Ulasan Film

Hichki: Sulitnya Menjadi Guru

Posted on in Ulasan Film

Mekanisme penerimaan peserta didik baru tahun 2018/2019 di Indonesia cukup memberi efek kejut. Salah satunya adalah dengan memberikan kuota sebanyak 20% untuk siswa yang berasal dari keluarga miskin. Kesakralan nilai hasil ujian akhir menjadi berkurang.

Asal membawa bukti berupa surat keterangan tidak mampu, peluang untuk diterima di sekolah “favorit” lumayan besar. Tentu hal ini juga memiliki dampak sistemik dan menimbulkan kekecewaan yang cukup besar terutama di kalangan orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah idaman.

Menurut para pakar, dengan dikeluarkannya kebijakan tersebut diharapkan tidak ada lagi kesenjangan prestasi antar sekolah yang terlalu menonjol. Sekaligus juga menjadi ajang pembuktian kualitas para guru; apakah guru itu benar-benar memiliki kompetensi mengajar yang layak. Beberapa guru harus rela dipindah ke sekolah lain dengan alasan yang sama.

Bicara tentang pendidikan khususnya kualitas guru, saya teringat sebuah film India yang rilis awal tahun 2018 ini dan dibintangi oleh Rani Mukerji. Siapa yang tak tahu Rani Mukerji? Terutama bagi penikmat film India, tentu nama aktris cantik satu ini tidak begitu asing.

Namanya mulai semakin dikenal ketika beradu akting dengan Shah Rukh Khan dan Kajol dalam film Kuch Kuch Hota Hai (1998). Dari film itu pula Rani Mukerji mendapat dua penghargaan, Filmfare dan Zee Cine Awards sebagai Aktris Pendukung Terbaik.

Adalah Hichki judul film teranyar Rani Mukerji itu. Film ini memiliki dua fokus utama yang sama pentingnya. Pertama, penggambaran kondisi dunia pendidikan di sebuah sekolah menengah di sebuah kota pelabuhan di India. Yang kedua, tentang apa itu sindrom Tourette. Singkatnya, sindrom Tourette adalah sindrom berupa ucapan atau gerakan yang te rjadi secara spontan dan berulang-ulang disebabkan kondisi syaraf yang tidak biasa.

Iya, benar sekali. Film ini merupakan adaptasi dari buku Front of The Class karya Brad Cohen dan Lisa Wysocky yang menceritakan perjuangan seorang pengidap sindrom Tourette untuk mendapatkan hak yang sama dalam dunia pendidikan. Baik sebagai siswa maupun sebagai guru. Buku Front of The Class juga pernah difilmkan di Amerika dengan judul yang sama pada tahun 2008.

Dikisahkan di awal film, seorang perempuan bernama Naina Mathur memiliki keinginan menjadi guru sejak kecil. Namun, kendala besarnya adalah sindrom Tourette yang diidapnya. Sindrom itu berupa cegukan yang datang tiba-tiba dan tidak bisa dicegah.

Baca Juga:  Si Mulut Besar yang Antimati

Penolakan demi penolakan dialaminya dengan alasan bahwa sindrom yang dideritanya akan sangat mengganggu proses belajar mengajar. Keterbatasan itu tidak membuat Naina patah arang. Semangatnya begitu besar untuk menjadi seorang guru. Bahwa kesetaraan hak patut untuk diperjuangkan.

Dengan berbekal gelar sarjana pendidikan dan magister sains, Naina mencoba peruntungannya melamar di sekolah menengah swasta terkemuka bernama St. Notker. Naina berhasil mendapatkan kesempatan itu, untuk menjadi guru di sekolah yang selama dua tahun berturut-turut menjuarai Pekan Sains Nasional di India.

Tentu hal ini membuat Naina bergembira. Ini sekaligus menjadi ajang pembuktian kepada ayahnya yang menceraikan ibunya sebab tidak kuat menanggung malu karena anaknya memiliki keterbatasan.

Namun, ada tantangan baru yang harus dihadapi Naina. Dia ditugaskan mengampu satu kelas khusus, kelas 9F. Sebuah kelas yang hanya diisi oleh 14 siswa yang terpinggirkan. Iya, semacam kelas buangan bagi para siswa yang dianggap mencemari nama besar St. Notker. Siswa-siswa yang dianggap bodoh, nakal, tidak berguna, semua dikumpulkan di sini. Dan sialnya, tidak ada satu guru pun yang mau memegang kelas underdog ini.

Seperti jamak ditemui dalam film-film bertema pendidikan lainnya, adanya pemisahan kelas seperti ini adalah sebagai upaya untuk mengidentifikasi tingkat kecerdasan siswa. Bisa saja memang realitanya seperti itu. Sebagaimana yang juga bisa ditemukan dalam sistem pendidikan di Indonesia berupa terciptanya jurang pemisah yang cukup curam antara anak-anak kelas IPS dan IPA. Ada yang mengalami sendiri?

Yang menarik dalam film ini adalah upaya-upaya menyajikan perspektif lain dalam dunia pendidikan dengan gamblang. Sejenak mengingatkan kita pada film 3 Idiots (2009).

Kembali ke Naina, dia bersedia menerima tantangan tersebut dengan lapang dada. Meski pada awal mengajar dia harus menerima kejahilan-kejahilan serta ejekan dari siswa-siswanya akibat sindrom Tourette yang dideritanya. Tanpa kenal menyerah, Naina mencoba menerapkan metode-metode yang sesuai dengan cara belajar dan karakter personal siswa 9F.

“Belajar tidak harus di kelas. Kalian bisa belajar di mana pun dan kapan pun.”

