Resensi Buku

Am.pe.nan : Tiga Suku Kata yang Menggelisahkan

Posted on in Resensi Buku

“Ampenan merupakan bagian dari dunia suara dan bunyi ….” (Afrizal Malna)

Lahir karya moncer pada 2017 yang berlatar di sebuah gang sempit, jauh dari ingar-bingar kebisingan kota. Di mana gang itu hidup, sebuah masyarakat yang menjaga dan memelihara semangat kemajemukan: Bugis, Melayu, Cina, Arab, dan suku setempat hidup berdampingan.

Salah satu ingatan masa lalu yang tetap terjaga, yaitu ingatan kebisingan musik tetangga rumah—mungkin terusik—tapi antartetangga tak saling sibuk. Suasana ini melahirkan buku sepilihan puisi berjudul Di Ampenan, Apa Lagi Yang Kau Cari? karya Kiki Sulistyo.

Menurut Kiki pada pengantarnya, “gang di mana rumah saya berada dikenal sebagai Gang Buntu, meskipun gang itu tidak buntu sama sekali. Gang itu tembus ke Jalan Pabean, jalan yang mengarah ke pantai Ampenan (hlm. 4).

Seiras dengan pengantar itu, Kiki mengisahkan gang tersebut pada puisi “Kawasan Makelar” halaman 19: jalan ke barat dari simpang lima menuju pantai/ jalan lurus dengan beberapa simpang kecil/ ke Kampung Melayu, ke Gang Buntu/ tangki pertamina dan sebuah gudang tua”.

Kota kecil di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang bernama Ampenan menjadi objek kreatif Kiki menuliskannya dalam bentuk puisi. Atau, memanggil ulang kenangan kampungnya dengan serimbun puisi dalam buku ini.

Jika para penguasa dan pengusaha setempat menjadikan kota kecil itu sebagai tempat wisata lokal maupun asing, Kiki melawan itu dengan cara subtil nan menohok. Laku itu merupakansalah satu tindakan dalam melawan kebanalan dan kerakusan pimpinan daerah.

Pemimpin yang hanya mengejar keuntungan materi tanpa menengok dan melongok kalangan bawah yang terpinggir dan tersingkir dari pembangunan daerah dengan kecepatan dorongan turbo.

Baca Juga:  Pembangkangan Itu Cerita Biasa

Sebuah pengantar editor pada buku Sastra Kota: Bunga Rampai Esai Temu Sastra Jakarta (2003) mengatakan, “bagian tak terpisahkan dari kota adalah kaum pekerja kecil, seperti buruh, kaum pekerja serabutan, pedagang kaki lima, anak jalanan, preman, dan sebagainya. Adakah sastra yang lahir di perkotaan mengangkat pula masyarakat khas kota semacam ini di dalamnya?” Jawabannya: ada. Kiki telah melakukannya.

banyak makelar di gang itu/ makelar arloji dan cincin batu/ di rahang gang, sebuah toko bangunan/ seorang perempuan setengah botak/ menggendong boneka/ dulu, boneka itu anaknya yang mati kena malaria(Kawasan Makelar).

Puisi “Kawasan Makelar” merupakan—menurut saya—kritik sosial dan ekonomi yang timpang. “Seperti mencari masa depan/ di jalan-jalan kecil Ampenan.

Judul puisi “Di Ampenan, Apa Lagi yang Kau Cari?” pada halaman 59 dicatut menjadi judul sepilihan buku puisi ini. Mari kita baca dan simak isi puisi itu:

di Ampenan, apalagi yang kaucari?/ kota tua yang hangus oleh sepi/ kali kecil menjalar di tengah mimpi/ di mana kecil masa kecil mengalir tak henti/ ingatkah kau tekstur-tekstur kuno/ rumah es di ujung gang/ ingatkah kau gudang kusam/ aroma tajam dari puskermas seberang?

di Ampenan hanya gedung-gedung tua/ bertahan dalam kemurungan/ hanya angin yang resah/ mondar-mandir dengan kaki patah/ dan simpang lima itu/ akan kau temui kembali/ riwayat keluarga/ yang terus menggelepar/ di ingatanmu.

Pada alinea pertama di larik satu hingga empat, Kiki bermain rima pada akhiran tanpa mengurangi maksud mengaburkan kenangan kecil yang tak mampu ia lupakan.

