Resensi Buku

Ayah, Putera, dan Narasi yang Menjenuhkan

Posted on in Resensi Buku

Dan, di sinilah kami, berusaha tidur dalam kegelapan. Apakah bisa dibenarkan, bukannya mencoba menggapai cahaya bintang-bintang, kami justru menyembunyikan kepala di tanah tempat kami tidur? (Hlm. 19).

Pertama kali saya membaca The Red-Haired Woman, saya menyadari bahwasanya suatu kebudayaan maupun lingkungan memang sangat berpengaruh terhadap bagaimana seorang individu memandang suatu realita. Sebagai contoh, mari kita ambil Orhan Pamuk dan karya versi terjemahannya yang diterbitkan pertama kali di Indonesia pada Februari 2018 kemarin.

Lahir di Istanbul, Turki, negara yang masih kental akan cerita rakyatnya, membuat kita tidak perlu terheran apabila buku ini sedikit-banyak memang terinspirasi oleh salah satu karya masyhur dari Timur Tengah, yakni Syahnameh (Hikayat Raja-Raja).

Menjadi benar opini dari Joost Smiers dan Marieke Van Schijndel lewat Dunia Tanpa Hak Cipta, bahwa suatu karya pada dasarnya ialah adaptasi dari karya-karya sebelumnya dan seseorang dapat menciptakan karya pun karena telah mengkonsumsi karya lainnya pula. Melalui buku ke-10-nya ini, selain Syahnameh, Pamuk juga banyak memasukkan Oedipus, seimbang dengan Syahnameh saya rasa.

Dan jika berbicara mengenai tragedi antara ayah dan anak, yang merupakan gagasan utama dari buku ini, tentu saja saya sebagai suku Jawa tulen tidak bisa lepas dari kisah Ken Arok, yang di kemudian hari dibukukan pula oleh Pramoedya Ananta Toer dengan judul Arok Dedes.

Buku ini bercerita tentang seorang remaja bernama Cem yang tinggal bersama ayah dan ibunya. Ayahnya seorang buron negara karena berideologi kiri, di mana lingkar kehidupannya terpisah antara keluarga dan dunia politiknya. Dikisahkah bahwa ketika Ayah Cem sedang berkumpul bersama rekannya dan tiba-tiba Cem masuk ke ruangan tersebut, pembicaraan otomatis berhenti.

Cem pun menyadari bahwa ini merupakan “zona terlarang” untuk dimasuki, segera berkemas dan ia pun pergi. Sedangkan ibunya ialah sesosok malaikat lembut yang sangat peduli kepada putera semata wayangnya. Cem remaja bercita-cita untuk melanjutkan sekolah di salah satu universitas, namun karena sempat mengalami krisis, ia harus berjuang mencari sendiri biaya untuk pendidikannya.

Baca Juga:  Selamat Datang di Angkringan Ninuk

Akhirnya ia bekerja di toko buku Tuan Deniz. Ia kemudian mendalami banyak cerita melalui buku maupun hikayat juga tokoh-tokoh dunia seperti Jules Verne dan Edgar Allan Poe. Karena gaji seorang penjaga toko buku dirasa masih kurang untuk biaya kuliah, Cem pun berganti pekerjaan menjadi pengawas kebun buah.

Kemudian, datanglah hari ketika seorang penggali sumur menawari Cem untuk menjadi asistennya. Tentu saja, dengan alasan finansial yang akan lebih baik, yakni empat kali dari gaji seorang pengawas kebun, dan waktu yang semakin sedikit, Cem menerimanya dengan enteng walaupun ibunda pada awalnya menolak, dengan dalih menggali sumur bukanlah pekerjaan untuk para belia.

Minggu demi minggu dilalui bersama, lambat laun fokus Cem tidaklah kepada pekerjaanya yang berada di pinggir kota di dataran tandus nan berbatu, namun malah tertuju pada primadona teater keliling yang umurnya dua kali lipat lebih tua darinya, gadis berambut merah. Konflik pun mulai melambung dari sini.

Secara ciamik, Pamuk membagi buku ini menjadi tiga bagian besar. Ada 21 bab untuk bagian pertama; 22 bab untuk bagian kedua; dan satu bab bagian terakhir. Dan menurut saya, pembagian ini merupakan langkah yang tepat dilakukan oleh Pamuk karena memang emosi saya benar-benar dibolak-balik antar satu bagian dengan bagian lain.

Cerita yang dikisahkan pada bagian pertama berfokus tentang bagaimana Cem menjalani hidupnya ketika menjadi asisten seorang penggali sumur, Tuan Mahmut.  Kerasnya pekerjaan dan lamanya waktu yang berlalu membuat jalinan hubungan antar dua insan ini menjadi lebih erat. Tuan Mahmut adalah sesosok ayah, figur yang ia cari.

Cem sendiri memang memiliki ayah kandung, Akin, namun hubungan itu hanyalah sebatas hubungan darah—bukan emosional. Hal tersebut dibuktikan oleh potongan paragraf ini:

Aku cuma seorang anak, dia bukan temanku juga bukan ayahku, melainkan tuanku. Hanya saja, aku melihat dalam dirinya sosok seorang ayah (Hlm. 23).

Ayah tidak pernah bercerita kepadaku tentang berbagai kisah tertentu atau dongeng. Namun, Tuan Mahmut melakukannya setiap malam (Hlm.43).

