Ulasan Film

Bukti Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan

Posted on in Ulasan Film

Saya menonton film ini sekitar Maret lalu, tetapi baru semangat untuk mengulasnya di bulan yang cukup banyak tanggal pentingnya: Mei. Selain menjadi bulan resminya bagi skripsi saya untuk memulai BAB II, di bulan ini pula hari perjuangan para buruh sedunia diperingati, ada peringatan Hari Pendidikan Nasional, dan menjadi bulan nostalgia rakyat atas perjuangan bersama yang berhasil menurunkan Soeharto dari kursi presiden 20 tahun lalu.

Film 1987: When the Days Comes adalah cerita perjuangan rakyat Korea Selatan dalam menegakkan demokrasi. Perjuangan ini bermula dari kasus dugaan pembunuhan polisi terhadap seorang mahasiswa bernama Park Jong Chul (diperankan oleh Yeo Jin-goo).

Ia adalah aktivis pro demokrasi yang diciduk polisi, dan mati saat diinterogasi. Kematiannya tak hanya menuai duka dari keluarga dan kawan aktivis lainnya, tetapi juga mengundang simpati dari pers, sampai masuk daftar kasus skandal negara. Film besutan sutradara Joon-Hwan Jang ini berhasil menyeret saya ke perjuangan reformasi Indonesia 1998, mengingatkan saya bahwa Indonesia juga pernah sekompak dan seberdarah ini.

Bahkan film ini lebih canggih ketimbang film Di Balik 98 (2015)—film Indonesia yang mengangkat tema perjuangan reformasi tahun 1998. Walau ceritanya hanya fokus pada perjalanan kasus pembunuhan Park Jong Chul, film ini berhasil menampilkan keutuhan, yang menyiratkan pesan bahwa sejarah perjuangan itu dibangun oleh banyak pihak.

Cerita ini jelas lebih adil daripada sejarah reformasi yang saya dengar dari mulut ke mulut, yang cenderung menonjolkan mahasiswa sebagai ‘superhero’ dalam perjuangan ‘merebut demokrasi’.

Film ini tidak menonjolkan mahasiswa sebagai yang satu-satunya paling berjasa. Di dalamnya ada peran jaksa yang menghambat oknum pemerintah saat ingin cuci tangan, ada wartawan yang skeptis terhadap keterangan yang diucapkan pemerintah, ada sipir yang membantu wartawan untuk mengungkap perkara.

Baca Juga:  Sajian Tiga Lapis Rasa dari Edwin

Kasus ini pun mendapat kawalan dari pemuka agama, dan ada peran kesadaran politik rakyat secara luas. Saking utuhnya, film ini juga menampilkan alasan kenapa orang bisa apatis terhadap kasus itu.

Kawan saya menganggap film ini begitu pelik, tak pernah ada adegan rehat sehabis konflik. Ini yang membuat saya juga tidak mau melewatkan setiap adegannya, kalau lewat sedikit, pesan yang utuh itu akan tereduksi, akibatnya saya tidak akan mengerti isi ceritanya. Kemungkinan, itu juga yang akan kamu lakukan bila menjadi penonton berikutnya.

Lewat film ini, saya menemukan bagaimana isu komunis selalu dipakai oleh negara yang dikuasai militer untuk menekan suara-suara rakyat yang menginginkan perubahan. Isu yang justru dapat mengaburkan persoalan inti. Niat Park Jong Chul dan kawan aktivis lainnya untuk menegakkan demokrasi, oleh pihak kepolisian dituding sebagai gerakan komunis yang separatis.

Selain itu, saya dapat melihat strategi-strategi yang diambil para aktivis mahasiswa untuk mendulang dukungan dari mahasiswa lainnya dalam gerakan perubahan ini, dan ada pula penggambaran tokoh yang semula apatis hingga menjadi politis pada akhirnya.

Film-film bertema sejarah politik negara selalu menarik untuk ditonton dan diulas. Pada posisi ini, film menjadi penyebar ingatan kolektif rakyat, bukan sekadar media peregang otak di akhir pekan. Film menjadi representasi kemampuan negara untuk mengungkap masa lalunya yang kelam, agar bisa menjadi bahan refleksi bagi rakyatnya.

Korea Selatan tampil sangat berani dalam mengungkap sejarah kelamnya lewat film ini, meski di tataran adegan spesifiknya terdapat adegan rekaan yang tidak sesuai fakta. Dari sudut pandang prestasi penegakan HAM, negara ini mendapat rapor 3.83 dari rentang 0-8, berdasarkan survey Indeks Kebebasan Berekspresi rilisan Pew Research Center pada 2015.

Baca Juga:  Love for Sale: Cinta Betulan atau Cuma Prostitusi?

Angka ini terbilang mendingan ketimbang Indonesia yang punya nilai 3.46. Rapor ini membuat saya berkaca, hingga sadar bahwa saya belum banyak mendapat tontonan film sejarah politik negara Indonesia yang dikemas seutuh ini.

Padahal, Indonesia punya banyak sekali bahan sejarah untuk bisa diangkat ke layar lebar. Mulai dari perjuangan kemerdekaan, pemberontakan PKI 1948, G30 S 1965, peristiwa Malari 1974, dan berbagai kisah pelanggaran HAM lainnya yang menyeret banyak korban. Paling tidak, saya baru bisa menikmati film sejarah biografi tokoh saja, yang tak membahas sejarah dan politik secara komprehensif.

Maka pantaslah 1987: When the Days Comes ini mendapat berbagai penghargaan. Seperti yang diberikan oleh CinemAsia Film Festival, 9th KOFRA Film Awards, 54th Baeksang Arts Awards.

Penghargaan lainnya datang dari saya pribadi, yakni dengan cara menonton dan mengulasnya di sini. Penghargaan itu saya berikan karena film ini sudah menjadi guru sejarah saya yang jujur.

Saya sering mendengar ungkapan: “Rakyat bersatu, tak bisa dikalahkan!”, biasanya ungkapan itu keluar dari mulut massa aksi, dan dari film inilah saya mendapat buktinya.

Data Film:

Sutradara : Joon-Hwan Jang

Genre : Drama, History

Cast : Yun-seok Kim, Jung-woo Ha, Hae-jin Yoo

Durasi : 129 menit

Tahun rilis : 2017

Studio : Cj Entertainment

Rating : 8.0/10 (IMDb), 86% (Rotten Tomatoes)

Sumber gambar: IMDb

Facebook Comments

Mahasiwa Jurnalistik UIN Bandung.