Ulasan Film

Si Mulut Besar yang Antimati

Posted on in Ulasan Film

Seperti di film pertamanya, dan agaknya ini memang merupakan ciri khas dari produk Marvel yang satu ini, Deadpool (DP) kembali dengan bentuk yang sama: Ia masih menganggap dirinya—secara terang-terangan—sebagai aktor yang sedang memerankan filmnya sendiri; sesekali ia akan berinteraksi dengan penonton layaknya para pelawak di pementasan ludruk.

Tidak ketinggalan pula mulutnya yang superbocor dan selalu menyumpah-serapah, juga kegesitannya yang tanpa pikir panjang dan tanpa negosiasi dalam menyincang lawan-lawannya (perlu diingat, DP adalah seorang antihero, dan ia mengaku punya pertimbangan moral tersendiri soal tindakan sadistisnya itu).

Kalau film pertamanya berfokus pada latar belakang Wade Wilson (Ryan Reynolds), hingga bagaimana akhirnya ia berubah jadi buruk rupa seperti kulit alpukat—sebagaimana yang dikatakan karibnya, Weasel—dan memiliki kemampuan regenerasi lebih baik ketimbang Wolverine, di sekuelnya ini, diceritakan Wade ingin “berhijrah”.

Jelasnya, ia ingin jadi baik. Keinginan ini muncul saat Wade dan pacarnya, Vanessa (Morena Baccarin), memutuskan untuk punya anak.

Khawatir anaknya nanti akan menjadi bajingan seperti bapaknya, Wade berpikir untuk berubah, meninggalkan kehidupan kelamnya sebagai ‘pahlawan super’ berdarah dingin. Namun, sebelum rencana mulianya terwujud, di suatu malam, rumahnya disantroni musuh hingga berujung pada tewasnya sang pacar.

Wade sedih, tentu saja, sangat sedih malah, dan di sinilah sisi manusianya muncul. Ia lalu memutuskan untuk bunuh diri, suatu usaha yang bisa kita duga akan sia-sia belaka. Sebab selain antihero, sepertinya ia juga antimati.

Di saat-saat keterpurukan itulah, Colossus (Stefan Kapičić)—pria mutan bertubuh tinggi-besar-dan-sepenuhnya-baja yang di film sebelumnya mengajak DP bergabung dengan X-Men seperti dirinya bersama Negasonic Teenage Wearhead (Brianna Hildebrand) tapi ditolak mentah-mentah—menyelamatkan Wade dan memberinya kesempatan (lagi) untuk memperbaiki hidupnya yang sejak semula kacau itu.

Kita kemudian tahu Wade akhirnya mengambil kesempatan itu, sebab ia sadar kalau ia tidak mengambilnya, film akan rampung saat itu juga, karena ia tidak akan bertemu Russel (Julian Dennison)—si bocah api yang gemar membakar apa saja—dan lebih tragisnya, tidak akan bertemu dengan Cable (Josh Brolin), yang diperkenalkan sebagai villain di film ini.

Baca Juga:  Paprika: Kengerian Teknologi dalam Parade Pesta Pora

Dalam sosok Russel inilah, Wade menemukan pelariannya. Sekali lagi, ia berpikir rencana memiliki superbaby bukan lagi mustahil. Karena Russel jugalah, Wade memutuskan untuk membentuk tim yang secara dadakan ia namakan X-Force guna menyelamatkan Russel.

Dan perlu kalian ketahui, di dalamnya tidak ada Wiro Sableng ataupun Anggini—yang sempat dimunculkan dalam klip promo beberapa hari sebelum filmnya rilis resmi di Indonesia—dan itu sesuatu yang harus disyukuri mengingat apa yang menimpa para anggota X-Force setelah mereka melompat dari pesawat.

Siapa yang Baik dan Siapa yang Jahat?

Sebagaimana di film Deadpool yang pertama, kita juga akan kesulitan menemukan siapa penjahatnya di sekuelnya ini. Pasalnya, Wade sendiri adalah seorang antihero yang mencari nafkah dengan menjadi pembunuh bayaran.

Alih-alih membeda-bedakan mana penjahat dan mana pahlawan, kita akhirnya akan lebih suka membedakan penjahat mana yang lebih pantas mati. Dan jawabannya tentu saja bukan Wade, karena meskipun jahat, ia punya selera humor yang bagus dan tidak membosankan, dan jangan lupa bahwa ia punya motivasi suci untuk ‘berhijrah’.

Di film ini, pada awalnya kita akan digiring untuk membenci Cable, cyborg dari masa depan yang bermaksud mengubah masa lalu. Namun, lambat laun kita akan dibuat bersimpati dengannya bahkan memujanya.

Lalu, penjahat mana yang akan mati? Tentu saja, yang paling membosankan dan membuat kita jijik.

Balas Dendam (?) Ryan Reynolds untuk DC Universe

Tahun 2011 silam, seperti yang kita ketahui, Ryan Reynolds membintangi film superhero dari semesta DC bertajuk Green Lantern. Film tersebut tidak terlalu laku di pasaran bahkan juga mendapat kritik negatif dari beberapa kritikus. Ratingnya pun jeblok. Hal itu tampaknya juga membawa dampak pada popularitas Ryan Reynolds.

