Resensi Buku

Yang Tersembunyi di Balik Aroma Makanan

Posted on in Resensi Buku

Puisi dan kuliner sama-sama memendam satu hal, yakni cita rasa. Keragaman dan kekayaan kuliner Indonesia adalah berkah bagi penyair untuk mengekspresikan cita rasa indrawi menjadi cita rasa sastrawi. Menikmati puisi sama halnya dengan menikmati kuliner. Kedua-duanya mengerahkan beragam indra untuk bekerja dan memori untuk menampung ingatan.

Ingatan tentang kuliner terkadang membuat lidah terasa ingin mengulang dan mencecap rasa yang sama. Sementara ingatan tentang puisi membikin kita tergerak untuk membaca kembali apa yang pernah kita baca sebelumnya.

Alfian Dippahatang dalam Dapur Ajaib berusaha merekam sekaligus mengikat jejak cita rasa lidahnya dengan puisi. Pertanyaannya, apakah ia mampu menciptakan aroma sastrawi seharum kuliner yang pernah ia rasakan?

Dalam konteks ini, kuliner bukan sekadar makanan, seperti randang (Sumatra Barat), coto (Makassar), gudeg (Yogyakarta), dan lain sebaginya. Lebih dari itu, kuliner menampung segala ihwal yang berkaitan dengan makanan, mulai dari dimensi historis, kultural, dan filosofis yang melatari proses makanan tercipta.

Saya berani menarik kesimpulan seperti itu karena berpijak pada pemahaman pengamat kuliner Nusantara alm. Bondan Winarno yang mengatakan bahwa “Pengusaha kuliner itu bukan cuma tukang masak saja. Sebab semua peternak, pedagang ayam, juga masuk dalam kategori pengusaha kuliner. Demikian pula petani. Mereka semua menyediakan bahan untuk kuliner” (Yusran Darmawan, 2017).

Dengan demikian, cakupan makna kuliner begitu luas dan general. Ini artinya, setiap tindakan yang berkaitan dengan makanan, bisa kita sebut sebagai kerja kuliner. Dippahatang dalam Dapur Ajaib telah melakukan kerja demikian.

Ia melakukan kerja kuliner, tetapi bukan dalam makna konvensionalnya. Melainkan merekam dan mentransformasi apa yang dirasakan lidahnya menjadi puisi.

Baca Juga:  Before 30, Bukan Novel Amore Biasa

Hal itu dapat kita lihat secara jelas dari berbagai puisinya yang berjudul “Di Coto Paraikatte”, “Di Coto Bagadang”, “Di Coto Gagak”, “Di Coto Nusantara”, “Kuliner”, dan “Dapur Ajaib”. Kedekatan dan keakraban Dippahatang dengan budaya Sulawesi Selatan membuatnya memilih coto sebagai kuliner yang diangkat dalam buku ini.

Nostalgia

Secara definitif, nostalgia adalah kerinduan. Dalam diskursus ilmiah, tema nostalgia mulai mendapat perhatian pada abad ke-19. Johannes Hofer (1934) berpendapat bahwa nostalgia adalah penyakit neurologis yang dipicu oleh keterpisahan seseorang secara geografis dengan kampung halamnnya. Sebagai suatu patologi, nostalgia mencipta kegelisahan dan kepedihan.

Tetapi, nostalgia tidak salamanya menjadi sesuatu yang patologis. Sebab, ia juga melahirkan romantika, kerinduan dan kehangatan akan masa lalu. Ini artinya, dalam nostalgia, kebahagiaan dan kepedihan saling bertindihan.

Puisi “Pukul 10 Malam” menerjemahkan makna nostalgia sebagai sesuatu yang menyakitkan: Tak lagi kita cicipi coto di warung yang biasa kita/ kunjungi pukul 10 malam. Kehilangan itu kian menemukan sisi nostalgianya dalam larik: Warung itu menyimpan banyak kenangan untuk kita/ yang memang sejak kecil makan coto.

