Resensi Buku

Pak Dokter Gila yang Menulis Resep Tidak Bahagia

Posted on in Resensi Buku

Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) nekat menerbitkan ulang Ruang Inap No. 6 setelah dua tahun silam menerbitkan ulang buku serupa yang sudah terbit sejak tahun 2004. Selain memberi untung kepada KPG, pembeli dan pembaca menambah pahala amal jariyah Chekhov di alam barzah.

Sayangnya, penerbitan kembali karya sastra Rusia klasik yang tidak kunjung disusul dengan penerbitan sastra Rusia yang lebih mutakhir—menyalin Eka Kurniawan—bakal membuat imajinasi pembaca tentang Rusia mandek pada periode tersebut.

Pembaca disuguhkan potret diri sang penulis setelah menghirup kover baru bernuansa “putihan” di cetakan ketiga. Osip Braz melukis Chekhov tahun 1898. Di lukisan itu, pembaca masa kini akan menganggap Chekhov karismatik. Ada jenggot rapi, kaca mata yang tergantung, mantel plus dasi, juga kursi berukir sederhana.

Lukisan cukup pas dengan suasana biografis yang disuguhkan penerjemah, Koesalah Soebagyo Toer, di bagian pengantar. Chekhov rupanya seorang dokter yang berkhianat ke jagat sastra.

Pengkhianatan bermula dari penderitaan hidup dan berujung pada kegilaan, liarnya pikiran. Sembilan cerpen dalam buku ini adalah mereka: puncak pengkhianatan Anton Chekhov yang tidak pernah dia sesali.

Cerpen Ruang Inap No. 6 adalah yang paling liar. Ia mengisahkan dokter Andrei Yefimich Ragin yang terpesona pada kecerdasan Ivan Dmitrich Gromov, seorang pasien rumah sakit jiwa yang mantan juru sita dan sekretaris gubernia. Ivan Dmitrich menderita paranoia pengejaran.

Dokter Andrei Yefimich sudah jenuh dengan pekerjaannya. Makin lama, pasien yang diperiksanya justru makin banyak. Makin banyak pasien, makin serampangan ia memeriksa. Kedokteran, pikirnya, jadi tiada guna lagi.

“Lagi pula untuk apa menghalangi orang-orang itu mati, bila kematian memang akhir yang normal dan sah bagi setiap orang? Apa untungnya seorang pedagang atau pegawai hidup lima tahun atau sepuluh tahun lebih lama? Bila dilihat bahwa tujuan kedokteran adalah memberikan obat yang meringankan penderitaan, maka mau tidak mau timbul pertanyaan: untuk apa meringankan penderitaan itu?” (hlm. 21).

Baca Juga:  Ayah, Putera, dan Narasi yang Menjenuhkan

Bersama Ivan Dmitrich, Andrei Yefimich justru menemukan keasyikan hidup. Pak Dokter ketagihan akan kegilaan si pasien. “… Dostoyevskii atau Voltaire, kata orang, pernah mengatakan bahwa seandainya tidak ada Tuhan kiranya manusia akan menciptakannya. Sedangkan saya percaya benar bahwa jika tidak ada kekekalan, cepat atau lambat, akal manusia yang agung akan menciptakannya” (hlm. 40).

Bagi Pak Dokter, Ivan Dmitrich adalah orang paling terus terang yang ada di sekitarnya. Kesadaran hidup Pak Dokter adalah wujud kegelisahan masyarakat saat itu yang tengah terpesona pada ilmu pengetahuan modern.

Kedokteran yang secara praktis punya magis menghambat kematian adalah ilmu ajaib. Tapi, Pak Dokter menganggap keahliannya membuat manusia terlena dan tertundukkan oleh alam.

“Proses tanpa kesadaran yang terjadi di tengah alam bahkan lebih rendah daripada kebodohan manusia, sebab dalam kebodohan, bagaimanapun, terdapat kesadaran dan kehendak, sedangkan proses tanpa kesadaran sama saja dengan tidak ada apa-apa” (hlm. 30-31).

Selain itu, sakit batin lebih rumit dari sakit badan. Pada sakit fisik, dokter adalah pendiagnosis satu-satunya, hakim tunggal atas penyakit. Pada sakit batin, tiba-tiba banyak yang jadi hakim; orang-orang sok tahu yang menganggap diri mereka sehat secara batin.

Pak dokter pun terjebak dalam hidup, dianggap gila oleh orang-orang sekitarnya. “Ketika manusia yang berpikir mencapai kematangan dan memperoleh kesadaran yang matang, mau tidak mau dia merasa dirinya seolah berada dalam jebakan dan tidak ada jalan keluar” (hlm. 28-29). Ivan Dmitrich cuma tersenyum sambil memberi ejek. “Anda berfilsafat, sih.”

Pembaca perlu khawatir tertular kegilaan karena dipaksa senyum-senyum sendiri di cerpen Pertaruhan, kisah seorang bankir yang membuat taruhan atas kebebasan seseorang; Bunglon, tentang seorang polisi mencla-mencle; Karya Seni, menceritakan seorang dokter yang terjebak dalam guyonan Tuhan atas dirinya; atau Roman dengan Kontrabas, sebuah penulisan ulang yang lebih modern atas kisah Adam dan Hawa.

