Resensi Buku

Meributkan Kebenaran

Posted on in Resensi Buku

Memilah dan memilih buku yang akan dibaca bukan perkara mudah. Isi buku itu akan ‘membersamai selama beberapa waktu, dan jika beruntung menetap selamanya di salah satu sudut otak kita.’

Karena itu, ketika sudah menemukan penulis yang tampaknya dapat memenuhi kebutuhan jiwa kita sebagai pembaca, kita akan mencari dan mengais buku-buku lain dari penulis yang sama. Demikian pengalaman membaca saya terhadap satu nama: Akiyoshi Rikako.

Muncul pertama kali di Indonesia dengan buku Girls in The Dark, penulis ini berhasil menarik minat pembaca di tanah air. Buku-bukunya selalu cetak ulang. Best seller.

***

Absolute Justice merupakan buku keenam Akiyoshi yang baru saja rilis. Berkisah mengenai persahabatan lima orang yang dijalin sejak SMP. Kazuki, Yumiko, Riho, dan Reika berteman dengan anak baru di sekolah mereka. Namanya Takaki Noriko. Tidak ada yang tampak spesial dengan anak baru itu. Mereka berteman karena anak baru itu terlihat seperti anak baik-baik. Dan ternyata memang. Bahkan, bisa dibilang panutan.

Noriko adalah anak yang pintar, dan ia tidak pernah melanggar aturan sekolah. Tidak satu kali pun. Bahkan, ia menjunjung tinggi kebenaran. Meskipun sahabatnya sendiri yang melakukan perbuatan melanggar hukum, kebenaran akan ia tegakkan.

Tidak ada masalah.

Keempat sahabatnya bahkan pernah diselamatkan dari masalah besar yang terasa membelit. Mereka kagum dengan Noriko yang berani menyampaikan kebenaran dengan lantang tanpa pandang bulu.

“Ia melakukan penilaian tanpa terpengaruh pada pertemanan. Bukankah itu hebat? Ya, Noriko memang mengagumkan” (hlm. 32).

Meskipun demikian, penilaian yang diberikan terus-menerus tentu membuat sesak. Demikian pula yang disadari dengan terlambat oleh keempat sahabat Noriko. Meskipun mereka pernah ditolong pada saat genting, ternyata memasukkan Noriko ke dalam hidup mereka justru membuat masalah baru yang tidak hanya membelit tetapi juga mencekik.

Baca Juga:  Memandang Buku dari Sudut Pandang Para Maniak

Salah satu hal ekstrem adalah ketika ketahuan membawa bolpoin dari kantor tempat kerja, itu sudah dianggap semacam korupsi bagi Noriko. Dan ia akan menyarankan agar sahabatnya segera mengembalikan atau mengganti penggunaan fasilitas kantor yang digunakan untuk kepentingan pribadi. Itu kan cuma…. Memang begitu kira-kira yang dipikirkan sahabat-sahabatnya.

Hingga akhirnya, muncul perasaan tidak tahan lagi. Noriko terlalu ikut campur dalam hidup mereka. Tidak ada toleransi. Bagi Noriko yang terpenting adalah kebenaran.

“… muncul wajah Noriko. Wajah wanita yang seharusnya sudah mati dibunuhnya” (hlm. 12).

Kematian Noriko memang disampaikan dengan gamblang di awal novel. Namun, penuh keraguan.

Bermula dari munculnya undangan berwarna ungu dari Noriko setelah lima tahun kematiannya. Bagaimana mungkin? Begitu kira-kira pikir pelaku pembunuhan tersebut. Apakah saat itu ia tidak cermat mengecek kondisi kematian Noriko? Atau, Noriko saat itu berhasil selamat? Atau, ada yang mengetahui pembunuhan itu? Tapi, mengapa menunggu selama itu untuk kembali datang ke kehidupannya?

Sambil diajak menyimpan pertanyaan serupa, pembaca diajak berkelana pada masa kebersamaan keempat tokoh lain dengan Noriko. Pembaca secara perlahan—atau bisa juga cepat, tergantung—dapat mengerti bagaimana perasaan para tokoh tersebut menghadapi orang seperti Noriko.

Perasaan mereka terbelah antara merasa apa yang dilakukan Noriko tidak benar—atau kau bisa menyebutnya tidak baik—tapi di sisi lain yang dilakukannya memang demi menegakkan kebenaran—sebenarnya, lebih tepat jika dikatakan demi mengikuti aturan di mana ia tinggal.

Buku ini dibagi menjadi 4 bagian plus satu bagian penutup dan satu bagian pelengkap. Empat bagian tersebut merupakan jatah masing-masing teman Noriko untuk bercerita. Penulis akan menyuguhkan kisah kebenaran ala Noriko dari empat sudut pandang temannya.

