Resensi Buku

Keroncong (Selalu) Merajalela!

Posted on in Resensi Buku

Sejarah musik di Indonesia belum tampak terang. Anggapan itu dibuat Amir Pasaribu dalam buku berjudul Analisa Musik Indonesia (1986). Semula, Amir memberi daftar panjang orkes musik dan para biduan masa lalu. Lacakan itu mengingatkan keroncong melalui stambul, gambang, gambus, joget, dan langgam.

Sekian nama biduan pernah moncer di tanah jajahan: Abdullah, Miss Lie, Roekiah, Annie Landouw, Bram Atjeh, Kartolo, dan Kusbini. Keterangan agak mengejutkan: “Jadi dalam setengah abad, musik di Indonesia masih meraba-raba.” Musik di Indonesia belum termasuk seni tapi tergolong hiburan atau kesenangan.

Pada 1952, JA Dungga dan L Manik dalam Musik di Indonesia dan Beberapa Persoalannja sudah sodorkan kritik atau kecaman untuk sejarah dan perkembangan musik di Indonesia. “Bagi masjarakat kita kehidupan musik dewasa ini hanja berputar disekitar siaran-siaran radio, sedangkan pihak jang menguasai kehidupan musik tersebut dalam pandangan mereka hanja golongan jang merupakan perkumpulan-perkumpulan kerontjong, perkumpulan-perkumpulan band dan orkes-orkes radio,” kalimat mengandung jengkel dan marah.

Mengapa dua pengamat musik itu menganggap keroncong termasuk momok di Indonesia? Apa mereka bosan dan kapok mengetahui keroncong selalu merajalela, sejak masa 1920-an sampai 1950-an?

Dua buku berbeda masa memastikan ada keanehan dalam sejarah dan perkembangan musik di Indonesia, sejak awal abad XX. Keroncong dituduh memiliki peran besar menebar pengaruh selera musik dan penciptaan pendapat fatal: musik melulu hiburan dan kesenangan, belum sah di seni. Kita agak lega bisa mengundang dua buku lama itu bertemu buku baru berjudul Djiwa Manis Indoeng Disajang: Musik dan Dunia Hiburan di Indonesia Tempo Doeloe susunan Haryadi Suadi.

Judul sudah memastikan keroncong itu mengarah ke hiburan, bukan seni berestetika muluk dan mendasarkan pada gagasan-gagasan besar seperti keinginan Amir Pasaribu, JA Dungga, dan L Manik. Buku berukuran besar dan mahal. Di bungkus plastik, harga terbaca 300 ribu rupiah. Mahal sesuai dengan isi buku: berlimpahan informasi dan foto dari masa lalu. Kita membaca terlena di halaman-halaman bercerita keroncong merajalela di Indonesia selama puluhan tahun.

Baca Juga:  Meributkan Kebenaran

Keroncong, musik pop paling tua di Indonesia telah memberi sihir penghiburan dan menuai kecaman-kecaman, dari masa ke masa. Keroncong membesar dengan peran orang-orang beragam etnis: Eropa, Tionghoa, Arab, Jawa, dan lain-lain. Di tanah jajahan, orang-orang seperti memiliki permufakatan iman penghiburan bernama keroncong.

Di pelbagai kota, pentas keroncong memberi tanda tanah jajahan tak terlalu menderita akibat bedil, pajak, dan makian. Siaran keroncong di radio-radio mengesankan telinga orang-orang kecanduan suara asmaranisme mengandung ratapan dan berahi. Keroncong memang merajalela meski sering ditimpa kebencian dan kutukan.

Bukti paling sering digunakan untuk meremehkan keroncong adalah pilihan kata dalam garapan lirik lagu. Lagu-lagu dengan judul berbeda selalu saja memuat lirik “djiwa manis indoeng disajang.” Kecanduan kata-kata itu sulit ditanggulangi oleh para penggubah lagu. Pada saat para biduan melantukan pun ada kemiripan selera rasa dan mengumbar imajinasi asmara picisan.

Dulu, lagu keroncong tanpa “djiwa manis indung disajang” mungkin belum resmi atau gagal memenuhi kaidah-kaidah asmaranisme. Kebencian pada permufakatan kata-kata di lirik lagu pernah diungkap Madong Lubis, pakar bahasa dan musik, dalam esai berjudul “Lagoe-Lagoe dengan Poeisi Indonesia” dimuat di Poestaka Timoer edisi Februari 1940.