Coto sebagai kuliner yang menghadirkan kerinduan masa lalu dan kampung halaman tidak benar-benar menjadi titik berangkat Dippahatang dalam puisi-puisinya. Bahkan, dalam beberapa puisinya, coto hanya menjadi pelengkap yang seolah dipaksakan. Ia tidak benar-benar menjadi sumber dari segala nostalgia yang menghadirkan kerinduan. Puisi yang berjudul “Di Coto Bagadang” adalah contohnya.

Dalam puisi itu, yang terkesan justru suasana romatik yang terlepas sama sekali dari pokok pembicaran tentang kuliner khas Sulawesi Selatan tersebut. Kerinduan tentang rasa coto tidak dapat kita temukan.

Bahkan, dari enam puisinya yang bertajuk coto, seperti “Di Coto Nusantara”, “Di Coto Alaudin”, “Di Coto Gagak”, “Di Coto Paraikatte”, “Di Coto Bagadang”, dan “Di Coto Daeng Tata”, tidak ada karakteristik yang jelas, yang membedakan antara satu tempat dengan tempat lain.

Baca Juga:  Manusia-Manusia Kosong pada Novel Murakami

Padahal, akan lebih menarik jika Dippahatang gigih melakukan eksplorasi sehingga mampu menguatkan titik perbedaan antara satu tempat dengan tempat lain. Perbedaan yang dimaksud ialah yang berkaitan dengan pekerjaan kuliner. Mulai dari proses pembuatan, resep yang ditonjolkan, cara penyajian hingga makna yang terkandung di baliknya.

Di sisi lain, penyair menyeret pembaca untuk bernostalgia tentang sosok yang pertama kali menghadirkan rasa pada lidah kita, yakni ibu. Ibu adalah pencipta rasa primordial yang melekat dan sulit dipisahkan dari lidah kita.

Berkat sosok ibu, kuliner tidak hanya sebagai pemicu nostalgia, tetapi juga menjadi penegas identitas. Sebab, ibu akan selalu menyajikan makanan-makanan yang lahir dari rahim lokalitas.

Namun, dalam buku ini, Dippahatang tidak konsisten menampilkan sosok ibu. Bahkan, ibu ditampilkan sebagai sosok yang tidak senang memasak. Seperti dalam puisi “Di Coto Alauddin”: Ibuku tidak senang memasak/ di rumahku ada pembantu/ yang bisa membuat/ masakan khas Sulawesi Selatan.

Sedangkan di sisi lain, ibu justru tampil sebagai sosok yang suka memasak. Di puisi “Cerita Seru” disebutkan bahwa: “11. Ibu tak bosan-bosan memasak masakan sehari-hari yang popular disukai orang-orang”. Begitu juga dalam puisi “Menjamu Tamu”: Kata ibu, tak ada gunanya pandai memasak/ jika hanya orang rumah yang mencobanya.

Inkonsistensi sifat “ibu” dari satu puisi ke puisi lain memang tidak menjadi persolan. Namun, Dippahatang dalam buku ini terlanjur mengonstruksi “ibu” sebagai sosok ibu rumah tangga sejati yang pandai memasak. Oleh sebab itu, ia mampu mencipta “Dapur Ajaib” karena lidahnya menjadi kiblat dari masakan.

Terlepas dari semua itu, dalam buku ini Dippahatang juga menyampaikan kritik sosial tentang makanan cepat saji, posisi peternak yang kian terdesak akibat pembangunan hingga kasus korupsi impor daging sapi.  Sayangnya, harum aroma coto tak bisa saya rasakan dalam buku ini.

Baca Juga:  Cinta Tak Tentu Arah

Identitas Buku:

Judul: Dapur Ajaib

Penulis: Alfian Dippahatang

Penerbit: Basabasi

Cetakan: Pertama, 2017

Tebal: 102 halaman

Foto: Dokumentasi pribadi

Facebook Comments

Aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta.