Ulasan Film

Kegelisahan Remaja Kembali Memakan Korban Jiwa: Ulasan Film Thoroughbreds (2018)

Posted on in Ulasan Film

Bagi anak berumur belasan, satu masalah sepele saja bisa berujung pada keresahan tak terbendung. Mulai dari perihal gadis manis yang menjadi komoditi fantasi keruh di malam hari hingga dorongan kuat untuk membunuh orang tua kolot yang tidak pernah mengerti perasaan anak muda.

Oke, mungkin tuduhan terakhir tidak berlaku ke semua orang—tapi saya yakin sebagian dari kalian cuma tidak ingin mengakuinya.

Mau bagaimana lagi? Masa remaja memang menyebalkan. Ini yang terjadi saat pendeknya akal tersulut ledakan hormon dalam tubuh. Seisi dunia terlihat begitu aneh dan curai melalui bingkai pemikiran egosentris seorang bocah yang tidak terima dipanggil bocah.

Thoroughbreds merupakan pesta hedonis yang digelar untuk merayakan fakta banal tersebut tanpa sekalipun berusaha memberikan wahyu pseudo-romantis ala The Perks of Being Wallflower. Arahan metodis Cory Finley juga akan menuntun Anda untuk bersuka ria di tengah kegilaan terkontrol ini.

Alkisah, Lily dan Amanda adalah sepasang remaja dari keluarga berbanjir harta yang mulai menjalin kembali hubungan pertemanan mereka setelah sempat renggang. Sejak awal, perbedaan antara keduanya terpapar jelas.

Lily adalah gambaran sempurna putri bangsawan; berperangai serba mulus dan terdidik, selagi yakin kalau ia berdiri lebih tinggi dari orang-orang di sekitarnya. Sementara Amanda adalah sosiopat tulen yang baru keluar dari rumah sakit jiwa setelah “memensiunkan” kuda kesayangan keluarganya dengan pisau pemecah es.

Anya Taylor-Joy dan Olivia Cooke menghidupkan kedua karakter ini dengan menjaga keseimbangan antara kelancangan dan penguasaan diri. Interaksi masokistik terbangun natural melalui detail-detail subtil yang mengarah pada satu kesimpulan besar.

Di balik lontaran komentar judes Lily dan reaksi deadpan Amanda, tersirat manifestasi psikis tertekan yang dapat runtuh seketika. Kedok yang mereka gunakan untuk menutupi naluri kebinatangan masing-masing perlahan tersingkap.

Baca Juga:  Only Lovers Left Alive: Dapur Kultural dari Sepasang Vampir

Sampai akhirnya mereka berkomplot untuk membunuh Mark, ayah tiri Lily yang terlihat angkuh dalam segala upayanya untuk mempertontonkan maskulinitas yang tidak ia miliki. Awalnya, Mark memang terlihat sebagai kanker yang harus dibuang dari dunia.

Namun, dari sekian banyak rasionalitas yang mereka ajukan, mudah untuk melihat kebosanan sebagai motivasi yang paling jujur. Agaknya, plesiran ke destinasi eksotis dan memborong gaun haute couture sudah tidak mampu memadamkan kegelisahan khas gadis kulit putih yang mereka miliki.

Thoroughbreds adalah film bengis yang tidak punya banyak waktu untuk memberi momen-momen manis sebagai penawar. Tidak heran, simpati terbesar justru tertuju pada Tim, seorang bandar narkoba kelas cere sekaligus alumni hotel prodeo yang tertangkap lantaran (tidak sengaja, katanya) mencabuli anak di bawah umur.

Akting lihai Almarhum Anton Yelchin menggarisbawahi kerendahan hati dan kepolosan di balik lagak sombongnya yang banyak terbuai khayalan impoten. Sebagai kontras dari dua tokoh  utama di film ini, Tim adalah anak baik-baik yang terjebak dalam nasib buruk.

Thoroughbreds bisa saja menjadi film thriller sepenuhnya, lengkap dengan segala intrik dan teka-teki rumit. Untungnya, film ini terlanjur angkuh untuk mengais nafas-nafas terkesiap dari para penoton yang terlalu mudah dikejutkan plot twist murahan atau penggambaran kekerasan tanpa urgensi.

Berpegangan pemahaman ini, Cory Finley sepenuhnya berfokus untuk memaksimalkan langkah-langkah kecil sebelum sampai ke tragedi yang tidak terhindarkan.

Dilihat dari premisnya saja, dapat dimengerti mengapa perbandingan dengan Heathers menjadi satu hal yang tidak bisa diabaikan. Tapi percayalah, film ini punya cukup kredibilitas untuk berdiri sendiri.

Corak komedi satiris Thoroughbreds memudar di pertengahan, tergantikan ketegangan hitchcockian yang menjalar hingga film usai. Cory Finley tahu kalau tinggal masalah waktu sebelum darah akhirnya berlumuran di lantai granit, sebelum ide impulsif Lily dan Amanda memakan korban.

Baca Juga:  Her: Menjadi Manusia dalam Distopia

Presisi sepertinya menjadi kata kunci bagi Cory Finley, sang sutradara debutan. Pendekatan teatrikal diterapkan untuk menggoda sekaligus menjaga antisipasi penonton.

Kamera mengapung halus menelusuri lingkungan perumahan kelas atas di Connecticut, menekankan aura dingin dan misterius yang terpancar dari lapangan tenis pribadi dan lusinan koleksi mobil klasik. Sementara degup dan dentum musik minimalistik hadir layaknya punchline dari sebuah lawakan, atau sesekali menjelma menjadi rave anthem yang menggema di telinga.

Semua detail seakan sudah diperhitungkan agar tetap konsisten dengan visi utamanya. Tapi, pendekatan teatrikal ini justru sedikit membebani babak akhir film yang terasa terlalu mudah tercapai dan datang terlalu awal karena batasan durasi.

Setelah adegan klimaks yang brilian dalam hemat penyajiannya, konklusi emosional antara Amanda dan Lily terasa vulgar dan tidak diperlukan.

Bukan berarti Thoroughbreds gugur sebelum berkembang. Ceritanya boleh saja terlalu cepat usai, namun film ini tetap menjadi tontonan getir dan menyenangkan yang gemar bergumul dalam kekejian. Di saat yang bersamaan, semua komposisi dikontrol dengan penuh perhitungan agar tidak lantas terjerumus ke ranah eksploitasi dan sensasionalisme.

Anya Taylor-Joy dan Olivia Cooke menguasai layar bagaikan hewan primitif yang menolak dijinakkan. Dua talenta mentah ini ditampung oleh bermacam kecakapan teknis tepat guna yang dikerahkan Cory Finley dari balik layar.

Thoroughbreds adalah gambaran pedas dan absurd—namun tidak sepenuhnya hiperbolik—dari keresahan remaja yang dikemas dalam sajian elegan dan serba terukur.[]

Data Film:

Sutradara : Cory Finley

Genre  : Black Comedy/Drama

Cast : Olivia Cooke, Anya Taylor-Joy, Anton Yelchin, Paul Sparks

Durasi : 92 menit

Studio : Focus Features, Universal Pictures

Poster : IMDb

Facebook Comments