntutinya dan mencoba memangsanya. Dengan segenap tenaga yang tersisa, Keda melawan satu per satu kawanan liar itu.

Hantaman batu tajamnya berhasil melukai salah satu dari kawanan itu dan begitulah Keda selamat dari maut. Alih-alih membunuh, Keda tidak tega melihat seekor serigala yang terluka dan tidak berdaya dan malah membawa serigala malang itu bersamanya.

Keduanya saling waspada satu sama lain awalnya. Lambat laun keduanya menemukan ikatan batin yang akan menjadi inti cerita dalam film ini. Selanjutnya, Keda menamai serigala itu sebagai Alpha.

Sesuai dengan tagline official-nya, Experience The Incredible Story of How Mankind Discovered Man’s Best Friend, film yang disutradarai oleh Albert Hughes ini menceritakan awal mula manusia menemukan anjing (yang diceritakan bahwa muasalnya adalah serigala) sebagai sahabat sejati.

Mungkin kita sudah sering membaca atau melihat kisah persahabatan antara anjing dan manusia, seperti film Air Bud, Hachiko, atau novel The Call of The Wild dan White Fang karangan Jack London.

Namun, kisah-kisah itu sekadar menceritakan kesetiaan anjing terhadap manusia, tidak menjelaskan asal muasal persahabatan manusia dan anjing. Sederhananya, itu kisah yang sudah matang, bukan mentahnya.

Baca Juga:  The Insult; Narasi Ego dalam Konflik Komunal

Nah, Alpha adalah kisah mentahnya, yang menjadi hulu dari kisah-kisah lainnya yang sering kita lihat dan dengar hari ini.

Awalnya saya heran bagaimana sang sutradara menciptakan bahasa yang bahkan tidak ada seorang pun dari kita tahu bagaimana manusia prasejarah menggunakannya. Tidak ada bahasa inggris dalam film ini kecuali subtittle yang menerjemahkan bahasa prasejarah tokoh-tokohnya itu.

Entah bagaimana pula sang sutradara menciptakan bahasa yang tidak ada di dalam kamus apa pun di dunia. Barangkali, Albert Hughes bereksperimen dengan menggabungkan berbagai jenis bahasa dari seluruh dunia. Bisa jadi juga dia memang serius melakukan riset mendalam soal ini dengan ahli sejarah dan arkeolog seluruh dunia. Siapa tahu.

Sampai-sampai kata yang diterjemahkan sebagai “father” dalam bahasa inggris terdengar diucapkan seperti kata “ayah”. Soal itu, entahlah, saya rasa hanya Tuhan dan si sutradara yang tahu.

Secara teknis, film ini bergaya Disney. Alurnya mengalir begitu saja dan sebenarnya jalan ceritanya bisa tertebak dari awal. Tentang sebuah perjalanan membangun karakter seorang anak yang tidak berpengalaman.

Dia bertemu dengan teman seperjalanan, melewati rintangan bersama menuju jalan pulang, dan berakhir dengan happy ending. Hampir samalah dengan film animasi garapan Pixar, The Good Dinosaur.

Keda muda yang beranjak dewasa digambarkan sebagai tokoh yang lugu dan polos. Sebagaimana bisa ditebak di awal, alur perjalanannyalah yang akan menjadi titik fokus penceritaan, yang akan membuatnya menjadi seorang lelaki sejati.

Meskipun demikian, film ini tetap menarik ditonton. Apalagi jika bukan karena sajian visual bentang alam dan kehidupan manusia prasejarah di zaman es yang digambarkan sedemikian detail dan nyata. Selama ini kita tentunya hanya bisa meraba-raba imajinasi sendiri saat membaca buku tentang zaman prasejarah.

Watak keluguan dan ketidaktahuan Keda dalam banyak hal terutama tentang cara-cara bertahan hidup di alam liar sangat pas saat dihadapkan dengan penggambaran keganasan seekor serigala sebagai ancaman menakutkan. Baik Keda maupun Alpha saling mengisi perkembangan karakter satu sama lain dengan sangat baik.

Baca Juga:  Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta: Berawal dari Kecemasan, Berakhir Menjadi Warisan

Keda menjadi semakin liar, sementara Alpha menjadi semakin jinak. Sesuai dengan tagline film ini yang bertujuan untuk mengisahkan asal muasal persahabatan sejati manusia dan hewan yang saling mengisi dan melengkapi.

Tidak semua orang mengetahui muasal bagaimana anjing bisa berada dalam kehidupan kita sebagai sahabat manusia. Tidak semuanya tahu bahwa nenek moyang anjing adalah serigala.

Domestikasi selama ribuan tahun lalulah yang membuatnya bersahabat dengan manusia. Informasi seperti itu tentunya sangat mudah diserap jika disajikan dalam bentuk film. Dan benar saja, Alpha menjelaskannya.

Sayangnya, pertemuan kembali Keda dan Alpha menurut saya kurang gereget dan kurang emosional. Ini sebenarnya sedikit mengganggu. Terlalu mudah rasanya keduanya dipertemukan kembali.

Akan lebih seru jika pertemuan kembali kedua tokoh utama diceritakan lebih lama dengan berbagai rintangan dan kebetulan-kebetulan lainnya yang sebenarnya mustahil.

Tidak terdapat banyak dialog dalam film ini. Saya lebih terkesan dengan efek suara auman, lolongan, erangan binatang-binatang buas, dan suara-suara alam lainnya. Garapan CGI-nya pun oke (bagi saya yang awam).

Alpha benar-benar berhasil membawa pemirsa melintasi waktu jauh ke masa lalu di mana belum ada bahasa, hanya bentang alam, padang luas yang sunyi, binatang-binatang buas, tanah yang dilapisi es, dan hal-hal purbakala lainnya. Kita seperti sedang menaiki mesin waktu.

Alpha adalah film ber-genre adventure yang layak untuk ditonton semua rentang usia. Menyaksikan film ini, saya seperti sedang membaca buku ensiklopedia tentang kehidupan manusia prasejarah di akhir zaman es. Menyenangkan![]

Data Film

Judul: Alpha

Sutradara: Albert Hughes

Cast: Kodi Smit-McPhee, Johannes Haukur Johanesson

Genre: Adventure, Drama

Durasi: 97 menit

Rating: 83% (Rotten Tomatoes)

Poster: IMDb

Facebook Comments

Penulis amatiran, pekerja serabutan.