Baca Juga:  Panti Jompo, Lansia, dan Cinta yang Tak Selesai

Membaca bagian awal buku ini, bak meminum es lemon saat sariawan, perih sangat. Dan itu benar. Alur lambat yang sengaja ditulis Pamuk merupakan roadway to hell tersendiri bagi saya. Kita akan dilempar dengan detail bersayap-sayap yang diulang secara terus menerus. Di satu sisi, saya sungguh ingin mencabik novel karya peraih Nobel Sastra 2006 ini dan melemparnya ke tong sampah atau membakarnya, namun di sisi lain, saya belum dan tidak bisa berhenti karena sepanjang bagian satu buku ini, konflik belum juga mencuat.

Sinopsis yang dipaparkanya, yang tertulis “… seseorang terbunuh dan menghantui hingga 3 dekade berikutnya” sama sekali tidak disinggung. Ini sebenarnya alasan mengapa akhirnya saya terus membaca, bab demi bab yang meski menjemukan, tetap saya lanjutkan.

Emosi saya sukses dijungkirbalikkan pada bagian kedua karya ini. Jika dari halaman pertama sampai halaman 146 saya sungguh merasa jenuh, di bagian ini mata saya sudah tidak bisa lagi beristirahat barang sejenak karena memang hati saya sendiri tak mengizinkannya. Kejutan demi kejutan yang selalu dimunculkan Pamuk sangatlah cantik. Berulang kali saya mencoba menebak alur dan sekian kali itu pulalah saya menganga, terkaget, dan heran.

Teknik rotasi emosi kali ini digunakan Pamuk melalui salah satu lakon pada bagian akhir buku. Berbeda dengan sebelumnya, emosi yang saya rasakan tidaklah meletup-meledak-ledak, namun lebih seperti air yang mengalir, tenang. Di sini penulis menjelaskan beberapa missing links dengan sudut pandang yang berbeda, yang menjadikan bagian ini sarat akan kalimat-kalimat panjang.

Jangan salah, pemilihan diksi pada narasi agar pembaca tidak bosan bukanlah suatu hal yang patut dikhawatirkan dari penulis sekaliber Pamuk. Pun minimnya dialog saya rasa merupakan hal yang wajar mengingat memang begitulah konsep dan gaya penceritaan yang dibawakannya dalam buku ini.

Tidak seperti kebanyakan penulis yang gandrung mengakhiri buku dengan penyelesaian yang tidak selesai, lelaki kelahiran 1952 ini mengakhiri ceritanya dengan ketegasan yang lembut. Tidak ada yang menggantung, karena semuanya akan secara gamblang dipaparkan pada bab-bab akhir yang saya sebut sebagai pungkasan cerita. Pada akhirnya, saya bisa menutup buku ini dengan senyum terkembang di muka.

Baca Juga:  Menjadi Muslim, Menjadi Orang Indonesia yang Baik

Sepanjang 341 halaman, Pamuk mengajak kita memasuki sebuah dunia, yang selain bercerita tentang hubungan antara ayah dan anak, juga mengenai keadaan politik di Turki—lewat Akin, sejarah, eksplorasi cinta yang rumit, juga bagaimana seorang manusia menyikapi apa yang telah ia lakukan dengan sudut pandang yang berbeda dan uniknya ialah lewat dirinya sendiri. Sepanjang 44 bab pula kita akan diajak berfikir akan makna takdir dan perbuatan.

“Ketika menyadari telah tidur dengan ibunya, Oedipus mencungkil matanya sendiri,” kataku, “Lalu, dia meninggalkan kota menuju dunia yang lain.”

“Jadi, kehendak Tuhan berlaku, bagaimanapun,” kata Tuan Mahmut. “Tak seorang pun bisa terbebas dari takdirnya.” (Hlm. 61)

Secara keseluruhan, novel ini merupakan bacaan yang sangat mencerdaskan. Terlihat dari banyaknya kejadian dunia yang dicantumkan dalam kehidupan Cem, bahkan ada yang sampai membuat Cem mengelilingi beberapa kota di berbagai negara hanya untuk mendapat informasi tentang hal itu. Rangkaian kalimat yang makin panjang dari bab per bab walaupun kadang menjenuhkan mata, tapi jika disimak baik-baik sebenarnya cukup mengasyikkan.

Namun, menurut saya, penambahan dialog antar tokoh pasti akan lebih menghidupkan The Red-Haired Woman. Kualitas terjemahan Rahmani Astuti lumayan memuaskan. Adegan dewasanya juga bisa dibilang sangat minim—hanya dikisahkan ada beberapa tokoh tidur bersama—sehingga novel ini bisa dinikmati oleh siapa pun. Untuk membacanya pun saya rasa tidak memerlukan beberapa buku pengantar terlebih dahulu, karena memang pemaparan sumber sejarah sangatlah menyatu dengan kisah Cem dan lainnya.

Buku terbaik sepanjang tahun ini yang saya baca.[]

Identitas Buku

Judul : The Red-Haired Woman

Penulis : Orhan Pamuk

Penerbit : PT. Bentang Pustaka

Tebal : viii + 344 halaman

Edisi : Pertama, Februari 2018

ISBN : 978-602-291-449-5

Gambar:

Dokumentasi pribadi

Facebook Comments

Sedang sibuk mengampanyekan gerakan #RabuBacaBuku.