Resensi Buku

Ilusi Kebahagiaan Bermula dari Istri atau Suami Idaman

Posted on in Resensi Buku

Zaman berubah mengekor waktu yang bergulir. Seturut itu, perubahan terjadi di segala bidang, dari gaya pakaian hingga taktik para pesulap mengelabui orang. Kelahiran dan keruntuhan atas satu generasi pun selalu mewariskan cara pandang tertentu dalam memaknai suatu hal.

Tentang kebahagiaan, misalnya, antara kaum jahiliyah yang hidup di zaman Nabi Ibrahim, para pengikut setia Pangeran Diponegoro, hingga orang-orang Latvia di bawah Kekaisaran Tsar, selalu punya takarannya masing-masing.

Untuk golongan yang saya sebut terakhir, beruntunglah belum lama ini terbit kumpulan cerpen berjudul Pangkuan Kebahagiaan (Kentja Press, 2018) karya Rūdolf Kārlīs Leunids Blaumanis. Dari buku ini kita bisa menerka seperti apa kebahagian menurut mereka.

Blaumanis berasal dari Latvia, negara mungil yang dalam sejarahnya pernah menjadi bagian dari Kekaisaran Tsar, diduduki Jerman, dikuasaii Uni Soviet, hingga pada akhirnya merdeka dan kini menjadi negara yang tergabung dalam Uni Eropa.

Rata-rata cerpen di buku ini ditulis merentang antara dua puluh tahun sebelum abad 18 berakhir. Dari cerpen-cerpen itulah saya membayangkan seperti apa kiranya bentuk, wujud, dan pemaknaan kebahagiaan menurut orang Latvia, setidaknya versi Blaumanis, lewat tokoh-tokoh di dalam cerpennya.

Tercantumlah sebuah cerpen berjudul Uang di Kaus Kaki (1898). Alkisah, perempuan muda bernama Ilze beroleh warisan sejumlah tiga ratus rubel perak—adakah yang bisa membantu menghitung berapa nominal uang tersebut jika ditukar rupiah menggunakan kurs rupiah hari ini?

Berbarengan dengan pemberian warisan itu, terlontar pula pesan ibu kepada Ilze, “Jangan beri tahu siapa pun berapa banyak uang yang kau miliki. Kelak, jika seseorang memintamu untuk menjadi istrinya, hal itu terjadi karena dia benar-benar menginginkanmu, dan bukan hanya uangmu.”

Pesan itu menyaran agar Ilze tak kesengsem pada lelaki mata duitan. Tetapi, akibat petuah ibunya itulah Ilze justru terdera penyesalan. Semua bermula ketika ada seorang lelaki tampan tapi kere bernama Janis yang mengungkapkan kinginannya untuk meminang Ilze.

Tersebab kemiskinan yang begitu melilit, Janis pun secara jujur menanyakan apakah Ilze punya uang untuk sekadar melangsungkan pernikahan sederhana dan menyewa sebuah peternakan kecil sebagai bekal setelah menikah.

Pikiran buruk seketika membayangi Ilze, jangan-jangan Janis hanya menginginkan uang miliknya, bukan cintanya, seperti pesan mendiang ibunya dulu. Penolakan pun tak tertangguhkan, Ilze mengaku tak punya uang meski sebenarnya ia punya warisan berupa uang rubel yang melimpah jumlahnya.

Baca Juga:  Menjadi Muslim, Menjadi Orang Indonesia yang Baik

Dan betapa kaget Ilze ketika pada akhirnya ia tahu bahwa keinginan Janis untuk menikahinya sama sekali tak berpamrih materi. Janis ingin lekas mengakhiri masa lajangnya, selain karena tertarik pada Ilze, juga agar ia tak terkena pasal wajib militer yang diterapkan negara kepada pemuda yang belum menikah.

Bagi Janis, kebahagiaan adalah ketika masa mudanya tak terlibat wajib militer, tak “Masuk dinas militer dan melewati hidup sebagai tentara yang menyebalkan.”

“Mengapa kau tidak mengatakan kepadaku tentang alasan mengapa kamu begitu membutuhkan uangku saat itu? Jawabanku pasti berbeda saat itu.” Ilze menyesali ucapan bohongnya. Ilze telah melewatkan kesempatan menikah dengan lelaki sepantaran umurnya yang seumpama dia tidak berbohong tentu sudah menjadi suaminya. Mencari pasangan ideal itu persoalan serius!

