Ulasan Film

Searching; Dua Sisi Mata Pisau dari Internet dan Media Sosial

Posted on in Ulasan Film

Saya bertanya pada diri sendiri, berapa banyak waktu yang saya habiskan setiap harinya untuk berselancar di internet dan bersosialisasi lewat media sosial? Tiada hari tanpa internet. Di era sekarang ini, bahkan orang-orang lebih membutuhkan koneksi internet daripada hal-hal lainnya yang dulu mungkin dianggap lebih esensial.

Dari bangun tidur sampai kembali tidur, sadar atau tidak, kita selalu mencari informasi lewat internet. Lebih mengerucut lagi, beberapa orang bahkan melakukannya hanya dengan media sosial. Begitu pula dengan saya yang akhirnya menemukan film Searching lewat sosial media.

Searching adalah sebuah film thriller garapan sutradara India-Amerika bernama Aneesh Chaganty yang bercerita tentang David Kim, seorang ayah yang berusaha mencari putrinya yang menghilang.

Margot Kim, 16 tahun, menghilang begitu saja dan David berusaha mencarinya mengandalkan informasi-informasi yang ada dengan bantuan seorang detektif. Digadang-gadang sebagai film mainstream thriller Hollywood pertama dengan aktor Asia-Amerika, Searching berhasil mencuri perhatian penikmat film lewat konsep penggarapannya yang terbilang unik dan sangat berbeda dari film-film biasanya.

Yang paling menarik tentu saja adalah metode perekaman keseluruhan adegan berdasarkan sudut pandang smartphone dan layar komputer.

Sama halnya seperti epistolary novel—karya novel yang bentuknya biasa berupa surat, surat elektronik, atau percakapan dalam aplikasi—film dengan sudut pandang smartphone dan layar computer seperti ini sebenarnya cukup riskan.

Sepanjang film, kita disuguhi tampilan layar Windows XP—wallpaper bukit hijau yang legendaris itu akan bikin semua orang tersenyum-senyum, beranda pencarian Google, media social facebook, aplikasi pesan teks, layar Macintosh dan MacBook, FaceTime, CCTV, dan lain-lain sebagaimana.

Keunggulannya adalah dengan konsep sejenis itu, penonton bisa merasakan menjadi pemeran utama, atau terjun langsung mengalami adegan-adegan yang terjadi di dalam film. Namun, jika tidak dikemas dengan baik, sudut pandang tersebut malah berpotensi menjadi senjata makan tuan dengan membuat penonton bosan dan kehilangan esensi cerita.

Kekhawatiran saya ternyata terpatahkan begitu saja ketika mulai menonton Searching. Bekerja sama dengan Sev Ohanian dalam menuliskan cerita film ini, Chaganty berhasil membuat twist-twist kecil yang membuat saya—dan mungkin penonton lainnya—berkali-kali gagal menebak alur demi alur ceritanya.

Sepertinya, potensi kebosanan sudah bisa diprediksi oleh Chaganty sehingga ia bisa menyuguhkan rangkaian cerita yang mencegah penonton merasa jenuh.

Searching mengangkat isu-isu yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Hal tersebut yang membuat cakupan film ini menjadi lebih luas dan terasa membumi. Keluarga Kim berhasil merepresentasikan dengan sempurna kecenderungan perubahan perilaku manusia era sekarang dibanding beberapa tahun ke belakang, sebelum internet menjadi ‘segala-galanya’ dalam kehidupan.

Baca Juga:  Lady Bird: Menyaksikan Perseteruan ‘Seru’ Anak Gadis dengan Sang Ibu

Kim dan keluarga kecilnya terbiasa merekam segala momen-momen bahagia mereka dalam bentuk video dan menyimpannya di komputer, ataupun mengunggahnya dalam jaringan. Hal pertama yang menggambarkan betapa era digital memang sudah mendominasi kehidupan masa kini.

Petunjuk waktu pada film bisa disadari dengan baik oleh penonton melalui tampilan-tampilan layar komputer dan media-media lainnya yang berubah dan ikut menyesuaikan dengan perkembangan teknologi dari tahun ke tahun.

Di awal film, citra keluarga harmonis yang bahagia langsung disuguhkan pada penonton. Hal tersebut bertahan hingga Pam, ibu Margot, meninggal dunia. Margot tumbuh bersama David, ayahnya.

