Ulasan Film

Wiro Sableng: Sang Pewaris yang Membanggakan

Posted on in Ulasan Film

Perfilman Indonesia memasuki babak baru dengan lahirnya film superhero berkualitas. Itu yang ada di benak saya ketika pada tahun lalu, pembuatan film Wiro Sableng diumumkan. Benar saja, setelah proyek ambisius ini diumumkan ke publik, proyek-proyek film superhero Indonesia lainnya juga mulai digarap.

Ada Gundala Putra Petir yang akan ditukangi oleh Joko Anwar (A Copy of My Mind, Pengabdi Setan, Halfworlds) dan Si Buta Dari Goa Hantu yang akan berada di bawah arahan Timo Tjahjanto (Killers, Macabre, Headshot). Dua judul terakhir berada dalam naungan Bumi Langit.

Walau secara background susah bersatu dalam satu semesta, tapi saya masih optimis dengan cikal bakal lahirnya cinematic universe dari Indonesia. Bumi Langit Cinematic Universe. Terdengar keren, bukan? Tak kalah kerenlah dibanding Marvel Cinematic Universe atau DC Extended Universe.

Balik ke Wiro Sableng, saya begitu antusias untuk menonton film ini. Selain untuk nostalgia, saya juga penasaran bakal seperti apa hasil akhirnya. Tak tanggung-tanggung, distributor film ini adalah 20TH Century Fox! Distributor film-film superhero keren macam X-Men dan Deadpool.

Rasa penasaran saya terbayar lunas. Wiro Sableng menampilkan sesesuatu yang memuaskan. Tidak sempurna, tapi memuaskan!

Film ini dibuka dengan penyerangan Suranyali aka Mahesa Birawa, dan gerombolannya ke Desa Jatiwalu. Di sini, Wiro kecil hidup bahagia bersama Ayah dan Ibunya, Raden Ranaweleng dan Suci.  Penyerangan ini didasari oleh cinta.

Suranyali muda dulu jatuh cinta pada Suci. Namun, Suci malah memberikan cintanya pada Ranaweleng. Beginilah kalau cinta sudah buta dan sakit hati menyelimuti raga. Kebencian yang membabi-buta terlahir. Suranyali membunuh kedua orang tua Wiro dengan tangannya sendiri.

Ketika Wiro juga akan dihabisi, dia diselamatkan oleh Sinto Gendeng. Dalam part ini, saya melihat Wiro seperti Bruce Wayne yang harus melihat kedua orang tuanya, Thomas dan Martha Wayne terbunuh. Prolog yang ‘superhero’ banget menurut saya.

Baca Juga:  Searching; Dua Sisi Mata Pisau dari Internet dan Media Sosial

Wiro kemudian dibesarkan oleh Sinto Gendeng sembari diajari ilmu bela diri selama 17 tahun di Gunung Gede. Setelah Sinto Gendeng merasa bahwa ilmu yang dia berikan pada muridnya itu sudah cukup, dia mewariskan senjata pamungkas Kapak Maut Naga Geni dan Batu Hitam 212 pada Wiro dan mengirimnya turun gunung untuk memasuki dunia persilatan.

Misi utamanya adalah untuk menghentikan Suranyali atau Mahesa Birawa yang sudah sangat meresahkan masyarakat. Dari sinilah petualangan Wiro Sableng dimulai.

Dalam perjalanan untuk melaksanakan misi dari Gurunya tersebut, Wiro bertemu dengan Dewa Tuak dan muridnya, Anggini. Kemudian bertemu dengan Bujang Gila Tapak Sakti dan Putri Rara Murni yang seger bener. Pokoknya pelakon terbaik di film ini adalah Rara Murni. Bodo amat orang lain mau bilang apa. Hahahaha.

Wiro, Anggini, Bujang Gila Tapak Sakti dan Rara Murni kemudian membentuk aliansi untuk menyelamatkan Pangeran yang diculik oleh anak buah Mahesa Birawa. Perjalanan konyol penuh laga itu dimulai. Perjalanan yang membuat Wiro semakin dewasa dan berkembang sebagai seorang Pendekar. Sebuah film pembuka yang baik dari seri Wiro Sableng.

Selanjutnya, mari kita membicarakan teknis. Film yang disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko ini, memiliki adegan laga yang enak dilihat mata. Jika dulu kita selalu disuguhkan nama-nama jurus yang diteriakkan oleh tokoh-tokoh dalam Wiro Sableng, di film ini jangan harap begitu.

Saya sendiri hanya mengenali satu jurus Wiro, yaitu Pukulan Matahari yang merupakan jurus pamungkas dari aliran 212. Jurus yang dulu sangat jarang dikeluarkan oleh Wiro, kecuali di saat-saat genting dan sudah sangat terdesak.

