Ulasan Film

Christopher Robin: Belajar Menjadi Manusia Dewasa yang Bahagia

Posted on in Ulasan Film

Lupakan persoalan politik yang membelit film ini di China sehingga film besutan Disney tersebut dilarang tayang di negeri tirai bambu itu. Dilaporkan BBC News, lembaga resmi perfilman China menolak menjelaskan alasannya namun dugaan mengarah ke sebuah foto yang menampilkan presiden China, Xi Jinpiang, berjalan bersama Barrack Obama.

Di sampingnya digambarkan Winnie the Pooh berjalan bersama Tigger. Gambar itu beredar tahun 2013. Sejak saat itu, karakter Winnie the Pooh disortir dari media.

Sekali lagi, mari lupakan. Politik adalah persoalan orang dewasa yang sering kali menyebalkan. Ah, bukankah masih ada perkara lain yang juga tak kalah menyebalkannya bagi orang dewasa, paling tidak itulah yang dirasakan Christopher Robin (Ewan McGregor) dalam film Christopher Robin.

Christopher Robin melewati masa kanak-kanaknya dengan keriangan dan kebahagiaan. Bersama teman-temannya dari Hundred Acre Wood—sebuah tempat yang dikiranya hanya imajinasinya belaka saat dewasa, Christopher Robin kecil menikmati hidup tanpa beban.

Ia bermain-main. Melompat-lompat. Menari. Bernyanyi. Dan menikmati siang hari yang cerah dengan berkumpul bersama Winnie the Pooh (Jim Cumming), Tigger (Jim Cumming), Piglet (Nick Mohammed), Eeyore (Brad Garrett), Rabbit (Peter Capaldi), Kanga (Sophie Okonedo), Roo (Shara Sheen), dan Owl (Toby Jones).

Sampai saat, yang tidak diinginkannya itu tiba. Satu siang yang cerah, mereka semua berkumpul mengelilingi meja. Eeyore membacakan sebuah puisi. Christopher Robin membuka bungkusan berisi kue.

Dengan segera, tangan-tangan jahil pun berebut menjail kue itu hingga berantakan. Dan semua saling mengucapkan selamat tinggal pada Christopher Robin yang bersiap menjadi dewasa.

Lalu, Christopher Robin pun pergi dari Hundred Acre Wood melalui sebuah celah pohon menuju dunia yang selama ini tak pernah diduganya: dunia nyata, dunia yang mempersiapkannya menjadi orang dewasa yang penuh beban.

Baca Juga:  Kegelisahan Remaja Kembali Memakan Korban Jiwa: Ulasan Film Thoroughbreds (2018)

Selepas kepergiannya yang terakhir itu, Christopher Robin menjalani pendidikan asrama. Tak lama berselang, sebuah berita buruk menghancurkan hidupnya: ayahnya meninggal dunia, kini ia menjadi kepala keluarga. Beban itu datang lebih cepat dari perkiraan siapa pun.

Bertahun-tahun kemudian Christopher Robin telah menjadi orang dewasa. Ia menjalin asmara dengan seorang gadis yang ditemuinya secara tidak sengaja di bus umum. Saat gadis itu mencari kursi yang ternyata penuh, Christopher Robin berdiri menawarkan. Gadis itu terkesan.

Lucunya, justru penumpang lain yang duduk mendahului si gadis karena mengira itu untuknya. Mereka pun tertawa atas kesalahpahaman itu. Tawa yang mengikat hati. Mereka menikah dan mempunyai seorang putri. Gadis itu bernama Evelin (Hayley Atwell) dan putri mereka dinamai Madeline Robin (Bronte Carmichael).

Sampai titik ini, Christopher Robin masih berbahagia. Ia masih menikmati hidupnya walau tidak seceria saat kanak-kanak. Ia mulai lupa dengan teman main masa kecilnya di Hundred Wood Acre.

Pelan-pelan, perubahan itu mengubah dunia Pooh. Mendung demi mendung menyelimuti. Kabut pekat berdatangan setiap hari. Bahkan suatu hari, Pooh kehilangan semua teman-temannya. Pooh merasa sangat ketakutan. Ia pun memaksa dirinya pergi ke dunia nyata, dunia Christopher Robin yang kini sudah betul-betul berubah menjadi orang dewasa.

Christopher Robin sedang frustasi di kantornya. Bisnis sedang lesu. Sebagai pimpinan dia bertanggung jawab atas kemelorotan pendapatan perusahaan. Sayangnya, seperti yang biasa terjadi pada orang dewasa lain, bosnya tidak peduli.

Dia harus mencari cara agar bisnisnya kembali moncer. Agar kembali menguntungkan. Christopher Robin harus mengambil keputusan berat: efisiensi, di antaranya memecat sebagian karyawan.

