Resensi Buku

Apeirophobia, Cerita-Cerita dan Ketakutan akan Keabadian

Posted on in Resensi Buku

“Kita semua begitu tolol sampai mau menutupi kebodohannya dan memberinya kesuksesan,” kata Jaroslav Hasek.

Namun, jangan dikira bahwa peryataan itu diungkapkan oleh Jaroslav Hasek penulis The Goog Soldier Švejk dari Republik Ceko, bukan. Dalam cerita pendek Si Pengarang Muda, Jaroslav Hasek hanya salah satu tokoh fiksi dan salah satu roh yang punya kepentingan dengan si pengarang muda.

Di antara dua puluh satu cerita pendek dalam Apeirophobia, cerita Si Pengarang Muda salah satu yang saya rasa paling ‘mengganggu’.

Dialah si pengarang muda yang hampir putus asa setelah selama bertahun-tahun cerita pendeknya tidak dimuat surat kabar meski segala upaya telah dilakukan. Keputusaan itu mengantarkannya ke seorang dukun yang lantas melemparkan tokoh pengarang muda ke dalam gulungan konflik dengan para roh maestro sastra dunia.

Muncul keasyikan tersendiri membayangkan para maestro ‘bersuara kembali’; melihat bagaimana Hampsun dan Steinbeck mengumpat, Dostoveyski mengoceh sendiri, Kawabata berkata-kata bagai berpuisi, bijak dan tenangnya J.M. Coetzee.

Di luar semua itu, apa yang terjadi pada si pengarang muda, kegagalan, depresi dan keputusasaannya mengajak kita memikirkan kemungkinan di sekitar kita tentang keberadaan si pengarang muda-si pengarang muda lain yang barangkali mengalami hal yang sama, yang bahkan tak terselamatkan oleh apa pun dan siapa pun semisal dukun dalam cerita si pengarang muda.

Lewat Si Pengarang Muda, Sungging Raga mencoba menyoroti kabut-kabut kemungkinan sekaligus mengolok-olok pengarang, baik yang muda maupun yang tidak lagi muda, yang terbisiki hasutan untuk mengambil jalur potong kompas untuk mencapai panggung sastra dengan cara plagiasi.

Memasuki cerita-cerita pendek dalam buku ini, kita seperti memasuki rimba raya tokoh-tokoh fiksi dengan berbagai latar belakang dan karakteristiknya masing-masing. Tokoh-tokoh fiksi dibiarkan hidup dan bekerja dengan reaksi imajinasinya sendiri, bercampur-baur dengan kehendak penulis, kadang patuh dan kadang membelot, membantah, bahkan menentang takdir alur cerita.

Dalam reaksi imanjinasi itu, kita seolah dibawa ke dalam mesin waktu bernama cerita pendek yang membunyikan kesunyian, hening dan bening, namun pada saat-saat tertentu tiba-tiba tersadarkan, keberadaan kita di dalam mesin cerita pendek direnggut dengan munculnya pengakuan tokoh-tokoh fiksi dan sekat imajiner yang dibentangkan narator.

Baca Juga:  Refleksi Futuristik atas Sejarah Manusia

Tema-tema yang diusung Sungging memiliki kekhasan sendiri, ia konsisten mendedah kesedihan, kesunyian, melankolia yang diolah dengan menolak seragam dengan pandangan umum. Cerita-ceritanya menimbulkan resonansi dalam kepala yang mengantarkan tanya serta perenungan.

Misal saja kutipan dalam cerpen 7042 Hari Kesedihan, “Biarkan aku bahagia dengan cara menjadi orang yang paling sedih di dunia.” Yang seakan memberikan Tanya, bagaimana jika puncak kebahagiaan adalah ketakbahagiaan itu sendiri?

Selain tema dan gaya bercerita yang khas, Sungging selalu menampilkan cerita-ceritanya dengan latar-latar yang juga khas, terminal, kereta, stasiun, orang-orang pinggiran. Aristektur Kesunyian, Cikampek-Tanjungrasa, Cirahayu, Untuk Seorang Seorang Wanita yang Tinggal di Negeri Kesedihan, Dermaga Malaga Sepanjang Angin Berembus, Festival Kenangan, 7042 Hari Kesedihan adalah cerita-cerita yang berkutat di sekitaran stasiun, terminal, dan dermaga.

Sungging mencoba menyentuh relung-relung nurani pembaca, membangunkan sisi kemanusiaan melalui ironi-ironi dan ungkapan-ungkapan sarkas yang melahir justru bukan dari manusia, melainkan makhluk-makhluk selain manusia.

Cerpen Penjaga Makam, misalnya, mengisahkan tentang Salem, seorang pemuda yang melamar kerja sebagai penjaga makam. Kesuksesan Salem menjadi penjaga makam justru bukan karena dia pemuda pemberani, melainkan desakan ekonomi dan kelembutan hatinya untuk tenggang rasa, bahkan kepada kaum hantu sekali pun.

“Saya tidak akan mengusir kalian, tidak akan melemparkan bawang putih, atau membaca doa-doa. Kita sama saja, hanya berbeda alam. Kita punya kesulitan masing-masing” (hlm. 27).

Tokoh Salem ini sejenak mengingatkan kita pada baris sajak A. Musthofa Bisri yang berbunyi, untuk membuktikan keluhuran budi mereka,/ terhadap setan pun mereka tak pernah berburuk sangka/ (dikutip dari puisi Kaum Beragama Negeri Ini). Keberadaan para hantu yang biasanya menciptakan nuansa horor namun oleh penulis ditampilkan demikian bersahabat, lebih manusiawi daripada manusia.

