Resensi Buku

Manusia-Manusia Kosong pada Novel Murakami

Posted on in Resensi Buku

Novel pertama Murakami yang saya baca adalah Norwegian Wood. Orang yang menyukai Beatles biasanya akan penasaran apa hubungan lagu mereka dengan kisah Murakami. Saya bukan penggemar Beatles namun Norwegian Wood mengantar saya pada karya-karya Murakami yang lain.

Dengarlah Nyanyian Angin, novel tipis tentang tiga orang yang menghabiskan sebuah periode singkat musim panas di tahun ‘70, mengesankan saya sejak dari halaman sampul terbitan KPG itu: sebuah ban dan botol-botol bir mengapung di lautan.

Selanjutnya saya ingat di awal 2015, sisa gaji (setelah membayar tagihan ini-itu) habis untuk membeli tiga novel 1Q84 yang tebal dan mahal. Tengo dan Aomame yang tinggal di dunia dengan dua bulan adalah novel Murakami yang membekas di ingatan saya.

Di akhir tahun yang sama, seorang kawan dari Belanda memberi The Wind-Up Bird Chronicle edisi bahasa Inggris. Saya tak enak menolak kepercayaannya bahwa saya bisa membaca Murakami edisi Inggris. Meski terbata-bata membacanya, rasa kagum saya pada kisah-kisah Murakami bertambah.

Tahun ini, seorang kawan dokter yang menyelesaikan master di Jepang mampir Surabaya dan memberi saya Hard-Boiled Wonderland and The End of The World yang harus tertunda pembacaannya karena edisi terjemahan Tsukuru Tazaki menyusul keluar. Tsukuru telah tandas saya baca sementara Hard-Boiled masih utang baca.

Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya

Tsukuru memiliki empat kawan akrab yang namanya mengandung arti warna. Mereka adalah Aka; merah (Akamatsu pinus merah), Ao; biru (Oumi; laut biru), Shiro; putih (Shirane; akar putih); dan Kuro; hitam (Kurano; padang hitam).

Hanya nama Tsukuru yang tidak berarti warna. Namanya ‘Tsukuru’ berarti membuat. Mereka berlima menjalin perkawanan akrab saat SMA. Bermula dari memberi les sepulang sekolah bagi anak-anak di sekitar tempat tinggal mereka di Nagoya.

Baca Juga:  Cinta Tak Ada Mati: Remah-Remah yang Disatukan Kembali

Kegiatan tersebut semakin menguatkan pertemanan mereka. Harmoni kelima orang tersebut begitu kuat. Tsukuru begitu senang akan pertemanan mereka meski ia merasa sedikit terasing karena namanya yang tak mengandung arti sebuah warna.

Pertemanan itu tetap berlangsung meski selepas SMA ia satu-satunya yang berkuliah di Tokyo. Keempat temannya tetap tinggal di Nagoya. Tsukuru tak merasa jalinan pertemanan mereka renggang meski ia pindah ke Tokyo.

Ketika libur kuliah tiba, ia langsung pulang ke Nagoya menemui teman-temannya. Semuanya berubah ketika ia libur akhir semester III. Saat menelpon keempat temannya, tak satu pun dari mereka mengangkat. Tak satu pun menemuinya sejak itu. Tanpa alasan, tanpa penjelasan.

Tsukuru terguncang. Saat itu ia terombang-ambing antara hidup dan mati. Keempat temannya yang begitu dekat dengannya begitu saja tak mau menemuinya. Tak seorang pun. Ia tak pernah memiliki teman dekat sejak itu. Ia menjalani hidup seada-adanya.

Novel ini adalah tentang Tsukuru yang berusaha menemui keempat temannya setelah 16 tahun kejadian tersebut berlalu. Adalah Sara, perempuan yang disebutnya kekasih yang menyarankannya. Mereka saling menyukai namun saat Tsukuru bercerita tentang masa SMAnya, Sara merasa itu adalah sesuatu yang harus ditengok dan ditemuinya lagi.

Hubungan mereka bergantung dari kesanggupan Tsukuru menemui kembali teman-teman masa lalunya. Tsukuru merasa dia akan kehilangan Sara jika tak melakukannya. Ia pun merasa barangkali sudah saatnya menyelesaikan yang tersendat dari masa lalunya.

