Resensi Buku

Jurnalisme Musik: Dari Guns N’ Roses, Slank, Sampai Nike Ardila

Posted on in Resensi Buku

Jika kita masuk ke toko buku, lalu menyambangi rak musik, bisa dipastikan yang akan kita temui hanyalah deretan buku kumpulan lirik lagu, lengkap dengan kunci gitarnya. Nyaris tidak ada buku tentang kajian musik yang benar-benar layak disebut sebagai “buku musik”.

Dalam amatan sederhana saya, hal itu dilatari oleh setidaknya dua alasan.

Pertama, alasan yang cenderung mendekati klise, yakni bahwa kajian tentang musik bukan tema yang seksi di industri perbukuan kita. Para penebit tentu lebih memilih menerbitkan buku-buku yang potensial diserap pasar, misalnya buku motivasi.

Kedua, harus diakui bahwa cukup sulit menemukan penulis musik yang benar-benar memiliki otoritas menulis musik. Otoritas ini tentu harus ditopang oleh dua hal, di satu sisi ia memang cakap menulis dan di sisi lain, ia punya pengetahuan mumpuni di bidang musik.

Dulu kita punya Denny Sakrie, yang acap disebut sebagai ensiklopedi musik Indonesia. Sakrie, barangkali adalah penulis musik paling produktif, sekaligus otoritatif. Sayang, ia berpulang amat cepat.

Setelahnya, kita mengenal deretan penulis musik berusia muda dengan segala macam karakternya. Mulai dari Taufiurrahman, Idhar Resmadi, Philip J. Vermonte dan beberapa nama lain. Di antara nama-nama penulis musik muda ini terselip nama seorang Nuran Wibisono. Ia mulai dikenal ketika tulisan-tulisannya tentang musik rutin tayang di situs Jakartabeat.

Di zaman keemasannya, Jakartabeat adalah situs yang disegani, terutama di kalangan hipster penggila musik. Selain di situs keramat itu, Nuran juga rajin mengunggah tulisan di blog pribadinya.

Nice Boys Don’t Write Rock N Roll: Obsesi Busuk Menulis Musik 2007-2017 (selanjutnya ditulis Nice Boys) yang kita bincangkan ini adalah buku pertamanya. Bagi penggemar Guns N’ Roses, judul buku ini tentu mengingatkan akan suatu.

Baca Juga:  Refleksi Futuristik atas Sejarah Manusia

Wajar, karena judul buku ini adalah semacam plesetan dari judul lagu mereka, yakni Nice Boys Don’t Play Rock and Roll. Nuran adalah pemuja (istilah penggemar masih kurang tepat untuknya) band metal asal Amerika Serikat itu.

Buku ini adalah senarai kumpulan tulisan tentang musik. Tidak kurang dari 84 judul tulisan yang terbagi ke dalam enam bab. Sebagian besar di antara 84 judul itu merupakan tulisan tentang band-band metal dan rock, seperti Guns N’ Roses, Motley Crue, sampai The Doors.

Juga tulisan tentang band dan musisi tanah air mulai dari Slank, Gribs, Sangkakala, Iwan Fals, Ahmad Dhani, sampai Silampukau. Selain itu, terselip pula tulisan tentang ihwal dunia musik, mulai dari industri musik, festival musik sampai pariwisata musik. Sesuai dengan anak judulnya, puluhan tulisan itu dihasilkan dalam rentang waktu tahun 2007 hingga 2017.

Nuran, dalam banyak hal, berbeda dengan para penulis musik lain. Ia tidak mengekor senior dan sejawatnya di Jakartabeat dengan berupaya menjadi politis dan sarkastis ketika menulis musik. Nuran mengambil gaya lain. Philip J. Vermonte, salah seorang pendiri Jakartabeat dalam pengantar buku ini menyebut gaya menulis Nuran sebagai gaya ugal-ugalan.

Barangkali yang dimaksud oleh Philip adalah Nuran menulis dengan gaya yang sengaja subyektif, memasukkan unsur preferensi dan emosi pribadi ke dalam tulisannya lalu mempersetankan pendapat orang atas tulisan tersebut.

Hal itu tampak misalnya ketika ia menulis tentang tokoh junjungannya, Jim Douglas Morrison, vokalis band legendaris The Doors. Bisa ditebak, ia menempatkan Jim layaknya nabi yang nyaris tanpa cela.