Lagi, ia memberitahu pembaca bahwa gedung-gedung tua yang murung dan resah sempat menghiasi Kota Ampenan. Kemurungan dan keresahan itu menjadi penanda Kiki beserta keluarga menanggalkan titimangsa dalam ingatan para pelaku.

Baca Juga:  Berkunjung ke Hotel Tua Budi Darma

Kiki tidak ingin apa yang terjadi di kota kecil kelahirannya itu berlalu begitu saja. Hal ini mesti diikat melalui kata-kata, walaupun kata-katanya yang bersajak begitu bersahaja tanpa menonjolkan dada.

Sebab menurutnya, “saya tidak ingin melihat Ampenan dengan ‘mata kedua’, seolah-olah pengalaman nostalgik saya menjadi pengalaman orang lain, seolah-olah saya yang sekarang bukan saya yang dulu dalam konteks relasi dengan Ampenan. Saya ingin ‘menyatukan’ diri saya yang sekarang dengan diri saya yang dulu, dengan segala keterpecahannya(hlm. 7).

Kecemasan dan keresahan Kiki pada Kota Ampenan karena “dipaksa modern” tak menyebabkan ia membenci Ampenan secara membabi buta. Semakin ia ingin melupakan ingatan tentang Ampenan, semakin ia ingin memeluk kecemasan dan keresahan itu.

Ampenan, ke mana aku akan menjelang/ kota yang kian jalang melupakan semua yang ingin kukenang/ semua yang tak bisa lekang dari ingatan (Ampenan, Ke mana Aku Akan Menjelang, hlm. 58).

Kegelisahan Kiki pada Kota Ampenan karena kesemrawutan dan kebisingan wisatawan-wisatawan, tidak bikin ia berpaling dari Ampenan. Ia mesti pulang. Dan, ia berpuisi:

aku mesti pulang,/ melewati kembali sunyi jembatan/ bukit sampah, rumah seorang dokter yang hangus/ oleh dengus-amuk kerusuhan/ juga jalan ringkas itu, jalan menuju pantai/ sepanjang Pabean dan rumah-rumah tua Tionghoa/

ada memang saat, seseorang menungguku di pasar itu/ seseorang yang bukan pacar/ tapi kerap fosfor merah jambu/ dari pipinya seakan memancar/

dan aku pun sekarang pulang/ membuka palang-silang ingatan/ barangkali untuk dia yang tak lagi menunggu/ atau untuk kenangan/ satu-satunya yang tersisa dari Ampenan(Pulang ke Ampenan, hlm. 45).

Aku-lirik ingin pulang tanpa menemui siapa-siapa. Menemui si “dia” yang lelah menanti sehingga menyerah pada kata kerja: menunggu. Alasan terakhir untuk pulang ke peraduan—tempat aku-lirik lahir dan tumbuh dewasa—adalah kenangan satu-satunya yang tersisa.

Kenangan apa yang tersisa di kota kecil yang bernama Ampenan itu? Mungkin “rumah seorang dokter yang hangus/ oleh dengus-amuk kerusuhan. Sebab, pada 17 Januari 2000, terjadi sebuah peristiwa kerusuhan di Lombok. Ampenan mendapat imbas dari kerusuhan tersebut.

Baca Juga:  Memandang Buku dari Sudut Pandang Para Maniak

Kiki tak luput mengisahkan peristiwa itu dalam puisi “Januari”:

di bulan merah orang-orang/ melempar kaca sejarah/ kaca yang pecah disimpan di matamu/ setelah kerusuhan Januari/ ada ular yang tak pernah tidur/ seorang pejalan membisikkan kata-kata/ bagi bumi saat kau kecup pagi hari”.

Buku ini menjadi pemenang kategori puisi Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2017. Dengan tema lokalitas yang kuat, saya kira, Kiki Sulistyo memang layak mendapatkan penghargaan itu. Saat kita membaca seluruh puisi dalam buku ini, akan kita temukan kejutan-kejutan. Kejutan tidak tahu menjadi tahu perihal Ampenan dan diksi-diksi yang dianggit oleh penulisnya.

Identitas Buku:

Judul: Di Ampenan, Apa Lagi yang Kau Cari?

Penulis: Kiki Sulistyo

Penerbit: BASABASI

Cetakan: Mei 2017

Tebal: 92 halaman

ISBN: 978-602-6651-01-3

Foto: Dokumentasi pribadi

Facebook Comments

Bergiat di Sarekat Peresensi Jogja dan Komunitas Kutub.