Resensi Buku

Berkunjung ke Hotel Tua Budi Darma

Posted on in Resensi Buku

Dalam wawancaranya dengan Gramedia.com, saat Seno Gumira Ajidarma ditanya tentang pengaruh Umar Kayam, Budi Darma, dan Putu Wijaya dalam karya-karyanya, Rektor IKJ itu menjawab dengan singkat dan padat, “Karya bagus itu sudah pasti memengaruhi kita. Umar Kayam memberikan saya taste—suatu kelas. Kalau Budi Darma itu ‘gilanya.’”

Kegilaan yang dimaksudkan Seno tentu bukan kegilaan dalam pengertian umum, tidak waras, melainkan apa yang kaprah pembaca dapat dari karya-karya Budi Darma: keliaran gagasan dan imajinasi, yang oleh Bre Redana dirumuskan sebagai anomali manusia dan keadaan; tokoh-tokoh ajaib dalam situasi yang tak kalah ajaib.

Dalam kumpulan cerpen terbarunya, Hotel Tua, pembaca akan menemui manusia-manusia ajaib, aneh, ganjil, absurd dalam setting cerita yang sama ajaib, aneh, ganjil dan absurd.

Budi Darma memang terkenal sebagai penulis serba bisa, terlebih, ia piawai dalam menciptakan tokoh berkarakter kuat. Jika dalam pengantar kumpulan cerpen ini Bre Redana menuliskan, manusia-manusia ajaib itu muncul dengan berbagai nama tak kalah ajaib: Gauhati, Matropik, Gimbol, Misbahul, Tutiek Makara, dan lain-lain, agaknya, persoalannya bukan hanya pada nama, namun proses karakterisasi tokoh-tokoh itu sehingga menjadi sosok yang berkarakter kuat.

Tokoh-tokoh itu yang menggerakkan laju alur cerita dan takdir mereka sendiri di dunia literer-fiksional dengan irama-tempo yang penuh ketakterdugaan.

Buku kumpulan cerpen ini berisi delapan belas cerita pendek yang ditulis dalam rentang waktu antara tahun 1970-2014 dengan tokoh-tokoh yang unik dan kehidupannya yang kadang seperti seorang pertapa agung (Gauhati), orang-orang kecil (Bluke Kecil, Misbahul) dan orang aneh (Lelaki Pemanggul Goni, Hotel Tua, Pengantin) dan karakter lainnya.

Cerpen Budi Darma penuh kejutan, kejungkirbalikan logika, dan imajinasi yang liar. Pistol, umapamanya, yang menjadi cerpen pembuka buku ini, berkisah tentang seorang laki-laki yang bekerja sebagai kerani hotel yang ingin membalas perlakuan dan memperbaiki harga dirinya yang diporakporandakan seorang janda kaya.

Dari judulnya, pembaca tentu akan mengira bahwa cerpen ini sejenis thriller dengan teror dan ketegangan di dalamnya, namun kenyataan itu dijungkirbalikkan oleh Budi Darma. Memang, dari paragraf awal ketegangan ala thriller itu terasa, namun pada paragraf selanjutnya terasa menyusut, bertumpang-tindih dengan humor, teka-teki, ambiguitas makna yang membuat pembaca menerka-nerka, dan tiba-tiba berada dalam ketercengangan dan tawa.

Baca Juga:  Membicarakan Kenangan ala Semasa

Kata pistol diletakkan dalam petak teka-teki makna; antara menurut KBBI, pistol: n senjata api genggam yang pendek dan kecil; dan pistol menurut Budi Darma: alat kelamin laki-laki.

“Janda itu tertawa lagi, lalu berkata: ‘Saya tahu mengapa kamu tidak pernah menembak. Kamu tidak menembak Tutiek Makara, Lastri Kemat, Nurkamaria. Dan kamu tidak pernah menembak saya. Pistol kamu tidak main. Cih!

‘Pistol saya sendiri tidak main, sebagaimana kata kamu, tapi pistol ini akan menggantikan pistol saya.’” (hlm.9)

Lewat narasi dan percakapan, emosi si laki-laki tampak sangat jengkel pada si janda yang bukan hanya menghinanya, namun membeberkan aib si laki-laki ke semua perempuan yang naksir padanya, bahkan ke penghuni hotel.