Baca Juga:  Komedi Kata-Kata

“Tapi begitulah manusia. jangankan mengusir yang sudah mati, mereka membabat hutan, mencemari sungai, membuat hewan-hewan berlarian kehilangan tempat untuk hidup” (hlm. 28).

Gaya berceritanya pun demikian, dari buku yang pernah saya baca, Sarelgaz, Reruntuhan Musim Dingin hingga yang terbaru Apeirophobia, Sungging masih konsisten dengan gaya ceritanya dengan bermain-main dalam ranah metafiksi dan sesekali mengadopsi pemeran-pemeran dari ranah metafisika (roh-roh, hantu-hantu). Sesekali ia memainkan kelirisan Kawabata, kebsurdan ala Murakami dan yang tentu saja sangat kental dalam cerita-cerita Sungging, gaya ala Seno Gumira Ajidarma.

Satu lagi, yang mencolok dalam kumpulan cerita ini, ketertarikan penulis terhadap musik metal memberikan pengaruh besar terhadap cerita-cerita pendek dalam buku ini. Dari dua puluh satu judul cerita pendek, sebelas di antaranya judul-judul cerpen itu terinspirasi dari judul-judul lagu metal.

Cerpen Selamat, Aku Membencimu terinspirasi lagu Alesana, “Congratulations, I Hate You”, Slavsia terinspirasi lagu Arkona, “Slavsia Ruz”, Kutukan Medusa meminjam judul lagu Stamlord, “The Curse of Medusa”, Kedai Senja meminjam judul lagu Ensiferum, “Twilight Tavern” dan masih ada beberapa lagi yang ide maupun judul ceritanya melahir dari lagu-lagu metal.

Bahkan, dalam pengantarnya Sungging secara terang-terangan menyatakan bahwa buku cerita ini adalah tribute untuk musisi metal dari Italia, Andrea Tileni. Apa yang sebenarnya merekatkan penulis, cerita, dan orang yang menginspirasi cerita-cerita itu sendiri—dalam hal ini Andrea Tileni?

Musababnya tidak lain adanya kesamaan ketakutan pada diri Andrea Tileni juga Sungging akan keabadian atau Apeirophobia. Ketakutan akan keabadian, selain menciptakan sudut pandang baru dalam pikiran pembaca, juga seolah menawarkan pandangan baru untuk menentang jargon lama Pramoedya.

Disebutkan dalam pembuka buku ini, Jika Pramoedya berkata bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian, barangkali saya harus berhenti menulis. Sebab saya takut kebadian. Saya takut dengan sesuatu yang tidak pernah berakhir.

Sungging barangkali terlalu berambisi untuk menyebut buku ini sebagai tribute untuk Andrea Tileni, atau tribute ini yang terlalu berambisi untuk mencapai ketakterjangkauan absurditas Apeirophobia, atau mungkin ekspektasi saya terlampau tinggi akan tribute ini, yang begitu selesai membaca keseluruhan cerita dalam buku ini hanya ada satu cerita yang mengulik Apeirophobia.

Baca Juga:  Pak Dokter Gila yang Menulis Resep Tidak Bahagia

Barangkali, jika tribute untuk Andrea Tileni ini digarap lebih serius dengan hanya mengusung satu tema besar “Apeirophobia” saya yakin akan lebih apik.

Bagi para pemburu quote, cerita-cerita dalam buku ini seolah bersimbah quote. Ada banyak pesan dalam setiap cerpennya. Salah satu yang saya rasa bagus adalah kutipan dalam cerpen Nalea, “Kita hanya harus menjalani hidup ini dengan baik-baiknya” (Hlm. 175).

Begitulah, (“Begitulah” adalah sebuah kata yang sering kita temukan dalam cerita pendek) cerita-cerita Sungging Raga berendar dari tempat-tempat umum yang umumnya menebarkan perpisahan, kesedihan lantas dibumbui dengan demikian banyak komposisi hingga menimbulkan reaksi yang kadang meletup, hening, dan mencapai titik kebeningan.

Cerita-cerita semacam ini tidak akan mungkin lahir dari orang-orang yang hanya diam di tempat atau manusia  kamar. Cerita-cerita ini melalui proses panjang bersama petualangan penulisnya dari stasiun ke stasiun, dari bangku bus ke bangku bus dan dari perjalanan hijrah yang tak sebentar.

Pembaca boleh saja mengamini pemikiran penulis dan menimbang-nimbang: barangkali ada benarnya, ketakterhinggaan atau keabadian adalah sesuatu yang tak terjangkau, hal yang absurd sekaligus mengerikan. Namun, tentu saja pilihan itu kembali pada pembaca sekalian.[ ]

Identitas Buku:

Judul : Apeirophobia

Penulis : Sungging Raga

Penerbit : BASABASI

Cetakan : Pertama, April 2018

Tebal : 196 halaman

ISBN : 978-602-5783-00-5

Foto: Dokumentasi pribadi

Facebook Comments

Penulis cerpen, puisi dan resensi kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Ia pernah mendapatkan anugerah resensor terbaik kedua dari Divapress pada 2012. Hari Anjing-Anjing Menghilang adalah cerpennya yang memenangi kompetisi Kampus Fiksi Emas 2017 Diva Press. Karyanya berupa cerpen, puisi dan resensi telah tersebar di berbagai media. Bergiat di Komunitas Sastra Malam Minggu. Buku kumpulan cerita pendeknya yang berjudul Di Surga, Kita Dilarang Bersedih sudah terbit tahun ini.