Bila cerpen lain menceritakan kesintingan dan lelucon-lelucon ketidakbahagiaan, dalam Wanita dengan Anjing, Pak Dokter Chekhov menulis resep lirih tentang kisah cinta dua manusia yang tak lagi muda. Kalau pembaca adalah seorang yang sudah bersuami atau beristri, lalu jatuh cinta pada seseorang yang sudah bersuami atau beristri pula, mungkin cerpen ini bakal terasa … begitulah.

Baca Juga:  Meributkan Kebenaran

Perselingkuhan Dmitrii Dmitrich Gurov dengan Anna Sergeyeva dalam Wanita dengan Anjing, barangkali menjadi pembeda di antara sikap ”religiusitas” klasik yang ditampilkan karakter-karakter di cerpen lainnya. Ternyata, janur kuning (tentunya tidak ada janur kuning di pernikahan Rusia) bukan penghalang bagi dua manusia buat menghentikan pencarian cinta.

Dialog batin Dmitrii cukup bisa menggambarkan itu. “Di mata perempuan, dia selalu tampak tidak sebagaimana adanya, dan mereka mencintai dirinya apa yang bukan dirinya sebenarnya, melainkan orang lain yang mereka ciptakan sendiri dalam khayalan, dan dengan rakus mereka mencari-cari dalam hidupnya, kemudian, ketika mereka sadar bahwa dirinya keliru, tetap saja mereka mencintai dia.”

“Tidak seorang pun dari mereka yang merasa bahagia dengan dia. Waktu berlalu, dia berkenalan, bertemu, berpisah, tapi tidak sekali pun mencintai: boleh dikatakan apa saja, yang jelas itu bukan cinta” (hlm. 235). Bersama Anna Sergeyeva, Dmitrii semacam bisa merevisi dialog batinnya: boleh dikatakan, jelas itu cinta!

Resep Buat Profesor

Pada cerpen Riwayat yang Membosankan: Catatan Seorang Tua, Chekhov menulis resep buat para profesor. Seorang profesor kedokteran hebat yang sudah uzur di cerita ini membuat pembaca tidak tahan menghadiahkan buku ini ke para profesor di negeri sendiri.

Habis, sang profesor dalam cerpen ini memang teladan, sih. “Seperti 20-30 tahun yang lalu, sekarang ini, menjelang mati, yang menarik perhatian saya hanyalah ilmu pengetahuan.”

“Pada waktu menghembuskan napas terakhir, bagaimanapun saya akan tetap percaya bahwa ilmu pengetahuan adalah hal yang palig penting, paling indah, dan paling perlu dalam hidup manusia, bahwa ilmu pengetahuan selamanya, dahulu dan nanti, akan merupakan perwujudan tertinggi cinta, dan bahwa hanya dengan ilmu pengetahuan manusia akan mengalahkan alam dan diri sendiri” (hlm. 102).

Baca Juga:  Mengenal Tuhan dengan Asyik ala Mbah Tejo dan Syekh Kamba

Bukan hanya para profesor, para mahasiswa dipaksa garuk-garuk kuping membaca kekesalan sang profesor. Dia marah gegara banyak mahasiswa pemalas yang mengemis tema disertasi kepadanya.

“’Kenapa kalian semua datang kepada saya, sungguh saya tidak mengerti!” pekik saya marah. ‘Apa saya ini warung? Saya tidak berdagang tema! Seribu satu kali saya minta kepada kalian untuk tidak mengganggu saya! Maafkan saya atas ketidaksopanan ini, tapi akhirnya saya merasa bosan!’” (hlm. 108)

Melalui terjemahan asyik Koesalah, cerpen-cerpen yang dihimpun dari masa puncak Chekhov sebagai pengarang (1890-an) dalam buku ini terasa lebih dekat. Dalam menerjemahkan frasa-frasa religius misalnya, Koesalah memilih menggunakan kata-kata ngislami: alhamdulillah dan insyaallah.

Meski memberi kedekatan antara pembaca dengan karakter dan latar cerita, penerjemahan semacam ini juga berisiko. Pembaca jadi kurang bisa menyelami pergulatan kebahasaan si penulis.

Tapi, selain istilah-istilah ngislami tadi, terjemahan Koesalah memang sungguh nikmat. Jadi, membaca terjemahannya berarti menambah pula pahala amal jariyah Koesalah dialam barzah.

Karya-karya klasik sejenis bisa diduga akan terus dicetak ulang sepanjang zaman. Dari Rusia ada Leo Tolstoi, Fyodor Dostoyevski, atau Karl May, juga tentunya Chekhov. Dari bagian dunia lain, karya-karya Voltaire, Tagore, Emile Zola, dan lainnya, juga terus dicetak ulang.

Tapi penerjemahan dan penerbitan sastra Rusia menjadi salah satu yang terhenti di periode klasik dan awal abad 20. Nah, KPG yang baik, demi kebahagiaan imajinasi pembaca soal Rusia, kapan karya sastra Rusia yang lebih mutakhir bakal diterjemahkan dan diterbitkan?[]

Identitas Buku:

Judul Buku: Ruang Inap No. 6

Penulis: Anton Chekhov

Penerjemah: Koesalah Soebagyo Toer

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Tahun Terbit: Maret 2018

Jumlah Halaman: xiv + 262 halaman

Foto: Dokumentasi pribadi

Facebook Comments

Peminat sastra, juga kajian media dan jurnalisme. Tulisan-tulisannya bisa dibaca di pjalankaki.blogspot.com. Bisa ditemui sehari-hari di Instagram dan Twitter @pjalankaki.