Resensi Buku

Obsesi Urban: Banalitas dalam Kematian

Posted on in Resensi Buku

Rasanya sebuah ungkapan “jangan menilik buku dari sampulnya” tidak mesti selalu dituruti. Setidaknya pada buku kumpulan cerita pendek teranyarnya Iksaka Banu, Ratu Sekop dan cerita-cerita lainnya (Margin Kiri, 2017). Buku ini sudah menggoda sejak dari sampulnya.

Seturut judulnya, sampul depan buku bergambar ratu sekop seperti dalam kartu remi, memegang dua benda di tangannya: sebuah pistol dan colokan kabel penanak nasi. Di sampul belakang, si ratu sekop memegang belati dan clapper board film.

Selesai membaca, kita tahu pilihan sampul buku tersebut merepresentasikan tentang keberagaman sekaligus kebaruan cerita-cerita yang ditawarkan oleh Iksaka Banu.

Empat belas cerita pendek dalam buku ini sebenarnya adalah karya-karya lama Iksaka Banu di majalah Mantra, Koran Tempo, dan beberapa tulisan yang belum pernah dipublikasikan. Cerpen-cerpen tersebut Iksaka Banu tulis sekitar tahun 2001 sampai 2005, kecuali cerpen berjudul “Istana Gotik” yang ditulis pada 2015.

Maka, buku Ratu Sekop agaknya menjadi semacam upaya Iksaka Banu untuk menghimpun cerita-cerita yang tercecer tersebut. Selain itu, seperti dikatakannya dalam pengantar, Iksaka Banu mengaku cerpen berjudul “Listrik” menandai karya-karyanya paling awal. Cerpen tentang seorang istri yang bisa membaca pikiran setelah kesetrum tersebut diakuinya sebagai titik tolak yang membuatnya keranjingan menulis cerpen.

Kebaruan yang ditawarkan dalam buku cerpen ini bukan merujuk pada titimangsa cerita ditulis, melainkan pada latar dan genre cerita. Kita menganggapnya demikian lantaran selama ini Iksaka Banu dikenal semata sebagai penulis cerita fiksi kolonial.

Dua buku lainnya, Semua untuk Hindia (2014) memuat cerita-cerita berlatar kolonial yang membentangkan sejarah kelahiran Indonesia, dan novel biografis, Sang Raja (2017), berkisah tentang juragan kretek, Nitisemito. Hadirnya Rumah Sekop ini membuat kita tahu bahwa sebelum melulu cerita kolonial, Iksaka Banu telah menulis pelbagai cerita yang dapat dikatakan memiliki tema berbeda. Mulai dari fiksi ilmiah hingga yang beraroma gelap dan absurd.

Baca Juga:  Ilusi Kebahagiaan Bermula dari Istri atau Suami Idaman

Dalam keberagaman tema yang muncul di buku cerpen ini, salah satu kesamaan yang menonjol adalah latar kehidupan urban. Iksaka Banu akan mengajak kita menyelami absurditas kehidupan orang-orang kelas menengah di kota yang penuh sesak dengan hasrat maupun obsesi.

Cerita-cerita diramu melalui kelindan prasangka, ketakutan, amarah, dan sengit hubungan sosial maupun asmara yang menguasai diri tokoh-tokoh. Kita akan menjumpai tokoh-tokoh berwatak urban yang khas: amat ringkih dalam pencarian makna hidup, dan begitu terobsesi pada seksualitas, harga diri, ketenaran, ataupun kekuasaan.

Iksaka Banu menampilkannya melalui cerita-cerita yang kelam atau noir. Cerpen permbuka, “Film Noir” jadi contoh terbaiknya. Iksaka Banu berkisah tentang seorang sutradara dan istrinya, yang tidak lain mantan artis film noir garapannya.