Ini seturut dengan persoalan yang diunggah Blaumanis di cerpen-cerpen selanjutnya. Pernikahan yang serasi dianggap sebagai salah satu penentu kebahagiaan, baik bagi yang muda, setengah baya, hingga yang uzur sekalipun.

Blaumanis menyorongkan cerpen Pangkuan Kebahagiaan (1898) sebagai satu contoh betapa menderitanya seorang perempuan yang terpaksa menikah dengan lelaki yang terpaut perbedaan umur sedemikian jauh.

Jeva yang muda terpaksa merelakan diri diperistri Lausk, lelaki berumur delapan puluh enam. Meski Lausk adalah seorang taipan, tetap saja Jeva tak kerasan bersuami lelaki yang seumuran dengan kakeknya.

Pelbagai sindiran dan komentar bernada sinis dari orang-orang seperti anak panah yang sedia mengarah padanya setiap saat. Jeva pun jadi begitu sensitif dan mudah tersinggung. Segala pembicaraan yang memunculkan perkataan “orang tua” seolah-olah ditujukan untuk menyindirnya.

Bahkan agar tidak dituduh mencari warisan suami belaka, Jeva berupaya sejeli mungkin memenuhi syarat-syarat yang membuat seorang perempuan pantas bergelar istri saleha. Tidak ada yang tahu seberapa seringnya ia menahan semua itu dalam kepura-puraan…

Menikah dengan lelaki uzur meski berstatus seorang juragan berlimpah kekayaan jelas bukan musabab kebahagiaan bisa Jeva cecap. Baginya, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang semata berasal dari dalam diri manusia, ia juga ditentukan oleh omongan dan pandangan orang-orang di sekitar.

Melihat seorang tetangga tengah bersenda gurau dengan anak lelakinya saja, misalnya, Jeva merasa ada yang tiba-tiba membuat dadanya sesak kelopak matanya memanas.

“Kenapa dia tidak punya anak berambut pirang seperti itu? Kenapa dia tidak dikelilingi oleh kerumunan riang dan gembira dari seorang anak,” tulis Blaumanis menggambarkan situasi hati Jeva.

Baca Juga:  Akhirnya, Jalan Penulis Adalah Kesunyian Masing-Masing

Bahkan dalam cerpen Janda Raudup (1889), Blaumanis mengangkat kisah seorang janda kaya yang nekat meminang lelaki muda karena merasa tak kuasa mengurus ladang warisan mendiang suaminya.

Memiliki banyak harta dan mengurus seorang anak ternyata tak sanggup mengusir rasa kesendirian dan kesepian sang janda. Ia berkeyakian, kebahagian hidupnya akan muncul bila ia punya suami lagi. Akan ada lelaki yang membantunya mengurus ladang dan berharap malam-malam yang dingin dan sepi tak lagi janda itu temui.

Karlis, lelaki yang diidam-idamkan sang janda, menolak pinangannya. Cinta yang kelewat dosis dan kesedihan yang berlarut-larut akibat penolakan membuat janda itu mengambil satu simpulan menyimpang bahwa anaknyalah muasal Karlis tak menerima cintanya.

Hingga pada suatu hari yang panas dan apes, kecelakaan menimpa anaknya karena terpeleset dan tercebur ke kolam yang dalam. Anak itu sebenarnya masih bisa diselamatkan bila lekas ditolong.

Kesempatan untuk menarik tubuh anak dari dalam air justru dibiarkan lolos begitu saja oleh sang janda. Ia berkeyakinan kematian anaknya akan memperlebar kesempatannya merengkuh cinta Karlis.

Barangkali saya akan membuat satu simpulan utuh bahwa makna kebahagiaan berdasar cerpen-cerpen yang Blaumanis tulis selalu berkaitan dengan pernikahan jika di bagian akhir buku tak tersaji cerpen berjudul Anjing Pug (1900). Cerpen ini begitu sederhana tapi intim, menjanjikan penggambaran kasih yang mendalam antara manusia dan binatang.

