Ulasan Film

Pacific Rim: Uprising—Pemberontakan Setengah-Setengah

Posted on in Ulasan Film

“I am not my father.”

Yah, sejak narasi di awal film, Jake Pentecost (John Boyega) telah memperingatkan penonton bahwa ia bukanlah ayahnya, Stacker Pentecost (Idris Elba), sang martir yang menyelamatkan dunia di film sebelumnya.

Alih-alih menjadi seorang pahlawan, sepuluh tahun pasca-perang terakhir di film pertama, pasca-ditutupnya Celah untuk selama-lamanya, Jake hidup secara gratis di reruntuhan perang masa lalu, berpesta, mencuri suku cadang-suku cadang Jaeger lalu menjualnya di pasar gelap. Wah, wah, wah.Jake memang bukan ayahnya.

Pada suatu aktivitas pencurian, Jake tak sengaja berurusan dengan seorang remaja perempuan, Amara Namani (Cailee Spaeny), yang ternyata adalah pencuri suku cadang Jaeger juga. Namun, tak seperti Jake, Amara mencuri untuk merakit Jaeger mini yang ia namai Scrapper.

Pan Pacific Defence Corps (PPDC) memergoki aktivitas perakitan Jaeger ilegal tersebut. Amara memutuskan untuk menjalankan Scrapper untuk melarikan diri. Jake, yang terlibat benar-benar di dalam Jaeger ilegal tersebut pada akhirnya turut tertangkap.

Mako Mori (Rinko Kikuchi), kakak angkat Jake—sekretaris jenderal PPDC, memberinya pilihan: ia tak akan dihukum jika bersedia melakukan “wajib militer” dengan pergi ke Shatterdome di Cina dan menjadi pelatih para kadet, dengan rekrutan barunya adalah Amara.

Wow! Kau melanggar hukum, lalu dihadiahi tiket masuk bypass menjadi kadet pilot Jaeger, padahal para kadet lain harus berjuang keras demi mendapatkan posisi itu.

Tak heran, Viktoria (Ivanna Sakhno), salah satu kadet yang lebih dulu masuk satuan dan mendapatkannya dengan perjuangan keras, langsung membenci Amara.Tapi, jadi aneh sekali ketika setelah rangkaian saling cemooh, saling tinju, tiba-tiba Viktoria bersikap baik pada Amara.

Namun, saya mengapresiasi gaya hukuman Mako. Barangkali dia adalah salah satu dari sedikit orang yang bisa melihat dan memahami bahwa pelanggaran hukum tak selalu pantas dihukum.

Tak lama setelah Jake masuk kembali ke militer (dan terpaksa bekerja sama kembali dengan teman-tapi-musuhnya, Nate (Scott Eastwood)), terjadi serangan tak main-main oleh Jaeger ilegal, Obsidian Fury. Dalam penyerangan tersebut, banyak nyawa melayang, salah satunya adalah Mako. Ah!

Tapi, tepat sebelum helikopter yang ditumpanginya meledak, Mako berhasil mengirim suatu berkas penting ke markas, berisi data lokasi fasilitas produksi Jaeger yang sudah ditutup di Rusia. Ia mencurigai lokasi itu adalah markas Obsidian Fury.

Baca Juga:  Her: Menjadi Manusia dalam Distopia

Jake dan Nate mengendarai Gipsy Danger ke Siberia dan berduel kembali dengan Obsidian Fury. Siapakah pilotnya? Apa tujuannya? Dan entah siapa, ada yang berniat menghancurkan umat manusia dengan membuka kembali Celah!

Sementara itu, Liwen Shao (Jing Tian)—bersama Dr. Newton Geiszler (Charlie Day)—yang memelopori riset dan manufaktur pasukan drone dengan wadah Shao Industries, mengajukan tawaran kerja sama dengan satuan militer. Produk teknologi baru ini memungkinkan Jaeger dikendalikan oleh manusia dari jarak jauh–tak perlu lagi ada pilot “di tempat”.

Para pilot dan sebagian orang yang bekerja untuk pemerintah, termasuk Dr. Hermann Gottlieb (Burn Gorman), tidak menyetujui penggantian teknologi yang diajukan Liwen tersebut. Namun, sebagian lagi berada di pihak seberang, termasuk Newton, partner Gottlieb di film aslinya.

