Resensi Buku

Setelah Perang Tak Ada Lagi

Posted on in Resensi Buku

Perang di mana pun pecah mengakibatkan kerugian kemanusiaan tiada tara. Langkah gontai para pengungsi mencari suaka adalah spektakel destruktif dampak perang yang tak terelakkan. Tatapan nanar, telantar di ujung penderitaan, air mata, memperlihatkan nestapa manusia kehilangan rasa aman.

Perang adalah mara bahaya melayangnya nyawa-nyawa manusia sejauh jangkauan senjata. Di Nusantara, sebelum bayangan keindonesiaan muncul, perang jadi bagian praktik kekerasan politik ekspansi kolonial Belanda semenjak abad ke-17 sampai 20.

Perang berkobar di sejumlah wilayah semisal Perang Diponegoro di Jawa, perlawanan Kaum Padri di Sumatra Barat, Puputan di Bali, atau perlawanan gerilyawan pimpinan Cut Nya Dien di Aceh. Setelah perang usai, daya destruktif kekerasan tak sepenuhnya luruh tetapi justru menyisakan trauma—kebencian, dendam, malu bercampur perasaan kehilangan

Menautkan perang dan persoalan sosial kemanusiaan, menjadi ruh kumpulan puisi karya Ibe S Palogai bertajuk Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi. Alur yang mengikat 40 puisi, merenungi dampak perang Makassar yang ditabuh 21 Desember 1666 dan berakhir 18 November 1667.

Puisi-puisi tersebut memiliki intertektualitas dengan sejumlah teks, orang, atau peristiwa tertentu. Kumpulan puisi ini memberi kesan bahwa yang hendak dikedepankan adalah sejumlah subjek yang tercerabut dari ikatan kekerabatan, cinta, rumah dan daerah asal.

Subjek-subjek tersebut merupa sebagai tokoh atau sosok-sosok anonim. Mereka berada di dalam ruang dan waktu ketika perang berlangsung serta ketika perang berakhir.

Dalam puisi “Astana Galesong”, Ibe menarasikan riwayat I Manindori Karaeng Galesong, kaum ningrat yang memilih menjadi pelarian. Dia melakukan perlawanan di luar Makassar, setelah Perjanjian Bungaya menandakan Vereenigde Oostindische Compaigne (VOC) menganeksasi Kerajaan Gowa.

Ibe menulis: “….bagi pelarian/ hanya disinggahi nyawa/ dan prajurit jadi nama sebuah senjata/ ia kutip lagi kekalahannya ratusan lalu: biarlah raja yang menyerah dalam sumpahnya/ tetapi peperangan ini belum selesai” (hlm. 16).

Baca Juga:  Cinta Tak Tentu Arah

Nama I Manindori Karaeng Galesong juga disebut Ibe di bawah judul puisi “Menjahit Perang di Layar Tubuh”. Aku lirik menafsirkan situasi batin sang tokoh yang akibat perang mengalami keterpisahan dengan kampung halaman, larut dalam keheningan, dan laut sebatas bayang-bayang samar tanda kepulangan.

Di titik inilah kehilangan menjadi pokok persoalan kemanusiaan: “…subuh yang tercekal/ pasal-pasal perantauan dipatuhi tanpa ada hari pasti/ mendengar pulang bunyi sauh” (hlm. 11).

Laut Perumpamaan Kehilangan

Laut menjadi diksi menandakan wilayah yang bergolak sekaligus perumpamaan kehilangan. Sederet idiom-idiom puitik menegaskan situasi itu seperti, “lolongan ombak”, “jejak dayung”, “degup menghantam karang” atau “ketakutan sebagai tiang layar”.

Dalam puisi “Padewakang”, perahu tradisional Sulawesi Selatan ini tak lagi dirujuk dari segi sejarahnya yang berperan di perdagangan rempah, tapi justru merepresentasikan pelayaran sebagai maut, “seluruh gelombang menambatkan diri pada kehilangan” (hlm. 29).

Di Nusantara, laut di satu sisi adalah jaringan perdagangan global hubungan maritim di antara bekas-bekas kerajaan. Abad ke-16, sebagaimana dicatat Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680: Jaringan Perdagangan Global (2011), Makassar menjadi pelabuhan utama di Sulawesi sebagai saingan Jawa dalam hal ekspor beras dan bahan-bahan lainnya ke Maluku.

Tapi abad ke-17, VOC mengambil alih monopoli perdagangan di Makassar melalui perang. Di sisi ini, laut menjadi jalur ambisi ekspansi wilayah seiring pemberangkatan armada 21 kapal, ratusan tentara serta 30.000 peluru senapan.

Bermuka-muka dengan kenangan perang yang diikuti segala ekses buruknya, pada pengantar, Ibe menyinggung rantaian tragedi akibat perang yang sering kali alpa dibicarakan. Ia mencontohkan, kekasih yang menunggu suaminya pulang, atau anak kecil yang tumbuh dengan kasih sayang pincang seorang ibu.

Baca Juga:  Yang Tersembunyi di Balik Aroma Makanan

Puisi bahasa samaran hati, dan Ibe merenungi rongga duka nestapa manusia —aku hanya mampu menyusun riwayat kepedihan, tulisnya dalam puisi penutup “Selamat Jalan”. Riwayat kepedihan bisa dibaca pula dalam puisi “De Walvis”.

Subjek dalam puisi ini adalah kau lirik yang berada di atas kapal membayangkan kekasihnya di seberang lautan. Kerinduan dinarasikan dalam secarik surat.

Bahasa dibangun lewat lirik menyentuh, mendesakkan kesedihan tentang cinta yang intim sekaligus muram:

Kepada Afke, kekasih hati di Volendam yang indah”/ demikian ia dulu membuka surat itu, hurufnya tegak dan kacau/ karena gelombang atau kerinduan atau suatu penyesalan/ ia menutupnya dengan kalimat sampai jumpa meski tak tahu/ adakah Volendam yang indah ia pulangi.

Tapi faktanya, surat tersebut terbenam bersama karamnya kapal De Walvis. Pada bait terakhir puisi yang sama Ibe lantas mengemukakan pertanyaan:

bisakah surat terbenam bersama kapal De Walvis ini/ sampai di kotak suratmu atau hanya tentang meriam, peti uang dan daslders hitam mereka perebutkan?” (hlm. 53).

Sudah barang tentu surat itu tak pernah sampai pada siapa pun. Sebab perang menanggalkan empati, berakar kedestruktifan untuk merusak demi memperoleh kekuasaan mutlak.

Setelah perang tak ada lagi, berakhirnya kesultanan Gowa dan dimulainya kekuasaan kolonial Belanda, menjadi babak baru perubahan Makassar dari dominasi aktivitas perairan berubah ke ruang daratan.

Kota dagang yang sebelumnya bernuansa budaya bahari ditinggalkan, orientasi hidup beralih ke pedalaman. Simak puisi berjudul “Penghujung Perang” ini:

penghujung perang mengantar kita bersisian di sungai ini/ milikmu rimbun pohon-pohon dan aku tanah lapang yang hijau/ aliran ini memisah kau dan aku, juga kita dan gelombang laut/ lalu jejak dayung dan lintangan angin// beradab setelahnya, pohon-pohonmu seperti kaki-kaki langit/ perkasa menopang keinginan kita melihat bulan lebih dekat…// mengapa ketika pohon-pohon tumbuh menjulang/ kapal kian kecil, pelayaran mengenal batas/ pelabuhan terasa asing dan rumah jauh dari laut? (hlm. 58-59).

Baca Juga:  Negeri (Tanpa) Dokumen: dari Aidit, Orde Baru, hingga Muhidin M. Dahlan

Inilah dampak perang paling menyedihkan, penaklukan membawa perubahan persepsi warga bahari yang lambat laun memunggungi laut. Inilah cuaca buruk berkepanjangan yang melanda kehidupan kultural kawasan maritim yang dikabarkan sebuah buku puisi.

Identitas Buku:

Judul: Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi

Penulis: Ibe S Palogai

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: Maret, 2018

Tebal: 92 halaman

ISBN: 978-602-03-8406-1

Foto: Dokumentasi pribadi

Facebook Comments

Esais dan jurnalis.