Ulasan Film

Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta: Berawal dari Kecemasan, Berakhir Menjadi Warisan

Posted on in Ulasan Film

Biopik Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta (2018) hadir karena sebuah kekhawatiran. “Banyak yang belum tahu, apa yang diperjuangkan oleh pendahulu kita,” kata Mooryati Soedibyo, produser film tersebut, di dalam sebuah wawancara yang diunggah di laman perusahaan filmnya, Mooryati Soedibyo Cinema. Ia merujuk generasi muda ketika menceritakan kecemasannya itu.

Film, tak diragukan lagi, adalah pembawa pesan yang efektif, populer, dan digemari banyak orang. Eyang Moor, begitu pendiri Mustika Ratu Grup ini disapa, paham soal itu. Oleh karenanya, ia mendirikan rumah produksi.

Ia menginginkan film perdana rumah produksinya ini dapat menarik minat generasi muda dan menjadikan nilai-nilai baik di dalamnya pelajaran. Sultan Agung diharapkan menjadi solusi atas kekhawatirannya tadi. Hanung Bramantyo, sang sutradara, dibantu X.Jo, tampaknya berhasil mewujudkan misi tersebut.

Pemilihan tokoh Sultan Agung dari Mataram ini jelas subjektif. Eyang Moor adalah keturunannya. Akan tetapi, subjektivitas itu tak melulu salah. Banyak alasan kuat untuk mengangkat kisahnya ke layar lebar.

Gelar Pahlawan Nasional adalah salah satunya. Gelar itu, sebagaimana kita tahu, tidak diberikan pemerintah kepada sembarang orang. Lazimnya, proses pemberian gelar tersebut telah melalui beragam tahapan rumit dan riset yang mendalam.

Alur kisah Sultan Agung ini mengalir sempurna. Nilai-nilai nasionalisme, integritas, dan kerelaan berkorban—yang selalu menjadi jargon menjemukan pelajaran sejarah dan kewarganegaraan di sekolah—divisualisasikan dengan menarik dan meyakinkan. Tahta, perjuangan, dan cinta adalah aspek yang saling berkelindan dan bergantian menyerukan nilai-nilai moral tadi.

Raden Mas Rangsang (Marthino Lio), nama Sultan Agung sebelum naik tahta, harus merelakan cita-cita dan cintanya. Ia harus menjemput takdir sebagai penguasa Mataram. Di Padepokan Ki Jejer (Deddy Sutomo), ia dititipkan oleh ayahnya, Prabu Hanyakrawati, sejak usia 10 tahun, untuk belajar mengaji dan “berkelahi.”

Di tempat itu, ia membumbungkan harapan untuk dapat menjadi golongan Brahmana, kelompok para mulia yang menyebarkan kebajikan agama, di masa depan. Pada saat yang bersamaan, hatinya pun merekah oleh cinta. Lembayung (Putri Marino), putri Ki Lurah Sudar, mencuri hati Raden Mas Rangsang.

Baca Juga:  Enter the Void (2009): Vakansi Psikedelik Pasca-Kematian

Ia merelakan keduanya tak terwujud ketika sang ayah mangkat. Raden Mas Rangsang dipanggil istana untuk naik tahta. Pada akhirnya, ia tidak jadi pemuka agama dan dinobatkan menjadi raja ketiga Kesultanan Mataram dengan gelar Panembahan Hanyakrakusuma.

Setelah menaklukkan Madura pada 1624, yang tidak diceritakan di dalam film, gelarnya berganti menjadi Susuhan Agung Hanyakrakusuma. Cinta masa mudanya pun kandas. Seorang penguasa tidak mungkin menikah dengan rakyat jelata. Lembayung ditinggalkan. Sultan Agung kemudian dinikahkan dengan putri Adipati Batang (Anindya Putri).

Sultan Agung, selayaknya raja-raja Mataram, memiliki dua istri resmi: Ratu Kulon dan Ratu Wetan. Entah mengapa, yang ditampilkan di film hanya Ratu Wetan saja. Jika monogami dipandang sebagai kondisi ideal pada saat ini, maka pilihan untuk hanya menggambarkan seorang istri saja adalah wajar.

Jika benar demikian, pada titik ini, Sultan Agung tidak bisa lepas dari penyakit narasi biografi, baik dalam bentuk buku atau film, yakni sulit menghindar dari glorifikasi personal. Tokoh digambarkan secara sempurna dan “disembunyikan” kekurangan-kekurangannya.

Usaha “penyembunyian” ini, bisa jadi, adalah usaha untuk tidak merendahkan dan memarjinalkan peran dan posisi perempuan. Pun demikian, upaya itu tidak sepenuhnya berhasil.

Tokoh Lembayung, perempuan yang kuat dan mandiri, memang mampu mengangkat ide feminisme ini. Sayangnya, ada tokoh perempuan lain yang penggambarannya tanggung. Ia seharusnya digambarkan sebagai pribadi lain yang sentral bagi Sultan Agung.

Karakter sang permaisuri tidak digarap matang sehingga sangat mungkin dihilangkan tanpa mengganggu alur cerita utama. Perannya, bahkan, tak sekuat Gusti Ratu Banawati (Christine Hakim), ibu kandung Raden Mas Rangsang dan Gusti Ratu Tulung Ayu (Meriam Bellina), ibu dari Raden Mas Martapura, saudara sebapak Sultan Agung.

Meski tampil singkat, keduanya berhasil memberi kesan mendalam kepada penonton. Yang pertama meninggalkan kesan tenang dan bijaksana, yang kedua menularkan aura jahat penuh kebencian. Kita tidak akan mendapatkan perasaan yang sama ketika melihat putri Adipati Batang.

