Resensi Buku

The Castle in the Pyrenees: Sebuah Sajian Dialektika Filosofis

Posted on in Resensi Buku

Pernahkah Anda berpikir bahwa sebuah kebetulan sebenarnya bukanlah peristiwa yang kebetulan? Maksud saya, bahwa kebetulan tersebut sebenarnya telah diatur sedemikian rupa oleh suatu kekuatan asing di luar kuasa manusia.

Kita biasa menyebutnya takdir. Misalnya, Anda pergi ke sebuah kedai kopi. Kemudian, secara “kebetulan” Anda bertemu kenalan atau mantan pacar yang sudah lama tidak berjumpa. Apakah itu peristiwa “kebetulan” belaka, atau justru sebuah takdir yang telah dirancang oleh Tuhan?

Dalam novel Jostein Gaarder yang berjudul The Caslte in the Pyrenees ini, Anda langsung disuguhi dua pandangan filosofis mengenai “kebetulan” saat membuka halaman permulaan cerita. Itu seperti saat sepulang kerja, Anda membuka pintu rumah dan mendapat kejutan perayaan ulang tahun lengkap dengan kue dan lilin yang menyala di atasnya.

Secara naluriah, Anda akan terkejut, dan seluruh perhatian Anda akan tertuju pada perayaan ulang tahun tersebut. Seperti itulah pembuka cerita dalam novel ini. Sebuah usaha cerdik untuk menarik pembaca, saya pikir. Sebuah kejeniusan.

Membaca novel ini seperti membaca rangkuman korespondensi seseorang melalui surat elektronik. Ya, novel ini berisi percakapan-percakapan email antara Solrun dan Steinn—mantan sepasang kekasih. Mereka saling kirim surel setelah secara kebetulan bertemu kembali di sebuah hotel.

Jadi, di dalamnya Anda tidak akan menemukan narasi pengantar. Seluruh kejadian, baik itu masa lampau maupun masa sekarang, dituturkan oleh Gaarder melalui isi email. Anda akan langsung masuk ke dalam percakapan Solrun dan Steinn.

Melalui Solrun dan Steinn, Gaarder menciptakan dialektika filosofis mengenai berbagai hal. Solrun adalah seorang religius-idealis, sedangkan Steinn adalah seorang agnostis-materialis.

Di bagian pembukaan, Solrun meyakini bahwa pertemuan kebetulan yang terjadi kepada mereka sebenarnya dikendalikan oleh kekuatan supernatural, sebuah kuasa. Dengan kata lain, Tuhan telah merancang sebuah pertemuan untuk mereka berdua.

Baca Juga:  Cinta Tak Tentu Arah

Sedangkan Steinn meyakini bahwa kebetulan tersebut, meski bukanlah sebuah peristiwa yang remeh, hanyalah kejadian acak yang biasa terjadi di alam semesta. Tidak ada yang merancang, merencanakan, dan mengendalikan dengan cara apa pun.

Agnostisisme Steinn dan religiositas Solrun yang sama-sama kuat menjadikan dialektika yang dirancang Gaarder benar-benar sangat menarik. Ada banyak pertarungan antara tesis dan anti-tesis yang timbul dari pandangan mereka berdua.

Misalnya, tentang penciptaan alam semesta. Menurut Steinn, alam semesta yang berusia 13,7 miliar tahun terjadi karena sebuah ledakan besar. Kita mengenalnya big-bang.

Namun, ilmu pengetahuan yang menjadi fondasi pemikirannya tidak bisa menjelaskan bagaimana dan mengapa ledakan besar tersebut bisa terjadi. Pelepasan energi yang besar itu membentuk bagian-bagian atom hingga akhirnya menjadi kelompok-kelompok galaksi yang di dalamnya terdapat planet-planet dan bintang-bintang.

Dalam pandangan yang lain, berlandaskan keyakinan terhadap agama, alam semesta sesungguhnya dengan sengaja diciptakan oleh Tuhan. Mulai dari ledakan besar hingga terbentuknya galaksi adalah merupakan proses penciptaan yang sedang dikerjakan oleh Tuhan.

Solrun menggunakan ayat ketiga Kitab Kejadian sebagai fondasi pandangannya. Ayat tersebut berbunyi “Tuhan berfirman, ‘Jadilah terang.’ Dan lalu terang itu terjadi.”

Contoh lain adalah tentang wanita Whartleberry yang sebenarnya menjadi inti permasalahan dalam novel ini. Dituturkan bahwa suatu ketika Steinn dan Solrun sedang melintasi jalan pegunungan. Tiba-tiba mereka menyadari telah menabrak seseorang.

Saat mereka kembali dan memeriksa lokasi tabrakan itu, mereka hanya menemukan sebuah syal berwarna merah muda di semak-semak. Syal itu milik si wanita yang sebelumnya mereka lihat di bagian jalan yang lain.

