Ulasan Film

Endless Poetry: Otobiopik Surreal Jodorowsky

Posted on in Ulasan Film

Sebagai salah seorang eksponen gerakan counter-culture, Alejandro Jodorowsky bekerja dalam banyak bidang. Dia adalah penyair, novelis, esais, sutradara teater, komikus, komposer, pelukis, pematung, ahli-tarot, bahkan guru spiritual. Tetapi, di dunia internasional, dia paling dikenal sebagai pembuat film avant-garde, yang karya-karyanya cenderung surreal dengan nuansa magis dan sarat provokasi-religius. Karya-karya awalnya juga penuh dengan penggambaran kekerasan.

Lahir dari keluarga imigran Ukraina di Tocopilla, Chile, 1929. Ayahnya, Jaime Jodorowsky, adalah orang yang kasar dan ringan tangan; kerap melakukan kekerasan terhadap istri dan anaknya. Bahkan Alejandro sendiri adalah buah dari perkosaan yang dilakukan Jaime terhadap istrinya. Itu membuat Felicidad Prullansky (istri Jaime, ibu Alejandro) tidak bisa mencintai anaknya sendiri.

Jaime juga menyembunyikan—sekian lama—Identitas Yahudi dari anak-anaknya. Jaime yang sepanjang hidupnya bekerja sebagai pedagang, dengan memegang teguh prinsip ekonomi, mengharapkan sang anak hidup “normal”. Masa kecil yang suram dan tidak bahagia membuat Alejandro jatuh cinta pada ‘dunia luar’. Di lingkungan sekitarnya ia melihat akibat dari imperialisme dan neo-kolonialisme dan menyadari dunia domestiknya paralel dengan ketersingkiran warga lokal akibat dua paham tersebut.

Jodorowsky kemudian menemukan seni sebagai medan aktualisasi. Mula-mula pada puisi (Jodorowsky memuja penyair Chile, Nicanor Parra (1914-2018)) dan setelah putus kuliah, ia masuk teater dan membentuk kelompok teater Teatro Mimico.

Pada awal tahun 50-an, Alejandro Jodorowsky—meninggalkan keluarganya—pindah ke Paris untuk  belajar pantomim dan kemudian film. Ia kemudian hidup antara Paris dan Meksiko dan mendirikan Panic Movement, suatu kelompok performance art yang tertarik pada semangat avant-garde dan berhaluan anarkis.

Film pertamanya, Fando y Lis (1967) menimbulkan skandal dan kemudian dilarang di Meksiko. Di antara film-film Jodorowsky, adalah El Topo (1970) dan Holy Mountain (1973) yang paling sering dibicarakan dan dianggap pencapaian terbaiknya. El Topo dikagumi setengah mati oleh pentolan The Beatles, John Lennon, sehingga membuat pencipta lagu Imagine itu berniat membantu pendanaan film Jodorowsky selanjutnya.

Dalam satu wawancara, Jodorowsky mengisahkan bahwa George Harrison berniat menjadi aktor untuk Holy Mountain, tapi karena gitaris itu menolak memainkan satu adegan, Jodorowsky tidak jadi memakainya. Dia bilang pada George, “Mungkin aku bisa dapat banyak keuntungan kalau kau main di filmku. Tapi adegan itu sangat esensial buatku.”

Film-film Jodorowsky memang tidak pernah diperankan oleh para bintang. Selain ia sendiri yang kerap jadi aktor utama, Jodorowsky juga mengajak keluarganya, terutama kedua anaknya, Brontis dan Adan Jodorowsky. Bagi saya, sebagai penonton, pengalaman menonton El Topo dan Holy Mountain adalah salah satu pengalaman artistik paling mengesankan.

Baca Juga:  Love for Sale: Cinta Betulan atau Cuma Prostitusi?

Kedua film tersebut sarat dengan gambar-gambar surreal, pikiran-pikiran magis sekaligus filosofis dan nyaris melampaui batas-batas keumuman. Sejumlah kritikus menganggap film-film Jodorowsky anti-kapitalis, anti-imperialis, anti-agama, dan anti-keluarga.