Meski terpisah, mereka secara sendiri-sendiri sedang meneliti tentang Kaiju dan potensinya untuk dimanfaatkan demi menguatkan pasukan manusia. Sayangnya, penelitian tentang Kaiju ini hanya sepintas masuk ke badan cerita, padahal efeknya masif, dan bisa dibilang ia adalah tokoh utama dari segi teknologi dalam film ini.

Film ini berpusat pada relasi antara Jake dan Amara, dan betapa karakter Amara hanyalah salinan karakter Mako di film pertama. Dan, oh, betapa saya berpikir Mako telah dimatikan (baik secara harfiah maupun konotatif) dengan sangat tidak terhormat di sini.

Kita tahu peran pentingnya di Pacific Rim, lalu begitu sekuel ini muncul dan kita tahu ada Mako Mori di daftar pemainnya, kita akan berekspektasi bahwa secara logis, sekuel ini akan berpusat pada tokoh Mako, pada apa yang ia lakukan sebagai anak angkat sang pahlawan yang telah meninggal.

Alih-alih begitu, sekuel ini dengan agak tidak logis malah memunculkan Jake, tokoh baru yang bak muncul dari asap tanpa kita tahu asap itu berasal dari api yang mana. Ia adalah anak kandung sang pahlawan yang tidak pernah disebut-sebut di film sebelumnya.

Di Pacific Rim, kita tahu, hanya ada Stacker Pentecost dan anak angkatnya, Mako Mori. Maka, sungguh aneh ketika tiba-tiba Jake muncul, dan dikatakan bahwa ia dan Mako punya hubungan erat (punya hubungan saudara yang erat, kok tidak pernah disinggung sebelumnya?).

Dari relasi yang terlalu klise antara Jake dan Amara itu, saya mengalihkan perhatian ke ke polah-tingkah Liwen Shao, yang sejak awal, kemunculannya telah memukau saya. Dengan setelan putih, dandanan yang tajam, dan gaya yang mengintimidasi, Liwen terlihat begitu kontras dari sekitarnya dan membuat saya berekspektasi sedang berkenalan dengan tokoh perempuan cerdas dan ngotot yang akan menjadi antagonis.

Baca Juga:  My Mister; Kehidupan Kelam Sugar Daddy yang Baik Hati

Saya agak cemas karakter Liwen akan menjadi klise—kau tahulah, tokoh perempuan yang awalnya terlihat tahu apa yang dia lakukan tapi ternyata cuma akan terlibat hubungan percintaan dengan tokoh utama pria—tipe karakter yang membuat saya curiga bahwa sang penulis cerita cuma menyertakannya agar terkesan feminis, tapi malah gagal karena jadinya malah terkesan misoginis.

Tapi, syukurlah, Liwen secara konsisten adalah tokoh perempuan yang kuat, ngotot, dan pemberani; tak ada skandal romansa; dan di bagian akhir, film ini cukup mengejutkan saya dengan puntiran cerita yang terpusat pada Newton dan Liwen. Bisa dibilang, Liwen adalah salah satu pahlawan di sini.

Tokoh-tokoh lain, seperti Viktoria dan teman-teman kadet Amara, sungguhlah merupakan magnet-magnet hiasan yang ditempelkan ke badan kulkas. Mereka membuat saya berhenti sejenak sebelum membuka kulkas, tapi tak pernah menarik perhatian saya lebih jauh karena mereka tidak terlalu penting. Mereka hanya diperalat oleh penulis cerita untuk menggelar karpet merah menuju panggung bagi Jake dan Amara.

Yang sabar, ya, Vik. Kendalikan emosimu. Film ini memang panggung-nya Amara, kamu memang cuma kebagian adegan gontok-gontokan sama dia. Nggak apa-apa, yang penting kamu nongol beberapa kali. Ada lho, temanmu sesama kadet, yang cuma berguna saat perang terakhir, dimanfaatkan jadi pilot-pilot Jaeger yang tersisa karena pilot-pilot lain—yang semestinya mengoperasikannya—mati diserang musuh.