Saya bahkan ragu apakah jurus Kunyuk Melempar Buah juga sempat dikeluarkan Wiro di film ini. Buat yang belum tahu, itu adalah jurus andalan Wiro, sama seperti Kamehame milik Son Goku. Andalan banget.

Baca Juga:  Yang Istimewa Karena Biasa

Banyak yang mempermasalahkan skenario film ini yang kadang menggunakan kalimat baku, kadang kekinian. Tapi, saya sendiri mulai terbiasa ketika film sudah sampai pertengahan, jadi saya tak ikut mempermasalahkannya.

Jokes-jokes receh yang membuat studio bioskop pecah juga cukup asik. Semua scene yang melibatkan Rara Murni itu terbaik dan membuat saya selalu mesem-mesem. Walau ada satu scene Rara Murni yang membuat hati saya perih. Seperih hati jutaan fans Los Blancos yang melihat Zidane hengkang dari Santiago Bernebau.

Penampilan Vino G Bastian sebagai Wiro Sableng saya beri nilai 7. Tidak jelek, tapi juga tidak terlalu bagus. Sebagai generasi lama yang terbiasa melihat Ken Ken sebagai Wiro Sableng, kita masih harus beradaptasi dan menerima reinkarnasi itu dengan lebih sabar dan legowo.

Sama seperti harus melihat Manchester United tanpa Sir Alex Ferguson, atau Arsenal tanpa Arsene Wenger. Tapi, ini adalah sebuah hal yang patut disyukuri. Bagaimana takdir membuat Vino G Bastian yang merupakan putra kandung Bastian Tito, pengarang asli Wiro Sableng, memerankan karakter fiksi ciptaan ayahnya sendiri.

Rasanya sama seperti melihat sebuah legacy dari Kota Milan di mana Cesare Maldini melatih sendiri anaknya, Paolo Maldini di AC Milan, dengan mengenakan nomor punggung 3 warisannya. Agak surealis, tapi begitulah takdir bekerja. Di surga sana, Bastian Tito pasti terharu melihat anaknya memerankan Wiro Sableng.

Penampilan karakter lain di dalam film ini juga sangat baik dan porsinya pas meskipun karakternya banyak. Selain Rara Murni yang manis banget dan mencuri hati saya, penampilan Andi /rif sebagai Dewa Tuak juga membuat saya geli.

Bukan apa-apa, sebagai penikmat musik bawah tanah, saya paham betul kalau Andi /rif ini adalah seorang pemabuk sejati. Bahkan, Ari Lasso pernah berkata, “Andi mah, bangun tidur juga mabok dia”, Pada sebuah wawancara untuk majalah Rolling Stones Indonesia.

Bahkan, selama proses syuting, Andi /rif benar-benar menggunakan tuak asli, katanya sih buat memperdalam karakter. Ya ampun, anda ini. Mabuk itu hobi anda, pake sok-sok alasan buat memperdalam karakter segala. Hahaha.

Baca Juga:  Wadjda: Wajah Perempuan Saudi di Persimpangan Budaya Patriarki

Penampilan Yayan Ruhian sebagai Mahesa Birawa juga sangat keren. Karakternya sebagai villain sangat kuat, walau belum se-iconic Mad Dog yang dia perankan dalam The Raid. Bibadari Angin Timur yang cukup mencuri perhatian dan misterius tapi penting, juga diperankan sangat amat baik oleh Marsha Timothy.

Yang agak kurang, mungkin penampilan Sherina Munaf sebagai Anggini. Saya sebenarnya agak berharap lebih pada karakter ini dan pada akting Sherina. Tapi, mengingat ini adalah film pertama Sherina setelah sekian lama absen dari dunia seni peran setelah Petualangan Sherina, ya okelah. Overall, film ini sangat menghibur dan membuat hati gembira ketika keluar bioskop. Nggak nyesellah.

Ada sebuah mid scene penting layaknya film-film superhero Marvel. Saya hampir loncat kegirangan melihatnya. Penutupan yang sangat luar biasa!

Sekian review kali ini. Mari kita menunggu film kedua dengan tenang dan berharap sekuelnya itu akan jauh lebih baik dalam semua elemen.

Akhir kata, I love you, Rara Murni.[]

Data Film

Sutradara : Angga Dwimas Sasongko

Produser : Sheila Timothy, Tomas Jegeus, Michael Werner

Pemeran : Vino G. Bastian, Sherina Munaf, Fariz Alfarazi, Marsha Timothy, Lukman Sardi, Dwi Sasono, Happy Salma, Marcella Zalianty, Yayan Ruhian, Yayu Unru, Dian Sidik, Cecep Arif Rahman, Teuku Rifnu Wikana

Produksi : Lifelike Pictures, 20th Century Fox

Tanggal rilis : 30 Agustus 2018

Facebook Comments

Suka membahas semua hal yang berbau pop culture di akun twitter @qonrobovski.