Sultan Agung terkenal sebagai penguasa tanah Jawa yang benci “orang asing.” Di dalam film, kebencian ini diasosiasikan sebagai bentuk nasionalisme. Sejatinya, paham ini adalah produk pemikiran era modern yang hadir di Nusantara pada awal abad ke-20.

Baca Juga:  Pemaafan: Menakar Batas Kebencian

Hanung tahu itu dan berhasil membungkus pesan ini secara kontekstual. Setelah naik tahta, Sultan Agung, yang pada periode berkuasa diperankan oleh Ario Bayu, menolak kerja sama dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), yang dirapalkan oleh lidah lokal menjadi kompeni, dengan alasan tidak mau diperbudak bangsa asing.

“Nasionalisme” inilah yang mendasari serangan Kesultanan Mataram ke Batavia. Penyerangan ke wilayah kekuasaan kompeni menjadi narasi utama Sultan Agung.

Di dalamnya, intrik-intrik dikembangkan, termasuk kisah pengkhianatan para tumenggung dan dramatisasi pencarian Seto, kakak Lembayung (yang kemudian di masa tua diperankan oleh Ardinia Wirasti) ke Batavia berbarengan dengan penyerangan pasukan Mataram.

Sultan Agung juga sukses menampilkan tokoh-tokoh di dalamnya secara berwarna. Tidak ada orang yang benar-benar baik atau yang sepenuhnya jahat. Manusia selalu berada dan bergerak di antara keduanya dengan sebab dan akibat yang berlainan.

Kelana (Teuku Rifnu Wikana) adalah contoh jelasnya. Ada tokoh lainnya, seorang warga Mataram, yang menjadi serupa dengan Kelana. Ia hampir mati. Kompeni kemudian menolongnya untuk tetap hidup. Pada akhirnya, ia memutuskan mengabdi kepada kompeni. Dari kisah ini, kita menjadi tahu, penjahat pun dapat berbuat baik.

Sultan Agung, memang, terlihat sempurna dan tak pernah salah. Akan tetapi, tranformasi pribadinya tergambar cukup baik. Dari yang tadinya keras dan tidak kenal kompromi menjadi lebih humanis. Di fase hidup inilah, ia menjadi pemimpin sekaligus budayawan pilih tanding.

Sultan Agung memang apik, tapi tak bebas kritik. Sebagian pihak menilai Hanung dan tim tidak memerhatikan detail pakem pakaian sultan dan para punggawa istana. Kritikan itu datang, salah satunya, dari Gusti Kanjeng Ratu Bendara.

Ia menilai seharusnya Sultan Agung mengenakan motif parang yang lebih besar daripada yang dipakai oleh abdi dalem. Meskipun bukan perkara sepele—jika memang kritikan itu benar—ketidakakuratan ini tidak mengurangi kenikmatan menonton.

Niat dan kerja keras untuk menghadirkan film sejarah yang akurat toh sudah terlihat dari dibangunnya studio mini yang berisi bangunan set terdiri dari Pendopo Keraton Mataram, Songgo Mataram, Benteng Hollandia di Sunda Kelapa, Jembatan Ungkit, Kampung Mataram, dan Kampung Pecinan pada abad ke-15 oleh Mooryati Soedibyo Cinema di Desa Gamplong, Sleman.

Baca Juga:  ReLIFE: Sebuah Kesempatan untuk Mengulang Kembali Kehidupanmu

Sultan Agung memang biopik, namun film ini tetaplah karya seni yang menggabungkan fakta sejarah dan fiksi yang menggugah. Biopik ini tidak bisa menjadi sumber kebenaran sejarah yang valid.

Ia bersifat multitafsir dan dapat dikontekstualisasi sesuai kebutuhan dan pandangan masa sekarang. Menyoal hal ini, para penulis naskah dengan cerdas menuliskannya di dalam dialog Sultan Agung, “Orang boleh menuliskan apa pun tentang diriku… Penyerangan ke Batavia itu, bukan untuk hari ini, tapi untuk ratusan tahun ke depan!”

Dari perspektif ini, Sultan Agung telah menjadikan dirinya bukit-diri (self-evident): Ia adalah bentuk nyata penafsiran ulang dan rekontekstualisasi fakta sejarah.

Hanung menggarap Sultan Agung sama baiknya dengan biopik yang telah ia buat seperti Ahmad Dahlan di Sang Pencerah (2010), sang proklamator kemerdekaan Indonesia di Soekarno: Indonesia Merdeka (2013), dan pelopor emansipasi perempuan Indonesia di Kartini (2017).

Oleh karenanya, Eyang Moor patut berbangga. Ia akan meninggalkan warisan berharga bagi Indonesia. Tidak hanya studio mini di Sleman yang dihibahkannya kepada pemerintah daerah untuk dijadikan objek wisata sejarah, tetapi juga film ini.

Rasanya, jika sudah begini, Eyang Moor tak perlu cemas lagi.

Data Film

Sutradara : Hanung Bramantyo, X.Jo (Asisten Sutradara)

Skenario : Mooryati Soedibyo, Ifan Ismail, Bagas Pudjilaksono

Genre : Drama, Fiksi Sejarah

Durasi : 2 jam 28 menit

Pemain : Ario Bayu, Adinia Wirasti, Anindya Kusuma Putri, Putri Marino, Marthino Lio, Christine Hakim, Anindya Putri, Meriam Bellina, Deddy Sutomo, Teuku Rifnu Wikana

Waktu Rilis : 23Agustus 2018

Rating : 8.2/10 (IMDb)

Poster : IMDb

Facebook Comments

Seorang suami, bapak, pembaca buku, penikmat film, dan sejarawan berijazah tapi tak bersertifikat. Saat ini bekerja sebagai peneliti kebijakan kebudayaan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.