Resensi Buku

Membicarakan Kenangan ala Semasa

Posted on in Resensi Buku

Teddy dan Maesy adalah pasangan suami istri pemilik toko buku POST yang berlokasi di Pasar Santa Jakarta. Tidak seperti toko buku biasa, mereka membuka tokonya di akhir pekan saja, yakni hari Sabtu dan Minggu.

Pernah suatu kali saya mengeluhkan hal ini kepada Teddy yang hanya dibalas dengan senyuman. Ia–Teddy–mengakui bahwa mereka tidak punya sumber daya untuk melayani pelanggan toko di hari biasa.

Terus terang dalam batin saya bergidik. Di akhir pekan saja POST Santa ini sudah cukup ramai dikunjungi, apalagi kalau ditambah jam operasionalnya di hari biasa.

Salah satu keunggulan POST dibandingkan toko lain adalah mereka menyediakan buku-buku produksi penerbit indie, buku-buku yang mustahil bisa kita temui di toko buku mainstream dan ternama.

Selain itu, mereka berdua sangat aktif melayani para pembeli, dalam artian bahwa mereka cukup komunikatif dan memahami setiap jenis buku yang mereka jual.

Teddy menjelaskan kepada saya tentang Etgar Keret, penulis asal Israel, terkenal lewat karya fiksinya, yakni cerpen. Sebuah upaya pengenalan yang memantapkan saya untuk membeli The Girl on The Fridge, kumpulan cerpen karya Keret yang tersedia di POST Santa, daripada memilih kumpulan esainya yang berjudul The Seven Good Years.

Walaupun belakangan akhirnya saya beli juga buku tersebut dan ternyata tidak kalah bagusnya dengan karya Keret yang lain.

Pun demikian halnya dengan Maesy, istri Teddy. Dia begitu hapal setiap buku yang ia jual dan bisa menjelaskan secara singkat hal-hal apa saja yang disampaikan si penulis dalam karyanya.

Termasuk apabila ada buku yang kurang sreg atau tidak begitu bagus menurutnya, dengan jujur Maesy akan ungkapkan hal tersebut.

Saya curiga, jangan-jangan semua buku yang mereka jual itu sudah khatam dibaca. Maka tak heran kalau keintiman dan kecintaan dengan buku ikut diseret masuk dalam alur cerita novel karya terbaru mereka berdua, Semasa.

Novel Semasa bercerita tentang dua orang sepupu, Coro dan Sachi yang bernostalgia pulang ke rumah Pandanwangi, rumah yang menyimpan segudang pengalaman dan kenangan masa kecil mereka. Tercatat ada dua judul buku yang disinggung-singgung dengan cukup intens dalam novel ini.

Baca Juga:  Out of the Lunch Box; Warna-Warni Olah Pikir ala Iqbal

Yang pertama ada novel To Kill a Mockingbird, sebuah novel karya Harper Lee yang diterbitkan pada tahun 1960. Novel ini diceritakan sebagai bacaan yang disukai tokoh Coro.

Menurut saya, adalah pilihan yang bagus mengikutsertakan judul novel ini. Karena To Kill a Mockingbird adalah karya hebat yang berhasil memenangkan penghargaan Pullitzer, sebuah ajang penghargaan bergengsi di Amerika Serikat untuk karya literasi sejak tahun 1917.

Selain itu, novel ini dikatakan sebagai karya klasik untuk referensi literatur Amerika modern. Ada dua isu yang diangkat dalam novel yang berlatar belakang di Alabama ini, yakni soal kasus pemerkosaan dan persoalan rasis.

Yang berikutnya ada karya fenomenal George Orwell, Animal Farm. Lagi-lagi menurut saya, adalah pilihan yang tepat untuk menyertakan novel ini ke dalam Semasa.

Animal Farm digadang-gadang sebagai salah satu karya terbaik George Orwell. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1945, awalnya kurang mendapat perhatian karena disangka hanya bercerita soal binatang.

Belakangan diketahui bahwa Animal Farm ini adalah bentuk kritik Orwell yang tajam terhadap pemerintahan otoriter.

Novel ini memang cukup favorit sehingga banyak dijadikan rujukan oleh para penulis. Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, pemenang lomba cipta novel Dewan Kesenian Jakarta 2016 itu, termasuk yang pernah menjadikan Animal Farm sebagai salah satu topik bahasan dalam novelnya yang berjudul Jakarta Sebelum Pagi.

Saya sendiri membaca versi Animal Farm yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Mahbub Djunaidi. Karya satire yang menyuguhkan kisah sekelompok babi otoriter di sebuah peternakan ini berhasil saya selesaikan sebagai teman perjalanan Yogyakarta – Jakarta dengan kereta api.

Novel inilah yang menjadi awal kecemburuan Coro terhadap Sachi, disebabkan kemampuan sepupunya itu menyampaikan suatu bentuk renungan terdalam yang diperolehnya setelah khatam membaca Animal Farm.

