Ulasan Film

The Nun: dari Jumpscare ke Jumpscare, Lalu Tawa

Posted on in Ulasan Film

Para handai tolan penyuka film bergenre horor barangkali sudah sangat akrab dengan istilah jumpscare. Bagaimana tidak, nyaris semua sineas film horor kerap mengandalkan teknik ini guna memberikan pengalaman menakutkan bagi para penontonnya.

Jumpscare adalah kemunculan gambar yang secara tiba-tiba dengan iringan efek suara keras yang mengagetkan. Tak ayal, penggunaan teknik jumpscare tidak pernah tidak, telah menjadi sajian utama seluruh film horor yang membutuhkan efek kejut-mengejutkan. Tidak terkecuali pula pada film horor terbaru yang ditunggu-tunggu penayangannya pada September ini, The Nun.

Film spin-off dari The Conjuring 2: The Enfield Poltergeist ini kembali meghadirkan sosok hantu berwujud biarawati dalam pakaian serba hitam bercampur sedikit putih dengan tudung menghiasi kepala bernama Valak. Kehadiran Valak memang teramat ditunggu oleh penggemar film horor khususnya yang telah menyaksikan The Conjuring 2.

Penantian terhadap sosok hantu Valak dalam dunia perhantuan fiksional ini tidak lepas dari kesuksesan film sebelumnya. Valak sempat menyita perhatian para pecinta film horor dunia maupun tanah air lewat sosoknya yang menakutkan dengan rias wajah seram, tatapan tajam menakutkan, gigi runcing dan tentunya jumpscare, pada dua tahun silam.

Film The Nun disutradarai oleh Corin Hardy dan diperankan oleh Taissa Farmiga (Suster Irene), Demian Bichir (Pastor Burke), Jonas Bloquet (Maurice “Frenchie” Theriault), Charlotte Hope (Suster Victoria), Ingrid Bisu (Suster Oana), dan Bonnie Aarons (Valak/Demon Nun).

Ditunjuknya kembali Aarons sebagai pemeran hantu Valak, tentu bermaksud mengulang kesuksesan film sebelumnya. James Wan selaku penyusun cerita bersama Gary Dauberman menyajikan kisah berlatar Eropa klasik tahun 1952 di Rumania, dengan tampilan bangunan kastil kuno bernuansa gothik. Suatu ramuan yang menambah kengerian sejak dalam pikiran.

Cerita dimulai dengan dua orang biarawati berjalan menyusuri sebuah koridor gelap yang dihiasi salib-salib kayu beragam ukuran. Pada ujung koridor, terdapat sebuah pintu misterius bertuliskan sebuah kalimat bermakna “Tuhan Berakhir di Sini”, akibat ulah kedua biarawati tersebut sosok Valak hadir dan mulai menebar teror hingga salah satu dari biarawati tersebut lebih memilih mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri.

Baca Juga:  The Insult; Narasi Ego dalam Konflik Komunal

Dari nuansa gelap gulita, gambar beralih pada latar waktu siang hari dengan cahaya menyorot mata, sebuah peralihan yang terasa sedikit mengganggu. Seorang pemuda bernama Frenchie Theriault mendapati mayat biarawati dalam keadaan tergantung di depan pintu biara tua St. Carta.

Biara tersebut berada di tengah hutan yang jauh dari pemukiman warga. Seorang pastor bernama Burke dan seorang biarawati bernama Irene diutus dari Vatikan untuk menyelidiki kematian misterius biarawati tersebut.

Suster Irene, seorang biarawati yang belum mengucap sumpah atau kaul keimanan kepada Tuhan Kristus memiliki semacam penglihatan terhadap kehadiran hantu Valak. Sementara itu, Pastor Burke masih dihantui kenangan buruknya sebagai seorang exorcist.

Bersama-sama mereka berusaha mengungkap misteri tersembunyi dibalik kegelapan biara tua ditemani Frenchie yang acap kali mencairkan ketegangan dengan tingkah konyolnya.

Riwayat Valak yang Masih Tanda Tanya

Ekspektasi tinggi penikmat film horor tentu menjadi modal besar film The Nun untuk bisa menyajikan  cerita yang memikat dengan premis yang baik. Pertanyaan besar sejak The Conjuring 2 berakhir, tentang siapa sebenarnya hantu biarawati bernama Valak itu, seharusnya mampu menjadi kekuatan tersendiri bagi film ini.

Namun, pertanyaan itu masih belum terjawab hingga lampu bioskop kembali menyala. Hal ini tentu menjadi sebuah pengingkaran janji James Wan selaku produser dan penyusun cerita, bahwa The Nun akan mengisahkan latar belakang kemunculan hantu Valak. Film The Nun justru terlalu sibuk membagi fokus penceritaan kepada kedua tokoh utama yaitu Suster Irene dan Pastor Burke.

Kehadiran Valak pun sangat minim. Hanya di lima belas menit menjelang film berakhirlah Valak intens menebarkan teror. Alhasil, film ini gagal total menuntaskan rasa penasaran penonton tentang riwayat sang iblis.

