Resensi Buku

Apa yang Terjadi Jika Sastra dan Sains-Teknologi Memutuskan untuk Menikah?

Posted on in Resensi Buku

Tahun-Tahun Cahaya dan Kisah-Kisah Cosmocomic Lainnya adalah perpaduan sains dan sastra garapan Italio Calvino dalam bentuk cerita. Ia menganggap fiksi realis sudah saatnya beristirahat.

Artinya, suatu saat sumber inspirasi karya sastra akan lebih banyak mengacu pada riset ilmiah. Calvino yakin sastra—layaknya sains—harus terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi dan riset ilmiah mutakhir.

Calvino berambisi menemukan genre baru yang ia sebut sebagai ‘cosmocomic’—di mana sastra berjalan bersama laju teknologi dan temuan sains, khususnya ilmu-ilmu astronomi.

Dengan cosmocomic-nya, Calvino menawarkan sebuah neologisme dan alternatif baru bagi karya realisme tradisional: menggabungkan antara kisah kosmik ilmiah dan sastra dengan gaya penulisan yang jenaka.

Buku bersampul ilustrasi satelit bumi ini merupakan kumpulan cerita pendek berisi kisah-kisah kosmos. Di dalamnya, melalui belasan cerita pendek, Calvino mengajak pembaca bertamasya ke luar angkasa, lengkap dengan sejarah terciptanya alam semesta.

Namun, perjalanan pembaca dalam menyusuri cerita luar angkasa ini mungkin akan sedikit terganggu—dengan mengerutkan dahi—ketika menemukan nama-nama tokohnya. Misal, Qfwfq, Nyonya Ph(i)Nk, Tuan Pber(t) Pber(d), dan Tuan De XueaeauX.

Menurut Martin McLaughlin pada pengantar dalam edisi bahasa Inggris, buku ini sengaja menggunakan nama-nama aneh yang sesungguhnya berasal dari pelesetan rumus-rumus ilmiah.

Dalam buku ini, Calvino memakai tokoh protagonis bernama Qfwfq—saksi mata segala momen kunci alam semesta, mulai penciptaan hingga setelahnya. Qfwfq memang dicipta Calvino menjadi tokoh serba tahu untuk meyakinkan pembaca dalam setiap alur, arus, dan segala konflik dari kisah ilmiah ini.

Secara garis besar Calvino mengangkat empat tema utama: bulan, galaksi, bumi, dan ruang-waktu. Dibuka dengan cerita berjudul ‘Jarak Bulan’ yang berkisah tentang pendaratan di bulan.

Baca Juga:  Haru di Gwangju 1980

Calvino menggambarkan situasi di mana pada masa itu (1963), mengirim manusia ke satelit bumi merupakan obsesi sains terbesar. Mengutip Martin McLaughlin, kisah dalam buku ini merupakan sebuah penghormatan kepada karya Dante, Ariosto, dan Leopardi yang lebih dulu menggambarkan satelit bumi dalam cerita-cerita mereka.

Kentalnya dimensi sains dan astronomi ini diperkaya dengan citraan sastra yang apik. Salah satunya ketika Calvino menginterpretasikan “waktu”, ia menganalogikannya dengan sebuah kaleng sarden, di mana semua makhluk terjebak dan terpaksa berada di dalamnya (hlm. 55).

Dengan adanya citraan semacam ini, cerita tak terasa membosankan layaknya buku ilmiah—karena memang bukan,  meskipun bisa dibilang buku ini padat teori dan riset.

Sains–Teknologi atau Sastra

Jika anda pembaca novel Haruki Murakami, mungkin anda akan mengerti bagaimana kondisi Jepang dan masyarakatnya. Ambil contoh, dalam trilogi 1Q84, kita merasakan kegetiran Murakami terhadap gerakan politik, atau organisasi bawah tanah di Jepang pada masa itu—meski hanya melalui simbol-simbol.

Sama halnya ketika anda membaca Leo Tolstoy atau Anton Chekhov. Sadar atau tidak, Russia dengan segala tatanan politik, sosial, dan budayanya akan memaksa masuk ke dalam cerita dan sedikit banyak menelusup dalam kepala kita.

Begitu pula dalam kumpulan cerita Tahun-Tahun Cahaya dan Kisah Cosmocomic Lainnya yang—menurut hemat saya—merupakan sebuah jawaban sekaligus tanggapan atas derasnya passion terhadap laju sains dan teknologi pada masanya.

Calvino lahir di Kuba, tetapi besar di Italia. Ia hidup pada rentang tahun 1923-1984, masa Perang Dunia II dan persaingan saintifik antara dua negara besar, Uni Soviet dengan Amerika.