Seiring berjalannya waktu, interaksi Margot dan ayahnya hanya tinggal sebatas percakapan lewat media sosial atau aplikasi daring lainnya. Ketika Margot menghilang, satu per satu hal mengenai Margot terungkap. David tidak lagi terlihat seperti ayah yang mengenal anaknya.

David Kim yang diperankan oleh John Cho, seorang aktor Korea-Amerika, sebenarnya tidak benar-benar mengenal sang putri semata wayang. Dia selalu menganggap Margot sebagai anak yang ceria, punya banyak teman, ikut les piano, dan lain-lain. Kenyataan yang terjadi sebaliknya.

Hubungan orang tua dan anak merupakan hubungan yang kompleks. Dalam masa tumbuh kembangnya, seorang anak memang membutuhkan perhatian lebih dari orang tua. Akan lebih persoalan yang tidak sederhana apabila kedekatan antara anak dan orang tua tidak terpupuk dengan baik.

Hubungan David dan Margot dalam film ini menunjukkan realita yang juga banyak terjadi di masyarakat. Keterbukaan antara orang tua dan anak terkadang menjadi sesuatu yang tidak lumrah.

Orang tua beranggapan bahwa mereka mengenal anak mereka sepenuhnya, tetapi kenyataannya jika orang tua tidak membuka diri, seorang anak juga akan memiliki kecanggungan untuk berbagi banyak hal seputar perkembangan dirinya.

Hal-hal semacam itu akan memicu kebohongan-kebohongan kecil, penyembunyian masalah, dan kesenjangan yang tidak bisa terelakkan.

Penonton dapat melihat gambaran akan hal itu dari adegan ketika ketika David mengetikkan pesan pada Margot, mengungkit masalah Pam—almarhumah istrinya—kemudian menghapusnya kembali seolah dia tahu bahwa Margot tidak mau membahas perihal ibunya. David memilih berasumsi ketimbang berbicara tentang hal itu dengan putrinya.

Banyak fakta-fakta tak mengenakkan ditemukan David kemudian, yang ternyata membuatnya sadar bahwa dia belum cukup mengenali anaknya sendiri. Membuatnya merasa sangat jauh dari darah dagingnya itu.

Semua itu ia temukan dari penelusuran di internet. Dibandingkan dengan karakter David, jelas kemampuan stalking akun media sosial yang saya miliki jauh tertinggal di belakangnya.

Baca Juga:  Kulari ke Pantai: Sentilan untuk Generasi Z

Usaha David mencari Margot membuat saya sedikit bergidik ngeri. David bisa mendapatkan informasi-informasi penting hanya dengan menelusuri jejak digital Margot dan membawanya pada fakta-fakta baru tentang putrinya.

Margot yang diperankan oleh Michelle La, memiliki akun YouCast, sebuah situs video blogging yang memungkinkan penggunanya melakukan siaran langsung. Situs semacam itu memungkinkan kita mengunggah apa pun, menunjukkan bakat, sekadar bertanya-jawab dengan pengguna lainnya di kolom komentar dan lain sebagainya.

Dari situs itu, David menemukan akun fish_and_chips. Menggunakan foto profil seorang perempuan, si pengguna mengaku berusia dua puluh tahun dan bekerja karena ibunya menderita kanker dan membutuhkan banyak uang.

Sepanjang penyelidikan yang menggiringnya berkali-kali berhadapan dengan beberapa kemungkinan penyebab hilangnya Margot, David selalu menemukan bukti-bukti baru yang membuatnya lebih mengenal Margot, juga mendekatkannya pada posisi dan kondisi psikis Margot yang sebenarnya.

Setelah beberapa waktu, Detektif Vick yang diperankan oleh Debra Messing menyatakan bahwa kasus hilangnya Margot ditutup dengan putusan Margot telah meninggal dunia.

Pernyataan itu diperkuat oleh temuan video amatir seorang lelaki tua yang dimunculkan ke media berisi permintaan maafnya kepada sosok remaja enam belas tahun—yang disinyalir kuat adalah Margot—sebelum memutuskan bunuh diri.

Plot twist sekali lagi diletakkan di akhir kisah. Berkat kecermatan penyelidikan David, kasus Margot tidak tertutup begitu saja. Pencarian Margot dilakukan kembali. Hingga dia berhasil mengungkap kasus hilangnya Margot setelah lebih dulu mengenali sosok anaknya.