Film The Nun malah terjebak dengan ‘kesibukannya’ sendiri dalam penyajian karakter tokoh Pastor Burke dan Suster Irene yang lagi-lagi juga belum sepenuhnya tuntas dalam 96 menit durasi film. Beruntung akting kelas dunia Taissa Farmiga, Demian Bichir, dan Jonas Bloquet begitu pas memerankan karakter mereka masing-masing.

Baca Juga:  Three Billboards Outside Ebbing, Missouri: Kontras-Kontras di Seputar Kekerasan

Jumpscare Melulu

Sebenarnya, alur film ini berjalan relatif baik seperti pada kebanyakan film horor pada umumnya. Namun, beberapa adegan terasa membosankan dan mudah ditebak, terlebih dengan banyaknya efek jumpscare yang digunakan.

Penggunaan jumpscare memang perlu dalam beberapa adegan dan hasilnya terasa pas serta elegan. Tetapi, makin lama makin tidak terkendali dan justru bikin jenuh dan menjadi sama sekali tidak menarik lagi sebab intensitasnya terlampau tinggi. Bahkan beberapa jumpscare saling berimpitan sehingga efek kaget yang ditimbulkan benar-benar tidak perlu dan hanya mengundang umpatan sebal dari penonton.

Penonton akhirnya mudah saja menebak kejutan-kejutan dari Hardy. Hingga mencapai puncak konflik, jumpscare yang disajikan The Nun lewat kemunculan mengerikan biarawati tak berwajah dan Valak sendiri menjadi lemah karena kurangnya pembangunan emosi sebelum beralih dari jumpscare yang satu ke jumpscare yang lainnya.

Hal ini memang disayangkan terlebih mengingat sajian sinematografi yang sebenarnya sudah cukup mumpuni dari Maxime Alexandre. Suasana gothik klasik yang mencekam mampu digambarkan dengan sangat baik dan akurat. Nilai lebih pada pencahayaan warna merah di latar ruangan biara yang meski sangat kecil, namun berhasil meninggalkan kesan kengerian tersendiri.

Menakuti-Takuti tanpa Kejelasan

Bukan saja hubungan sepasang muda-mudi yang kerap menemukan ketidakjelasan. Sebuah film horor juga mengalaminya. Penonton jelas dibuat teriak-teriak ketakutan—lebih tepatnya, dibuat terkejut terus-menerus. Namun, untuk apakah Valak menebar teror di biara tua dan desa sekitarnya?

Pertanyaan besar di atas tidak pernah dijelaskan dalam film yang ditulis Gary Dauberman ini. Kemunculan sosok Valak yang begitu dramatis dengan terbaliknya sebuah salib seratus delapan puluh derajat lalu terbakar dengan sendirinya, kemudian diikuti dengan padamnya lampu satu-persatu, ditambah efek musik yang mendebarkan tetap berakhir hampa tanpa penjelasan yang memuaskan.

Baca Juga:  Pacific Rim: Uprising—Pemberontakan Setengah-Setengah

Ada momen menggelikan, karena jumpscare yang keseringan, sosok Valak yang menyeramkan kadang justru membuat penonton tertawa canggung.

Riwayat penceritaan sosok Valak yang tidak jelas dan tanpa pembangunan emosi yang mendalam membuat penonton tidak merasakan kedekatan emosional dengan sosok hantu populer ini. Valak menjadi tidak berarti karena kemunculannya hanya sekadar menakuti-takuti dan mencengkeram tokoh lain untuk kemudian menghempaskannya kembali.

Meskipun film The Nun kurang begitu kuat dari segi penceritaan, akan tetapi masih banyak unsur lain yang bisa dianggap menjadi penyelamat bagi film ini.

Beberapa telah saya sebutkan di atas seperti akting para aktor yang cukup baik, sinematografi yang mumpuni, latar serta tata artistik yang berhasil mewujudkan nuansa gothik kuno eropa tahun 50-an dengan aura kegelapan dan keangkerannya yang terasa nyata.

Penonton The Nun juga tidak perlu susah payah memahami jalan cerita, karena film bergenre ‘horor religi’ ini tidak berplot rumit, malahan sangat ringan dan mudah diikuti—terlalu ringan hingga bagi sebagian orang tentu hal ini menjadi titik lemah yang paling fatal.

Untuk sekadar mengisi akhir pekan dan menikmati waktu bersama pasangan, film The Nun masih sangat layak dijadikan pilihan. Penonton akan mendapatkan pengalaman menyaksikan adegan-adegan jumpscare yang membuat kita seakan hendak meloncat dari tempat duduk tapi setelahnya, kita bakal tertawa lepas.

Data Film

Sutradara: Corin Hardy

Ide Cerita: James Wan, Gary Dauberman

Skenario: Gary Dauberman

Pemain: Taissa Farmiga, Demian Bichir, Jonas Bloquet, Charlotte Hope, Ingrid Bisu, dan Bonnie Aarons

Genre: Horor, Misteri, Thriller

Durasi: 96 menit

Waktu Rilis: 6 September 2018

Poster: IMDb

Facebook Comments

Seorang pemuda biasa, pembaca buku, penikmat film dan anime, baru menyelesaikan pendidikan sastra jenjang strata satu di salah satu universitas di Indonesia Timur.