Ulasan Film

The Bucket List: Lunturnya Stereotip Kulit Hitam dalam Premis yang Layak Dicintai

Posted on in Ulasan Film

Cukup tercengang dan menyesal ketika mengerti bahwa film yang membangkitkan motivasi saya ketika saya muda ternyata berada di urutan 83 dalam Top 100 Films di tahun film tersebut rilis. Film yang memiliki andil besar terhadap pengambilan-pengambilan keputusan yang didasarkan atas pemikiran We don’t really know how long we will live in this world.

Film yang menjadi acuan pola pikir saya untuk tidak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Film yang memperkenalkan saya pada salah satu lagu favorit saya, Say What you Need to Say karya John Mayer. Film itu berjudul The Bucket List.

Terkesan lebay dan kurang santai ketika saya menceritakan film ini, namun jujur saja, film apik ini pantas diberikan penghargaan lebih, menurut saya, setidaknya bukan berada di urutan 83.

Namun, logika tak dapat menolak ketika dihadapkan pada fakta budaya media yang terjadi di tahun 2007, di mana kultur film Holywood sedang terkagum-kagumnya dengan keajaiban CGI yang mampu menghidupkan robot-robot gigantic dari Hasbro, dan film-film superhero yang memiliki fanbase yang kuat dalam comic con.

Semua ‘keajaiban’ itu adalah modal dan formula yang tepat untuk menahbiskan mereka sebagai pemuncak daftar film terbaik di tahun tersebut.

Dibuka menggunakan kemampuan voice acting yang apik oleh Morgan Freeman, voice over memulai film ini dengan kata-kata yang puitis, kata-kata yang baru dapat dipahami ketika kita telah selesai menonton keseluruhan filmnya. Benang merah dari satu adegan ke adegan yang lain ‘dijahit’ dengan sempurna oleh Justin Zackham.

Bukan tidak ingin percaya, konsekuensi logisnya, apa yang mau diharapkan dari penulis skenario yang pada saat dia bekerja untuk film ini baru berpengalaman menulis satu film dan itu pun bergenre teen sex comedy? He does a great work tho!

Terlepas dari kemungkinan adanya cacat script, tentu tuntutan karakter dan pengadeganan yang dikerjakan oleh Rob Reiner sangat terbantu dengan keberadaan dua aktor utama dalam film ini, tidak lain adalah the one and only Morgan Freeman, yang telah saya sebut di atas, dan Jack Nicholson, aktor senior penggemar klub basket L.A Lakers, yang pertama saya kenal sebagai villain dalam film Batman yang rilis tahun 1989.

Baca Juga:  Kafir (2018): Kutukan Film Horor Pasca-Hereditary

Bagaimana sutradara tidak sangat terbantu, kedua aktor tersebut memerankan citra diri mereka sendiri sebagaimana dalam film-film seperti The Shawshank Redemption, Bruce Almighty, dan Magic of Belle Isle bagi Morgan Freeman, dan Anger Management, As Good as It Gets, dan Something’s Gotta Give bagi Jack Nicholson.

Sebelum saya mengungkapkan kenapa saya bisa menyukai film ini, mari kita menyoroti bagaimana teknis film ini dibuat. Bagi saya, semua terkesan biasa saja. Metode pengambilan gambar dalam film ini sebenarnya biasa saja dengan mengandalkan pengambilan gambar-gambar landscape eksotis seperti keindahan alam Afrika, Piramida, Taj Mahal, dan Tembok Besar China.

Pun desain penataan suaranya juga terkesan standard tanpa tantangan ambience dan sound effect yang non formal. Terdapat beberapa luput detail green screen yang terasa belum menyatu dengan moving object, dan yang terakhir, dubbing di scene-scene tertentu juga terasa tidak menyatu dengan hasil mixing audio file lain.

Cukup ya, saya tidak mau terkesan sok tahu karena mencoba menguliti film yang notabene saya sukai. Toh, kalau kamu cinta, apa pun keluputannya akan termaafkan juga, kan?

Lantas, apa alasan saya mencintai film ini? Pertama, premis film ini—bagi saya—memang layak untuk dicintai; dua karakter yang bosan dengan kehidupan mereka yang datar-datar saja, sedang melawan sisa waktu kehidupan untuk meraih apa yang belum pernah mereka dapatkan dalam hidup.

Premis ini lantas diolah dengan cukup cerdik oleh penulis naskah dan sutradara film dengan berfokus pada pengembangan dua karakter utama. Pengembangan karakter itu terasa apik dengan mengkontraskan antara stereotip kelas pekerja kulit hitam dengan multi billionaire kulit putih. Jujur, dalam hal ini saya sempat mengumpat, ”Halah, ini mah Morgan Freeman, jadi Tuhan lagi nii dalam film ini!” ketika Carter dapat menjawab semua pertanyaan dengan tepat di kuis Jeopardy.