Di saat yang bersamaan Madeline telah tumbuh. Mengikuti jejak ayahnya, ia dipersiapkan untuk pergi ke sekolah asrama agar siap menghadapi kerasnya persaingan hidup. Langkah yang sebenarnya disesali oleh Christopher Robin. Untuk itu, Madeline harus belajar dan terus belajar. Jarang Madeline menikmati waktunya dengan bermain.

Baca Juga:  Bukti Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan

Di dunia yang telah dihegemoni oleh pemikiran kapitalistik, waktu adalah uang. Hidup diukur dari keberhasilan kapital meskipun harus mengorbankan keluarga karenanya. Mana yang akan dipilih Christopher Robin, mempertahankan kesuksesan karier atau memilih mengutamakan keluarga?

Christopher Robin adalah gambaran dari kehidupan modern; para pekerja yang waktunya tercurah habis untuk pekerjaannya. Tak punya waktu yang cukup bagi keluarga.

Jamak kita mendengar kisah para pekerja di ibukota yang berangkat pagi, bahkan ada yang sebelum subuh, hanya demi menjaga rekor tak pernah terlambat ke kantor.

Kemacetan menghadang di sepanjang jalur keberangkatan. Sesampainya di kantor, pekerjaan demi pekerjaan menunggu diselesaikan. Saat jarum jam menunjuk angka lima, pekerja yang seharusnya pulang itu justru menambah waktu kerjanya hingga malam.

Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Setelah larut, ia pulang hanya untuk menemui kemacetan yang sama. Sampai di rumah, malam telah larut. Lelah. Habis energi. Begitu aktivitas setiap harinya.

Tapi yang lebih berat dari itu adalah politik kantor. Lingkungan kerja berubah menjadi arena gladiator di mana tikam-menikam terjadi. Sang komandan memberi perintah yang wajib dilaksanakan.

Jika gagal, maka bawahannya bisa dimarahi sedemikian rupa seolah-olah mereka hanya sekumpulan robot dungu yang tak bisa beroperasi sempurna. Dan jika masih gagal, giliran sang komandan yang dimarahi pemilik perusahaan.

Itulah yang terjadi pada Christopher Robin. Ia berubah menjadi robot. Pekerjaan telah mendehumanisasi dirinya. Perlahan, imajinasi masa kanaknya hilang. Ia telah benar-benar tak punya jalan lain dalam hidupnya yang penuh beban selain menanggungnya meskipun itu menyakiti keluarganya.

Beruntung Christopher Robin memiliki Pooh. Ia kawan yang paling setia. Keluguan, kejujuran, keceriaan yang ditunjukkannya perlahan mengingatkan Christopher Robin akan siapa dia sebenarnya: seorang manusia yang berhak bahagia.

Baca Juga:  Oh, Snap! - Ulasan Film Avengers: Infinity War

Bukankah pada setiap orang dewasa terdapat jiwa kanak-kanak yang ingin bermain setiap saat? Biarkan. Lepaskan. Jangan tekan kehadirannya hanya karena kita telah menjadi dewasa.

Pesan-pesan dalam film ini disampaikan dengan cara yang sangat mengena. Pada momen Pooh sedang bergembira dan mengajak Christopher Robin bermain tapi yang didapatinya malah larangan karena ia sedang sibuk—kita tertohok.

Momen ketika Madeline kecewa karena ayahnya tidak mau mendengar keinginannya juga membuat kita merasakan kegetiran. Juga momen saat akhirnya rasa cinta mengalahkan segalanya, tak terasa mata memanas dan ingin mengalirkan perasaan yang menghangat di hati.

Film ini tentang bagaimana menikmati hidup di hari ini. Bukan di hari kemarin, atau besok. Sebuah film yang sarat dengan makna bagi kita yang ingin menjadi orang dewasa yang bahagia.

Data film:

Sutradara: Marc Forster

Pemeran: Ewan McGregor, Hayley Atwell, Bronte Carmichael, Mark Gatiss.

Pengisi suara: Jim Cummings, pengisi suara Winnie the Pooh dan Tigger; Brad Garrett, pengisi suara Eeyore; Toby Jones, pengisi suara Owl; Nick Mohammed, pengisi suara Piglet; Peter Capaldi, pengisi suara Rabbit; Sophie Okonedo, pengisi suara Kanga

Rilis: 21 Agustus 2018 (Indonesia)

Genre: Animation, Adventure

Poster: IMDb

Facebook Comments

Menulis ulasan film, cerpen dan opini keagamaan di media cetak dan daring. Bermukim di Bekasi. Bisa disapa di akun Twitter @hilmisobari.