Resensi Buku

Mencari Identitas Islam di Indonesia

Posted on in Resensi Buku

Bagi sebagian masyarakat Muslim, modernisasi yang merasuki sendi-sendi kehidupan mereka saat ini tak sepenuhnya melahirkan perasaan nyaman.

Pada saat yang bersamaan, modernisasi oleh sebagian kalangan justru dianggap telah mencampakkan ‘identitas otentik’ mereka sehingga di balik pesatnya arus modernisasi, sebagian dari masyarakat Muslim justru melakukan upaya pencarian kembali untuk menemukan identitas otentik yang ‘hilang’ itu.

Fakta di atas sebenarnya telah lama digaungkan oleh para pemikir Muslim. Hassan Hanafi, misalnya, pernah mengemukakan betapa masyarakat di dunia ketiga sedang berusaha kembali mencari identitas kedirian, khususnya identitas keagamaan mereka.

Upaya pencarian terhadap ‘identitas otentik’ keagamaan itu merupakan suatu fenomena menarik yang akhir-akhir ini semakin menunjukkan eskalasinya yang cukup besar, khususnya di tengah-tengah masyarakat Muslim Indonesia.

Salah satu bentuk upaya pencarian terhadap identitas tersebut, tersirat, misalnya dengan maraknya seruan-seruan beberapa pihak agar umat Islam harus menjadi ‘Muslim Sejati’, ‘Islami’, ‘Muslim Kaffah’ dan lain sebagainya (hlm.1).

Seruan-seruan semacam itu secara tidak langsung menyiratkan sebuah narasi panjang tentang perasaan sebagian masyarakat Muslim yang merasa bahwa modernisasi telah menjadikan mereka seperti tidak ‘Islami’ lagi.

Untuk itulah mereka berupaya mencari, meneguhkan dan memantapkan kembali identitas kemusliman mereka yang dinilai telah mulai pudar dan bahkan hilang oleh arus modernisasi tersebut.

Pertanyaan relevan untuk itu adalah; seperti apakah identitas seorang Muslim yang sejati dan Islami itu?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, mau tidak mau kita harus menguak kembali diskursus tentang Islam dengan menempatkannya sebagai sebuah fenomena historis-antropologis.

Konon, antropolog sekuler, Talal Asad, memetakan tentang Islam dalam tiga kecenderungan. Salah satunya adalah kecenderungan di antara para antropolog yang menganggap bahwa tidak ada objek teoritis yang benar-benar bisa disebut sebagai Islam.

Baca Juga:  Humor, Seni Mengkritik tanpa Melukai

Anggapan tersebut melahirkan sebuah pandangan bahwa pada akhirnya ada banyak ‘Islam’ yang menunjukkan keunikannya masing-masing, sehingga kata-kata seperti ‘Muslim Sejati’, ‘Muslim Kaffah’, dan ‘Islami’ tidak lantas dapat dijadikan sebagai kategori analitis untuk meneliti masyarakat Muslim itu sendiri (hlm.3).

Asad kemudian menawarkan jalan keluar dengan menghadirkan satu gagasan tentang Islam, dengan menempatkan Islam sebagai tradisi diskursif. Point penting dari gagasan Asad ini terletak pada masalah otoritas.

Artinya, suatu tindakan itu dapat dikatakan sebagai tindakan Islami atau tidak, sepenuhnya bergantung kepada siapa yang memberikan otoritas atau yang mengesahkan (hlm.5). Namun masalahnya adalah siapakah pemegang utama otoritas itu saat ini?

Harus diakui bahwa saat ini pemegang otoritas tradisi diskursif Islam tidak lagi sepenuhnya ada di tangan para ulama sebagaimana selama ini dipahami. Selain ulama, terdapat pula relasi kuasa yang turut memainkan peran penting dalam sejarah tradisi diskursif tersebut.

Bila di Arab Saudi pemegang otoritas Islam dalam tradisi diskursifnya adalah negara dan ulama-ulama Wahabi, maka tidak demikian dengan di Indonesia.

Di Indonesia, negara dan ulama tidak memiliki peran yang begitu signifikan untuk menjadikannya sebagai pemegang otoritas utama dalam tradisi diskursif Islam. Karena itulah kemudian ada banyak pemegang otoritas dalam tradisi diskursif itu yang sekaligus meniscayakan munculnya identitas-identitas baru Islam yang lebih beragam.

Buku Islam Antara Teks, Kuasa dan Identitas ini secara eksploratif mengkaji tentang Islam sebagai tradisi diskursif tadi. Sebagai tradisi diskursif, Islam ditempatkan sebagai tradisi dan dengan sendirinya tidak dipahami semata-mata sebagai himpunan kepercayaan, adat, dan moral.

Selain itu, buku ini juga mengeksplorasi tentang lahirnya pemegang otoritas-otoritas baru Islam di Indonesia yang hingga saat ini aktif melakukan upaya perebutan kembali terhadap identitas otentik keagamaan mereka lewat berbagai cara yang lebih modern.

Baca Juga:  Panduan Mengejek Kehidupan Serius

Sedikitnya terdapat sembilan topik yang dibahas dalam buku ini mulai dari masalah sedekah jalanan, perempuan salafi, kontestasi makna hijab, ustad gaul dan ta’aruf.

Secara keseluruhan buku ini memperlihatkan tentang bagaimana pergumulan Islam di tengah-tengah pemeluknya di Indonesia di mana hari ini sebagian di antara mereka sedang berupaya menciptakan identitas baru dalam perasaan keagamaan mereka demi menemukan identitas otentik yang hilang itu.

Identitas Buku

Judul Buku : Islam Antara Teks, Kuasa dan Identitas

Pengarang : Sunarwoto (ed), dkk

Penerbit : Arti Bumi Intara

Cetakan : I/Juli 2018

Hal : 213 halaman

ISBN : 978-602-7731-92-9

Foto : Dokumentasi pribadi

Facebook Comments

Mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dan pengelola Pesantren Literasi Kutub Yogyakarta.