Kenyataan bahwa si laki-laki impoten adalah kegetiran, sekaligus bahan lawakan. Sementara pistol di tangan si laki-laki adalah ironi atas ketakberdayaan ‘pistol yang lain’ dan ironi dari ketakberdayaan kata-kata—jika kita menengok Subcomandante Marcos yang pernah menuliskan, kata adalah senjata.

Tidak seperti cerpen pada umumnya, yang pada klimaks cerita—jika menilik paragraf awal dan judul—semestinya puncak ketegangan, Budi Darma justru membanting klimaks dengan humor.

Memang, klimaks tidak harus puncak ketegangan, pada bagian ini Budi Darma tampak sedang bermain-main dengan ruang antara sastra hiburan dan sastra serius. Hal yang sama juga dilakukan pada cerpen Hotel Tua dan Pilot Bejo.

Dalam buku cerpen ini, ada sesuatu yang sangat sederhana namun menjadi benang merah dalam beberapa cerita. Bukan sisi gelap tokoh, imajinasi yang menakutkan sebagaimana kata Harry Aveling, “cerita-cerita Budi Darma menakutkan saya” (dalam Horison, April 1974), bukan, melainkan kemalangan dan stratifikasi sosial tokoh-tokohnya yang hampir sama.

Tokoh laki-laki dalam Pistol dan Tanda Tanya memiliki kemalangan yang sama: impoten—yang tidak bisa tidak mengingatkan kita pada novel Rafilus. Dalam Pilot Bejo kita akan mengenal tokoh pilot, Bejo, yang secara turun-termurun dari keluarga pilot.

Dalam Derabat tokohnya turun temurun sebagai penarik pedati, dalam Distrik Rodham ada ahli makam yang tidak lain adalah keturunan ahli makam, juga keluarga dokter yang bodoh dan turun-temurun melahirkan dokter bodoh.

Bluke Kecil yang ayahnya keturunan penjinak binatang, juga dalam Sahabat Saya John di mana tokoh Prasojo Kelasi bekerja sebagai kelasi adalah darah daging dari nenek moyangnya.

Baca Juga:  Melihat Sengat (Bekerja) dalam Bertuhan pada Bahasa

Memang saya adalah anak turun penarik pedati, satu-satunya di desa saya. Dan karena nenek moyang saya penarik pedati, hukum turun-menurun juga menjadikan saya penarik pedati (Derabat, hlm.38). Ahli-ahli makam itu adalah orang-orang asli New England, leluhur mereka tidak lain adalah ahli-ahli makam (Distrik Rodham, hlm.100).

Kalau hukum alam di Distrik Rodham berjalan seperti yang sudah-sudah, maka Irson, atau nama lengkapnya Irson Patrick Billingham, kelak akan menjadi dokter juga seperti Billingham yang sekarang, yaitu John Birmingham Billingham (Distrik Rodham, hlm.106). Prasojo Kelasi menjadi kelasi karena ayahnya adalah kelasi, dan ayahnya menjadi kelasi juga karena kakeknya adalah seorang kelasi. (Sahabat Saya John, hlm.118).

Berbeda dengan tokoh dokter dalam Distrik Rodham dan ayah juga ibu Bluke Kecil, tokoh dalam Pilot Bejo, Derabat, juga Prasojo Kelasi dalam Sahabat Saya John, strata sosial diterima sebagai sebuah kodrat sebagaimana kemiripan fisik dari nenek moyang, zona nyaman yang bukan untuk ditentang dengan mencoba keluar dari ring maut kemapanan.

Pada cerpen Distrik Rodham dan Bluke Kecil, ada usaha dari tokohnya untuk keluar dari ring maut strata sosial yang statis, namun seperti yang sudah-sudah, pada akhirnya gagal, kalah, dan seolah memberikan penekanan tentang betapa sulitnya proses mobilitas strata sosial atau perlawanan takdir itu sendiri.

Pada waktu menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran di Universitas California Los Angeles, dia bercita-cita untuk menjadi dokter bedah otak yang amat cemerlang. Namun, karena otaknya sama sekali tidak cemerlang, bagaikan leluhur-leluhurnya, dia harus puas menjadi dokter umum (hlm. 105).