Pertanyaannya, seandainya saja David tidak berusaha mengenali anaknya, tidak berusaha mencari tahu mengenai kehidupan Margot yang sebenarnya melainkan tetap berpegang teguh pada sosok Margot versinya sendiri yang tertanam di pikirannya, akankan kasus kehilangan itu benar-benar terungkap?

*

Selain sebagai sarana hiburan bagi penonton, Searching mempunyai peran yang sangat urgen dan krusial sebagai alarm bahaya. Pengingat bahwa apa yang kita unggah ke jaringan, akan selalu berada di sana.

Akan sulit menghilangkan jejak digital dan yang perlu lebih dikhawatirkan adalah kemungkinan disalahgunakannya jejak digital tersebut demi kepentingan satu pihak dan merugikan pihak lain.

Keluarga Kim menunjukkan bahwa apa pun yang diunggah ke dalam jaringan, bisa menjadi sebuah kenangan, atau menjadi senjata yang malah digunakan seseorang untuk menyerang kita sendiri.

Terbukti bahwa informasi-informasi pribadi yang diunggah Margot menjadi senjata bagi orang lain untuk mencelakai dirinya sendiri. Satu kalimat yang kita tuliskan di laman media sosial kita mungkin akan menuntun kita menjadi seorang tersangka penculikan, atau malah menjadi korban.

Baca Juga:  Dogman: Anjing, Manusia, Kokain, Keluarga

Dari kisah Margot dan pemilik akun fish_and_chips, kita diingatkan bahwa melalui internet, seseorang bisa menjadi siapa pun, apa pun, dan memiliki cerita seperti apa saja. Tetap saja, akan ada orang yang memercayai semua itu sebagai fakta dan itu menyesatkan.

Menurut saya, film Searching berhasil memberikan cerminan betapa teknologi sungguh-sungguh berperan seperti dua sisi mata pisau. Teknologi punya sisi positif dan negatif yang harus dipertimbangkan matang-matang sebelum digunakan. Kedewasaan kita sebagai pengguna memang sangat diharapkan adanya.

Ia akan membantu, atau mencelakai. Peran Margot juga mengingatkan kita untuk senantiasa waspada di internet, tidak perlu memercayai orang asing dengan mudah, karena kita tidak pernah tahu mereka siapa dan maunya apa.

Ada satu hal yang menarik perhatian saya selama menonton film ini. Betapa orang bisa berpura-pura di internet demi mengejar ketenaran pribadi. Terbukti ketika David menelepon teman-teman Margot saat pertama kali dia sadar putrinya menghilang, mereka semua menghindar, tidak tahu apa-apa, dan mengaku bukan teman baik Margot.

Tetapi, ketika Margot resmi dinyatakan menghilang dan beritanya disebar di televisi nasional dan media sosial, mereka semua beramai-ramai mengungkapkan simpati dan belasungkawa sambil mengaku-aku bahwa mereka teman baik Margot. Ya, kasus seperti itu banyak sekali dapat terlihat di media sekeliling kita hari ini.

Saya menyukai film Searching lagi-lagi karena point of view yang tidak biasa dan cerita yang dekat dengan kehidupan  sehari-hari, dengan kemungkinan kasus yang bisa terjadi pada siapa saja.

Akting pemeran-pemerannya tidak terasa berlebihan, meskipun saya yakin bagian itu sedikit tricky karena para pemeran harus berakting seolah hanya berada pada layar dengan menggunakan fasilitas-fasilitas digital.

Selesai menonton film Searching dan menulis ulasan ini, saya ingin bertanya pada kalian yang akhirnya juga memutuskan untuk menonton. Setelah tahu potensi dua mata pisau teknologi internet ini, khususnya media sosial, ke mana mata pisau itu akhirnya akan kalian arahkan?

Data Film

Sutradara : Aneesh Chaganty

Penulis scenario : Aneesh Chaganty & Sev Ohanian

Pemain : John Cho, Debra Messing, Michelle La, Joseph Lee, Sarah Sohn

Genre : Thriller, Mystery, Drama

Durasi : 102 menit

Tanggal Rilis : 24 Agustus 2018 (Amerika Serikat)

Rating : 7.9/10 (IMDb), 92% (Rotten Tomatoes)

Poster : IMDb

Facebook Comments

Setengah hummingbird setengah unicorn yang jadi bagian dari “Sekte Pemuja Bangtan”. Tulisan lain bisa dilihat di rumahnya dhamalashobita.com. Bisa disapa di @dhamalashobita (Twitter & IG).