Dan itu artinya mereka telah menabrak wanita tersebut. Akan tetapi, di suatu hari yang lain, mereka tiba-tiba melihat wanita Whartleberry yang telah mereka tabrak berdiri di sebuah semak tanaman birch.

Sebelumnya, Solrun meyakini bahwa wanita Whartleberry yang mereka temui adalah jiwa yang sedang berkunjung dari alam baka, alam setelah mati. Namun, belakangan Solrun menemukan keyakinan lain.

Baca Juga:  Bandung, Panggung dan Seribu Tanda Seru

Wanita Whartleberry tersebut adalah entitas lain yang berbeda sama sekali dari mereka. Itu artinya mereka tidak menabrak manusia, melainkan menabrak makhluk sejenis jin atau yang serupanya.

Sedangkan, Steinn berpendapat bahwa wanita itu adalah manusia. Itu berarti wanita yang telah mereka tabrak masih hidup. Ia meyakini bahwa wanita tersebut telah ditolong oleh mobil yang berpapasan dengan mereka. Dan dengan cara yang entah bagaimana, mengikuti mereka berdua, kemudian menampakkan dirinya kembali.

Pengetahuan manusia memang ada batasnya. Karena itulah ilmu pengetahuan juga terbatas pada apa yang tampak dan bisa dicapai oleh akal. Tidak mengherankan memang jika orang-orang agnostik, seorang materialis, tidak meyakini hal-hal supernatural seperti ruh dan jiwa.

Ini karena ilmu pengetahuan yang menjadi pegangan mereka hanya percaya apa yang ada pada realitas. Steinn misalnya, ia tidak percaya pada hal-hal mistis dan metafisik, termasuk agama dan tuhan. Bagi seorang materialis, tuhan, agama, dan penampakan-penampakan adalah konsep buatan manusia yang terlalu berlebihan.

Di sisi lain, orang-orang religus meyakini tuhan, dunia ruh dan hal-hal metafisik memang ada. Solrun mencoba membuktikan dengan ketidaktahuan ilmu pengetahuan terhadap bagaimana dan mengapa ledakan besar bisa terjadi.

Jika alam semesta terbentuk karena sebuah ledakan besar, maka, pertanyaannya adalah apa yang ada sebelum ledakan besar itu? Bagaimana dan mengapa hal itu bisa terjadi? Sebuah bom, misalnya, tidak bisa ada begitu saja kemudian meledakkan dirinya sendiri, bukan?

Di sinilah alasan mengapa Tuhan memang ada. Solrun juga membuktikan adanya dunia ruh dengan wanita Whartleberry itu. Saya ingin menjelaskannya, tapi Solrun menceritakan tentang wanita tersebut dengan sangat panjang. Alangkah lebih baik jika Anda membacanya sendiri dalam buku ini.

Baca Juga:  Membongkar Kaleidoskop Cinta dalam Asmaragama

Yang menarik dalam proses dialektika antara Solrun dan Steinn, yang dapat kita ambil sebagai bentuk kebijaksanaan, adalah bahwa keduanya tidak memaksakan keyakinannya terhadap satu sama lain.

Meski mereka menyuguhkan kebenaran-kebenaran yang diyakini secara pribadi, tapi keduanya memahami bahwa menjadi seorang yang agamis, agnostis, ataupun ateis adalah perihal iman yang privat. Sikap inilah yang seharusnya kita tiru untuk menyikapi perbedaan-perbadaan yang sekarang ini sedang marak terjadi.

Buku ini seperti formula 3 in 1, di dalamnya ada fiksi, filsafat, dan ensiklopedia. Dan membaca novel filsafat, bagi saya pribadi, memang pekerjaan yang sangat menarik. Ini seperti menyelam sambil minum air.

Saya membaca cerita fiksi sekaligus belajar filsafat dan mendapat pengetahuan-pengetahuan baru menganai hal-hal yang sering menjadi objek kajian filsafat. Dalam novel The Castle in the Pyrenees ini, Anda akan diajak Gaarder untuk berdialektika.

Anda pula akan disuguhi informasi-informasi baru yang saya yakin belum pernah Anda temui di buku-buku lainnya. Di tangan Gaarder, filsafat yang terkesan rumit bisa dikemas menjadi sesuatu yang menyenangkan.[]

Identitas buku:

Judul : The Castle in the Pyrenees

Penulis : Jostein Gaarder

Penerjemah : Irwan Syahrir

Penerbit : Mizan

Tebal : 296 halaman

Cetakan : pertama, Maret 2018

ISBN : 9786024410223

Foto: Dokumentasi pribadi

Facebook Comments

Lahir di Rembang pada Juli 1996. Sekarang tengah menempuh pendidikan S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Ia senang menulis cerpen dan puisi. Ia tergabung di sebuah komunitas pecinta buku yang bernama Klub Buku Yogyakarta (KBY).