Yang terjadi selanjutnya, Coro merasa kalau bapaknya lebih menaruh hati kepada sepupu perempuannya itu. Hal ini memicu ketegangan antara mereka.

Baca Juga:  Humor, Seni Mengkritik tanpa Melukai

Teddy dan Maesy menyodorkan konflik kecil itu dengan sederhana namun tetap menakjubkan. Kepiawaian keduanya terlihat dari penguraian narasi dan penguatan karakter pada masing-masing tokoh.

Novel Semasa sejatinya hanya bercerita tentang salah satu episode kecil dalam sebuah keluarga. Tapi justru dalam episode kecil ini, setiap karakter yang jumlahnya tidak banyak; Coro, Sachi, Bapak, Bibi Sari dan Paman Giofridis berhasil dideskripsikan dengan apik.

Saya membayangkan penulisan novel Semasa ini adalah tak ubahnya sebuah perjalanan panjang. Adalah hal yang tidak mudah tentunya untuk menyatukan persepsi dan visi kedua penulisnya yang mungkin masing-masing memiliki ketertarikan dan preferensi berbeda soal gaya bercerita.

Memang Teddy dan Maesy bukanlah yang pertama dalam menghadirkan sebuah karya bersama.

Sebelumnya ada juga novel Lenka, sebuah karya bersama yang dihasilkan oleh para peserta Bengkel Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahun 2011. Tidak tanggung-tanggung, ada 17 (tujuh belas) orang yang terlibat dalam novel yang disunting oleh AS Laksana dan Yusi Avianto Pareanom ini.

Karena saya mengenal Teddy, saya bisa menebak beberapa bagian yang merupakan tulisan Teddy. Misalnya, aksi heroik Coro menenggelamkan Nintendo milik anak tetangga ke dalam ember berisi air karena ia menganggap si anak tersebut sudah bertindak kurang ajar kepada sepupunya, Sachi.

Sedangkan pada bagian ketika Coro dan Sachi berdebat perihal nasib pengungsi Suriah dan orang-orang Ahmadiyah yang terusir tampaknya sudah jelas bersumber dari keresahan dan hasil perenungan batin mereka berdua.

Saya langsung jatuh cinta pada novel ini sejak bagian awal. Diceritakan sebuah momen ketika Coro dan Sachi berada dalam mobil untuk sebuah perjalanan panjang.

Mereka berdua terbiasa disuguhi permainan sederhana namun unik ala Paman Giofridis yakni menebak apakah pengemudi di kendaraan lain yang sejalur dengan mobil mereka itu berkumis atau tidak.

Baca Juga:  I Am Sarahza: Latihan Panjang Mensyukuri Kehidupan

Sedangkan oleh Bapak, mereka banyak mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang sedikit lebih intelektual dibandingkan sekadar soal tebak-tebakan.

Saya menyukai bagian ini karena saya paham betapa tidak mudahnya menenangkan anak-anak dan membuat mereka betah berada dalam sebuah perjalanan panjang yang melelahkan dan membosankan.

Pada akhirnya, Semasa bercerita banyak dan intens soal kenangan, tentang bagaimana kenangan-kenangan di Rumah Pandanwangi terajut melalui kisah-kisah kecil namun membekas dalam diri Coro dan Sachi.

Saya pernah mendengar deskripsi yang menarik soal kenangan. Dikatakan bahwa mengemudi mobil itu pada prinsipnya mengajarkan kita cara yang tepat dan bijak dalam memperlakukan kenangan (masa lalu).

Bahwa kita harus fokus memusatkan perhatian ke depan (masa depan), dan tetap tidak mengapa sesekali melihat ke belakang (masa lalu) lewat kaca spion, demi keselamatan perjalanan—untuk diambil hikmah dan pelajarannya agar semakin baik di masa-masa mendatang.

Sachi dan Coro bisa jadi memiliki kenangan-kenangan yang berserakan di rumah peristirahatan tempat mereka tumbuh besar, namun akan tiba masanya mereka harus menyimpan semua kenangan itu dengan rapi walaupun Rumah Pandanwangi sudah bukan milik mereka lagi.

Toh, sebuah rumah ‘hanyalah’ tempat kejadian perkara (TKP) kenangan itu dibuat. Rumah bisa saja berpindah tangan, sedangkan kenangan akan menetap dalam memori terdalam.[]

Data Buku:

Judul : Semasa
Penulis : Teddy W. Kusuma & Maesy Ang
Cetakan : Januari 2018
Penerbit : OAK
Jumlah Halaman : x + 146 halaman
ISBN : 978-602-60924-7-2

Gambar: Dokumentasi Pribadi

Facebook Comments

Penggemar kopi, bola, film dan penulis di beberapa media online.