Namun, saya coba ambil sisi positifnya. Karakter Carter, sebagai wakil dari kelas pekerja kulit hitam tampak unggul—atau berusaha diunggulkan oleh penulis dan sutradara—dalam aspek pemikiran dan inteligensi dibandingkan Edward yang berkarakter keras dan impulsif dalam pengambilan keputusan. Setidaknya, film ini dapat dianalogikan sebagai “penyegaran timeline” bagi film-film Hollywood di tahun itu yang didominasi oleh superioritas kulit putih melawan robot alien atau villain-villain super.

Baca Juga:  ALPHA: Bukan Sekadar Film Anjing

Dapat dikatakan kedua karakter bengal yang melarikan diri dari bangsal kanker rumah sakit ini cukup implementatif dalam mewakili makna berani, santai, dan gila dalam waktu yang bersamaan.

Mereka lari bukan karena mereka takut menghadapi puluhan kali kemoterapi, atau rasa sup kacang merah rumah sakit yang tidak enak, tapi mereka lari karena ingin mengerti bagaimana rasanya mendapatkan beberapa hal besar yang tertinggal selama kehidupan “datar” mereka berlangsung. “Tertawa hingga keluar air mata” adalah salah satu isi dari ember impian mereka, lantas, kita pasti bisa membayangkan, betapa datarnya kehidupan yang mereka jalani, bukan?

Pendekatan sisi humanis dalam film ini juga terasa sangat nyata. Mungkin karena proses penyesuaian karakter dalam cerita film ini dibuat seperti orang yang sedang menjalani proses PDKT dan berpacaran pada akhirnya.

Ada masa penyesuaian antara Carter dan Edward dalam bangsal mereka, ada masa mereka saling melengkapi dan saling merasakan perhatian yang tumbuh bagi tiap karakter, dan juga ada masa di mana pertengkaran terjadi karena ego masing-masing karakter yang saling memaksakan kehendak.

Hingga Edward harus merasakan kehilangan yang sangat mendalam, menyelesaikan task yang telah mereka buat bersama, dan diakhiri dengan dikubur di tempat yang sama di Puncak Himalaya. Sekali lagi saya mengacungkan jempol bagi penulis naskah dan sutradara film ini yang dapat membuat pengembangan kedua karakter dalam film ini terasa begitu nyata!

Satu penggalan naskah yang didasarkan pada penelitian yang pernah dilakukan membuat saya makin cinta pada film ini. “Suatu hari pernah diadakan survei. Seribu orang ditanya, jika mereka bisa tahu lebih dulu, apakah mereka mau tahu kapan persisnya hari mereka akan mati? 96% menjawab tidak, 4% lainya menjawab iya.”

Penggalan naskah ini hanya faktor pendukung untuk menciptakan konflik kecil yang seharusnya bisa menyirnakan keinginan Carter untuk meraih impiannya. Namun, ini terlanjur begitu menancap di kepala saya.

Baca Juga:  Her: Menjadi Manusia dalam Distopia

Saya pikir, andai saja kita tahu kapan waktu kita akan berakhir, kita akan mempergunakan sisa waktu yang ada dengan maksimal untuk memenuhi impian-impian terakhir yang belum sempat tercapai. Sayangnya, hal tersebut hampir tidak mungkin terjadi.

Maka dari itu, “We don’t really know how long we will live in this world. Satu kalimat sok berbahasa Inggris, yang bisa ditarik menjadi kesimpulan dalam ulasan film ini. Film ini bisa dijadikan rujukan untuk mengingat bahwa semakin kita bertambah tua, semakin banyak tanggung jawab kita, dan ada kemungkinan kita akan melupakan hal-hal kecil yang dapat membuat kita bahagia.

Boleh saja dengan semakin dewasa dan semakin banyaknya tanggung jawab yang harus dilakukan, kehidupan menjadi terasa datar.

Bagi saya, terlepas dari standard penggarapan teknis film yang terkesan biasa saja, film ini memaksa saya untuk merefleksikan premisnya ke dalam kehidupan saya, mencoba mempertentangkannya dengan keadaan saya, di mana seharusnya saya berjuang memenuhi bucket list saya dengan sekuat tenaga.

Apa yang tidak layak dicintai dari kegigihan dua orang dengan umur yang sudah senja, yang tengah mencoba menyelesaikan bucket list dalam kerapuhan baik fisik dan juga psikis, apabila dipertentangkan dengan diri saya yang sehat dan segar bugar saat saya menonton film itu satu dekade lalu, di tahun 2007-an?

Film ini juga menceritakan bahwa memiliki impian merupakan cara terbaik untuk kembali menggarami kehidupan yang mulai terasa hambar. Ingat, impian diciptakan untuk ada usaha mencapainya, bukan sekadar harapan-harapan kosong belaka. Apa nggak malu sama dua orang tua penyakitan, pengidap kanker, yang berhasil memenuhi semua impian terakhir mereka? Saya sih malu. Banget.[]

Identitas film:

Judul film : The Bucket List

Tahun Rilis : 2007

Genre : Drama

Sutradara : Rob Reiner

Penulis Skenario : Justin Zackham

Aktor : Jack Nicholson & Morgan Freeman

Poster : IMDb

 

Facebook Comments

Tinggal di Sleman. Akun Medsos: Polegone13 (Instagram), Jatmiko Kresnatama (Facebook), PoleGone (Youtube).