Bagaimana reaksi mereka berusaha menerima suguhan kebenaran yang tak bisa dibantah itu, dan bagaimana perasaan kita sebagai pembaca. Selama empat bagian awal, pembaca tidak dibuat bertanya-tanya selain pertanyaan: lalu bagaimana bisa Noriko yang sudah mati mengirim undangan pertemuan itu?

***

Baca Juga:  Berkunjung ke Hotel Tua Budi Darma

Hal yang patut dikagumi dari Akiyoshi utamanya bagi saya adalah permasalahan yang ia angkat dalam karyanya. Kebanyakan, masalah yang ia angkat adalah masalah yang jelas dialami masyarakat Jepang.

Pada buku ketiga, Holy Mother, misalnya, ia mengupas lemahnya hukum yang diberlakukan pada pemerkosa di negara tersebut. Atau mengenai perundungan di The Dead Returns, mengenai fenomena bunuh diri di buku Schedule Suicide Day, atau keinginan gadis remaja di pulau untuk merantau ke Tokyo hingga menetap di sana dan tak ingin kembali ke pulau yang membesarkan mereka di buku Silence.

Masalah itu nyata dialami utamanya oleh remaja di Jepang. Masalah itu disampaikan tanpa merasa perlu menyuguhkan akhir yang bahagia. Karena bukankah memang demikianlah hidup yang sesungguhnya?

Saya mengimpikan suatu saat akan ada penulis Indonesia yang peduli dengan remaja di negara ini sekuat kepedulian Akiyoshi pada remaja di negaranya. Karena masa remaja justru penuh dengan impian yang sayang jika hanya diisi dengan kisah cinta picisan yang seakan perlu diperjuangkan hingga titik darah penghabisan.

Padahal, pertemuan mereka bermula dari tabrakan dan kertas berhamburan di tengah posisi wanita yang entah bagaimana bisa jatuh dengan anggun ditampung lengan lelaki gagah nan sigap.

Kemampuan menulis dan membaca di Indonesia tidak rendah—coba lihat berapa juta pembaca Wattpad. Saya masih berharap pada para penulis di Indonesia, termasuk dari kelompok penulis sastra serius—demikian tampaknya istilah populernya—agar lebih perhatian dengan kondisi nyata masalah serius remaja Indonesia.

Apakah ada yang masih ingat kasus penyekapan dan penyiksaan karena cemburu atau pembunuhan karena bedak online atau bunuh diri anak SD karena perkara cinta?

Kenapa itu tidak menggerakkan jari para tuan dan puan yang bukunya sudah dibaca jutaan orang atau mendapat berbagai penghargaan untuk menulis hal yang lebih dekat dengan masalah mereka, generasi penerus kita? Masalah yang “berat” nyatanya bukan hanya dihadapi para orang dewasa.

Baca Juga:  Yang Tersembunyi di Balik Aroma Makanan

Sesungguhnya, itulah yang lebih mereka butuhkan. Tulisan yang menyentuh dunia mereka hingga dapat melihat dunia dengan sisi lain yang sebelumnya bisa jadi sama sekali tak terpikirkan.

***

“Kebenaran adalah hal terpenting di dunia ini” (hlm. 124).

Kembali pada buku ini. Jika Noriko lahir di negara lain, akan lain jadinya. Di Indonesia misalnya. Ia sibuk menuntut hukuman untuk seorang yang melakukan pencurian sekerat roti. Meskipun, pencurian itu terbukti dilakukan karena kelaparan.

Dengan segera, masyarakat akan bersatu untuk memaklumi pencurian tersebut. Pemakluman demikian yang tidak dimiliki Noriko. Apa pun alasannya, siapa pun pelakunya, bagi Noriko, tidak dapat dijadikan alasan untuk melanggar hukum.

Saya bayangkan, Noriko akan menyadari bahwa kekeraskepalaannya tidak akan berlaku meski ia mengirim surat keberatan hingga ke tingkat tertinggi di negara ini. Cap pencari perhatian dengan mengorek-korek kesalahan orang lain akan segera dilemparkan orang-orang kepadanya.

Dan ia tidak akan dapat mengisi jiwanya dengan perasaan puas karena merasa telah menegakkan kebenaran.

Tidak. Saya percaya sepenuhnya, nyaris yakin tidak akan ada yang mengagumi perbuatan Noriko di sini seperti di negara si penulis berasal. Atau…, mungkin kamu memiliki pendapat berbeda?[]

Data Buku:

Judul: Absolute Justice

Penulis: Akiyoshi Rikako

Penerbit: Haru

Terbit: Mei 2018

Tebal: 268 halaman

ISBN: 97-602-5160-1-1

Foto: Dokumentasi pribadi

Facebook Comments

Pembaca paruh waktu.