Lantas, kenapa judulnya “uprising”—pemberontakan? Ya, karena film ini intinya adalah tentang pemberontakan. Pertama, pemberontakan Jake. Saya bisa membayangkan beban seperti apa yang harus ditanggung Jake selama hidupnya karena nama belakangnya adalah “Pentecost”.

Di usia remaja, ia sudah harus kehilangan ayahnya, pun setelah itu ia harus hidup di bawah bayang-bayang nama besar sang ayah. Maka, ia memutuskan untuk melakukan pemberontakan; ia tak mau dirinya didefinisikan menurut identitas ayahnya.

Ia memutuskan untuk menjadi antitesis dari predikat ayahnya yang adalah pahlawan. Ia memilih jadi pencuri. Tapi kesannya, Jake seperti hanya sok-sokan memberontak, padahal di lubuk hati terdalam ia juga ingin jadi pahlawan. Duh, jahatnya saya. Katanya, Jake dulu adalah pilot Jaeger, lalu keluar dan menjadi pencuri. Nah, kenapa dia keluar? Seingat saya, hal ini tidak dielaborasikan di film.(Maaf, kalau ternyata saya salah.)

Baca Juga:  Endless Poetry: Otobiopik Surreal Jodorowsky

Kedua, pemberontakan Amara. Sama seperti Jake, mereka berdua memberontak terhadap hukum dengan mencuri komponen-komponen rongsokan Jaeger. Anarkisme kecil-kecilan (?).

Bedanya—saya pikir motivasi Amara lebih filosofis dan kreatif ketimbang motivasi Jake—Amara menggunakannya untuk merakit Jaeger sendiri, karena dia sangat percaya terhadap Jaeger dan percaya bahwa suatu saat serangan Kaijuakan terjadi lagi. Ia merasa harus berjaga-jaga agar jika perang terjadi lagi, ia bisa menyelamatkan diri sendiri (tidak seperti di masa lalu).

Ketiga, pemberontakan Newton. Meskipun pemberontakan yang ini kurang jelas motivasinya (?), efeknya masif. Peperangan klimaks terjadi karena pemberontakan ini. Yah, sebenarnya saya ingin agar pemberontakan Newton berhasil. Seperti halnya saya menginginkan agar Night King menguasai Westeros dan mengubah semua umat manusia menjadi White Walkers.

Jujur saja, saya bukan penggemar berat Pacific Rim garapan Guillermo del Toro; saya sekadar suka. Tapi, tetap saja, menonton sekuelnya yang dipaksakan jadi sekuel begini, saya agak kesal. Pacific Rim: Uprising mereduksi Pacific Rim yang memiliki latar belakang cerita dan drama yang cukup kuat menjadi sekadar film tinju-tinjuan logam dan monster raksasa (aih, monsternya jadi makin raksasa di sini).

Jadi teringat Ultraman, tapi yang ini dibikin dengan tampilan visual dan efek suara yang ciamik. Setidaknya, film ini berhasil membuat saya … merasakan sesuatu. Merasakan semacam jet lag akibat menonton secara intens pertarungan makhluk-makhluk sangat besar diiringi efek suara yang menggelegar. Sungguh, saya jadi kliyengan ketika layar menjadi gelap dan saya harus menghadapi dunia nyata yang terdiri dari manusia-manusia kecil.[]

Data Film

Sutradara: Steve S. DeKnight

Penulis skenario: Steve S. DeKnight, Emily Carmichael, Kira Snyder, T. S. Nowlin

Genre: action, adventure, sci-fi

Pemain: John Boyega, CaileeSpaeny, Rinko Kikuchi, Scott Eastwood, Jing Tian

Durasi: 111 menit

Produksi: Legendary Pictures, DDY

Tanggal rilis: 23 Maret 2018

Rating: 5,7/10 (IMDb), 43% (Rotten Tomatoes), 44% (Metacritic)

Poster:

IMDb

Facebook Comments

Seseorang yang menulis untuk menjaga dirinya tetap cukup waras untuk menjadi gila—dan sebaliknya. Oya, bukunya yang baru terbit, Kaukenang sebagai Apa Aku Nanti? sudah tersedia di toko buku. Bisa ditemui di Instagram dan Twitter @kimfricung.