Calvino seolah ingin menanggapi realitas tersebut dengan menyiratkan pesan dalam cerita-ceritanya. Bahwa sastra berhak setara dengan pertanyaan populer seperti, “Bagaimana cara manusia pergi ke bulan” atau “Seperti apa bentuk semesta sebelum waktu tercipta?”.

Baca Juga:  Kemunduran yang Transenden

Pada masa itu di Barat, semua tempat adalah sains. Tetapi, Calvino sudah lebih dulu akrab dengan karya-karya Raymond Queneau. Encyclopedie de la Pleiade adalah salah satu karya yang menginspirasi Calvino menulis kisah-kisah bertemakan sains, khususnya astronomi dan permulaan semesta.

Maka tidak mengherankan jika Calvino menyusupkan berbagai teori dalam setiap ceritanya. Bahkan, dalam cerita berjudul “Semua pada Satu Titik”, Calvino membukanya dengan mengutip Edwin P. Hubble, tentang materi yang terkonsentrasi dalam satu titik tunggal.

Calvino memaparkan teori ini dalam kisah Nyonya Ph(i)Nk yang tinggal bersama keluarganya dalam satu rumah (ruang) kecil. Sempit dan pepat.

Sampai pada suatu saat keluarga itu memilih berpisah dan masing-masing dari mereka memutuskan bermigrasi ke tempat jauh. Cerita ini persis dengan kisah bigbang dan teori tentang semesta yang berkembang.

Tidak hanya itu, masih dalam cerita “Semua pada Satu Titik”, Calvino juga sempat meragukan teori “semesta yang berkembang” ala Friedmann yang dikutip Stephen Hawking dalam A Brief History of Time, tentang “evolusi” alam semesta: semula pepat pada titik nol, mengembang maksimal dan kembali pada keadaan semula.

Dalam cerita itu Calvino mengatakan, “Nyonya Ph(i)Nk itu, payudaranya, pahanya, gaun oranye-nya, kami tidak pernah menjumpainya lagi…” dan “bahwa semesta setelah penipisan ekstrem, akan memadat lagi, aku tidak pernah mempercayainya.” (hlm. 58)

Perkawinan Sains-Sastra?

Setelah ditemukannya Artificial Intelligence (AI), sains berkembang kian tak terkendali. Menurut ramalan Yuval Noah Harari dalam Homo Deus, kemungkinan besar sains suatu saat tak hanya menggantikan pekerjaan fisik (baca: profesi) manusia.

Tetapi, pekerjaan batin yang tumbuh dari sebuah cita rasa seperti seni, budaya, dan sastra mungkin dalam waktu dekat akan dikuasai juga oleh mesin.

Baca Juga:  Mengenal Tuhan dengan Asyik ala Mbah Tejo dan Syekh Kamba

Hal semacam itu kini telah terjadi, meski belum sepenuhnya. David Cope (profesor dari Universitas California), memanfaatkan AI untuk menciptakan sebuah mesin yang dapat mengarang puisi pendek, haiku.

Bahkan, pada tahun 2011, Cope menerbitkan Comes the Fiery Night: of 2.000 Haiku by Man and Machine—sebagai karya kolaborasi Cope dengan mesinnya.

Saya tidak mengatakan yang dilakukan David Cope merupakan sesuatu yang buruk. Ketergantungan manusia modern terhadap hiburan dan teknologi memang kian tinggi.

Kini, sains-teknologi menjadi suatu yang integral dengan setiap lapisan laju evolusi manusia. Termasuk dalam anak kebudayaan seperti sastra.

Begitu pula Calvino, yang novelnya penuh dengan teori ilmiah. Ia mengolah sebuah karya sastra yang di dalamnya penuh riset sains. Perpaduan yang tidak buruk. Bahkan, melahirkan sebuah genre baru, yaitu: cosmocomic.

Persoalannya, mana yang akan lebih unggul? Sangat mungkin sastra yang akan terhegemoni sains dan tak ayal sains yang terpengaruhi sastra.

Apakah ‘pernikahan’ sains dan sastra akan melahirkan anak-anak seperti karya-karya Italo Calvino? Atau malah seperti kumpulan puisi haiku milik robot ciptaan David Cope? Itu terserah Anda, ingin membuktikannya atau hanya menerka-nerka. Sekian.

Identitas Buku:

Judul: Tahun-Tahun Cahaya dan Kisah-Kisah Cosmocomic Lainnya

Penulis: Italo Calvino

Penerjemah: David Setiawan

Penerbit: Basabasi

Cetakan: November 2017 (Cetakan pertama)

Tebal: 220; 14 x 20 cm

ISBN: 978-602-6651-49-5

Foto kaver: Dokumentasi pribadi

Facebook Comments

Bergiat di LPM Arena dan aktif di Komunitas Kutub Yogyakarta.