Nuran barangkali tengah mempraktikkan apa yang dalam dunia jurnalisme disebut sebagai gonzo journalism. Dalam jurnalisme gaya gonzo, subyektivisme tidak dianggap sebagai sebuah dosa, alih-alih justru menjadi nilai lebih dari tulisan.

Baca Juga:  Apa yang Terjadi Jika Sastra dan Sains-Teknologi Memutuskan untuk Menikah?

Tulisan bergaya gonzo biasanya dibingkai ke dalam narasi sastrawi, terlebih jika sumber yang dipakai adalah sumber dari penutur pertama. Langgam jurnalisme ini pertama kali diperkenalkan oleh Hunter S. Thompson.

Nuran memang tidak secara eksplisit mengklaim Nice Boys sebagai karya jurnalistik bercorak gonzo. Namun, sulit  rasanya untuk tidak mengatakan bahwa gaya itu berpengaruh pada setiap tulisan dalam buku ini.

Simaklah tulisannya tentang Sangkakala, band rock asal Yogyakarta, yang berjudul “Sangkakala Merobek JNM”. Di tulisan itu, Nuran berhasil menyajikan suatu reportase konser musik yang penuh kegilaan, melibatkan satu band edan bernama Sangkakala, penonton mabuk bertingkah absurd dan juga berliter-liter ciu. Membaca tulisan itu, saya seolah tengah berada di tengah-tengah konser tersebut.

Memang, kelemahan model tulisan bergaya gonzo biasanya terletak pada minimnya data pendukung. Beruntung, hal itu tidak berlaku pada tulisan-tulisan dalam Nice Boys. Akses bacaan Nuran di bidang musik agaknya tidak perlu diragukan. Latar belakangnya sebagai sarjana sastra Inggris membuatnya nyaris tidak menemui kesulitan ketika harus mengakses literatur musik Barat.

Hal itulah yang membuat Nice Boys kaya akan data dan pengetahuan di bidang musik. Mulai dari cerita tentang bagaimana Birmingham, kota industrialis di Inggris melahirkan Black Sabbath, band yang menjadi pencetus aliran heavymetal.

Atau tentang kisah para penggemar Nike Ardila yang hingga bertahun-tahun sejak kematian artis itu masih eksis dan setia menziarahi makamnya. Sampai gosip murahan tentang saling tikung pacar di antara personel Guns N’ Roses. Dalam setiap tulisan itu, Nuran membuktikan kemampuannya sebagai pencerita ulung.

Bagi yang sudah akrab dengan tulisan-tulisan Nuran, Nice Boys bisa jadi tidaklah istimewa. Hal ini karena sebagian besar tulisan di buku ini sebelumnya sudah pernah diterbitkan, baik di situs Jakartabeat, blog pribadinya atau di portal berita tirto.id, tempatnya bekerja menjadi jurnalis beberapa tahun belakangan ini.

Baca Juga:  Out of the Lunch Box; Warna-Warni Olah Pikir ala Iqbal

Empat tulisan tentang Slank barangkali adalah harta karun dari Nice Boys, karena belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Konon, tulisan-tulisan tersebut sedianya akan dimuat di buku biografi resmi band berlogo kupu-kupu tersebut. Sialnya, proyek prestisius itu berhenti di tengah jalan karena tidak adanya kesepakatan di masalah kontrak.

Meski demikian, sebagai karya debut, Nice Boys terbilang cukup memuaskan. Buku ini setidaknya telah mengakhiri paceklik buku musik dalam industri penerbitan buku. Rak buku musik di toko buku, kini memiliki koleksi yang layak disebut “buku musik”, bukan hanya buku kumpulan lirik dan kunci gitar lagu. Karya ini sekaligus menegaskan bahwa Nuran adalah penulis musik yang menjanjikan di masa depan. Tabik!

Data Buku

Judul Buku : Nice Boys Don’t Write Rock N Roll: Obsesi Busuk Menulis Musik 2007 – 2017

Penulis : Nuran Wibisono

Penerbit : EA Books

Tahun terbit : Cetakan I, 2017

Tebal : 576 + xvi hlm

ISBN : 978-602-1318-XX-XX

Foto: Dokumentasi pribadi

Facebook Comments

Peneliti partikelir, buruh tulis dan pengajar paruh waktu.