Tokoh-tokoh Murakami dalam novel yang sudah saya baca (kecuali Hard-Boiled yang masih utang baca) adalah lelaki muda (awal dan pertengahan tiga puluh); merasa dirinya biasa saja, tanpa keistimewaaan tertentu; namun tanpa disadari memiliki pesona tersendiri bagi orang-orang di sekelilingnya.

Baca Juga:  Refleksi Futuristik atas Sejarah Manusia

Tokoh-tokoh Murakami selalu dikelilingi orang-orang bermasalah. Tokoh-tokoh yang berada di tepi jurang kematian namun berhasil sintas. Tokoh-tokoh yang merasa tak berarti bagi orang lain, bahkan bagi diri sendiri.

Tokoh-tokoh yang merasa diri mereka membosankan. Tokoh-tokoh yang cenderung memandang dirinya rendah dan tertutup meski pandai dan tak berkekurangan secara materi. Tokoh-tokoh Murakami selalu merasa kosong sejak awal. Namun tokoh-tokoh itu juga mampu merenung dengan cara yang janggal dan sampai pada simpulan-simpulan yang menguatkan diri mereka pada akhirnya.

Pada novel-novel Murakami, pembaca disuguhi daftar selera buku, musik, dan film yang betebaran di sana-sini. Pada novel Tsukuru, meski tak sebanyak novel-novel lain, inilah lagu yang dibicarakan di beberapa bagian novel: Franz Liszt: Le Mal du Pays. Komposisi piano klasik yang lebih kurang artinya rindu kampung halaman. Teman Tsukuru, si Shiro yang dulu sering memainkannya.

Pada novel-novelnya, Murakami juga membuat tokohnya menjalani perjalanan; ke gunung, ke pedesaan, ke dalam sumur. Namun, yang juga khas adalah perjalanan si tokoh ke sebuah negara. Perjalanan-perjalanan yang lebih sebagai ziarah daripada rekreasi.

Pada novel ini, kita akan diajak ke Helsinki Finlandia dan ke area danau di musim panas: Haneenlinna. Tsukuru mengunjungi kawan lamanya, Kuro (yang sekarang hanya mau disebut Ibu Eri). Tokoh-tokoh Murakami menziarahi kembali orang-orang dari masa lalu mereka secara fisik atau lewat mimpi.

Perjalanan fisik dan spiritual untuk menyingkap selubung yang menyemuti diri mereka ketika bertumbuh. Beberapa kawan pembaca Murakami berpendapat tokoh-tokoh Murakami yang selalu melakukan ziarah menemui orang-orang dan tempat-tempat dari masa lalu sebenarnya demi keegoisan si tokoh.

Perjalanan yang alih-alih untuk menyelesaikan persoalan dengan orang lain namun sesungguhnya demi diri si tokoh untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Betapa egois. Pendapat yang susah saya abaikan.

Baca Juga:  Negeri (Tanpa) Dokumen: dari Aidit, Orde Baru, hingga Muhidin M. Dahlan

Murakami selain memukau dengan detail dan perspektifnya akan hal-hal sederhana di sekeliling tokoh, juga mampu memantik senyum pada hal-hal yang tak terkira. Misalnya, mengapa orang-orang begitu terburu, cepat, dan hampir saling tak melihat satu sama lain saat berada di stasiun kereta yang padat.

Ternyata, orang-orang itu sangat fokus agar tak kehilangan alas kaki mereka. Mereka berusaha menjaga sepatu mereka agar tak copot di antara lautan kaki-kaki manusia yang terburu-buru.

Selama ini, pada pemandangan yang sama kita diberi narasi bagaimana disiplin, tangkas, dan teraturnya orang-orang Jepang pada jam padat di stasiun kereta dan bukannya kumpulan orang-orang yang setengah mati takut kehilangan sepatunya.

Identitas Buku:

Judul Buku : Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya

Penulis : Haruki Murakami

Penerjemah : Ribeka Ota

Penerbit : KPG

Cetakan : April 2018

Tebal : v+ 345 hal; 13,5 cm x 20 cm

ISBN : 978-602-424-836-9

Facebook Comments

Bisa ditemui di Twitter @arianidian dan Instagram @diari_diari.