Ulasan Film

The Motive: Cara Busuk Menjadi Penulis

Posted on in Ulasan Film

Jika Anda ingin menjadi penulis dengan cara picik, saya sarankan bergegas menonton film besutan Manuel Martín Cuenca ini. Film ini menyediakan trik busuk sekaligus “berbahaya” ketika Anda tidak punya ide apa-apa.

Rumusnya sederhana: cukup menulis setiap kejadian dari apa saja yang Anda lihat dan dengarkan di sekitar Anda. Lalu apanya yang picik dan berbahaya?

The Motive berpusat kepada kehidupan Alvaro (Javier Gutiérrez), suami dengan istri seorang penulis best seller yang memutuskan hidup sendiri dengan menyewa flat sederhana di suatu sudut kota Sevilla.

Ia mengambil keputusan pasca memergoki Amanda (María León), istrinya, berselingkuh di suatu malam buta. Tapi, selingkuh alasan kesekian bagi Alvaro. Ia minggat karena iri sekaligus ingin fokus menulis suatu karya yang disebutnya karangan “sastra tinggi.”

Lalu apa karangan “sastra tinggi” yang diandaikan Alvaro?

Tiada lain tiada bukan adalah hasil karya yang ia ramu setelah memanipulasi perilaku-perilaku tetangganya. Bagi Alvaro, sastra tinggi adalah fiksi yang benar-benar bermuara dari kehidupan nyata. Saking nyatanya, Alvaro menciptakan konflik setelah “merekayasa” pengalaman hidup tetangga flatnya.

Di titik ini, menarik menelusuri pribadi Alvaro yang ambisius sekaligus tidak punya bakat menulis. Sebagai pribadi yang diselimuti iri hati kepada istrinya setelah meraih penghargaan karangan best seller, Alvaro menjelma menjadi pribadi yang  menafikan sisi kemanusiaan demi mencapai tujuannya.

Dari ceruk hasrat inilah Alvaro “membajak” tetangga flatnya dengan menyusun skenario yang ia inginkan. Di sini, ia menjadi seorang pengamat yang jeli mencatat setiap pribadi tetangganya. Mengkaplingnya menjadi karakter yang benar-benar hidup dalam karangannya.

Melalui prinsip sederhana menulis setiap kejadian dari apa saja yang ia lihat dan dengarkan, ia sekaligus memosisikan diri sebagai “psikolog behavioris” yang mencatat setiap respons tindakan dari stimulus yang ia ciptakan.

Baca Juga:  Apakah Black Panther Benar-Benar Mengusung Feminisme?

Pertama, ia memanipulasi perilaku dan perasaan Portera (Adelfa Calvo), seorang perempuan paruh baya bertubuh gempal yang miskin kasih sayang dengan mengajaknya bercinta. Melihat bagaimana gelagat dan sikapnya pasca ditiduri, mencatatnya sebagai bahan salah satu karakter novelnya.

Kedua, ia menyusun skenario bersama Portera agar dapat masuk ke kehidupan Montero (Rafael Téllez), seorang pria uzur bekas tentara yang tertutup dan memiliki pistol tua yang ia sembunyikan di berangkas rahasianya.

Ketiga, ia menggunakan keahliannya sebagai notaris untuk pura-pura membantu masalah keuangan Irene (Adriana Paz) dan Enrique (Tenoch Huerta), sepasang suami istri imigran dari Meksiko.

Sosok Javier Gutiérrez dalam film ini sangat apik memerankan pribadi Alvaro yang dingin serta tidak tanggung-tanggung melakukan apa pun demi menghasilkan karangan bernas.

Ia seorang idealis dengan rencana-rencana yang disusun sepresisi mungkin agar dapat sesuai dengan ekspektasi karangannya. Sangat berbeda dengan istrinya yang lebih mengikuti arus pasar dalam menulis.

Perbedaan ideologi kepenulisan Alvaro dengan istrinya Amanda, mengingatkan saya mengenai sejarah kesastraan tanah air yang banyak menghasilkan polemik kebudayaan. Semua itu seakan-akan diafirmasi melalui posisi ideologi kepenulisan Alvaro yang cenderung realis dan Amanda yang lebih populer.

The Motive walaupun minim konflik, dibesarkan melalui rasa penasaran yang dipupuk dari perhatian para penontonya. Setidaknya, ketika kita bersetia mengikuti jalan pikiran Alvaro saat mengembangkan jalan cerita karangannya dengan pura-pura berperan baik di hadapan tetangga flatnya.

Dari titik ini, menarik mendalami hasrat Alvaro yang mengorbankan setiap waktunya agar dapat bersabar menunggu respons tindakan kehidupan di sekitarnya. Sampai-sampai ia tidak ambil pusing mengenai nasib tetangganya agar mendapatkan “konflik” ciptaan setelah merekayasa kehidupan mereka.

Baca Juga:  Wiro Sableng: Sang Pewaris yang Membanggakan

Bagi Alvaro, konflik yang betul-betul konflik adalah masalah-masalah tetangganya yang ia ciptakan. Itu yang ia rasa sebagai inti karangannya. Itulah sebabnya didorong hasratnya yang besar, ia rela menghancurkan kehidupan harmonis tetangganya.

Hampir semua adegan demi adegan The Motive berpusat kepada sosok Alvaro dan kehidupannya. Nyaris tidak banyak adegan yang memberikan ruang lebih bagi karakter lain.

Toh, jika ada,itu hanya dijelaskan secara sepintas melalui dialog-dialog Alvaro dengan Portera ketika ia ingin mendalami latar kehidupan tetangganya. Bisa dikatakan, The Motive adalah film yang hanya berpusat kepada satu narasi yang tentunya diperankan Alvaro.

Itulah sebabnya dapat dipahami mengapa film yang dirilis dengan judul El Autor ketika ditayangkan pada Festival Film Toronto 2017 ini menggunakan The Motive sebagai judul lainnya. Dari judulnya sudah dapat ditebak bagaimana hasrat yang diperankan Alvaro menjadi postulat dasar yang menggerakkan jalan cerita fim ini.

Berkat kemampuan akting Javier Gutiérrez dan Adelva Calvo yang mampu meghidupkan karakter Alvaro dan Portera secara berani, membuat mereka diganjar penghargaan aktor terbaik dan aktris pendukung terbaik pada Goya Award 2017, suatu ajang penghargaan film nasional utama di Spanyol.

Syahdan, dari sekian banyak film yang mengangkat dunia tulis menulis, The Motive menurut saya cocok untuk dijadikan tontonan reflektif untuk menakar seberapa busuk niat ataupun cara kita saat menulis.[]

Data Film:

Sutradara: Manuel Martín Cuenca

Penulis skenario: Manuel Martín Cuenca, Alejandro Hernández

Genre: Komedi, Drama

Pemain: Javier Gutiérrez, María León, Antonio de la Torre, Adriana Paz, Tenoch Huerta, Bald Adelfa, José Carlos Carmona

Durasi: 112 menit

Produksi: Icónica Producciones

Tanggal rilis: 2017

Rating: 6,8/10 (IMDb), 60% (Rotten Tomatoes)

Baca Juga:  Entropi Kehendak Manusia: Ulasan Film Annihilation

Sumber gambar: IMDb

Facebook Comments

Blogger yang nyambi menjadi dosen partikelir.