Ulasan Film

Sudahkah Kita Berdamai dengan Masa Lalu?

Posted on in Ulasan Film

Kita semua pasti sudah akrab dengan studio beken bernama Comix Wave yang meproduksi film anime macam Your Name (Kimi No Na Wa) yang lakunya luar biasa itu, bahkan sampai akan dibuat live action versi Hollywood-nya oleh Paramount Pictures. Atau film yang membuat galau ribuan, bahkan jutaan umat, 5 Centimeter per Seconds.

Kali ini, kita akan membahas film keluaran Comix Wave lainnya, yang merupakan project original untuk Netfix, Shikioriori atau judul internasionalnya adalah Flavors of Youth.

Tidak seperti film anime Comix Wave lainnya, film ini tidak disutradai oleh Makoto Shinkai. Melainkan Sutradara asal Tiongkok, Haolin Li, yang bertindak sebagai Chief Director. Pada dasarnya, Shikioriori adalah film antologi yang terbagi menjadi 3 cerita.

Secara garis besar, Shikioriori membahas move on sebagai tema utama. Seperti yang kita ketahui, move on adalah permasalahan sebagian besar remaja dan dewasa muda yang mudah galauan itu.

Kita terkadang ragu untuk melangkah, padahal jalan yang terbentang di hadapan kita cukup banyak. Kita hanya takut untuk memulainya, atau bisa jadi kita cuma ragu.

Dan dalam film ini, kita akan disuguhkan 3 cerita dari orang-orang yang berbeda dengan background yang berbeda pula, tentang bagaimana mereka menghadapi masalah dalam kehidupannya dan memulai langkah baru dalam hidupnya.

Tidak seperti anime kebanyakan, setting tempat dan tokoh-tokoh dalam Shikioriori ini agak unik, Tiongkok. Mungkin karena sang sutradaranya sendiri adalah orang Tiongkok. Meski begitu, dubbing dan naskahnya masih menggunakan Bahasa Jepang.

Film ini juga menggunakan honorifik (ungkapan hormat yang digunakan oleh penutur dan penulis Bahasa Jepang berdasarkan status sosial dan tingkat keakraban lawan bicara atau pihak ketiga yang dibicarakan. Misalnya: -San, -Kun, -Chan, -Sama) untuk memanggil lawan bicara yang menurut saya, agak terdengar aneh mendengar honorifik,  ketika nama tokohnya adalah nama-nama Tiongkok. Maafkan saya, teman-teman. Ini soal selera dan kebiasaan saja.

Baca Juga:  Along with The Gods: The Last 49 Days: Sebuah “Drama Keluarga” di Akhirat

Film ini dimulai dengan cerita berjudul Hidamari no Choushoku (Sunny Breakfast), bercerita tentang pemuda bernama Ming, yang sudah terbiasa akan kehidupannya sebagai city boy (sebutan gaul masyarakat Jepang pada orang yang berasal dari kota besar atau yang sudah biasa hidup di kota besar).

Ming merasa kalau dia kini sudah seperti orang-orang kota besar pada umumnya. Bermuka masam dan berekspresi datar dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Karena itu, dia terkadang mampir di kedai mie sepulang bekerja untuk mengingat kembali masa kecilnya di rumah neneknya yang berada di perkampungan.

Tempat dia menghabiskan masa kecilnya. Dia berpikir, mungkin dengan begitu, dia bisa kembali mengingat masa-masa bahagia di sana dan bisa kembali ceria. Tapi, semua hal itu tak dapat kembali. Baik kesehariannya bersama sang nenek atau pun kenikmatannya dalam memakan mie tersebut. Meskipun jenis mie itu sama, tapi, rasanya berbeda.

Cerita Ming ini adalah cerita tentang rumah. Tentang bagaimana kita merindukan hangat dan damainya rumah yang pernah kita tinggali. Tapi, kita tumbuh, kemudian bertemu lingkungan baru.

Betapa pun mencoba untuk mengulang kebiasaan-kebiasaan lama, semua sudah terasa berbeda. Karena tak ada yang hal yang sama, meskipun kita mengulangnya di tempat semula.

Cerita kedua di film ini berjudul Chiisana Fashion Show (A Small Fashion Show). Bercerita tentang kakak beradik bernama Yi Lin dan Lu Lu.