Ia sendiri pernah mengakui bahwa setelah membintangi film tersebut, ia sempat kesulitan mendapatkan job di Hollywood. Dan bertahun-tahun kemudian, seolah terlahir dari kematian, kariernya kembali cemerlang setelah membintangi Deadpool yang ternyata sangat cocok dan melekat dengan gayanya—terutama soal mulutnya yang suka ngebanyol seenak perut—dan tentu saja, sukses besar di box office Amerika dan seluruh dunia.

Baca Juga:  The Motive: Cara Busuk Menjadi Penulis

Layaknya api bertemu bensin, tampaknya Reynolds dan pihak Marvel (dalam konteks ini, 20th Century Fox, selaku pemegang hak produksi dan distribusi film atas seluruh properti X-Men dan tetek-bengeknya termasuk Deadpool) melihat kesempatan untuk mengolok-olok pesaing mereka itu. Di Deadpool 2 ini, terdapat lelucon-lelucon untuk DC Universe yang rentan sekali membikin para penggemar berat DC sakit hati.

Misalnya, saat Wade bertarung dengan Cable, dan Cable bertanya: “Who the hell are you?”, di luar dugaan, Wade menjawab dengan ngawurnya: “I’m Batman!” persis dengan intonasi berat yang dibuat-buat ala suara Batman yang ikonik itu.

Seakan belum puas, di pertarungan lanjutan, untuk membalas ejekan Cable yang sebelumnya bilang: “You’re no fuckin’ hero, you’re just a clown dressed up as a sex toy.” Wade dengan kocaknya berkata: “So dark! You’re sure you’re not from the DC Universe?” Ini sindiran yang sudah tidak pakai basa-basi lagi terhadap DC Universe yang selalu berusaha bikin film dengan tone yang gelap dan terlalu serius. Bertolak belakang dengan film-film pahlawan super Marvel yang fun, penuh humor menggelitik perut, dan cerah meriah.

Selain di tengah-tengah film, lelucon-lelucon untuk semesta DC juga terdapat di adegan post credit. Salah satunya, saat DP tiba-tiba muncul di ruang kerja Ryan Reynolds—iya, dia menemui dirinya sendiri, tapi dalam versi lain, di studio film lain—dan menembakkan pistol yang langsung melubangi kepalanya saat dia hendak … sorry, no spoiler.

Ejekan untuk X-Men dan Ejekan-Ejekan Lainnya

Tidak hanya semesta DC yang mendapat olok-olokan. X-Men, misalnya, sejak adegan pembuka, sudah mendapat olok-olokan dari Wade melalui film Logan. Wade mengeluhkan, kenapa film tersebut ikut-ikutan menaikkan batasan usia (mengikuti jejak Deadpool) sehingga tidak bisa ditonton anak-anak. Lalu, ada juga lelucon soal Terminator (mengacu pada robot dari masa depan) dan Thanos (berkaitan dengan Josh Brolin yang sebelumnya menjadi villain di Avengers: Infinty War).

Baca Juga:  Yang Istimewa Karena Biasa

Ada banyak lagi lelucon lainnya, yang tak mungkin saya tuliskan semuanya di sini. Satu yang menurut saya paling juara, selain soal ejekan DC Universe, adalah soal apa yang menimpa para X-Force, yang mengingatkan saya pada film kebut-kebutan beberapa tahun silam.

Di momen tersebut, film ini seakan ingin mengatakan, kalau apa pun yang dibentuk secara instan akan bubar dengan instan pula. Dan untuk mengatasinya—maksud saya, mengatasi kesialan yang menimpa X-Force—hanya dibutuhkan sebuah keberuntungan seperti yang ditunjukkan oleh Domino (Zazie Beetz), alih-alih mobil berparasut yang konon dilengkapi peralatan canggih.

Sosok Wade yang gemar melontarkan lelucon dan ejekan-ejekan tak senonoh itu memang merupakan sosok yang sempurna untuk menyampaikan kritik dan anehnya masih terasa lucu sekalipun mungkin akan ada yang sakit hati.

Namun, sebagaimana prinsip Wade, yang tak ambil pusing soal apa pun, yang bahkan masih sempat bercanda menjelang kematiannya, tentunya kita bisa mengabaikan perkara itu. Lagipula, selama bukan kita yang akan kena imbasnya kalau terjadi sesuatu, santai saja. Kurang ajar, memang, tapi Deadpool tetaplah Deadpool.

Sebagai penutup, saya memiliki saran bagi kalian yang ingin menonton film ini. Ada baiknya kalian tidak mengajak anak-anak di bawah umur untuk menonton film ini, atau siapa pun yang tidak betah melihat cipratan darah, sebab mereka akan berpeluang mengganggu kenikmatan menonton kalian. Itu juga tidak bagus bagi kondisi mental mereka. Terakhir, jangan buru-buru beranjak sebelum menyaksikan beberapa post credit di penghujung film yang sayang untuk dilewatkan.[]

Data Film:

Sutradara : David Leitch

Penulis : Rhett Reese, Paul Wernick

Produksi : 20th Century Fox

Genre : Action, Adventure, Comedy, Sci-Fi

Durasi : 119 Menit

Tanggal Rilis : 15 Mei 2018

Pemain : Ryan Reynolds, Josh Brolin, Morena Baccarin, Brianna Hildebrand, Zazie Beetz, Stefan Kapičić

Poster: IMDb

Facebook Comments

Lahir dan hidup biasa-biasa saja di Surabaya. Alumni Kampus Fiksi angkatan 20. Kerap menganggap dirinya di kehidupan sebelumnya adalah seekor kukang pemalas.