Madong Lubis menerangkan: “Banjak orang tidak soeka kepada kerontjong, sebab ia maloe mendengar perkataan nona manis, indoeng disajang, zoetlief dll. Tetapi sebetoelnja boekanlah lagoenja jang tidak disoekai, melainkan kata-katanja.” 

Haryadi Suadi membahasakan masa kebencian itu membuktikan kesemrawutan penggubahan lagu keroncong, mulai dari judul sampai lirik. Keroncong telah parah gara-gara “djiwa manis indoeng disajang”. Orang-orang merasa muak dan menganggap itu embel-embel berlebihan tanpa arti. Konon, Indonesia pernah resah akibat setiap hari ada orang bersenandung “djiwa manis indoeng disajang”.

Baca Juga:  Haru di Gwangju 1980

Penggunaan lirik “keparat” dan “picisan” itu untuk judul buku membuktikan ketekunan Haryadi Suadi melakukan pencarian data-data dari masa lalu. Pekerjaan unik dan mahal. Kebosanan pada lirik lagu malah diambil berpamrih mengenang masa lalu, masa keroncong merajalela dengan memunculkan orkes-orkes kondang dan para biduan pujaan.

Sejak awal abad XX sampai masa 1940-an, Indonesia terlalu keroncong. Indonesia tanpa keroncong mungkin “merana” dan tidur berkepanjangan. Umat keroncong malah saling bermusuhan berdalih memihak keroncong asli atau keroncong modern. Episode sengketa sengit pernah berlangsung di Indonesia, mengerahkan modal, iklan, dan politik.

Dua kubu bertengkar tapi tetap terikat iman bersama: menjadikan Indonesia adalah negeri keroncong. Sengketa berlanjut dengan saling tuduh mengenai keroncong berkepribadian Indonesia atau hiburan terpengaruh Eropa dan Amerika.

Orang keranjingan keroncong sampai di embusan napas terakhir. Di Solo, pelantun merdu itu bernama Miss Herlaut. Di Solo dan pelbagai kota di Jawa, Miss Herlaut menjadi idaman. Penonton sering penuh dan terlalu berharap terlena dan pasrah pada sihir keroncong. Sukarno tercatat sebagai penggemar Miss Herlaut.

Pada masa 1930-an, perempuan asal Solo itu telah memikat ribuan orang. Ia tenar dan pujaan para pendengar sampai terbawa di alam kubur. Haryadi Suadi menemukan berita mengejutkan di Sin Po, 12 April 1930. Penggemar fanatik bernama Tuan Tan Bian Hui membuat surat wasiat berisi permintaan ingin dikuburkan dengan suara Miss Herlaut. Permintaan itu dipenuhi oleh keluarga. Miss Herlaut bersama rombongan orkes mengiringi jenazah, dari rumah sampai ke tempat peristirahatan terakhir.

Di Indonesia, keroncong tak pernah mati meski sekian biduan dan penggemar mati. Misi memajukan dan memuliakan keroncong sampai ke perkara kepribadian Indonesia atau berjiwa nasionalis. Perkara besar itu memunculkan tokoh bernama Kusbini. Kita cenderung mengenali sebagai penggubah lagu “Bagimu Negeri”.

Baca Juga:  Osamu oleh Dazai

Para pengamat musik menganggap Kusbini mengawali pamrih menjadikan derajat keroncong khas Indonesia, memiliki pijakan nasionalis. Kamadjaja (1979) menulis: “Luapan jiwa Kusbini tercetus dalam lagu keroncong Kewajiban Manusia, menganjurkan persatuan nasional Indonesia.” Semula, keroncong itu asmara picisan. Pada masa revolusi, keroncong bercerita kepribadian Indonesia. Keroncong pun selalu merajalela. Begitu.[]

Identitas buku:

Judul : Djiwa Manis Indoeng Disajang: Musik dan Dunia Hiburan di Indonesia Tempo Doeloe

Penulis : Haryadi Suadi

Penerbit : Kiblat Buku Utama dan Pustaka Jaya

Cetak : November 2017

Tebal : 381 halaman

ISBN : 978-979-80004-06-3

Foto: Dokumentasi pribadi

Facebook Comments

Kuncen Bilik Literasi.