Setelah 13 tahun vakum membuat film, pada 2013, Jodorowsky memulai proyek otobiopiknya lewat The Dance of Reality (2013), lalu dilanjutkan dengan Endless Poetry (2017). Proyek ini direncanakan menjadi trilogi, meskipun dalam satu wawancara, Jodorowsky mengatakan akan membuatnya menjadi lima film. Satu hal yang sungguh ambisius mengingat usianya yang kini memasuki 89 tahun.

Endless Poetry dimulai dari kisah ketika keluarga Jodorowsky pindah ke Santiago—di mana ia bekerja di toko ayahnya—sampai ketika ia meninggalkan keluarganya dan berangkat ke Paris untuk “menyelamatkan surealisme”. Film ini menampilkan dalam durasi yang panjang perjalanan awal persentuhan Jodorowsky dengan dunia seni, terutama puisi dan teater serta benturan yang kian memuncak dengan ayahnya.

Alejandro Jodorowsky selaku sutradara dan penulis juga bermain sebagai cameo; dirinya sendiri di masa kini, yang juga bertindak sebagai narator. Sedang yang berperan sebagai Jaime Jodorowsky (ayah Alejandro Jodorowsky) adalah Brontis Jodorowsky (putra Alejandro Jodorowsky).

Sementara yang berperan sebagai Alejandro Jodorowsky muda adalah Adan Jodorowsky (juga putra Alejandro Jodorowsky). Silang-peran ini seperti cabang dan ranting dalam pohon keluarga yang menyusun mata-rantai hidup, hingga satu generasi bisa mengalami apa yang dialami generasi sebelumnya.

Film ini sepertinya merupakan periode baru bagi Jodorowsky, di mana ia tak lagi menampilkan banyak adegan kekerasan yang berdarah-darah, juga tidak seprovokatif film-film awalnya. Gambar-gambar surealistik yang ditampilkan semakin halus dan detail.

Dibantu oleh istrinya, Pascale Montandon, Jodorowsky menghadirkan lanskap seni yang lengkap; konsep teater, seni rupa, performance art, dan puisi dipadu-padankan. Tetapi ‘diksi-diksi visual’ yang khas Jodorowsky (semisal karnaval, badut, sirkus, orang-orang invalid) tetap hadir dalam film ini. Karena itu, banyak yang mengatakan jika Endless Poetry adalah karya Jodorowsky yang paling “bisa diterima”.

Baca Juga:  Narasi Pop Aktivis Radikal

Bagian awal film ini, yang lebih realistik, mengujarkan awal pencarian Alejandro muda perihal makna hidup. Pada satu adegan, ketika mereka berkunjung ke rumah sanak-saudara dan Alejandro muda ditanya apa cita-citanya, ia menjawab ingin jadi penyair. Tapi ayahnya segera membantah itu sembari mengatakan bahwa Alejandro kuliah di kedokteran. Murka oleh sikap antipati keluarganya terhadap dunia seni, Alejandro muda berusaha menebang pohon di depan rumah yang dikunjunginya.

Inilah momen simbolis dimana Alejandro berupaya untuk memotong “pohon keluarga”-nya. Sejak itu, ia benar-benar memberontak, bergaul dengan para penyair, dari Nicanor Parra (dimainkan Felipe Rios) yang lebih tua, sampai Enrique Lihn (Leandro Taub) yang sebaya. Ia juga berkenalan dengan penyair perempuan Stella Diaz Varin (Pamela Flores, yang juga berperan sebagai ibu Jodorowsky), dan menjadi sepasang kekasih tanpa aktivitas seksual.

Gambar-gambar yang ditampilkan pada bagian ini lebih suram dan ganjil. Karakter Stella; perempuan gemuk dengan rambut merah terang dan doyan mabuk serta menulis puisi di sebuah kafe, seperti simbolisasi dari daya-hidup-seni di antara para pelayan kafe yang tua-tua dan bergerak lambat bagai siput. Dunia seni yang baru dimasuki Alejandro nampaknya memiliki kemungkinan gambar yang lebih luas, ketimbang dunia sehari-harinya yang monoton.