Begitu Naina memotivasi siswa-siswanya. Suatu kali, Naina mengajak mereka belajar di luar kelas. Menata kursi dan papan tulis di halaman sekolah. Lalu mempresensi mereka dengan cara melemparkan telur yang sudah direbus kepada setiap siswa yang dipanggil namanya.

Baca Juga:  Red Sparrow, Burung Gereja yang Sok Tegar namun Rapuh

Dengan metode itu, Naina ingin sekaligus menjelaskan berbagai teori dalam Fisika. Naina meyakinkan siswa-siswanya bahwa mereka sebenarnya secara praktik keseharian sudah melakukan pejalaran yang diajarkan di sekolah. Itu pun menunjukkan kalau sebenarnya mereka cerdas.

Melalui film ini, kita juga diajak untuk menyaksikan potret kemiskinan yang masih banyak ditemui di India. Para siswa 9F ini tadinya belajar di sekolah negeri yang lokasinya tidak jauh dari St. Noker.

Berdasarkan peraturan pemerintah tentang hak mengenyam pendidikan, dan agar tetap bisa bersekolah, mereka terpaksa pindah karena sekolah negeri yang lama itu berada di atas tanah sengketa.

Mereka adalah anak-anak yang berasal dari kawasan yang padat penduduk. Yang harus rela mengantre sepanjang 50 meter setiap hari hanya untuk mendapatkan seember air. Jadi, sebenarnya konsentrasi mereka sama sekali bukan untuk sekolah melainkan membantu perekonomian keluarga.

Maka tak heran jika di sekolah, mereka mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan karena tidak bisa fokus mengikuti pelajaran, baik dari siswa yang lain maupun dari pihak sekolah sendiri.

Tapi, yang membuat film ini jadi semakin menarik, kondisi kesenjangan ini justru digambarkan dengan asyik melalui iringan sebuah lagu berjudul Madam Jy Go Easy di pertengahan film. Memang sudah menjadi karakteristik kuat film India dengan selalu konsisten menghadirkan lagu-lagu energik yang mampu memperkuat bangunan emosi dalam film.

Lagu Madam Jy Go Easy berirama riang. Berisi ajakan untuk menikmati dengan santai apa pun dan bagaimanapun kondisi yang sedang terjadi pada diri kita saat ini.

Madam Jy Go Easy, Sab Wi-fi Hum 3G! artinya “Santai saja, Bu, mereka wi-fi, kita 3G!”

Penonton pun sejenak diajak untuk larut menikmati lagu itu dan menebak-nebak kejutan apa lagi yang akan muncul. Film besutan Sidarth P. Maholtra ini kembali menghadirkan konflik ketika Naina punya keinginan mengikutsertakan siswa 9F dalam kompetisi Pekan Sains Nasional.

Selama mengajar dan mengamati kehidupan siswa 9F di luar sekolah, Naina semakin yakin bahwa tidak ada siswanya yang bodoh. Yang ada hanyalah guru dan sekolah yang tidak mengetahui potensi mereka.

Baca Juga:  Wadjda: Wajah Perempuan Saudi di Persimpangan Budaya Patriarki

Pak Wadia selaku wakil kepala sekolah sekaligus tokoh ‘antagonis’—sesungguhnya tidak ada yang benar-benar berperan seabagai tokoh jahat dalam film berlatar dunia pendidikan—memberikan syarat yang cukup sulit. Kelas 9F boleh mengikuti Pekan Sains Nasional asalkan siswanya dinyatakan lulus dalam ujian dan mendapatkan lencana perfect.

Ya, mungkin ini klise, tetapi alur film-film motivasi pendidikan mudah sekali ditebak. Masalah yang muncul selalu bisa diselesaikan dengan penuh kebanggaan. Mimpi-mimpi pun diraih penuh haru dengan sedikit bumbu derai air mata karena emosi yang diaduk-aduk sepanjang film. Semua itu menjadi semakin sempurna dengan dukungan akting Rani Mukerji yang memukau sepanjang film.

Menjadi guru yang berkualitas dengan kondisi fisik yang serba berkekurangan dan terbatas adalah impian Naina. Mungkin tidak hanya Naina. Para guru di belahan bumi mana saja pasti juga menginginkan hal yang serupa. Termasuk para guru di Indonesia.

Menjadi guru yang peka akan kondisi siswa-siswanya, punya kepekaan yang akurat dalam membaca potensi anak didiknya, tajam penglihatan ke depannnya tentu menjadi cita-cita luhur para guru. Di tengah tuntutan penyelesaian administrasi kelas yang ribet dan berbelit dan perubahan kurikulum demi kurikulum yang membingungkan, mereka tetap akan terus berusaha menghasilkan generasi mada depan yang cerdas, sukses, dan berkualitas.

Memangnya sesulit itu, ya, menjadi guru?

“Ada yang lebih sulit dari menjadi guru, yaitu menjadi siswa. Salah belajar, siswa akan mendapat nilai jelek. Salah mengajar, guru tidak akan mendapat nilai jelek karena mengajar itu mudah, belajarlah yang sulit. Tidak ada siswa yang buruk. Yang ada guru yang buruk, pungkas Pak Wadia, si wakil kepala sekolah, saat menutup acara.[]

Data Film

Judul : Hichki

Genre : Drama Komedi

Sutradara : Sidarth P. Malhotra

Penulis : Ankur Chaudhry

Pemeran : Rani Mukerji, Kunal Sinde, Hars Mayar, Neeraj Kabi, Ivan Rodrigues, Supriya Pilgaonkar, Suprio Bose

Durasi : 116 menit

Rilis : Maret 2018

Rating : 7,6/10 (IMDb), 80% (Rotten Tomatoes), 94% (Google User)

Poster : IMDb

Facebook Comments

Guru dan penikmat film.