Nyonya Kulckerstroem begitu menyayangi Bobby, anjingnya. Itu ia buktikan dengan, misalnya, membiasakan anjing itu “tidur di atas bantal beludru biru dengan warna kuning violet yang disulam sutra”.

Namun, kasih sayang berlebihan justru membuat Bobby merasa terkekang: kebebasan bermain di ruang terbuka tak pernah ia dapatkan karena Nyonya Kulckerstroem takut itu mengotori kaki dan bulu-bulu anjing tersebut.

Ketakutan itu bisa kita maklumi, “Bobbylah tempat ia mencurahkan semua kasih sayangnya si wanita tua itu.” Bagi Kulckerstroem, kebahagiaan anjingnya kebahagiaan pula baginya.

Tersebab saya masih memercayai bahwa lewat sastralah pengarang membentangkan pandangannya terhadap situasi zaman, saya pun menyimpulkan ada beberapa penyebab dan penghalang bagi manusia di Latvia akhir abad 18 dalam merengkuh kebahagiaan.

Persoalan wajib militer, misalnya. Tak semua orang sepakat dengan kebijakan yang biasa diterapkan sebuah negara untuk menghadapi perang atau sekadar mempersiapkan rakyatnya agar sedia ketika sewaktu-waktu terjadi perang, meski banyak pula yang mendukung.

Baca Juga:  Merawat Ekosistem Bersama Toshihiko Izutsu

Blaumanis dalam cerpennya berada di pihak penentang. Baginya, menjadi tentara adalah pekerjaan yang “menyebalkan”.

Perkara menentukan pasangan justru paling banyak mendapat perhatian Blaumanis. Dalam mencari suami atau istri ideal, ada yang benar-benar memperhitungkan selisih umur, jumlah harta dan ladang yang dimiliki, hingga mengorbankan nyawa orang lain jika diperlukan.

Cerpen-cerpen Blaumanis hadir untuk mengkritik watak-watak manusia semacam itu, yang barangkali masih sering kita temui di sinetron, film, bahkan di dalam masyarakat modern sekalipun.

Kita juga melihat roda perekonomian masyarakat di Latvia kala itu sangat bergantung pada pertanian, perkebunan, dan peternakan. Dari situlah status sosial masyarakat terbentuk.

Sebagian tokoh dalam cerpen ini berperan sebagai juragan dan sisanya para kuli dan pelayan. Pernikahan menjadi jembatan lahirnya manusia-manusia dengan label baru. Seorang kere bisa mendadak menjadi tuan besar jika ia menikahi janda tua yang kaya raya, misalnya.

Untuk itu, wajar bila pandangan masyarakat yang materialistis sangat terlihat di cerpen-cerpen Blaumanis—watak manusia yang terus berkecambah bahkan seratus dua puluh tahun setelah buku ini terbit.

Di sisi lain, karya ini menyuguhkan satu lanskap sosial manusia akhir abad 18 di sebuah negara yang menurut google map merentang jarak kurang lebih 10.401 kilometer dari meja kantor tempat saya menulis ulasan ini di Semarang.

Apresiasi pantas kita persembahkan kepada Dias Putri Samsoerizal sebagai penerjemah sekaligus Kentja Press sebagai penerbit. Jika ada kritik untuk penerbitan buku ini ialah buruknya hasil suntingan dari Doni Ahmadi.

Sulit dimaafkan betapa ia gagal membedakan antara penggunaan kata “membubung” dan “membumbung” yang apesnya terpampang di paragraf pertama buku ini.

Belum lagi kecerobohannya membiarkan kesalahan ejaan bertebaran nyaris di sepanjang halaman. Jika untuk persoalan serius semacam penyuntingan saja pihak penerbit masih asal-asalan, jargon “mengedepankan kualitas terbaik dan terdepan” yang tertera di laman web penerbit ini tak lain bualan paripurna belaka.[]

Identitas Buku:

Judul : Pangkuan Kebahagiaan

Penulis : Rudolf Blaumanis

Penerjemah : Dias Putri Samsoerizal

Penerbit : Kentja Press

Cetakan : Maret, 2018

Tebal : VI + 110 halaman

ISBN : 978-602-5488-05-4

Foto : Dokumentasi pribadi

Facebook Comments

Penggiat Kelab Buku Semarang.