Beberapa tokoh-tokoh cerita Budi Darma adalah tokoh-tokoh yang malang, menyedihkan. Mereka adalah tokoh yang dikutuk—oleh penulisnya—untuk terjebak dalam kelas sosial yang statis, tak bisa berpindah, kalau pun berpindah itu pun sedikit sekali.

Bahkan, tokoh-tokoh yang berusaha keluar dari kelas sosialnya dengan cukup nahas harus mati (baca halaman 40). Stratifikasi sosial tertutup ini menjadi ciri sendiri karya-karya Budi Darma; dan sebuah cerminan masyarakat di mana dan kapan penulis menuliskan cerita-ceritanya.

Berbicara tentang pengaruh latar belakang penulis, Budi Darma termasuk penulis yang dihantui sejarah gelap masa penjajahan Jepang. Budi Darma mengaku, pernah pada masa kecilnya ia melihat seorang serdadu Jepang mengemudikan motor dengan kecepatan tinggi dan sengaja menabrak lelaki pribumi. Masa lalu itu tertuang dalam cerpen berjudul Misbahul.

Budi Darma adalah penulis yang rapi. Dia menata unsur-unsur ceritanya dengan setiti—meski terkadang tidak begitu detail, namun terasa bahwa cerita itu dibangun dengan setiti, dengan kehati-hatian tinggi.

Baca Juga:  Pinurbo dan Keberhasilan Puisi Jenaka

Seolah-olah seperti membangun istana pasir. Sesekali ia memang mengabaikan detail, karena, lewat pengakuannya: “apa pula gunanya apabila sekian banyak hal-hal kecil yang tidak punya arti penting saya ceritakan?” (hlm. 117).

Terlepas dari kegilaan dan kemalangan tokoh-tokoh gila di Hotel Tua Budi Darma, di antara sekian banyak cerita pendek dalam buku ini, Gauhati adalah yang paling lembut, yang paling waras. Bukan cerpen Hotel Tua, yang berkisah tentang kegilaan John Gallagher, atau Angela, yang menyembunyikan kemiripan dengan novel pendek Gabriel Garcia Marquez, Crnical de Una Muerte Anunciada.

Dengan penuturan ala dongeng, dikisahkan bahwa Gauhati suatu hari didatangi tiga bidadari yang juga secara mendadak bertanya mengenai Kuthari. Dijelaskan bahwa hubungan Gauhati dengan Kuthari yang meski tidak dekat, ia merasa Kuthari tidak lain adalah dirinya.

Gauhati memberikan permenungan mendalam tentang apa-apa yang kian memipih-menipis dalam kesadaran manusia sebagai makhluk sosial. Gauhati sering membayangkan dirinya adalah orang lain yang dia hadapi, yang secara simbolis mengajak kita bersikap kepada orang lain sebagaimana kepada diri sendiri.

“Akhirnya saya juga merasa, bahwa wajah Kuthari, wajah para tamu dan wajah saya sendiri sebetulnya sama.”

Bila Gauhati—yang memandang dan memperlakukan orang lain sebagaimana diri sendiri—adalah potret kewarasan, masihkah kita, di zaman yang serba mesin ini, memiliki sikap sebagaimana Gauhati? Masihkah kita waras? [ ]

Identitas Buku:

Judul : Hotel Tua

Pengarang : Budi Darma

Penerbit : Kompas

Cetakan : Pertama, April 2017

Tebal : viii+232 halaman

ISBN : 978-602-412-207-2

Foto : Dokumentasi pribadi

Facebook Comments

Penulis cerpen, puisi dan resensi kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Ia pernah mendapatkan anugerah resensor terbaik kedua dari Divapress pada 2012. Hari Anjing-Anjing Menghilang adalah cerpennya yang memenangi kompetisi Kampus Fiksi Emas 2017 Diva Press. Karyanya berupa cerpen, puisi dan resensi telah tersebar di berbagai media. Bergiat di Komunitas Sastra Malam Minggu. Buku kumpulan cerita pendeknya yang berjudul Di Surga, Kita Dilarang Bersedih sudah terbit tahun ini.