Ketika Alejandro muda menemukan euforianya di dunia seni, rumah dan toko milik ayahnya terbakar habis. Ayahnya datang memberi kabar, tapi yang ditanyakan oleh Alejandro muda justru keselamatan buku-bukunya.

Ini membuat ayahnya murka, karena peristiwa itu membuat uang dan barang-barang dagangannya habis terbakar. Alejandro muda merayakan dengan suka-cita peristiwa itu. Di sini terlihat sikap keras dan kritisnya terhadap paham kapitalis yang memuja uang bagaikan dewa, dan tergambar lewat karakter Jaime.

Alejandro Jodorowsky di dunia nyata telah mengakui bahwa otobiopiknya ini semacam penyembuhan buatnya. Suatu pernyataan bahwa ia sudah “sembuh” dan memaafkan keluarga dan masa lalunya.

Baca Juga:  ReLIFE: Sebuah Kesempatan untuk Mengulang Kembali Kehidupanmu

Dalam film, ketika Alejandro muda berada di dermaga, bersiap menaiki perahu mesin berwarna ungu—dengan sesosok manusia berpakaian tengkorak di atasnya—yang siap mengantarnya ke Paris, ayahnya datang. Ini momen rekonsiliasi, Jodorowsky berkata pada ayahnya,”Dengan tidak memberikan aku apa-apa, kau telah memberikan aku segalanya. Dengan tidak mencintaiku, kau mengajarkan padaku bahwa cinta adalah kebutuhan yang mutlak….”

Lalu Jodorowsky yang asli berucap, “Aku memaafkanmu, Jaime…

Sejak awal, Alejandro Jodorowsky memang tidak berada di arus-utama. Ia mengkritik dan menolak kuasa industri dalam film, terutama “kolonialisasi Hollywood” yang disebutnya menginvasi seluruh dunia. Baginya, film adalah art, di mana ia bisa mengalami ‘ekstase kreatif’ dan penonton memiliki pemantik untuk mengaktualisasi diri setelah menonton. Film mesti ‘memberikan sesuatu’; harapan, pengetahuan atau keindahan tersembunyi yang tak tampak dalam keseharian.

Lewat Endless Poetry, Alejandro telah memaafkan masa lalunya, menerima semua sebagai bagian integral dari eksistensinya, tanpa mesti terjebak dalam dramatisasi dan haru-biru yang terlalu. Bukan hanya itu, ia juga membuat anak-anaknya (generasi berikutnya) “mengalami” peristiwa yang dialaminya sebagai satu ‘pengalaman empirik’.

Dalam proses pembuatannya, Endless Poetry dibiayai secara kolektif. Lewat akun Youtube, Alejandro Jodorowsky ‘meminta sumbangan’ kepada siapa saja dengan apa yang ia sebut sebagai “holy begging”. Ribuan orang ikut menyumbang hingga film ini rampung. Jadi, bisa dibilang film ini adalah produksi publik, padahal dengan reputasi dan pengalamannya, Alejandro Jodorowsky bisa saja mendapat pendonor.

Untuk hal-hal itu, Endless Poetry pantas mendapat review yang baik dari para kritikus, pengamat, maupun penonton. Dan tentu saja, saya menunggu bagian ketiga dari proyek otobiopiknya ini. Longevidad, Alejandro!

 Data Film

Judul asli : Poesia Sin Fin

Sutradara : Alejandro Jodorowsky

Skenario : Alejandro Jodorowsky

Genre : Drama/Otobiopik

Durasi : 128 menit

Pemain : Alejandro Jodorowsky, Brontis Jodorowsky, Adan Jodorowsky, Pamela Flores

Tahun Rilis : 2016

Rating : 7.7/10 (IMDb), 78/100 (Metacritic), 94% (Rotten Tomatoes)

Sumber Poster : cinemaclock.com

Facebook Comments

Penyair, cerpenis dan penggemar film. Telah menerbitkan sejumlah buku, yang mutakhir adalah kumpulan cerpen Belfegor dan Para Penambang (basabasi, 2018).