Di cerpen itu, Iksaka Banu memunculkan nuansa noir tidak hanya dalam alur cerita, juga dalam penokohan, latar dan suasana. Seperti halnya sedang menonton sebuah film noir, cerita bergerak menjadi kisah yang getir, gelap dan berdarah.

Nuansa kelam-noir dengan akhir cerita menikung dan ironis akan kita temukan pula di cerpen-cerpen lain. Dalam “Belati”, kita mendapati cerita tentang pelukis yang frustrasi dan ingin bunuh diri, tetapi terus dibenturkan dengan kejadian pembunuhan-pembunuhan absurd. Tokoh seorang pelukis juga kita temukan dalam cerpen yang menjadi judul buku ini, “Ratu Sekop”.

Namun, kemurungan muncul lewat tokoh seorang pelacur yang hendak dijadikan model lukisan. Sosoknya dianggap mewakili kartu sekop: cantik, angkuh, kejam, dan percaya diri. Kemudian cerpen “Istana Gotik” terasa suram justru karena berbicara tentang kesetiaan dan heroisme yang berujung tragedi.

Dalam hampir semua cerpen, selalu ada kematian. Kematian dalam dunia cerita-cerita Iksaka Banu digambarkan sebagai sesuatu yang banal. Misalnya dalam cerpen “Belati”, tokoh pelukis merasa telah siap untuk menghadapi kematian—dengan menulis surat wasiat, membikin lukisan berdarah, dan terlebih dulu memutar lagu—dan si tokoh begitu dingin saat melakukan pembunuhan yang tidak direncanakannya.

Baca Juga:  Cinta Tak Ada Mati: Remah-Remah yang Disatukan Kembali

Meski ada adegan kematian dan darah, cerpen-cerpen Iksaka Banu tidak terasa sadis atau mencekam. Kematian seakan diperlakukan secara lumrah bahkan estetis, dan dalam setiap adegan cerita, pembunuhan seolah dilakukan dengan cara yang mudah, cepat, tidak bengis, bahkan mengandung humor gelap.

Kejahatan dalam semesta cerita buku ini tidaklah harus datang dari seorang pencuri, begal, atau pembunuh bayaran. Para tokoh bukanlah orang-orang “berprofesi” jahat. Kejahatan dapat saja dilakukan oleh seorang sutradara, arsitek, vokalis grup musik, pelukis, perancang busana, atau pekerja iklan.

Kejahatan brutal bisa dilakukan seseorang yang dianggap berprofesi baik-baik, orang-orang biasa. Tokok-tokoh dalam cerpen Iksaka Banu menjadi cerminan bahwa setiap orang memiliki bakat untuk melakukan kejahatan tanpa merasa bersalah. Banalitas dalam kematian menunjukkan saat kejahatan tidak lagi dirasa sebagai kejahatan, tetapi sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja, sesuatu yang wajar.

Di buku Ratu Sekop ini, Iksaka Banu masih senantiasa berkisah dengan menggunakan sudut pandang aku-narator, seperti dalam Semua Untuk Hindia, kecuali cerpen “Lelaki dari Negeri Halilintar”. Artinya, pembaca selalu diajak menjadi aku si tokoh. Sebuah strategi pengisahan agar pembaca mudah menyelami sisi kemanusiaan para tokoh-tokohnya.

Ada kematian dan mematikan, menembak sebelum tertembak. Empat belas cerpen dalam buku ini seakan menyangkal kita untuk memandang dunia secara hitam-putih dan salah-benar, termasuk terhadap kematian. Dengan begitu, kita tahu, kematian itu niscaya, caranya boleh bagaimana saja.

Identitas Buku:

Judul : Rumah Sekop dan Cerita-cerita lainnya

Penulis : Iksaka Banu

Penerbit : Margin Kiri

Cetakan : I, September 2017

Tebal : xii + 189 hlm

ISBN : 978-979-1260-72-5

Foto: Dokumentasi pribadi

Facebook Comments

Pembaca buku dan pegiat di Pustaka Kaji, Jakarta.