Yi Lin adalah seorang model veteran yang mulai turun pamor karena kehadiran model-model yang lebih muda. Sementara Lu Lu, dia bersekolah menjadi designer dan bermimpi baju-baju buatannya akan dipakai oleh sang kakak.

Cerita Yi Lin dan Lu Lu adalah cerita tentang keluarga. Bagaimana dukungan keluarga sangat berperan penting ketika kita tengah menghadapi masa-masa sulit. Pace cerita di bagian ini sangat lamban, memaksa kita harus sedikit bersabar untuk mengikutinya.

Baca Juga:  Pemaafan: Menakar Batas Kebencian

Kita ‘dipaksa’ untuk memahami perasaan Yi Lin yang sudah terdesak sebagai seorang model veteran. Rasa putus asanya, dan beban yang berusaha dia pikul sendiri lantaran tidak mau membebani sang adik. Karena Yi Lin juga bertanggung jawab sebagai orang tua Lu Lu pasca kematian kedua orang tuanya.

Tapi, Yi Lin justru diselamatkan oleh sang adik dan kemudian melangkah untuk mendapatkan tujuan baru. Sebuah pesan tersirat untuk kita semua, bahwa tak ada beban yang bisa kita pikul sendirian. Bagilah beban tersebut dengan orang lain.

Cerita terakhir di film ini berjudul Shanghai Koi (Love in Shanghai). Ya! Akhirnya ada tema romance yang memang sudah menjadi sesuatu yang wajib dalam setiap film keluaran Comix Wave.

Menurut saya, ini adalah part terbaik dalam film ini. Bercerita tentang 3 bersahabat Li Mo, Pan, dan Xiao Yu yang selalu mendengarkan drama dalam kaset tape di saat pulang sekolah atau hari libur.

Tapi, dalam persahabatan tersebut, muncul benih-benih cinta antara Li Mo dan Xiao Yu. Tapi tenang, ini bukanlah kisah cinta segitiga, karena Pan tidak tertarik pada Xiao Yu, ataupun pada Li Mo.

Love in Shanghai bercerita tentang salah paham dan buruknya komunikasi dalam hubungan anak muda yang bernama cinta monyet. Ya, seperti cinta monyet pada umumnya, suka bilang nggak suka, kangen bilang nggak kangen, peduli bilang nggak peduli, eh, pas sudah berjauhan barulah menyesal.

Dengan alur maju mundur yang apik, kita berhasil dibuat geregetan dengan kisah cinta Li Mo dan Xiao Yu, yang… tonton saja, deh!

Walaupun tanpa campur tangan Makoto Shinkai, film ini lumayan cukup bisa membuat kita baper dan berpikir karena konfliknya sangat dekat dengan keseharian kita. Memang efek bapernya belum sedasyat Your Name atau 5 cm per Seconds, tapi sudah lumayanlah. Visual keren khas Comix Wave yang detail dan megah juga sangat memanjakan mata.

Baca Juga:  Pacific Rim: Uprising—Pemberontakan Setengah-Setengah

Lalu, bagaimanakah tokoh-tokoh dalam film ini move on dari masalah mereka masing-masing? Silakan tonton sendiri. Saya pribadi, sangat menyukai cerita Shanghai in Love dalam film ini.

Cerita ini sangat pas ditaruh di bagian akhir dan langsung disambung dengan soundtrack film ini yang dibawakan oleh Vickeblanca berjudul Walk yang semakin membuat baper.

Ketika film ini usai, Pertanyaan dalam benak saya adalah: sudahkah kita berdamai dengan masa lalu?

Data film

Judul: Shikioriori (Flavors of Youth)

Sutradara: Haolin Li (Chief Director, Shanghai in Love), Xiaoxin Yi (Hidamari no Choushoku (Sunny Breakfast)), Yoshitaka Takeuchi (Chiisana Fashion Show (A Small Fashion Show)).

Pengisi Suara: Hiroki Yatsumoto, Mariya Ise, Minako Kotobuki, Haruka Shiraishi, Men’s Teioh, Taito Ban, Ikumi Hasegawa.

Tayang: 4 Agustus 2018

Durasi: 1 jam 16 menit.

Rating: 7.4/10 (Myanimelist).

Facebook Comments

Suka membahas semua hal yang berbau pop culture di akun twitter @qonrobovski.